(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 54 - Kuncoro Yang Menggalau


__ADS_3

"Ber, Bang Coco minta nomor WA mu sama Aku. Katanya ada perlu. Dia udah minta izin Papa juga."


Berliana terpaku. Keluarga Gunawan adalah keluarga yang memiliki attitude sangat baik. Bahkan urusan pernikahan yang masih belum jelas ini pun tidak serta merta memicu persaingan yang panas. Bahkan kebalikannya.


Berliana yang agak gugup menerima chat masuk atas nama KUNCORO ADI PANGESTU.


...Hai, Anna! Bisa kita bertemu? Aku udah izin Papa. Asalkan kita tidak pulang lewat pukul sembilan malam, Papa izinkan. Bagaimana?...


Berliana menelan salivanya.


Dulu Ia memang mengenal Kak Coro. Tapi hanya sebatas kenal sepintas saja. Itu karena mereka jarang bertemu juga walaupun di malam Minggu pria itu sering apel wakuncar waktu kunjung pacar menemui Virly, kakaknya. Tapi mereka jarang bertemu.


Pertemuan Berliana dan Kuncoro dahulu bahkan bisa dihitung dengan jari.


Kini, mereka dihadapkan pada satu kenyataan. Disatukan akan menjadi satu keluarga yang entah apakah akan berhasil atau tidak. Berliana takut untuk bermimpi ketinggian.


Ya, Kak Co! Kapan? Share loc aja, nanti aku kesana!


^^^Gak. Aku yang jemput. Satu jam lagi. Bagaimana?^^^


Ok, Ka!


^^^[Stiker senyum tipis]^^^


Berliana menghela nafasnya.


Bibirnya terasa kering, air ludahnya pun seolah tak ada. Susah bagi Berliana untuk menelan saliva.


"Ada apa?" tanya Maura penuh perhatian.


"Ka Coco ngajak ketemuan!"


"Terus, kamu mau?"


"Iya. Kak Coco akan jemput satu jam lagi!"


"Hm... Hehehe, Ayo cepetan ganti baju, dandan yang rapi, make-upan yang wangi!"


"Ish! Hihihi..."


"Kencan perdana kalian khan? Aku mendukungmu, Berlin!"


Seketika wajah Berliana merona.


Rasanya bagaikan mimpi, berkencan dengan mantan Kakak sendiri. Dan gilanya takdir hidup Berliana, mantan pacarnya sendiri justru kini telah jadi Suami Sang kakak.


Edun khan?!?


Sungguh dunia begitu ajaib bagi Berliana.


Setengah jam kemudian, Kuncoro datang menjemputnya. Dengan dandanan keren sekali. Meski wajahnya terlihat suram, tetapi ketampanan pria berusia 32 tahun itu memancarkan pesona luar biasa.



Kuncoro tampak murung dengan mata menatap keluar kaca jendela kost-an Maura.


"Kak?!"


"Sudah siap?" tanya Kuncoro sembari mengulum senyum.


Berliana mengangguk.


Mereka berangkat setelah pamit pada Maura.


Dengan motor gede milik Kuncoro, Berliana bersiap naik ke jok belakang.


"Maaf ya, aku lupa bilang tadi, kalau kita akan pergi naik motor!" kata Kuncoro.


"Ga papa, Kak! Aku malah lebih senang naik motor! Hehehe..."


Kuncoro tersenyum. Ia mulai ingat rasa pacarannya dengan Virly dahulu. Gadis cantik itu selalu cemberut jika Ia menjemputnya dengan motor gede seperti ini. Dan akan tersenyum manis sekali kalau dijemput dengan mobil sport milik Papa Angkasawan.

__ADS_1


"Pegangan ya?"


Berliana merasakan wajahnya memerah.


Tangannya merengkuh pinggang Kuncoro yang gagah.


"Sudah?"


"I-iya."


Mereka pergi dengan diiringi lambaian tangan Maura yang tersenyum bahagia. Ada doa tulus dari hati Maura, agar keduanya bisa lanjut terus ke pelaminan.


Tempat yang mereka tuju adalah sebuah restoran keluarga yang sangat asri pemandangannya.


Berliana terpukau melihat resto yang ramah lingkungan dengan beragam macam tanaman herbal yang tertata rapi di setiap kiri kanan dan dinding tembok restoran.


"Silakan masuk, Anna!"


Berliana menoleh ke arah Kuncoro.


Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, dengan sebuah meja besar dan sepasang kursi yang saling berhadapan.


Meja itu masih kosong. Tetapi ada satu vas bunga mawar merah di tengah-tengah. Terlihat begitu indah tatanannya.


"Kita makan dulu ya?"


"Iya."


"Anna mau makan apa?"


"Hm..., apa ya? Bingung hehehe..."


"Anna cewek asli! Hehehe..."


"Hahh?"


Kuncoro tertawa, gigi putihnya membuat Berliana terpana.


Tanpa sadar Berliana terpesona oleh senyuman Kakak kandung Maura itu.


Kuncoro tidak terlalu sweet, tapi perilakunya itu justru membuat Berliana nyaman tanpa harus ja'im jaga imej.


Pria itu juga tidak membahas mengenai rencana pernikahan yang kemungkinan besar bisa saja terjadi kepada keduanya.


Jika Berliana memilihnya.


Tapi saat ini Berliana juga belum bisa memilih. Masih galau dan bingung. Masih belum bisa menentukan pilihan, Gunawan atau Kuncoro.


