
Saat ini, Han, Lexy, dan juga Jack sudah berkumpul di rumah Gavin bersama Dad Chris. Mereka duduk di ruang kerja, di sofa yang saling berhadap hadapan.
Dari wajah Lexy bisa diketahui bahwa ada sesuatu yang penting yang akan ia bicarakan. Lexy memang datang ke Switzerland untuk membantu keluarga Neutron menyelesaikan masalah, tapi sebenarnya ia justru melindungi Keluarga Ginea dan juga ingin mencari sahabatnya.
"Katakanlah Lex, wajahmu sudah menyiratkan sesuatu," kata Dad Chris.
"Begini, kita tidak boleh bertindak gegabah, karena saat ini mereka juga mengawasi kediaman Ginea. Kita salah langkah, mereka bisa melakukan sesuatu pada Tuan Brandon."
"Apa kamu sudah meningkatkan penjagaan di sana?" tanya Dad Chris.
"Saya sudah berbicara dengan Tuan Nicholas, dan ia langsung menghubungi temannya yang akan membantunya meningkatkan penjagaan serta pengawasan, baik di rumah maupun di kantor," jelas Lexy
"Uncle, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Gavin frustasi.
"Semua ini berhubungan dengan masa lalu Tuan Chris.”
"Seperti dugaanku. Tapi apakah ini berhubungan dengan ....," kata Chris sedikit ragu.
"Jika dugaan Tuan adalah Nyonya Marcella, itu benar. Sesuai informasi yang saya dapatkan, Nyonya Marcella adalah Mommy dari Nyonya Elisa."
"Maksudmu? aku menikah dengan anak dari musuh keluarga kita?" tanya Gavin.
"Son, kita tidak pernah menganggap mereka musuh, tapi sepertinya mereka menganggap kita seperti itu," kata Dad Chris.
"Tapi dulu Elisa berkata bahwa dia adalah anak yatim piatu," sambung Gavin.
"Sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya Tuan. Mulai dari perkenalan antara Tuan Gavin dan Nyonya Elisa, hingga bagaimana kehidupan mereka," Lexy kembali menjelaskan.
"Jadi selama ini, aku berada di dalam drama mereka?"
"Tujuan mereka hanya satu, yakni menghancurkan keluarga Ginea dan Keluarga Neutron. Semua itu karena kebencian yang dimiliki Tuan Patra, menurun pada Nyonya Marcella, dan kembali diturunkan pada Nyonya Elisa."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Dad Chris.
"Kita memang harus menunggu kabar dari mereka. Apa yang mereka inginkan dari pihak kita," kata Lexy.
"Tapi mereka menahan Anna dan juga Tuan Joe," kata Gavin.
"Joe, maksudmu Joe Harland?" tanya Lexy.
"Ya, mereka berdua sementara ini menjadi sandera, ini seperti yang dikatakan oleh Elisa," ujar Dad Chris.
"Tapi Anna sedang hamil, Dad. Apa dia bisa menunggu dan bagaimana jika mereka melakukan tindakan kasar padanya? Itu anakku Dad," kata Gavin gusar.
Mereka terus berbicara dan merencanakan sesuatu di dalam sana, sementara di luar ruangan Gia mendengar semuanya.
"Anak Kak Gavin? Anna hamil anak Kak Gavin?" gumam Gia tak mengerti, tapi yang dia tahu saat ini Anna sedang menjadi sandera. Ia harus menolongnya.
**
"Gi, ada apa sih kamu memanggil aku ke sini?" tanya Sena yang saat ini sedang berada di sebuah cafe langganan mereka.
__ADS_1
"Anna diculik," jawab Gia setengah berbisik.
"Apa?"
"Anna diculik," kata Gia lagi.
"Whatt??!!" teriak Sena, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari pengunjung cafe yang ada disana.
"Ssttt .... ssttt .... pelan-pelan," bisik Gia.
"Apa maksudmu Anna diculik? sama siapa? kenapa?"
"Kalau nanya satu-satu bisa nggak?"
"Aduhhh, cepetan jawab!"
"Aku juga nggak terlalu jelas sebenarnya. Aku hanya mendengar pembicaraan Daddy, Kak Gavin dan asisten mereka."
"Terus-terus ...."
"Jadi ini berhubungan dengan dendam masa lalu," kata Gia menerangkan.
"Lalu bagaimana keadaan Anna?"
"Aku belum tahu. Tapi Anna diculik bersama dengan Uncle Joe. Karena itu, kita harus menolong mereka," Gia menopang dagunya.
