
"Hei lepaskan aku! kamu laki-laki atau bukan sih, beraninya sama wanita," teriak Gia.
Satu tamparan mendarat di pipi Gia dan membuat pipinya memerah, serta sudut bibirnya robek.
Gia yang belum terikat tangan dan kakinya, kemudian langsung memberikan pukulan dan tendangannya kepada 2 orang laki-laki yang membawanya. Mereka sedikit terhuyung, namun tidak sampai terjatuh.
Mendapat pukulan dari Gia, mereka justru menjadi lebih geram dan mendaratkan 1 pukulan ke perut Gia. Pukulan tersebut sukses membuat Gia terjatuh. Mereka pun langsung mendudukkan Gia di sebuah kursi dan mengikat tangan dan kakinya.
"Hei, katakan siapa kalian dan apa mau kalian!" teriak Gia.
"Sudah, jangan berteriak. Atau kamu mau kami buat berteriak nikmat?"
"Sialannn kalian, beraninya 2 lawan 1, dasar pecundang! cuihhh!!!"
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Gia, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Wajah Gia sudah menampakkan kekesalan yang amat sangat, sayangnya saat ini ia sudah terikat.
Awalnya Gia berniat langsung pulang ke rumah, tapi setelah berpisah dengan Sena, ia melangkahkan kakinya menuju toko kue yang tak jauh dari sana dan membeli kue kesukaan ibunya.
Saat selesai membeli kue, ia mendekati mobilnya dan saat berusaha membuka pintu, ia dibekap hingga pingsan.
**
Akhirnya Dad Chris sampai di rumah, bersama Han dan juga Lexy. Sementara Gavin tetap tinggal di kediamannya bersama Jack dan beberapa orang suruhan Dad Chris.
"Sayang, kamu sudah pulang? kamu tidak bersama dengan Gia?" tanya Mom Clara.
"Gia? memangnya dia pergi ke mana?" tanya Dad Chris.
"Tadi siang sehabis makan dia minta izin mau keluar, katanya ada yang perlu ia bicarakan denganmu, berarti ia pergi ke rumah Gavin kan?" tanya Mom Clara yang mulai sedikit panik.
"Tidak, kami hanya berbicara berlima dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Gia," jawab Dad Chris.
"Coba saya hubungi Jack," kata Han.
Setelah Han menghubungi Jack, Jack langsung menuju ke pos security yang terdapat di halaman parkir kediaman Gavin. Ia menanyakan mengenai kedatangan Gia, dan penjaga tersebut mengatakan bahwa Gia memang pergi ke sana, tapi tidak terlalu lama.
Mendengar informasi yang diberikan oleh Jack, membuat Lexy menjadi panik. Dad Chris, Mom Clara, dan Han bisa melihat kepanikan di wajah Lexy. Yaa, karena Lexy tahu ada sesuatu yang terjadi pada Gia, gadis kecilnya.
Kepanikan mereka dihentikan sementara oleh bunyi suara telepon di rumah Dad Chris. Mom Clara pun mengangkatnya.
"Halo."
"Aunty?"
"Iya, siapa ini?" tanya Mom Clara.
"Ini Sena, aunty."
__ADS_1
"Ada apa, Sena?"
"Aku mencoba menghubungi Gia, tapi ponselnya tidak aktif, jadi aku telepon ke sini. Apa dia sudah pulang aunty?" tanya Sena.
"Gia belum pulang. Apa tadi dia menghubungimu?"
"Tidak, justru tadi kami bertemu."
"Jam berapa?" tanya Mom Clara.
"Kami bertemu sekitar jam 2, lalu jam 4 kami sudah berpisah." jawab Sena, "Apa ada sesuatu yang terjadi aunty?"
"Aunty belum tahu, tapi memang Gia belum bisa dihubungi. Nanti aunty minta Gia menghubungi kamu kalau dia sudah kembali ya."
"Okay aunty, thank you," Sambungan telepon pun terputus.
Tiba-tiba kini ponsel Dad Chris yang berbunyi, ada sebuah pesan gambar masuk,
"Apa kamu mencari anak kesayanganmu ini?" bunyi pesan tersebut sambil menampilkan gambar Gia yang sedang terikat dengan beberapa bekas merah di pipinya akibat tamparan yang ia terima.
"Gia .... ," kata Mom Clara, kemudian ia jatuh pingsan.
