TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#36


__ADS_3

Gia sengaja memainkan beberapa alat makan yang ada di hadapannya. Ia memukulkan sendok pada piring, pada gelas, dan pada semua alat makan yang bisa ia pukul.


Tentu saja hal itu sangat mengganggu perbincangan antara Dad Chris dengan Evan, sahabatnya. Sementara Jeremy, anak dari Evan dan Janet, justru malah memperhatikan Gia sambil tersenyum.


"Gia, hentikan kelakuanmu itu," perintah Dad Chris.


"Daddy, aku balik ke kantor saja. Aku bosan."


"Kenapa kamu tidak ngobrol sama Jery," kata Dad Chris.


"Iya sayang, ngobrolah dulu, siapa tahu ....," kata Mom Clara.


"Siapa tahu apa Mom? Aku sudah bilang aku tidak mau,” kata Gia memberengut kesal.


Tiba-tiba datang Lexy menghampiri Dad Chris, kemudian membisikkan sesuatu.


"Benarkah?" tanya Dad Chris kaget, "Baiklah, nanti aku akan meminta Han untuk kembali memeriksanya.”


Dengan kedatangan Lexy, tanpa pikir panjang, Gia bangkit dari duduknya, kemudian meraih lengan Lexy.


"Gift," sapa Lexy.


"Dad, Mom. Kalau kalian bermaksud menjodohkanku dengan dia," kata Gia sambil menunjuk ke arah Jeremy, "Lebih baik aku tidak menikah."


"Sayang, kami hanya ingin kamu berkenalan dengan Jery," kata Mom Clara.


"Aku tahu maksud Mommy, Daddy, Uncle dan Aunty. Kalau kalian ingin melihatku menikah, aku mau menikah dengan Uncle Lexy saja!"


Ucapan Gia bukan hanya mengagetkan Dad Chris, Mom Clara, Evan dan Janet, tapi juga mengagetkan Lexy yang berada disampingnya.


"Sayang, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?"


"Yes, Mom!" Kata Gia tegas.


Lexy yang merasa hal ini tidak benar, ia berusaha melepaskan lengannya yang sedari tadi dipegang Gia.


"Gift, lepaskan Uncle. Dan katakan pada Mommy dan Daddy kamu kalau itu hanya bercanda," kata Lexy, "Uncle harus pergi sekarang."


"Gi, lepaskan Lexy!" perintah Dad Chris, sementara Evan hanya diam, tak ingin mencampuri urusan keluarga Neutron.


"Tidak!" dengan keberanian penuh, Gia melepaskan tangannya dari lengan Lexy, kemudian memegang bahu Lexy dan menjinjitkan kakinya. Ia mencium bibir Lexy.


Lexy yang tidak tahu apa-apa dan hanya datang untuk memberitahukan suatu informasi pada Dad Chris, malah terjebak pada drama sebuah keluarga. Ia tak ingin memperkeruh suasana, apalagi sekarang pikirannya yang sepertinya sudah mulai keruh.


"Saya permisi dulu," dengan segera Lexy melepaskan ciuman itu dan pamit pada Dad Chris dan Mom Clara, serta Evan dan Janet.


"Gia, kamu keterlaluan! Kenapa kamu melakukan seperti itu? Apa kamu mau membuat Daddy dan Mommy malu?" tanya Dad Chris dengan nada yang agak tinggi.


"Mommy dan Daddy tidak mengerti perasaan Gia. Daddy jahat!" Gia langsung meraih tas nya dan pergi dari sana.


Dad Chris yang ingin mengejarnya, ditahan oleh Evan.


"Sudahlah, biarkan dia menenangkan diri dulu. Sebaiknya kita hentikan masalah perjodohan ini, Gia tidak menyukainya," ujar Evan.


"Tapi .... "

__ADS_1


"Aku juga setuju dengan perkataan Papa, Uncle. Aku tidak suka dengan perjodohan. Aku akan mencari pasanganku sendiri. Permisi Ma, Pa, Uncle, Aunty," Jeremy bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang VIP Restoran tersebut.


**


Di sebuah taman kota, duduklah sepasang laki-laki dan perempuan,


"Apa kamu akan terus menangis seperti ini?"


"Sudah, pergi sana! mengganggu saja."


"Aku juga tidak setuju dengan perjodohan ini."


"Tapi kamu tidak menolaknya."


"Papa dan mamaku tidak akan pernah memaksaku untuk menikah dengan wanita manapun. Karena itu aku tidak menolak atau menentang mereka."


"Lalu ... "


"Lalu, lalu ... ya kita kan bisa berteman. Kenapa harus pusing."


"Karena sepertinya Mommy dan Daddy akan memaksa untuk menerimamu."


"Aku juga akan berpikir 1000 kali kalau mau dinikahkan."


"Aku kira kamu menyebalkan."


"Setelah kamu mengenalku nanti, kamu akan tahu kalau aku memang menyebalkan,” kata Jeremy sambil tertawa.


"Daddy pasti marah sekali padaku."


