
"Kamu..., beneran mau pindah ke kostan bareng temen, Ann?"
Rendy terkesiap.
Istrinya Virly mengatakan hal yang amat menggembirakan hati. Virly sedang berbincang di ruang tamu dengan Berliana di sore hari menjelang magrib sambil menyusui Leo.
Sementara Rendy yang baru pulang dari pekerjaan nyupir online, sedang duduk di ruang tengah dan makan seorang diri.
Si Berlin mau pindah? Beneran?
Fikirannya menerawang. Antara sedih, juga rasa senang.
Sedih, karena ada rasa was-was serta ketakutan akan tinggal di mana si Berlin itu nantinya. Senang, sebab Rendy tidak lagi harus memendam rasa serba salah berlarut-larut karena ada Berliana.
"Tadi di kantor perusahaan yang melakukan tes wawancara, gue ketemu temen baru, Kak! Cewek, cantik seusia sama gue. Namanya Maura. Dia dari Palembang dan baru seminggu kost di Jakarta."
"Terus?"
"Dia kost sendirian. Dan bilang kalo dia kesulitan tinggal sendiri, secara ternyata dia anak sultan Palembang yang biasa tinggal dengan banyak orang di kamar. Dia, minta aku buat nemenin. Asyik ga tuh?!? Dan kostannya itu, di Taman Setiabudi. Mau tau ga berapa perbulannya?"
"Berapa emangnya?" tanya Virly penasaran tingkat dewa.
"Lima juta."
"Hah??? Nge-kost perbulan lima juta? Berarti penghasilan yang kudu lo dapetin itu minimal sepuluh jeti, Anna!!!" pekik Virly yang langsung disambut derai tawa sang adik.
"Sttt...! Azan maghrib. Silent please!" tegur Rendy yang langsung ditanggapi kedua perempuan kakak beradik yang sedang asyik berghibah itu dengan tangan menutupi mulut. Masih terdengar tawa kecil dari bibir keduanya.
Rendy menghampiri dengan niatan memangku putra tunggalnya untuk dipindahkan ke dalam kamar.
Leo tertidur pulas dalam pangkuan Virly. Tetapi Rendy tetap berusaha membawa putranya dengan meraih perlahan.
Bisa-bisanya ini perempuan serampangan kenalan sama sembarangan orang! Walaupun itu cewek, katanya anak sultan pula, bukan berarti dia bisa begitu mudahnya pindah dan ikut tinggal bareng apalagi cuma sekedar numpang! Ck ck ck... Gegabah banget sih jadi orang! Untung Lo bukan pasangan hidup gue! Andai iya, ck ck ck... dengan tabiat model begitu, gue bersyukur banget bisa lepas dari jerat cinta Lo Berlin!
Ekor mata Rendy melirik Berliana yang masih senyam-senyum dengan Virly dan melanjutkan obrolan seru mereka.
__ADS_1
Ck. Dasar perempuan! Belum jelas kerja keterima apa kagak, tapi gayanya selangit percaya diri bakalan jadi karyawan padahal yang melamar tadi di perusahaan sampe ratusan orang. Hhh... Gue sendiri langsung badmood kena mental pas ditanya pendidikan terakhir. Oiya gue lupa. Dia khan sarjana. Wajarlah pede abis! Beda ma gue yang cuma lulusan SMA doang. Hhh... Baguslah kalo dia pindah dari rumah Virly! Itu ga akan bikin gue jadi manusia kaku setengah robot gara-gara kehadirannya di rumah ini.
Rendy rebahan di kasur bersama Leonardo. Sibuk dengan ponselnya dan masuk online ke game hingga lupa diri kalau sang istri telah berada di hadapannya dengan wajah muram.
"Mas!"
"Oi! Kaget aku! Kenapa?"
