TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#88


__ADS_3

8 bulan kemudian,


Anna yang sejak malam tidak bisa tidur, merasakan rasa yang tidak enak di perutnya. Ntah mengapa bayi di dalam perutnya seperti terus-menerus bergerak.


"Ada apa, sayang?" tanya Gavin yang terbangun dari tidurnya.


"Aku tidak bisa tidur," kata Anna sambil terus memegang perutnya.


"Apa dari semalam kamu belum tidur?"


"Aku tidur, tapi baru sebentar sudah terbangun lagi. Perutku terasa tidak nyaman."


"Kemarilah, biarkan aku memelukmu. Maafkan aku karena semalam langsung tertidur."


Anna beringsut mendekati Gavin, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Gavin, aroma tubuh suaminya kini mampu menenangkan dirinya, membuat bayi dalam kandungannya lebih tenang.


Gavin mengelus punggung Anna dan terkadang mengecup puncak kepala Anna. Tak lama, terdengar dengkuran halus dari istrinya, yang menandakan ia sudah tertidur.


"Kamu pasti sangat lelah. Maafkan aku," Gavin kembali mencium pucuk kepala Anna kemudian ia ikut terlelap.


Keesokan paginya, Gavin terbangun lebih dulu. Ia melihat Anna masih terlelap dan ia tak ingin membangunkan istrinya. Ia pergi membersihkan diri dan menggunakan pakaian kerjanya.


"Kamu pasti sangat mengantuk sampai tidurmu tidak terganggu. Aku berangkat kerja dulu, sayang," Gavin mengecup kening Anna, kemudian langsung pergi bekerja.


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, Anna mengerjapkan matanya. Ia memegang tempat tidur di sampingnya, namun tidak ada siapapun.


"Ya ampun, sudah jam 9," Anna yang merasa bangun kesiangan langsung buru-buru pergi ke kamar mandi. Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya, perutnya terasa kram. Kini ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakinya.


Anna segera memanggil Poppy. Poppy dengan sigap langsung menuju ke kamar Nyonyanya itu. Ia pun langsung meminta Lio agar menyiapkan mobil dan sopir, kemudian membantu membawa Anna ke rumah sakit.


Lio menjaga Nathan dan Nixon di rumah, sementara Poppy ikut dengan sopir. Lio telah menghubungi Jack dan menyampaikan kabar tersebut.


Di dalam ruang persalinan, Anna berbaring. Beberapa lama sekali ia merasakan sakit yang amat sangat. Semakin lama rentang waktu semakin pendek, kini ia sudah tidak dapat menahan lagi, rasanya ia ingin sekali mengejan.


Gavin tiba di ruang persalinan, seorang perawat yang telah menunggunya kini mempersilakan Gavin untuk masuk.


"Sayang," Gavin mengusap kepala istrinya.


"Maaf, Nyonya. Tunggu sebentar, jangan mengejan dulu. Kita harus menunggu."


"Apalagi yang harus ditunggu? Apa kalian tidak lihat istri saya sudah kesakitan?" Kata Gavin.


"Kita harus menunggu hingga bukaan 10, Tuan."


Gavin mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tega melihat istrinya begitu kesakitan, dengan peluh yang mengalir dari keningnya.


Selang beberapa lama,


"Ayo, Nyonya. Sudah bukaan 10, kita sudah bersiap. Sekarang anda boleh mengejan. Saya hitung sampai 3, langsung dorong. 1, 2, ... 3."


"Tarik nafas, 1, 2, ... 3," dengan kekuatan dan satu tarikan nafas, Anna berhasil mengeluarkan bayi mungil.

__ADS_1


Sakit yang ia rasakan seketika menghilang saat mendengar suara tangisan bayinya. Setelah dibersihkan, bayi itu diletakkan di atas tubuh Anna.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya, sayang?"


"Tentu saja, Niesha Arabelle Neutron."


"Nama yang sangat cantik, aku menyukainya,"


"Terima kasih, sayang," Gavin mengecup kening Anna.


**


"Ini untukmu," kata Ansel pada Abel sambil memberikan setangkai bunga yang ia ambil di taman.


Saat ini usia Abel baru menginjak 2 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik, dan memiliki mata seperti Anna.


Ansel yang dulu berharap memiliki adik laki-laki, kini justru yang paling menyayangi Abel. Ia selalu menemani Abel bermain, mungkin karena usia mereka yang terpaut tidak terlalu jauh.