"Ann!..."


Berliana memandang wajah Coco yang dulu sering diledeknya dengan sebutan 'Coro'.


"Apakah kamu mau menikah denganku?"


Dag dig dug jantung Berliana. Bagaikan gendang yang ditabuh bertalu-talu.


Bibirnya kelu, lidahnya kaku. Matanya menatap wajah Kuncoro tanpa berkedip.


"Bisakah kita jatuh cinta?"


Hanya kalimat itu yang keluar meluncur dari mulutnya.


"Kita coba perlahan, tanpa ada paksaan. Bagaimana?"


"Apa Kakak sudah mengetahui kalau Kak Virly adalah adik Kak Coro ehh Coco maksudku!"


Kuncoro tersenyum. Ia mengangguk sambil menunduk.


"Masa itu adalah masa terberat ku kala itu, Ann!"


"Kakak sangat mencintai Kak Virly. Aku tahu itu. Rasanya pasti berat sekali setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit."

__ADS_1


"Itu sebabnya aku bagaikan pria pecundang yang memutuskan hubungan hanya lewat japrian saja. Aku tidak sanggup melihat wajah Virly yang pastinya bakalan sangat kecewa. Dan Aku yakin, sama seperti ketika kamu tahu kalau mantan pacarmu dulu ternyata menikah dengan Virly, bukan?"


Berliana terperangah.


Dadanya seperti tertohok mendekati perkataan Kuncoro barusan.


"Dari mana Kakak tahu?" tanya Berliana.


Kuncoro tersipu.


"Pekerjaanku menjadikan Aku orang yang suka memantau dari kejauhan! Hehehe..."


"Apa pekerjaan kakak sekarang?"


"Rahasia, hehehe..."


Berliana mengerucutkan bibirnya imut sekali. Kuncoro sampai gemas ingin mencubit pipi Berliana namun segera tersadar.


Pertama kali berbincang setelah sekian lama kenal membuat Kuncoro makin senang mengenal karakter Berliana.


Ia mulai memahami mengapa Maura terlihat begitu lengket berteman dengan gadis yang berada di hadapannya itu.


Berliana adalah pribadi yang baik. Tutur katanya sopan. Walau terkadang Ia bisa juga sengklek dan bobrok jika bersama teman satu servernya. Intinya Berliana adalah orang yang mudah masuk ke dalam lingkungan manapun karena kepribadiannya yang bagus.


"Anna..., bagaimana jawabanmu?"


Berliana tergagap.


"Aku butuh jawabanmu segera. Sedikit memaksa karena terdesak juga."


"Apa Kakak cuma butuh status pernikahan saja?"


Kali ini Kuncoro yang merasa tertohok. Karena tebakan Berliana benar seratus persen.


Ia ingin mencantumkan nama Berliana di kolom pasangan dan memiliki Kartu Keluarga sendiri di biodata negara.


Kuncoro ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Angkasawan yang seorang anggota dewan yang terhormat, yang namanya cukup terkenal di kalangan politikus dan juga para abdi negara.


Dirinya selama ini hanya hidup dibawah pengaruh serta pengawasan ketat sebagai seorang anak laki-laki dewan ekslusif negara.


Apalagi setelah Ia mengetahui kalau statusnya hanyalah anak adopsi saja, bukan anak kandung.


Tingkah lakunya selama ini turut serta disorot para netizen yang maha benar.


Kasus Virly yang ditinggalkannya begitu saja masih lumayan beruntung, karena kala itu Papa Angkasawan masih belum terlalu familiar juga namanya.


Dan Ia juga bersyukur, Pak Sapto Papanya Virly tidak mengusut tuntas pertanggungjawaban tembus sampai Papa Angkasawan.


"Apakah pernikahan kita nantinya akan berhasil, Kak?" tanya Berliana lagi, semakin membuat Kuncoro sadar niatan awalnya.


"Kamu menolak Aku?"


"Bukan menolak. Justru belum tentukan pilihan. Tapi bagiku, Pak Gunawan jauh lebih menjanjikan kebahagiaan buatku, Kak!"


"Karena Papaku pengusaha mapan?"


"Tidak juga. Karena beliau adalah pria yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya. Jujur Aku sangat mengidolakan Pak Gunawan!"


"Hhh...! Baiklah. Maaf jika Aku terkesan seperti terlalu percaya diri, Anna! Padahal dari jawabanmu barusan, tersirat kalau kamu menolakku."


"Aku akan memilih Kakak di depan semua anggota keluargaku!"


Kuncoro menoleh cepat. Binar mata indah Berliana memancarkan kejujuran yang nyata.


"Kenapa?"


"Setidaknya Aku tidak akan terlalu melukai Mama Hilda walaupun pilihanku pastinya akan mengecewakan Kak Virly. Tetapi Kak Virly sudah bahagia bersama Rendy. Tiada salahnya jika kita juga mencoba hidup bahagia, bukan?"


Kuncoro merasakan jantungnya berdebar.


Tiada salahnya jika kita mencoba hidup bahagia? Betul sekali. Selama ini Aku tidak bahagia. Aku tertekan dengan kenyataan kalau Aku adalah anak har+m yang lahir tanpa adanya ikatan pernikahan. Bahkan sampai kini pun, secara nyata namaku tidak ber-bin Gunawan. Entah bagaimana kalau Aku mati nanti ketika menjalankan tugas, ya Tuhan?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2