"Kenapa sih, kamu tadi ngomongnya ketus begitu sama Anna? Please, jangan gitu lah, Yang! Biar bagaimanapun, Anna adalah adikku satu-satunya. Dia masih jadi tanggung jawabku selama tinggal di Jakarta. Papa Mama jauh di Jogja. Gimana ini, dia ngotot tetep kepingin pindah besok ke kost-an temennya, Mas? Bantuin dong, buat nahan Anna!"
Rendy termangu bingung.
Bagaimana mungkin dia bisa menahan Berliana, sedangkan hatinya begitu bahagia jikalau gadis itu benar-benar hengkang dari rumah istrinya.
"Mas! Diajak diskusi malah ngelamun sendiri! Ish...!"
"Aku bingung, mau ngomong apa? Toh adikmu sudah dewasa. Usianya sudah bukan lagi usia abege labil yang sedang pencarian jati diri. Pasti langkah yang diambilnya sudah difikirkan matang-matang, Yang!"
"Benar juga sih! Tapi..., setidaknya kita ada perlawanan dikit kali'. Koq kesannya kita seperti senang dia pergi dari rumah ini!"
"Hhh...!"
Helaan nafas istrinya sebenarnya membuat Rendy merasa bersalah.
Andaikan Ia tidak pernah mengenal Berliana di masa lalu, Ia ingin sekali menjadi Kakak ipar yang baik.
Ingin menjalin hubungan kekeluargaan yang solid dan mencoba melakukan komunikasi dengan baik kepada Berliana.
Sayangnya, kisah masa lalu yang cukup pahit ditambah lumayan memalukan membuatnya justru silent menyembunyikan kenyataan yang seharusnya istrinya ketahui.
Berliana juga sepertinya tidak mau kalau masa lalu mereka terdengar sang kakak. Karena itu adalah salah satu aib yang sangat ingin Ia tutup rapat-rapat.
Hhh...
Rendy hanya bisa melakukan hal yang sama seperti Virly. Menghela nafas panjang dan diam termenung sembari menatap layar ponsel yang hitam tak lagi menyala.
__ADS_1
Virly juga rebahan di samping Rendy.
Keduanya tidur di ranjang yang sama, tapi sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Begitulah jaman sekarang.
Yang dekat terasa jauh, sedangkan yang jauh justru terlihat sangat dekat karena ponsel.
Mereka tersenyum dengan dunia sendiri-sendiri.
Ting.
Chat Togar masuk ponsel Rendy. Isinya menanyakan perihal wawancara lamaran pekerjaannya di kantor perusahaan periklanan tadi siang.
Rendy menjawab singkat.
...Ga tau...
Dan dia kembali melanjutkan permainan mobile legend-nya yang tadi di pause.
Hatinya sendiri masih menggalau. Karena memang belum ada kabar kepastian apakah akan diterima kerja atau gagal.
Dia hanyalah tamatan SMA. Pernah kuliah hanya dua semester saja. Sibuk menangisi percintaannya yang kandas tanpa sebab dan perempuan idamannya kabur entah kemana.
Dunia ini memang begitu sempit.
Ternyata perempuan yang dulu meninggalkannya tanpa perasaan kini datang. Dan dia ternyata adalah adik iparnya sendiri.
Rendy mematikan ponselnya. Menaruh di atas meja nakas, lalu membetulkan letak posisi tidurnya karena matanya yang sudah mengantuk parah padahal belum pukul delapan dan belum makan malam.
Perlahan matanya terkatup rapat. Lalu terdengar dengkuran halus dan pernafasannya yang memang memiliki riwayat polip.
"Lah? Dia tidur!" sungut Virly yang juga mematikan ponselnya namun berbeda tindakan. Virly bangun dari rebahnya. Membetulkan daster dan merapikan kunciran rambutnya yang agak berantakan.
Ia berjalan ke luar kamar. Membantu Mbok Darmi yang sedang menyusun menu makan malam di meja ruang tengah.
__ADS_1
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...