TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#72


__ADS_3

Anna masih terus bersama anak-anaknya. Setelah ia menyuapi mereka sarapan, kini ia sedang mengajak mereka berkeliling taman.


Taman belakang milik keluarga Neutron memang sangat besar, karena itulah kemarin mereka menggunakannya sebagai tempat acara pernikahan putri mereka.


"Annn ...."


Setelah Gavin selesai membersihkan diri, ia kembali menghampiri Anna. Gavin memang sosok lelaki tampan dan gagah, pasti banyak wanita yang ingin menjadi pasangannya. Tapi justru saat ini, ia sedang berusaha meluluhkan hati wanita yang adalah mommy dari putra kembarnya.


"Ayo kita sarapan. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ajak Gavin


"Tapi anak-anak?"


"Titipkan saja pada Mommy, Mommy sangat menyayangi dan merindukan mereka."


Gavin mengambil alih stroller yang sedang didorong oleh Anna, kemudian bersama mereka kembali ke dalam rumah.


"Mom."


"Ya,” balas Mom Clara yang sedang menyiapkan segelas teh hangat untuk Dad Chris.


"Aku titip Nathan dan Nixon ya."


"Kamu mau pergi kemana, Son?" tanya Dad Chris.


"Aku mau mengajak Anna untuk mencari sarapan."


"Kenapa tidak sarapan dirumah?"


"Dad, bisakah aku memiliki waktu berdua?" Kata Gavin sambil setengah berbisik.


Mom Clara pun menyenggol siku Dad Chris.


"Ooo, ya sudah, pergilah. Daddy akan membantu Mommy menjaga Nathan dan Nixon.”


"Ayo, An."


"Aku ambil tas-ku dulu."


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, hanya berdua.


"Kamu mau sarapan dimana?" tanya Anna.


"Ke tempat yang sangat menyenangkan."

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Gavin menyusuri tempat yang dikelilingi pohon di kanan dan kiri. Tempatnya seperti begitu tersembunyi.


Mereka sampai di sebuah rumah kecil dengan plang kecil bertuliskan 'Coffee Pot'.


Gavin langsung turun dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya, dan langsung memutar untuk membukakan pintu untuk Anna. Ia tahu Anna selalu membuka pintu sendiri, jadi ia harus bergerak cepat.


"Terima kasih,” kata Anna.


Gavin meraih telapak tangan Anna dan menggenggamnya, membawanya masuk ke dalam tempat itu.


Suara bel berbunyi saat pintu terbuka,


"Hi, Vin!!"


"Hi, Mark!" sapa Gavin.


"Siapa ini?" Mark menatap Gavin dengan tatapan penuh tanya.


"Calon istriku,” jawab Gavin, dan langsung membuat Anna mencubit Gavin.


"Kata siapa aku ini calon istrimu, huh?!" bisik Anna pada Gavin.


"Kataku barusan,” balas Gavin tersenyum.


"Woww...,” seru Anna.


"Kamu menyukainya?" tanya Gavin.


Anna menganggukkan kepalanya. Ia memejamkan matanya dan tersenyum sambil merasakan angin yang menerpa wajahnya.


Gavin yang berada di sebelah Anna kini mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Ia setengah berlutut di samping Anna.


"An, mungkin aku bukan yang terbaik, tapi aku akan menjadikanmu yang terutama. Mungkin kamu bukan yang pertama, tapi kupastikan bahwa kamu akan menjadi yang terakhir. Di sini, di tempat ini, dimana kamu bisa melihat seluruh Switzerland, biarkan aku memberikan seluruh hidupku hanya untukmu. Will you marry me?" Gavin menyerahkan sebuah kotak berisi cincin ke hadapan Anna.


**


Sebuah pesta diadakan di Kota Madrid, Spanyol. Pesta yang diadakan oleh para pengusaha yang mungkin juga adalah para lelaki hidung belang.


Dalam sebuah ruangan, dimana bau alkohol tercium dengan begitu menyengat, banyak berkumpul para lelaki yang sedang menikmati minuman mereka dan dikelilingi oleh para wanita yang berbusana seksi.


Di antara para wanita itu, terlihat seorang wanita yang tak asing, Elisa Ivano. Ia sedang berada di antara para pengusaha, mencari mangsa selanjutnya.


"Kamu cantik sekali."

__ADS_1


"Tentu saja, aku berdandan dan berpakaian seperti ini hanya untuk kalian."


"Apa kamu bisa memberi lebih pada kami? hmmm..."


"Kalau aku memberi lebih, apa yang akan kalian akan berikan padaku?" tanya Elisa.


"Apapun yang kamu inginkan, akan kami berikan."


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan lebih untuk kalian,” kata Elisa dengan senyum bangga bahwa ia telah berhasil menjerat mereka.


Namun, seorang lelaki yang duduk tak jauh dari mereka pun menimpali,


"Bagaimana jika kamu memberikan kelebihan itu pada kami secara bersama-sama." ucap lelaki itu dengan senyum sinis.


Elisa yang semula tersenyum kini wajahnya berubah. Ia tak pernah menyangka akan mendapat tawaran melayani lebih dari 1 laki-laki, tak pernah ia bayangkan.


Namun di kepalanya muncul pemikiran-pemikiran,


Kalau aku melayani 1, aku punya 1 permintaan. Kalau aku langsung melayani 2, tentu aku akan langsung mendapatkan 2 permintaan. Bukankah itu sekali tebang langsung 2 yang tumbang. - batin Elisa.


"Bagaimana? apa kamu menerimanya?"


"Memangnya berapa orang?" tanya Elisa.


"Tentu saja 3 orang ini, teman-temanku. Dan kalau kamu berhasil, aku sendiri pun akan memberikan hadiah untukmu."


Mendengar kata hadiah dan Elisa yakin jumlahnya pasti tidak akan main-main karena mereka adalah para pengusaha, Elisa pun mengiyakan.


"Baiklah, aku menerimanya. Lalu bagaimana denganmu?" tanya Elisa sambil menghampiri laki-laki itu, kemudian mengelus wajahnya.


"Aku? tenang saja. Ketika kamu bisa memberi kepuasan pada 3 orang temanku, maka aku baru bisa yakin bahwa kamu bisa memuaskanku." ujarnya sambil tertawa.


Akhirnya Elisa dibawa oleh ketiga lelaki itu menuju suatu ruangan. Di sana ia harus melayani 3 orang lelaki sekaligus. Ia tidak tahu kenyataan apa yang akan menunggunya nanti.


Sementara itu,


"Bagaimana?"


"Tenang saja Mr., semua sudah saya kerjakan sesuai perintah."


"Baiklah, segera kamu kembali. Aku memerlukanmu."


"Siap, Mr."

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2