
"Dokter, terima kasih atas bantuannya," kata Anna.
"Apa dia daddy dari anak yang sedang kamu kandung?" tanya Dokter Peter.
Dengan berat hati, Anna menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan padanya bahwa anak yang kamu kandung adalah anaknya. Sepertinya ia bukan orang yang tidak mau bertanggung jawab."
"Ia sudah berkeluarga, ia memiliki istri dan anak. Bahkan setahuku, saat ini istrinya sedang hamil."
"Jadi kamu memilih untuk menyimpan ini sendirian?" Peter tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anna.
"Brianna Harland, seorang anak pasti menginginkan orang tua yang lengkap, dan laki laki itu juga berhak tahu kalau ia memiliki anak dari wanita lain, selain istrinya,” ujar Dokter Peter.
"Sejak awal, aku tidak ingin menjadi perusak dalam rumah tangga orang lain. Apa dokter kira aku tidak menginginkan sebuah keluarga yang utuh untuk anakku? tentu saja aku ingin. Tapi, tidak dengan merusak kebahagiaan orang lain," kata Anna sambil memandang lekat ke arah Dokter Peter.
"Anna," Peter menggenggam kembali tangan Anna, "Maukah kamu menikah denganku?"
**
"Tuan, bisakah anda ke rumah?" tanya Lio.
"Ada apa?"
"Nyonya .... "
Gavin langsung melesat pergi. Ia menitipkan perusahaan pada Jack, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya ia di rumah yang dulu ia tempati bersama Elisa dan putrinya, Elle, Gavin langsung turun dari mobilnya dan masuk.
Gavin yang tak memasukkan mobilnya ke pekarangan, berlari melewati pos keamanan dan langsung menuju kamarnya karena ia tidak mendapati siapapun di ruang tamu.
Matanya terkejut melihat Elisa berada di sana, dengan perut yang sudah membesar, dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan.
"Lio, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gavin.
"Nyonya datang sendiri kemari, tapi dengan memar di wajah dan di beberapa bagian tangan dan kakinya."
Gavin memperhatikan, memang seperti apa yang dikatakan Lio, ada beberapa memar di wajah dan tubuh Elisa.
"Apa kamu sudah memanggil dokter?"
"Sudah, Tuan. Sebentar lagi Dokter Bram akan datang ke sini,” jawab Lio.
"Baiklah, kamu boleh pergi," kata Gavin.
Setelah Lio pergi, Gavin memperhatikan wajah istrinya, juga setiap jengkal tubuh istrinya. Wanita cantik itu kini terbaring dengan beberapa luka di tubuhnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Gavin.
Dokter datang dan memeriksa Elisa.
"Bagaimana?" tanya Gavin
__ADS_1
"Kandungan Nyonya baik-baik saja, sedangkan memar di tubuhnya, seperti terkena pukulan."
"Kapan dia akan sadar?"
"Saya tidak bisa memastikan. Sepertinya Nyonya juga sangat kelelahan."
"Baik Dok, terima kasih," kata Gavin, "Lio, antar Dokter Bram keluar."
Gavin mengacak-acak rambutnya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jangan, jangan pukul aku lagi. Aku janji akan menuruti semua yang kamu mau. Jangan .... jangan bunuh suamiku," terdengar racauan Elisa dalam tidurnya
Gavin berjalan mendekat ke arah Elisa, dengan perlahan ia duduk di sebelahnya. Dengan lembut ia menyampirkan rambut dari kening Elisa, agar ia bisa melihat dengan jelas wajah mantan istrinya itu.
Gavin mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya, ingin merasakan kembali kelembutannya.
Namun, ia memalingkan wajahnya. Mereka bukan lagi suami istri. Ia tidak boleh melakukan itu, karena jika ia menyentuh bibir mantan istrinya, ia yakin ia akan melakukan lebih dari itu.
Kemudian matanya turun ke arah perut Elisa, ia memegangnya dan mengusapnya perlahan.
"Sayang, ini Daddy. Maafkan Daddy tidak menjagamu dengan baik."
Kemudian Gavin keluar dari kamar, meninggalkan Elisa yang masih memejamkan matanya.
"Ahhh, akhirnya. Tidak sia-sia aku harus merasakan sakit di wajah dan tubuhku ini. Ternyata aktingku masih lumayan. Aku yakin kamu masih mencintaiku Gavin dan aku belum selesai denganmu," gumam Elisa sambil membuka matanya perlahan.
