TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#21


__ADS_3

"Senaaaa!!!" Gia berteriak menumpahkan kekesalan dan kesedihannya pada sahabatnya melalui sambungan video call.


"Ada apa, Gi?" tanya Sena.


"Dia bukan Anna, aku yakin dia bukan Anna."


"Coba sekarang kamu tenang dulu, tarik nafas, buang, tarik ....."


"Ahhhh .... aku sedih!!" ujar Gia sambil memeluk bantal.


"Ceritakan padaku ada apa sebenarnya," kata Sena dengan tenang.


"Waktu itu aku sudah menceritakan padamu tentang Anna bukan? bahwa aku melihatnya di majalah. Tadi aku berhasil bertemu dengannya. Kebetulan perusahaan Uncle Nic mengundangnya sebagai brand ambasador produk terbaru kami."


"Lalu lalu, apa dia mengenalimu?" tanya Sena yang mulai sedikit penasaran.


"Tidak."


"Bagaimana mungkin? Kita berpisah baru sekitar 1 bulan, masa dia sudah melupakanmu," ujar Sena yang merasa aneh.


"Bukan saja dia tidak mengenaliku, tapi dia juga sangat sombong. Bahkan ia tidak mau dipanggil dengan sebutan Anna, tapi minta dipanggil Nona Arianna."


Seketika tawa Sena pecah, "Ya ampun, kamu marah, kesal dan sedih karena dia memintamu memanggilnya Nona Arianna?"


"Bukan hanya itu, bahkan ia berusaha mencoba menarik perhatian Kak Gavin, bayangkan!!! Kak Gavin. Itu jelas-jelas bukan Anna."


"Kamu benar, meskipun aku mengenal Anna tidak se-lama dirimu, tapi aku tahu, Anna bukan tipe wanita seperti itu. Ia bahkan bisa menghajar laki-laki yang bersifat kurang ajar padanya," kata Sena.


"Lalu, kalau dia bukan Anna, siapa dia? atau jangan-jangan dia Anna tapi mengalami amnesia," lanjut Sena.


"Amnesia? mungkinkah terjadi sesuatu padanya hingga dia amnesia?" Gia mulai terlihat kuatir.


"Perlahan kamu harus mencari tahu tentang itu, sementara aku akan tetap mencoba mencari tahu tentang Mr. Antonio melalui relasi bisnis kakakku, karena terakhir aku melihatnya bersama Mr. Antonio, jadi ia adalah kunci yang akan membawa kita pada Anna."


“Baiklah kalau begitu,” ujar Gia. Akhirnya mereka menyudahi pembicaraan mereka karena Sena harus menemui seseorang.

__ADS_1


**


"Nona Arianna, apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Mam, Tuan Gavin itu tampan, gagah dan sangat mempesona ya .... ," kata Arianna memuji Gavin.


"Bukankah dia sudah memiliki istri?"


"Aku tidak peduli, Mam. Aku pasti bisa mendapatkannya, dan aku yakin dia pasti akan lebih memilihku daripada istrinya."


"Ingat, kamu itu public figure, jangan berbuat yang aneh-aneh. Nanti orang tidak akan suka dan pada akhirnya kamu akan dihujat, apalagi kalau sampai menjadi seorang pelakor."


"Mam, biarkanlah itu menjadi masalah mereka, yang penting aku mendapatkan apa yang aku inginkan,” ujar Arianna.


Kristin sebagai manager Arianna, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sejak dulu, Arianna memang tidak bisa dinasehati. Ia akan melakukan semua hal sesuai dengan keinginan hatinya. Untung saja orang tuanya bisa memenuhi semua keinginannya.


**


"Daddy, ayo kita berangkat sekarang,” kata Anna.


"Anna, kita sekalian ke dokter kandungan ya. Daddy ingin melihat cucu Daddy."


Hari ini Anna mendapat jadwal shift pagi, sehingga ia bisa mengantar Dad Joe terapi di sore hari.


Jam berganti jam, menit berganti menit. Dokter Peter menemani Dad Joe untuk melakukan terapi.


"Anna, Dad Joe semakin baik setiap kali terapi, kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku yakin Daddy Joe pasti akan segera sembuh."


"Terima kasih Dokter Peter. Perkembangan pemulihan Daddy memang luar biasa, aku sungguh sangat berterima kasih pada Dokter."


"Tidak, itu bukan dari diriku. Kamu bisa lihat bagaimana Dad Joe memiliki kemauan yang sangat besar untuk bisa sembuh."


"Ya, Daddy memang hebat," puji Anna.


"Anna, ayo kita pergi," ujar Dad Joe yang baru selesai berganti pakaian.

__ADS_1


"Dokter, kami pulang dulu. Terima kasih sudah membantu Daddy terapi," pamit Anna.


"Ya Dokter, terima kasih banyak," ujar Dad Joe.


"Sama sama, Uncle Joe. Sampai bertemu minggu depan,” kata Dokter Peter.


Anna pergi meninggalkan Dokter Peter sambil mendorong kursi roda milik Dad Joe.


"Anna, kita ke dokter kandungan sekarang."


"Iya, Dad. Daddy tidak sabaran sekali."


Mereka pun menunggu di area ruang tunggu rumah sakit yang sama setelah mendaftar untuk pemeriksaan kandungan.


Ketika giliran mereka sudah tiba, Dokter Bella melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti dan cekatan.


"Lihat Miss, ini janin-nya, masih terlihat seperti biji. Saat ini, kandungan baru berusia sekitar 4 minggu. Nanti di usia 7 minggu, baru kita bisa melihat apakah janin berkembang, karena saat itu kita sudah bisa mendengar detak jantungnya,” kata Dokter Bella menjelaskan.


Dad Joe yang melihatnya begitu bahagia. Semuanya terlihat ketika senyum di wajahnya yang begitu merekah.


"Apakah ini Grandpa-nya?" tanya Dokter Bella.


"Iya Dok, ini Daddy saya."


Dokter Bella tersenyum melihat kedekatan antara Anna dengan Dad Joe. Ia sangat merindukan sosok seorang Daddy, karena ia hanya memiliki seorang Mommy saja.


Setelah pemeriksaan selesai, Dokter Bella menjadwalkan 2 bulan lagi untuk pemeriksaan jika Anna tidak memgalami keluhan apapun. Tapi jika ada terjadi sesuatu, diharapkan segera datang.


"Baik Dok, terima kasih."


"Sama-sama. Jangan lupa selalu makan makanan yang bergizi, agar ibu dan calon baby sehat,” pesan Dokter Bella.


"Saya akan memperhatikannya, Dok," kata Dad Joe.


Mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Anna di Dokter Kandungan? - batin Dokter Peter saat tak sengaja melihat mereka keluar dari ruangan Dokter Bella.


🌹🌹🌹


__ADS_2