TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#51


__ADS_3

Hari ini Anna akan datang ke rumah Dad Chris dan Mom Clara. Sementara waktu ia akan tinggal di sana. Sebenarnya ia merasa tidak enak jika harus merepotkan kedua orang tua Gia, tapi mereka memaksa dan Anna juga tidak mungkin menolak karena mereka adalah Grandpa dan Grandma untuk kedua bayinya.


"Anna, ini kamarmu. Mommy sudah mendekornya khusus untukmu dan bayimu,” kata Mom Clara.


"Thank you Aunty, tapi aku tidak ingin merepotkanmu."


"Tidak, sayang. Kamu sama sekali tidak merepotkan. Dan, panggil aku Mommy, karena kamu adalah Mommy dari cucu-cucuku, mengerti?"


"Mengerti aun .... Mommy,” Anna merasa kaku menyebutkan kata Mommy karena memang ia tidak pernah memilikinya. Sejak kecil ia hanya bersama dengan Dad Joe.


"Annaaa!!" sapa Gia dengan sedikit berteriak seperti biasanya.


Mom Clara pun pergi ke dapur karena sudah ada Gia yang menemani. Ia harus membuat makan siang untuk mereka.


Gia langsung memeluknya dan tentu saja Anna akan membalas pelukannya.


"Aku senang kamu ada di sini. Aku tidak akan kesepian lagi."


Anna memperhatikan Gia.


"Gi, kamu kenapa? apa kamu kurang tidur? dan matamu kenapa sembab begitu?" tanya Anna, ia sangat memgkuatirkan Gia.


"Aku tidak apa-apa." ujarnya, tapi kemudian ada buliran air mata yang jatuh di pipinya


Anna mengajak Gia untuk duduk di sebuah sofa panjang yang ada di kamarnya. Untung saja Nathan dan Nixon sedang tidur, sehingga ia bisa mendengarkan Gia bercerita.


Gia melihat ke arah mata Anna. Sebenarnya ia ragu ingin bercerita, tapi ia tak punya siapapun untuk menumpahkan perasaannya saat ini. Ia ingin bercerita pada Dad Chris dan Mom Clara, tapi tak mungkin karena ini berhubungan dengan Lexy.


"Aku ... ingin menikah."


"Benarkah? dengan siapa? ayo ceritakan padaku!" ujar Anna yang terlihat sangat antusias dengan mata yang berbinar


"Tapi, Daddy tidak menyetujuinya." ungkap Gia sedih


"Memang siapa orangnya hingga Uncle tidak menyetujuinya?"


"Uncle Lexy."


Anna terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata. Ia hanya menunjukkan wajah kaget. Jujur, ia memang merasa sangat kaget. Tak pernah terpikir olehnya kalau Gia akan menikah dengan Uncle Lexy, laki-laki yang hampir seumuran dengan Daddynya.

__ADS_1


"Bukankah kamu menyukai Kak Hansen?" tanya Anna


"Ya memang aku dulu sangat menyukainya, bahkan amat sangat menyukai Kak Hansen, sampai aku tidak bisa tidur memikirkannya. Tapi .... Kak Hansen sudah menikah An, dan dengan tiba-tiba Uncle Lexy masuk ke dalam hatiku, tanpa kusadari."


Gia menghapus air matanya.


"Ketika aku melihatnya tertembak karena menyelamatkanku, hatiku serasa hancur saat itu."


"Gi, coba kamu rasakan benar-benar di dalam hatimu, apa kamu benar mencintainya atau kamu hanya merasa berhutang nyawa padanya,” ujar Anna


"Aku tidak tahu, An. Aku hanya ingin selalu bersamanya. Apa perasaan ini salah?" tanya Gia sambil memegang dadanya


"Aku juga tidak tahu apakah perasaanmu salah atau tidak, Gi. Tapi, aku akan mendukungmu selalu, karena aku hanya ingin melihatmu bahagia. Saat ini aku tidak melihat sahabatku yang biasanya, Gia yang ceria, yang selalu tersenyum dan membuat orang orang di sekelilingnya ikut merasakan kebahagiaannya."


"An, aku akan sangat senang jika kamu benar-benar menjadi kakak iparku,” ujar Gia tersenyum


"Hei, ini sedang membicarakan tentang dirimu, bukan diriku."


"Tapi An, apakah kamu benar benar tidak ingin menikah dengan Kak Gavin?"


"Gi, setiap wanita ingin menikah, memiliki sebuah keluarga yang utuh dan bahagia, tidak terkecuali diriku. Tapi, aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak kucintai dan tidak mencintaiku, akan jadi apa pernikahanku nanti?"


