TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#80


__ADS_3

"Lepaskan anak anakku!" kata Anna dengan tegas dan mata yang menyala-nyala.


"Kamu mau anakmu? Maka sebaiknya kamu mengembalikan Gavin padaku. Ah ... tidak ... tidak!! aku tidak menginginkan laki-laki itu. Aku ingin hartanya, miliknya, semuanya harus jadi milikku. Dan aku yakin ia akan mau menukarnya dengan apa yang saat ini kumiliki di sini," Elisa tertawa dengan kencang.


Anna mengepalkan tangan kanannya, rasanya ia ingin memberikan bogem mentah ke wajah Elisa, tapi ia masih berusaha menahan emosi. Ia tak ingin anak-anaknya mengalami hal yang tidak baik jika ia melakukan hal seperti itu.


"Kalian, ikat dia!!" perintah Elisa.


Dua orang berpakaian hitam mendekati Anna, namun dengan sekali hantam, Anna membuat kedua orang tersebut terjatuh. Anna masih agak kesulitan bergerak menggunakan gaunnya, namun ia tetap akan berusaha menjaga dirinya.


"Wowww, pertunjukkan yang luar biasa," Elisa malah bertepuk tangan melihat Anna, "Ikat dia!!" Elisa kembali memberi perintah.


"Dan aku akan langsung melenyapkan anakmu jika kamu melawan," lanjutnya.


Ucapan Elisa membuat Anna menghentikan gerakannya. Kini ia akan melakukan apapun agar anak-anaknya aman.


"Aku ingin melihat anak-anakku," kata Anna.


"Ooo sebentar," Elisa berbisik kepada salah seorang pengawalnya.


Tak lama, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dengan menggunakan stroler. Anna memandangnya dengan tatapan tajam, ia tak menyangka wanita itu tega melakukan hal itu kepada kedua putranya.


"Nathan, Nixon!" panggil Anna.


"Huaaaa!" teriak Nathan dan Nixon yang menangis dan berusaha meraih Anna dengan tangan mungilnya.


Sayang, tenanglah. Mommy tahu Daddy pasti akan segera datang. Mommy pun tak akan pernah membiarkan mereka melakukan hal yang buruk pada kalian. - batin Anna.


"Bawa mereka pergi!" perintah Elisa.

__ADS_1


"Hei, mau kemana kamu membawanya, huh?!" tanya Anna sambil berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, tapi usahanya sia-sia.


Elisa tertawa, "Tentu saja aku akan bersenang-senang dengan mereka. Aku ingin kamu bersenang-senang dengan seseorang."


"Apa maksudmu?" tiba-tiba mata Anna menangkap sosok seseorang dan ia langsung kaget saat melihat siapa yang datang disana, "Dokter Peter?"


"Hi Anna, sudah lama tidak berjumpa denganmu. Aku sangat sangat merindukanmu selama ini," kata Peter dengan senyum di wajahnya.


"Bukankah kamu ada di ..."


"Penjara?" Peter tertawa, "Aku sudah bebas, An. Dan aku sangat merindukanmu."


Peter berjalan mendekati Anna, kemudian mengambil kursi dan meletakkannya di kursi sebelah Anna. Ia memegang pipi Anna dan mendekatkan wajahnya ke rambut Anna.


"Hmm, wangi yang sangat aku rindukan," kata Peter.


"Tentu saja, Kak. Aku sangat berterima kasih padamu karena mengikutsertakanku dalam rencanamu ini. Aku bisa kembali memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku."


"Aku pergi dulu dari sini, aku tidak ingin melihat kalian beromantis ria."


Elisa pun pergi meninggalkan salah satu ruangan yang terletak di dalam bangunan tua tersebut.


"An, apa kamu tidak merindukanku?"


Anna diam dan memalingkan wajahnya.


"Kamu cantik sekali menggunakan gaun pengantin ini. Sepertinya akan lebih indah jika akulah pengantin pria-nya. Bagaimana kalau kita merayakan malam ini menjadi malam pertama kita?"


Anna langsung menatap Peter dengan tatapan membunuh. Ia tak akan membiarkan Peter menyentuhnya.

__ADS_1


Peter memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Anna ke sebuah ruangan yang terdapat tempat tidur di dalamnya, kemudian ia mengikat Anna di sana.


Sementara itu di luar bangunan,


"Apa benar mereka ada di sini?" tanya Gavin yang mengawasi dari balik mobil.


"Ya, anak buah kita sudah mengikuti mereka sampai di sini, tapi mereka tidak berani untuk masuk karena melihat jumlah penjaga yang begitu banyak," jawab Jack.


"Apa kamu sudah memanggil pihak kepolisian, Jack?"


"Sudah, dan mereka sedang menuju kemari."


"Ambilkan pistolku, Jack."


"Tapi, Bos ..."


"Aku tidak bisa menunggu polisi datang. Aku kuatir akan keadaan Anna dan putraku," ujar Gavin cemas.


Jack pun mengambilkan pistol milik Gavin yang selalu tersedia di dalam mobil, tentu saja di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun.


Jack meminta anak buahnya untuk melindungi atasan mereka. Gavin menembakkan pistolnya ke arah penjaga yang berdiri di depan pintu. Ia menembak ke arah kaki mereka, kemudian meminta anak buahnya untuk meringkus mereka.


Senjata Gavin menggunakan peredam sehingga tidak menimbulkan suara. Perlahan Jack juga mengikuti Gavin dari belakang.


Satu persatu para penjaga bisa dilumpuhkan. Kini Gavin sampai di suatu ruangan, tapi tidak melihat siapapun, ruangan itu kosong.


"Kemana mereka?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2