
Sudah hampir 1 bulan, dan tak ada pergerakan sama sekali yang mengancam keselamatan keluarga Ginea ataupun Keluarga Neutron. Namun, mereka tidak melonggarkan keamanan serta pengawasan.
Mereka tidak ingin sedikit saja mereka lengah, maka orang-orang jahat itu akan beraksi.
Hari ini adalah hari dimana Gia akan melakukan fitting gaun pengantin. Pernikahan Lexy dan Gia sudah direstui, maka mereka tidak akan menunda lagi. Gia mencoba sebuah gaun berwarna putih dengan bawahan yang tidak terlalu lebar. Bagian atas memperlihatkan bahu Gia yang putih dan mulus, menambah keanggunannya.
Lexy sendiri menggunakan setelan jas dan rompi, serta celana berwarna silver.
Ketika area fitting dibuka, Lexy bisa melihat betapa cantik dan anggunnya Gia. Ingin sekali ia menikahi Gia saat itu juga. Tentu saja ia tidak bisa, karena mata Clara selalu tertuju kepadanya.
"Bisakah kamu berhenti menatapnya seperti itu?" tanya Clara pada Lexy.
"Aku kan sedang memperhatikan calon istriku."
"Calon istrimu itu anakku. Jangan melihatnya seperti kamu ingin memakannya,” kata Clara dengan nada yang galak.
"Ya ampun, belum apa-apa aku sudah punya mertua galak,” gumam Lexy.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Clara.
"Tidak tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Sungguh ...," jawab Lexy, kemudian ia kembali menatap Gia sambil merapikan kemejanya.
Acara pernikahan mereka akan diselenggarakan di Switzerland. Seluruh keluarga Ginea akan berangkat ke sana, sekaligus ingin menghabiskan waktu untuk liburan keluarga.
"Kamu menyukainya, sayang?" tanya Mom Clara.
"Aku menyukainya, Mom."
"Baiklah, kita akan mengambil yang ini."
Setelah melakukan pembayaran, mereka meminta pihak butik untuk mengirim gaun itu ke rumah.
**
Hari ini adalah hari pernikahan Lexy dan Gia. Pernikahan tersebut diselenggarakan di taman belakang kediaman keluarga Neutron. Taman belakang mereka sangat besar dan ditanami berbagai macam jenis bunga, kesukaan Mom Clara.
Anna hadir bersama kedua putranya, Dad Joe dan Cornelia. Sementara Bella tidak dapat hadir karena ia sedang pergi mengisi sebuah seminar di Negara Jerman.
"Anna,” sapa Sena.
"Sena, sudah lama aku tidak melihatmu,” kata Anna sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Maafkan aku, akulah yang terlalu banyak pekerjaan sehingga jarang berkomunikasi dengan kamu dan juga Gia."
"Apakah ini Nathan dan Nixon, hmm?" tanya Sena sambil mengelus kedua pipi anak kembar tersebut.
"Bilang apa sama aunty, sayang?"
__ADS_1
"Da da ... da da da ... Da da da da ...,” kata Nixon dengan gembira, sementara Nathan lebih pendiam jika berada di kerumunan orang.
"Apa kamu sudah menemui Gia?" tanya Sena.
"Belum. Dimana dia?"
"Dia pasti sedang di ruang rias. Apa kamu mau menemuinya?"
"Tentu saja,” kata Anna sambil mendorong stroller yang membawa kedua bayi kembarnya, "Daddy, aku mau mencari Gia dulu ya."
Dad Joe mengangguk sambil terus memegang tangan Cornelia, seperti takut kalau pasangannya itu akan menghilang dari sisinya.
**
"Gi!" sapa Sena dan Anna.
"Ahhh kalian sudah sampai. Aku senang sekali,” teriak Gia sambil bangkit dari duduknya.
"Stop stop stop, kamu itu sudah dirias, sudah pakai gaun, tapi kelakuan masi kayak preman,” ujar Sena.
"Ya ampun, aku lupa. Aku senang sekali kalian ada di sini."
"Kami juga sangat senang bertemu denganmu,” kata Anna.
"Ahhh, keponakan aunty yang ganteng-ganteng. Bagaimana kabar kalian? Apa Daddy kalian tidak menjenguk kalian, huh?!" tanya Gia sambil melihat ke arah Anna.