Kris langsung menggendong Mom Clara dan membawanya ke kamar, dan meminta pelayan untuk menjaganya. Sementara ia harus menyelesaikan masalah ini.
Dad Chris, Han, dan Lexy langsung menuju ke ruang kerja. Mereka langsung menghubungi Gavin, dan memintanya datang.
**
"Kamu sudah bangun, Gi?"
"Anna?" Kata Gia yang tidak sadar kalau sedari tadi Anna sudah berada di sebelahnya.
"Apa wajahmu masih terasa sakit?" tanya Anna dengan wajah yang mengkuatirkan dirinya. Yaa, Anna memang sahabat terbaiknya. Ia pasti akan melakukan apapun untuk membela dan melindungi sahabatnya.
"Sudah tidak, aku kan super woman," ujar Gia bercanda. Gia memang wanita yang lucu, karena itulah Anna sangat senang berteman dengannya. Gia adalah wanita yang sangat amat berkecukupan, tapi ia tidak pernah membeda-bedakan teman ataupun memilih-milih.
"Kita ini sedang diculik, kamu masih saja bercanda."
"Apa kamu tahu siapa yang menculik kita?" tanya Gia.
"Aku hanya tahu yang membawaku kemari adalah Dokter Peter."
"Dokter Peter? siapa dia?"
"Dokter Peter adalah dokter yang merawat Daddy, membantu Daddy terapi. Ia juga yang mengenalkan Daddy dengan seorang dokter di Paris untuk mengoperasi kakinya."
"Loh kok bisa?"
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti apa mau mereka sebenarnya. Tapi mereka mengatakan kalau alasanku berada disini, adalah karena kakakmu."
"Kakakku? Kak Gavin? Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?" tanya Gia penasaran sambil menatap ke arah Anna.
Anna menunduk, menghela nafasnya pelan.
"Aku ....," baru saja Anna mau membuka mulutnya untuk mengatakan kebenaran pada Gia, pintu ruangan tersebut terbuka.
"Wow, 2 sahabat sedang ber-curhat ria," kata Peter sambil bertepuk tangan.
"Hei, lepaskan kami!" teriak Gia.
"Lepaskan? enak saja. Aku sudah berbaik hati menyatukan kalian berdua, biar bisa ngobrol seperti ini."
"Dok, tolong lepaskan Gia. Biar aku saja yang berada di sini," kata Anna.
"Ooo jadi ini yang namanya Dokter Peter!" Kata Gia dengan menekan kata-kata di akhir.
"Wah, sepertinya kalian sudah membicarakan banyak hal tentang diriku," ujar Peter yang mendekati Anna, yang kemudian mencium pipi Anna. Anna langsung memalingkan wajahnya.
"Hei, jangan ganggu Anna. Lepaskan ikatanku, kamu bisa melawanku dengan lebih jantan kan," kata Gia dengan nada tinggi.
"Ntah mengapa aku melihatmu seperti orang yang sok jagoan, nona," ujar Peter, "Padahal aku ke sini ingin memberimu izin untuk menelepon orang tuamu."
"Daddy, Mommy .... Ingat! jangan sekali kali kamu mengganggu mereka."
"Ouuu tenang saja, itu bukan bagianku. Lagipula aku lebih suka bersenang-senang di sini," Peter kembali mengelus pipi Anna perlahan dan mendekatkan kepalanya pada Anna.
Dengan segenap kekuatannya, Anna memiringkan sedikit kepalanya dan menghentakkannya ke kepala Peter, membuat Peter kaget dan langsung berdiri.
"Wow, kamu suka main kasar An, aku tidak menyangka."
Peter dengan kasar menarik rambut Anna yang dikuncir kuda ke belakang.
"Ingat! aku bisa berbuat yang lebih dari ini. Kalau kau terus bersikap seperti itu."
Peter yang mendapatkan tatapan tajam dari kedua wanita di hadapannya pun tertawa, kemudian hendak beranjak pergi.
"1 jam lagi akan ada yang membawakan makanan untuk kalian. Makanlah! aku tidak mau kalian mati sebelum tujuan kami tercapai," kata Peter melangkah pergi dan melambaikan tangannya tanpa melihat.
Gia menatap Anna, "Sebaiknya kita juga harus menyusun rencana untuk kabur dari sini. Apa kamu siap An?"
"Aku siap, tapi aku juga harus menemukan Daddy."
"Baiklah, kita akan kabur dari sini bersama-sama."
Anna pun mengangguk.
__ADS_1
🌹🌹🌹