**
"Maafkan Daddy sayang, Daddy tidak bermaksud membuatmu sedih."
"Gia yang harusnya minta maaf pada Daddy."
"Ya sayang, kamu memang harus minta maaf pada Daddy, karena kamu memilih Lexy dibanding Daddy."
"Daddy, jangan meledekku. Aku sedang bingung, bagaimana meminta maaf pada Uncle Lexy."
"Sayang ... Daddy tidak pernah melarangmu untuk berhubungan dengan lelaki manapun, asalkan dia baik padamu dan bisa menjagamu. Tapi Lexy ...."
"Ada apa, Daddy?"
"Dia terlalu tua untukmu. Apa kamu tidak ingin mengenal Jery lebih jauh?" tanya Dad Chris.
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku, Dad. Apa yang kuinginkan, siapa yang kusukai, akhir-akhir ini hanya itu yang berputar di kepalaku."
"Jery anak yang baik sayang. Jika kamu menyukainya, Daddy bisa meminta Uncle Evan untuk berbicara dengan Jery."
Flashback Off
Gia memutar mutar ponselnya, kemudian melemparkannya di atas tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian ia membalikkan tubuhnya, hingga wajahnya menghadap langsung ke kasur.
"Ya ampun .... aku tidak bisa bernafas," gumam Gia sambil sedikit tersengal karena ingin mengambil nafas.
Gia kembali mengingat kejadian saat ia mencium Lexy. Jujur, itu adalah ciuman pertamanya. Pertama kalinya ia mencium seorang lelaki dan itu adalah Uncle Lexy.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? - batin Gia sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Ia menyadari bahwa saat ia mencium Lexy, ia merasakan getaran di dalam tubuhnya sendiri. Getaran yang asing, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia meraih ponselnya dan kembali melihat kontak Lexy.
"Uncle, maafkan Gia," Gia masih tidak mampu untuk meminta maaf pada Lexy. Ia tidak tahu harus berbicara apa saat nanti ponselnya tersambung.
**
Gavin membawakan semangkok bubur dan segelas air hangat untuk Elisa. Ia meletakkannya di atas nakas, di samping tempat tidurnya.
Elisa yang sedari tadi memang hanya berpura-pura, mengerjapkan matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Gavin.
"Aku ... maaf, apa aku mengganggumu? aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi," kata Elisa dengan memelas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gavin.
"Tolong aku, tolong sembunyikan aku. Aku takut. Aku tidak mau ia memukulku lagi," pinta Elisa sambil terus memegang lengan Gavin dengan raut wajah ketakutan.
Siallan! apa dia mau terus berakting seperti ini? - batin Gavin
"Siapa yang memukulmu, katakan padaku," ujar Gavin.
"Antonio, dia memukulku karena tidak mau menurutinya. Aku dijadikan budaknya."
Budak? budak nafsu? dan kamu juga menginginkannya bukan? - Gavin terus berbicara dalam hatinya.
"Izinkan aku untuk tinggal di sini, setidaknya malam ini. Besok aku akan mencari tempat persembunyian yang lain."
"Tidak perlu, kamu bisa tinggal di sini jika kamu mau. Aku akan tidur di kamar tamu," kata Gavin.
"Terima kasih, tapi apa kamu tidak mau menemaniku?"
"Kita sebaiknya tidak berada di dalam 1 kamar. Apa nanti yang akan dikatakan orang-orang. Lagipula, kita bukan suami istri lagi."
"Aku mengerti, tapi .... "
"Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat. Besok aku akan membawamu menemui Dokter kandungan untuk memastikan kesehatan bayi yang sedang kamu kandung," kata Gavin.
"Honey .... maaf Gavin, apa kamu tidak ingin mengelusnya?" tanya Elisa.
"Makanlah dulu, setelah itu beristirahatlah."
Elisa mengangguk, kemudian Gavin pun meninggalkan Elisa sendiri di dalam kamar.
Setelah beberapa saat Gavin pergi dan Elisa memastikan Gavin sudah berada di kamar tamu, ia memeriksa lemari pakaiannya. Perhiasannya masih ada di sana, bahkan pakaian-pakaian mewahnya juga.
"Kita bertemu lagi perhiasan-perhiasanku. Tenang saja, aku pasti akan membawa kalian semua," ujarnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1