"Sena, aku titip ponakanku sebentar ya,” ujar Gia, kemudian ia menarik tangan Anna.
Setelah berada di tempat yang agak sepi, Gia mulai mengonterogasi Anna dengan berbagai pertanyaan.
"An, sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?"
"Tidak, tidak ada apa-apa."
"Jangan berbohong padaku. Aku tahu bagaimana dirimu dan juga bagaimana kakakku. Jika ia sudah menenggelamkan waktunya untuk pekerjaan, ia pasti sedang tidak ingin memikirkan suatu hal."
"Aku .... aku hanya meminta kakakmu untuk menata hatinya. Ia memintaku menikah dengannya, tapi hatinya sendiri tak pernah ia berikan untukku."
"Ann ...."
"Aku tidak apa-apa. Ini adalah hari bahagiamu, kenapa justru membicarakan tentang diriku. Ayo kita kembali, acara sebentar lagi akan dimulai."
**
Lexy sudah berdiri di depan altar, menunggu kekasih hatinya menghampiri dirinya. Dad Chris sudah menggandeng putri kesayangannya.
"Daddy menyayangimu, sayang,” bisik Dad Chris.
__ADS_1
"Aku juga sangat menyayangi, Daddy."
Karpet merah yang digelar di atas rerumputan menjadi saksi bagi langkah kaki Gia menuju ke suatu hal yang baru. Di depan altar sudah menunggu seseorang yang sangat ia kagumi dan ia cintai.
Saat mencapai altar, Dad Chris menyerahkan tangan Gia pada Lexy. Namun, sebelum melepaskan pada Lexy, Dad Chris berpesan,
"Jagalah putriku melebihi diriku, Cintai dia melebihi cintaku padanya, dan kasihi dia selalu. Jangan kamu melukai hatinya, atau aku akan mengambilnya darimu dan kupastikan kamu akan menyesal,” kata Dad Chris sambil menatap tajam pada Lexy.
Ya Tuhan, selain punya mommy mertua yang galak, ternyata aku juga akan punya daddy mertua yang kejam. - batin Lexy.
"Ya, aku pasti akan selalu mencintainya.”
Dad Chris memberikan tangan Gia pada Lexy, tapi kemudian ia menariknya lagi,
"Daddyy!!" teriak Gia tiba-tiba karena kaget.
"Maaf, sayang. Daddy seperti tidak rela jika kamu bersamanya. Apa tidak sebaiknya kita mencari pasangan lain untukmu?" bisik Dad Chris pelan di telinga Gia.
"Daddyyy!!! aku tidak mau. Kalau Daddy tidak mau aku menikah dengan Lexy, sebaiknya aku kabur saja sekarang."
"Jangan, sayang. Maaf, Daddy hanya merasa kehilanganmu."
Akhirnya setelah acara goda-menggoda, Dad Chris menyerahkan Gia, putri kesayangannya, pada Lexy. Ia melepaskan tangannya dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Setelah pembacaan janji pernikahan, mereka pun saling menyematkan cincin di jari manis mereka. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Mereka pun saling menatap. Lexy mencium bibir Gia dengan lembut, kemudian mengecup kening wanitanya.
"I love you, Gift."
"I love you too, sayang."
Senyum menghiasi wajah kedua mempelai. Kini MC kembali mengambil alih acara.
"Saatnya acara melempar bunga. Siapa yang masih single, silakan maju ke depan, berkumpul di tengah. Pengantin akan melemparkan bunga. Siapa yang mendapatkannya, akan mendapatkan hadiah spesial dari sang pengantin."
Para wanita dan pria single meluncur ke tengah tengah di depan panggung yang tidak terlalu tinggi itu.
"Lempar, lempar, lempar!!" MC memulai teriakan, diikuti dengan teriakan para wanita dan pria single. Suasana semakin riuh.
Lexy dan Gia berbalik badan, mereka bersiap siap untuk melempar bunga pengantin mereka.
"1 .... 2 .... ti ..... dak ada?" Gia dan Lexy tidak jadi melempar bunga, membuat semua yang hadir tertawa.
"Ayo kita coba sekali lagi ...." teriak sang MC
"1 ... 2 ... 3!!" Bunga tersebut melayang di udara. Semua orang diam melihat ke arah mana bunga itu akan jatuh.
Ternyata ....
__ADS_1
🌹🌹🌹