"Menolong mereka? bagaimana caranya?"
"Ya kita datangi mereka," jawab Gia.
"Kamu gila mau pergi ke sana. Memangnya kamu tahu dimana tempat Anna disekap?" tanya Sena.
"Aku tidak tahu. Justru aku memanggilmu kesini untuk meminta bantuanmu."
"Bantuanku? apa aku harus pergi ke sana bersamamu? aku tidak bisa bela diri Gi, paling-paling aku bisa pegang senjata."
"Kamu punya senjatanya?" tanya Gia.
"Punya. Senjata itu dipinjamkan Kak Revan buat aku berjaga-jaga," jawab Sena.
"Boleh aku pinjam?"
"Tentu saja .... TIDAK!!" Kata Sena tegas, "Bantuan apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
"Apa kamu bisa minta tolong pada Kak Hansen untuk mencari tahu lokasi Anna?"
"Kenapa kamu tidak bertanya sendiri pada Kak Hansen, bukankah aku sudah pernah memberikan kamu nomor ponselnya."
"Aku tidak mau. Kamu juga tidak mengatakan padaku kalau Kak Hansen sudah menikah," ucap Gia dengan wajah sendu.
"Maaf, bukan aku tidak mau mengatakannya, tapi aku belum sempat. Kamu tahu kan pekerjaanku belakangan ini banyak sekali. Bukankah kudengar kamu sudah dijodohkan oleh Uncle Chris?"
__ADS_1
"Ahhh, jangan bicarakan itu," kata Gia, "Gara gara perjodohan itu, aku jadi melakukan kesalahan besar."
"Kesalahan besar? aku tidak mengerti, cepat ceritakan!" tanya Sena penasaran.
"Kenapa dari tadi jadi aku yang banyak bercerita."
"Lha, kamu yang membawaku ke sini. Kamu harus tanggung jawab, ayo cepat katakan!"
"Tapi kamu harus membantuku meminta tolong Kak Hansen untuk mencari keberadaan Anna," pinta Gia.
"Ya baiklah."
"Aku .... aku mencium Uncle Lexy," bisik Gia.
"Whattt???!!!" teriak Sena lagi dan ia langsung ditempeleng oleh Gia.
"Bisakah kamu tidak berteriak? Lihatlah orang-orang sudah melihat ke arah kita sedari tadi. Disangka kita berdua orang gila."
Sena langsung menutup sebelah wajahnya dengan buku menu, ia malu.
"Bagaimana bisa kamu menciumnya?" tanya Sena.
"Aku spontan, karena aku menolak dijodohkan dengan si cacing Jeremy. Aku bilang aku mau menikah dengan Uncle Lexy, lalu aku langsung menciumnya."
"Aku tidak pernah menyangka kamu bisa berbuat senekat itu. Lalu, bagaimana rasanya?"
"Rasanya? rasanya seperti .... ," tiba-tiba wajah Gia memerah dan terasa panas.
"Ya ampunnn, pipimu seperti tomat. Kalau kamu seperti ini, berarti kamu menikmatinya ya?" ledek Sena.
"Hei! bukan saatnya menertawakanku. Coba kamu hubungi Kak Hansen sekarang. Lebih cepat kan lebih baik," pinta Gia.
"Kalau masalah ini sudah selesai, aku akan menertawaimu sepuasku," terang Sena.
Sena mengambil ponselnya dan mulai mencari kontak Hansen. Namun, sebelum ia sempat menelepon Hansen, Gia kembali bergumam.
"Anak Kak Gavin ....," gumam Gia, "Sen, kamu tahu tidak siapa suami Anna?" tanya Gia
"Tidak, kita kan belum pernah bertemu dengannya. Terakhir kita ke sana kan Anna bilang suaminya sedang keluar kota."
"Iya. Tapi .... tadi aku dengar, Anna sedang hamil anak Kak Gavin."
"Whattt??!!” teriak Sena lagi.
"Sepertinya kita harus pindah cafe, daripada kita diusir dengan tidak hormat. Kita sudah membuat keributan dengan teriakanmu itu," ujar Gia sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku telepon Kak Hansen di kantor saja kalau begitu. Apa kamu mau ikut ke kantorku dulu?" tanya Sena.
"Tidak usah, aku langsung pulang saja. Mommy pasti sudah menungguku."
"Baiklah kalau begitu. Nanti kukabari kalau sudah ada kabar dari kak Hansen," kata Sena.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berpisah.
🌹🌹🌹