"Pasti itu, apalagi kamu mencium laki-laki di depan matanya dan laki-laki itu hampir seumuran dengannya."


“Ya tetap saja kan kamu mencium seorang pria di hadapannya,” kata Jeremy.


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa berpikir. Daddy dan Mommy pasti marah, tapi aku lebih takut kalau Uncle Lexy yang marah padaku," kata Gia tiba-tiba menangis.


"Wah kalau masalah Uncle Lexy, aku menyerah. Bagiku Uncle yang satu itu terlalu kaku, sebelas dua belas dengan Uncle Han."


"Uncle Lexy orangnya baik, dan tidak sekaku Uncle Han. Ahhh, bagaimana ini .... bagaimana kalau Uncle tidak mau berbicara lagi denganku. Ahhhh, tidak, tidak, tidak ....,” teriak Gia sambil menggelengkan kepalanya, "Apa aku harus menemuinya? aku harus minta maaf padanya."


"Apa kamu benar-benar hanya mencium Uncle Lexy hanya karena menghindari perjodohan ini?"


"Apa maksudmu?"


"Bertanyalah pada hatimu. Apa kamu hanya menjadikannya pelarianmu atau kamu benar-benar memiliki perasaan padanya. Karena menurutku, kamu bukan tipe wanita yang akan sembarangan mencium laki-laki."


Gia menundukkan kepalanya, ia memikirkan apa yang dikatakan Jeremy. Hanya saja perasaannya saat ini sedang tidak menentu. Ada perasaan takut kalau Lexy akan pergi menjauhi dirinya.


**


1 minggu kemudian,


"Katakan padaku, anak siapa yang sedang kamu kandung?" tanya Gavin sambil menggenggam pergelangan tangan Anna.


"Tentu saja anakku," Anna berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin.

__ADS_1


Anna seharusnya bisa melawan Gavin, tapi dengan perut yang sudah membesar, ia sulit untuk bergerak dengan bebas.


"Apa dia anakku?"


"Siapa yang mengatakan itu padamu. Ini anakku, bukan anakmu."


"Aku sudah meminta seseorang untuk mencari informasi dan mengawasimu. Aku kira kamu tidak bisa berbohong jika itu adalah anakku."


"Aku katakan tidak! Pergi! Sudah kukatakan kita tidak saling mengenal, jangan menggangguku!" ujar Anna sambil memegang perutnya yang tiba-tiba saja mengeras dan terasa sakit.


"Ahhh, sakit ... ," Anna terus memegang perutnya, "tolong .... ," Anna terduduk dan ada darah yang mengalir di kakinya.


Gavin yang melihatnya langsung panik, dan membawa Anna ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Gavin duduk di kursi di depan ruang rawat. Ia menunggu dokter yang sedang memeriksa Anna.


Tak berselang lama, dokter tersebut pun keluar.


"Apa anda suaminya?" tanya sang dokter


"Bukan. Apa yang terjadi padanya dok?"


"Pasien mengalami stres, sehingga ia mengalami flek yang berlebihan. Untung saja bayinya masih bisa kami selamatkan."


Gavin menghela nafas. Ia juga tak ingin terjadi sesuatu pada Anna.


Tiba-tiba seorang laki-laki dengan menggunakan jas berwarna putih, langsung menerobos masuk ke dalam ruang perawatan dengan terburu-buru.


"Apa ada sesuatu terjadi, Dok?" tanya Gavin kuatir.


"Tidak ada, itu tadi Dokter Peter."


"Peter? laki-laki itu .... ," Gavin mulai bergumul dengan pikirannya sendiri.


"Maaf, Tuan. Saya permisi dulu. Dan anda sudah bisa melihat pasien, saat ini ia memerlukan waktu untuk beristirahat."


"Baik Dok, terima kasih."


Setelah kepergian sang Dokter, Gavin pun membuka ruang rawat tersebut. Ia melihat Dokter Peter sedang duduk di sebelah Anna, sambil memegang tangan Anna.


Ada perasaan kesal di dalam hati Gavin melihat hal itu, tapi ia mengesampingkannya.


Melihat Gavin masuk, Anna menggenggam tangan Peter lebih kencang, dan Peter mengerti maksudnya.


"Terima kasih sudah membawa istri saya ke sini," kata Dokter Peter.


"Anda suaminya?" tanya Gavin.


"Ya, perkenalkan saya Peter Abraham. Kami memang belum secara resmi menikah, tapi kami akan segera menikah," Dokter Peter menekankan setiap perkataannya.


"Baiklah kalau begitu. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja. Kalau sudah ada yang menjaganya, saya permisi dulu," kata Gavin.


"Ya, terima kasih."


Gavin pergi meninggalkan ruang rawat itu. Ia memang sudah tahu bahwa Anna belum menikah, tapi kekasih? Apa benar laki-laki itu adalah kekasihnya dan daddy dari anak yang sedang dikandungnya?

__ADS_1


Banyak pertanyaan muncul di benak Gavin, dan ia belum mampu menjawab semua itu.


🌹🌹🌹


__ADS_2