"Pernikahan itu bukanlah suatu permainan. Aku tak ingin menikah hanya karena terpaksa, hanya karena ada anak di antara kami. Jika kami tidak bahagia, apakah anak-anak kami akan bahagia?" lanjut Anna


Dari balik pintu, Gavin mendengarkan semua perkataan Anna. Wanita itu memang benar, pernikahan bukanlah sebuah permainan, dan ia ingin menikah dengan Anna hanya karena ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak-anaknya, bukan keluarga yang bahagia dan penuh cinta.


Cinta di dalam diri Gavin seperti sudah hilang tak berbekas saat Elisa menorehkan luka yang begitu dalam.


Gavin yang awalnya ingin masuk untuk melihat kedua anaknya, jadi mengurungkan niatnya dan pergi dari sana. Ia memilih untuk kembali ke kantor


**


Gavin kini berbaring di tempat tidurnya, ia tiba-tiba malas pergi kantor dan memilih kembali ke kediamannya.


"Jack, kuserahkan semua pekerjaanku sementara ini padamu. Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku." Gavin meletakkan ponselnya, memejamkan matanya sesaat, dan akhirnya ia tertidur.


Saat terbangun, langit sudah hampir gelap. Ia keluar mendapati rumah yang begitu sepi, dan keheningan ini membuatnya semakin frustasi.


Ia masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati Anna. Ia merindukan aktivitas yang biasa Anna lakukan pada kedua buah hati mereka.

__ADS_1


Senyumnya saat ia sedang bermain dan berbicara dengan mereka, Gavin pun tiba-tiba tersenyum sendiri. Ia mendekat ke arah tempat tidur, kemudian membaringkan tubuhnya. Ia bisa mencium wangi Anna dari bantal yang saat ini ia tiduri.


"Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku merindukan dirinya berada di sini?"


Ia kembali mencium harum bantal yang ia tiduri, semakin lama ia semakin membayangkan Anna berada disana bersamanya. Ia kembali mengenang saat malam yang ia lewatkan bersama Anna, dan tiba-tiba ia ingin mengulanginya.


Gavin mengusap wajahnya kasar. Kenikmatan yang ia dapatkan dari Anna, tak pernah ia dapatkan dari Elisa. Elisa jarang berada di rumah, karena ia lebih sering berada di luar negeri karena profesinya sebagai model dan aktris.


Saat malam pertamanya bersama Elisa, ia menemukan bahwa Elisa sudah tidak virgin lagi. Namun karena rasa cintanya yang begitu besar pada Elisa, ia tak terlalu mempedulikannya.


"Anna .... , menikahlah denganku. Aku membutuhkanmu,” kata Gavin sambil memandang ke sebelahnya yang tidak ada siapa-siapa.


**


Joe masih berada di dalam tahanan. Kakinya amat terasa sakit, sejak perkelahian waktu itu.


"Bagaimana keadaan Lexy?" Joe terus memikirkannya karena ia melihat Lexy tertembak sesaat sebelum lepas dari pandangannya.


"Ya Tuhan, semoga ia baik-baik saja. Maafkan aku karena pergi tanpa pamit padamu dan Ken. Kalian adalah sahabat terbaikku, tapi aku tak ingin membawa kalian ke dalam masalahku."


"Seperti saat ini, kamu terluka karena ingin menyelamatkanku dari wanita iblis itu. Sudah tua saja masih banyak niat jahatnya. Bukan mengajari anak-anaknya hal yang baik, malah mengajak mereka menyimpan dendam dan membalasnya. Sungguh miris hidupmu,” ujar Joe


Seorang penjaga memukul besi sel tahanannya. Penerangan yang amat minim membuat Joe tidak bisa melihat terlalu jelas wajah penjaga itu.


"Hei, bangun! Nyonya Besar mencarimu."


"Kenapa tidak dia saja yang kemari?" Joe menggerutu kesal


Ia pun berdiri, dan berjalan perlahan karena menahan sebelah kakinya yang sakit.


Penjaga itu membawa Joe ke sebuah ruangan besar, yang dihiasi dengan sofa dan barang antik, kemudian menyuruhnya duduk di sebuah kursi.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu, kemudian mendekati Joe.


"Joe, kali ini apa kamu masih mau menolak bekerja sama denganku?" tanyanya


"Ya, aku tidak akan pernah bekerja sama denganmu, sebelum kamu mengatakan dimana istriku."


"Sudah kubilang dia bukan istrimu dan mungkin saat ini dia sangat amat membencimu atas apa yang telah kamu lakukan padanya."

__ADS_1


Joe mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya memutih. Ingin sekali ia memaksa wanita ini untuk mengatakan dimana wanita itu, wanita yang ia cintai.


🌹🌹🌹


__ADS_2