
Gavin memasuki ruang rawat Anna. Hari ini Anna sudah diperbolehkan pulang, begitu juga dengan bayinya, karena dokter anak menyarankan agar bayi kembar mereka mendapatkan sentuhan langsung dari ibunya, sebagai inkubator alami.
Gavin melihat keceriaan di wajah Anna saat ia menggendong bayi kembar mereka bergantian, ia pun tersenyum.
"Aku bantu," kata Gavin sambil mengangkat sebuah tas milik Anna.
"Terima kasih."
Dengan dibantu oleh seorang perawat, Anna keluar dari ruangan dan mengikuti Gavin.
Jack datang ke lobby dengan sebuah mobil, kemudian membukakan pintu untuk mereka. Anna sebenarnya tidak tahu ia akan dibawa kemana, sebelumnya ia sudah meminta Gavin untuk mengantarkannya ke hotel, sebelum ia mencari rumah untuk ia sewa.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu tinggal di hotel," begitulah jawaban Gavin.
Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang besar. Security langsung membukakan pintu, dan Jack memasukkan mobilnya.
"Rumah siapa ini?" tanya Anna.
"Rumahku," jawab Gavin.
"Untuk apa kamu membawaku ke sini?"
Sebelum ia menjawab, ia turun dari mobil kemudian memutar dan membukakan pintu untuk Anna, kemudian ia pun membantu menggendong salah satu dari kedua bayi kembar tersebut.
"Masuklah."
Anna mengikuti Gavin untuk masuk ke dalam rumah. Bagi Anna, rumah Gavin sangatlah besar, sama seperti rumah milik orang tua Gavin.
Di ruang tamu, sudah berdiri Lio dan Poppy. Mereka menyambut Anna dengan senyuman di wajah mereka.
"Poppy, Lio, tolong bantu aku membawa bayi-bayi ini ke kamar," pinta Gavin.
"Baik, Tuan."
"Tapi aku belum setuju untuk tinggal di si ..." belum selesai ia berbicara, Gavin mengajaknya duduk di sofa.
Anna menatap Gavin langsung ke matanya, memberikan tatapan tajam bahwa ia tidak suka diperlakukan Gavin seperti ini.
Gavin yang mendapat tatapan itu, malah salah tingkah dan memegang bahu Anna.
"Dengarkan aku," kata Gavin tegas, "Sampai Uncle Joe ditemukan, sebaiknya kamu dan anak-anak tinggal di sini. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian karena kurang pengawasan."
"Setelah nanti Uncle Joe ditemukan, aku akan menerima semua keputusanmu," lanjut Gavin.
Anna tampak berpikir, dan pada akhirnya ia menganggukkan kepala. Mungkin tak ada salahnya untuk berjaga-jaga, demi keselamatan Dad Joe dan anak-anaknya.
"Tapi, apakah sudah ada kabar dari Daddy?" tanya Anna.
"Kami sempat menemukannya, tapi ia langsung dibawa pergi lagi. Maafkan kami."
"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Bukan kamu yang menyembunyikan Daddy."
__ADS_1
"Tapi sepertinya aku-lah penyebabnya," ujar Gavin.
"Tolong beritahu aku jika kamu sudah menemukan lokasi Daddy, aku akan pergi menemui mereka."
"Tidak!! aku tidak akan membiarkanmu pergi." teriak Gavin, "Biar aku yang melakukannya, kamu cukup di sini, menjaga anak-anak kita. Mengerti."
Tatapan tak ingin dibantah, membuat Anna menganggukkan kepalanya.
**
Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu, Gia sering melamun sendiri sambil tersenyum. Ketika ia tersenyum, pipinya tiba-tiba menjadi kemerahan.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? Belakangan Mommy lihat kamu sering sekali senyum-senyum sendiri."
"Tidak ada apa-apa Mom, aku hanya senang Uncle sudah pulang dari rumah sakit."
"Oya, ini antarkan makanan ini untuk Lexy."
"Tapi Mom, kenapa tidak meminta pelayan yang membawakannya?" Gia ingin bertemu dengan Lexy, tapi ia juga merasa malu jika harus bertatap muka dengan Lexy.
"Mommy sedang meminta pelayan untuk membersihkan kamar tamu yang satu lagi. Mommy ingin Anna pindah ke sini sambil menunggu Tuan Joe kembali. Mommy merasa dia tidak nyaman berada di rumah Gavin."
"Benarkah Mom? Anna akan tinggal di sini?" Gia terlihat antusias.
Mom Clara menganggukkan kepala, kemudian menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas jus untuk Lexy.