Ansel berusia 6 tahun, sedangkan kakaknya Axel, berusia 7 tahun. Si kembar Nathan dan Nixon kini sudah berusia 9 tahun.


"Kak Acel, tima kaci," kata Abel.


"Sama-sama adik cantik," Ansel mengusap pucuk kepala Abel, dan membuat Abel tertawa.


Anna dan Gia memperhatikan mereka sambil tersenyum.


"Gi, apa Sena akan datang kemari?" tanya Anna.


"Bersama Michael?"


"Tidak, katanya ia akan datang sendiri. Michael dibawa oleh Jack ke acara reuni sekolahnya," ucap Gia sambil tertawa.


"Loh kok dibawa?"


"Kata Gia supaya semua orang tahu kalau Kak Jack itu sudah punya buntut, jadi ga melirik sana sini."


"Tapi Kak Jack kan memang bukan tipe pria yang suka melirik sana sini," kata Anna.


"Ya betul, aku tidak suka melirik sana sini, hanya saja ada yang tidak percaya padaku," Jack datang sambil meletakkan Michael di atas bahunya.


"Sena!!!" teriak Gia.


"Kamu sudah jadi Mommy, masih saja suka berteriak," Sena menggelengkan kepalanya.


"Nah itulah ciri khas ku. Kamu akan segera tahu jika aku datang."


Jack menurunkan Michael, yang kemudian langsung menghampiri Abel.


"Berikan padaku!" Michael yang baru berusia 4 tahun itu mengambil bunga yang tadi diberikan Ansel. Seketika Abel pun langsung menangis.


"Mike, kembalikan bunga itu sayang," pinta Sena dengan lembut.

__ADS_1


"Mike, tidak suka bunga," kata Michael.


"Tapi itu kan punya Abel, sayang,"


"Aku tidak suka. Aku mau pulang, Mommy!"


"Tapi, Mike kan baru sampai. Apa Mike mau bermain dengan Kak Nathan?"


"Tidak, Mike mau pulang, Mom. Mike tidak suka di sini," kata Michael dengan wajah sebal.


"Maafkan Mike ya, Abel cantik."


"Iya, Aunty,"


"An, Gi, rasanya aku harus pulang. Sepertinya Mike mengantuk sehingga ia jadi rewel. Lain kali aku akan berkunjung lagi."


"Aku pulang dulu ya," Jack memberi salam pada Anna dan Gia.


"Bel, ayo kita masuk, kita makan siang dulu, sayang," kata Anna.


Anna dan Gia akhirnya masuk ke dalam rumah. Untuk sementara ini Gia akan menginap, sampai Lexy kembali bersama Gavin yang saat ini sedang berada di Indonesia untuk mengurus perusahaan Ginea.


**


Malam itu, Gavin sudah berada di dalam kamar. Ia sangat merindukan istrinya. Tubuhnya sangat lelah karena hampir 1 bulan lamanya ia berada di Indonesia. Ia bersama Lexy membantu Nicholas dan Niel yang sedang kerepotan mengurus proyek terbaru mereka.


"Sayang, aku sudah menyiapkan air hangat, mandilah dulu," kata Anna.


"Terima kasih, sayang."


Gavin berjalan ke arah kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai, dengan menggunakan bathrobe, ia keluar dari kamar mandi. Ia memperhatikan istrinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil melihat lihat ponselnya.


"Apa yang kamu lihat, sayang? Sampai sampai kamu senyum-senyum sendiri," Gavin duduk di tepi tempat tidur.


"Aku sedang melihat foto anak-anak, mereka sangat senang sekali hari ini bisa bermain air di taman. Hanya saja, Abel terus menerus menangis,"


"Apa yang membuat gadis kecilku menangis, huh?" tanya Gavin.


"Seperti biasa, Ansel selalu memberikan bunga untuk dijadikan mainan oleh Abel, tapi Michael merebutnya dari tangan Abel, kemudian membuangnya."


"Ya ampun, mengapa Michael benci sekali dengan bunga?"


"Aku tidak tahu, tapi ...," belum selesai Anna berbicara, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Gavin.


Ahhh, betapa Gavin sangat merindukan bibir manis milik istrinya. Ciuman yang awalnya lembut, semakin lama semakin panas, yang akhirnya membawa mereka pada pergulatan yang luar biasa.


"Aku mencintaimu, sayang," kata Anna.


"Aku lebih mencintaimu," Gavin kembali mencium Anna dan mengulang kembali pergulatan mereka.


🌹🌹 T A M A T 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2