Gia menerima nampan tersebut, kemudian dengan perlahan ia membawanya ke kamar tamu yang ditempati oleh Lexy.
"Permisi Uncle, Mommy memintaku membawakan makanan untukmu."
"Masuklah."
Gia terdiam sesaat, memandang laki-laki di hadapannya. Pahatan Tuhan yang maha indah, meskipun laki laki itu hampir seumuran dengan Mommy-nya, tapi ia terlihat begitu tampan dan gagah, seketika wajah Gia memerah. Lexy hanya berbeda 7 tahun dari Mom Clara. Saat ia mulai bekerja dengan Nicholas, usianya baru 17 tahun, tapi memiliki ketelitian dan kejelian yang luar biasa.
Ya Tuhan, apa aku sedang jatuh cinta pada Uncle? - batin Gia.
"Apa yang membuatmu berdiri terus di sana? apa kamu tidak lelah memegang nampan itu? kemarilah," Lexy menepuk tempat tidurnya.
Gia meletakkan makanan yang dibawanya di atas nakas, kemudian duduk di samping tempat tidur, di hadapan Lexy.
Lexy tersenyum, ia tahu Gia pasti merasa malu karena wajahnya terlihat memerah, membuat Lexy menjadi gemas dan ingin sekali mencubit pipinya.
"Apa masih sakit, Uncle?"
"Tidak, Uncle tidak apa-apa."
"Bolehkah aku melihatnya?"
Lexy membuka pakaian yang ia kenakan dengan perlahan, kemudian menggeser tubuhnya sehingga membelakangi Gia. Gia bisa melihat ada 2 luka bekas tembakan di sana, meski saat ini sudah mengering.
Gia menyentuhkan jari jemarinya di belakang tubuh Lexy, tanpa menyadari apa yang saat ini terjadi pada Lexy.
__ADS_1
"Gift, apa kamu akan terus memainkan jarimu di sana?" tanya Lexy
"Ooo tidak Uncle. Aku hanya ingin memegangnya, mengingatkanku akan kesalahanku," Gia terus menyentuh tubuh Lexy dan pada akhirnya ada yang menegang di bawah sana.
Lexy membalikkan tubuhnya, dan kini Gia sudah berada di bawah kungkungannya.
"Sudah kukatakan jangan memainkan jarimu terus menerus di sana."
"Maksud Uncle, seperti ini?" Gia kembali menyentuhkan jari jemarinya di bagian depan tubuh Lexy, tubuh yang terpahat indah.
"Ooo Gift .... kamu sengaja mempermainkan Uncle?" tanya Lexy.
"Tidak Uncle, aku hanya bercanda saja," kata Gia sambil tersenyum.
"Tapi aku sedang tidak bercanda denganmu."
Lexy yang tidak tahan dengan sentuhan Gia, akhirnya lepas kendali. Ia mencium Gia perlahan, kemudian **********. Gia pun membalasnya, dan mengalungkan tangannya di leher Lexy.
Gia bisa merasakan ada yang menegang di bawah sana, tapi ia yakin Uncle Lexy-nya masih bisa menahan.
"Uncle, sepertinya aku mencintaimu," bisik Gia di telinga Lexy.
Lexy melepaskan ciumannya dan memandang wajah Gia. Melihat mata indah yang ia sukai sejak wanita ini masih kecil dan saat ini ia sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa.
"I love you too," balas Lexy, dan kembali ******* bibir pink milik gadis kecilnya.
Dan tanpa mereka sadari, pintu kamar akhirnya terbuka,
"Lexy! Gia!"
Mereka berdua langsung memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara.
"Mommy! Clara!" teriak mereka bersamaan.
Kini di sinil-ah mereka, duduk berdua berhadapan dengan Mom Clara.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan?" tanya Mom Clara pada Gia, "Mommy hanya memintamu mengantarkan makanan untuk Lexy."
"Tapi Mom, aku ..."
"Ini kesalahanku, aku yang tidak bisa menahan perasaanku."
"Perasaanmu? apa kamu mencintai Gia?" tanya Mom Clara.
Lexy melihat ke arah Gia, menatap langsung ke matanya. Ia ingin mata itu terus menatap dirinya, dan hanya dirinya.
Dengan tegas Lexy berkata, "Ya, aku mencintainya."
"Sayang! ada apa ini, kenapa mereka berdua ada disini" tanya Dad Chris
"Nikahkah mereka!" ujar Mom Clara sambil melenggang pergi, sementara Dad Chris hanya bisa menatap mereka heran.
__ADS_1
🌹🌹🌹