
"Rendy!"
Pria yang dipanggil namanya itu pun menoleh.
Berlin, mau apa dia?
Berliana berlari kecil mengejar langkah Rendy yang sedari pagi dicari-carinya.
Maura yang berjalan di samping Berliana ikut tergopoh-gopoh mengikuti langkah sang sahabat.
"Ada yang mau gue omongin!" ujar Berliana setelah tubuhnya sejajar tepat di hadapan Rendy.
Pria itu diam. Hanya mencoba menebak dalam hati.
"Kita ke coffee shop itu yuk?"
"Aku mau makan siang!" tukas Rendy dengan singkat.
"Di situ juga ada nasi goreng spesial. Aku yang traktir!"
Maura hanya mengekor, tidak ikut berbicara. Bahkan sengaja berjalan agak ke belakang supaya Rendy tidak merasa terintimidasi.
Akhirnya Rendy mau juga mengikuti saran Berliana untuk masuk ke coffee shop yang tidak begitu ramai di jam makan siang itu.
Tiga porsi nasi goreng spesial dengan dendeng daging sapi yang menggugah selera kini siap mereka santap tanpa tunggu lama.
Rendy juga makan dengan lahap. Padahal tadi pagi Ia sama sekali tidak berselera sarapan karena banyak pikiran.
Kini dihadapan Berliana perutnya seakan bernyanyi lagu kelaparan. Dan mampu menelan sesendok demi sesendok makanan yang dihidangkan.
Maura makan dengan cepat.
Sepertinya Ia ingin segera pergi meninggalkan Berliana yang mau berbicara serius dengan Rendy Saputra.
Benar saja.
Selepas makan Maura izin pamit lebih dulu akan ke toko buku Gr+media yang ada di sebelah kafe.
Berliana tersenyum mengangguk, kode yang Maura beri sangatlah jelas.
"Ren..."
"Apa? Bilang saja, apa maumu!?"
Berliana hanya bisa menghela nafas dan menatap Rendy dengan cemas.
__ADS_1
"Pulanglah, Kak Virly semalam meneleponku, Ren! Kamu cuma salah faham saja!"
Rendy menyeringai. Bola matanya berputar memandang ke sekeliling kafe yang lumayan sepi dan bersekat tinggi setiap mejanya.
"Apa katanya? Salah faham saja? Aku? Salah faham karena cemburu buta yang berlebihan?"
Rendy kembali tebarkan senyum sinisnya.
Diambilnya ponsel lalu mencari bukti agar Berliana melihat sendiri bagaimana kelakuan Kakaknya itu.
"Ini? Dan juga ucapannya yang mengatakan rela bercerai denganku asalkan kau dan si Kuncoro batalin nikah, itu yang dia bilang Aku salah faham?"
Berliana diam.
Matanya menatap ke layar ponsel dimana Virly dan Kuncoro tengah berpelukan di sebuah restoran.
"Kita juga pernah berpelukan seperti ini di kantor kepolisian tempo hari. Dan Kak Virly juga mengintai kita. Ingat? Padahal saat itu bukan seperti yang Ia bayangkan. Iya kan?"
"Hhh..."
Helaan nafas Rendy mematahkan ucapan Berliana.
"Tapi ucapannya jelas sekali kalau Ia ingin agar Kuncoro tidak menikahimu! Lo ngerti gak sih apa yang barusan gue bilang?"
Rendy meradang, Berliana seolah tak menggubris ceritanya soal pertemuan Virly dan Kuncoro semalam.
Berliana menggeleng pelan. Tapi hatinya percaya pada Kuncoro. Ia tidak mungkin menyimpan perasaan lain karena sudah lama Virly Ia tinggalkan. Sejak mengetahui kalau tunangannya itu adalah adik kandungnya sendiri.
"Perasaan Kak Virly sedang terluka. Gue harap Lo ngerti perasaannya untuk beberapa saat ini. Please, Ren! Jangan bilang Lo mau cere-in dia! Dia panik. Nangis sepanjang malam bahkan nelpon gue jam dua belas lewat cuma buat minta bantuan supaya gue ngomong ini sama Lo!"
"Cih! Lo mirip k+cung!"
"Ga papa. Gue rela jadi k+cung demi untuk kebahagiaan rumah tangga kalian!"
"Harga diri Lo kemana, Berlin?"
"Harga diri gue tentu aja tetap tinggi. Membantu meluruskan masalah ga akan menjatuhkan harga diri gue yang mahal, Rendy!"
Lagi-lagi pria itu menghela nafasnya. Rasa optimisme yang biasanya selalu ada dalam hatinya, kini mengerucut menipis bahkan nyaris hilang perlahan.
"Lo bisa dapetin dirinya, tapi tidak dengan hatinya!"
"Kenapa gak? Kenapa gak berdoa untuk dapatkan raga juga hatinya? Niat menikah itu adalah untuk mendapatkan pahala, bukan? Menikah itu ibadah. Menjaga selalu tali pernikahan balasannya adalah surga. Memutuskannya adalah perbuatan yang paling dibenci Allah Ta'ala."
Berliana seperti seorang ustadzah yang memberi tausiyah pada mantan pacarnya itu. Harapannya, agar Rendy tersadar dari sikap apatis yang menyebalkan sehingga karakter aslinya yang sebenarnya baik juga menyenangkan menjadi hilang tenggelam bersama rasa rendah diri yang teramat besar.
__ADS_1
"Virly ga cinta gue! Sedari awal gue tau itu!"
"Siapa yang lebih dulu baik dan mulai interaksi di awal pernikahan kalian? Virly kan? Lo juga pernah bilang, Virly bikin Lo nyaman. Lo jatuh cinta sama kepribadiannya. Lalu Kalian, bisa bercinta sampai lahirlah Leonardo Saputra. Itu bukti kalo kalian benar-benar saling jatuh cinta, Ren!"
"Ya. Itu benar. Tapi setelah ada Lo, hadir Kuncoro, semuanya jadi kacau!"
"Berarti kesalahan ada di diri gue sama Kak Coco. Bukan dengan pernikahan kalian kan? Oke, gue sama Kak Coco ga akan muncul lagi dihadapan kalian! Asalkan kalian tetap menjaga ritme pernikahan yang awalnya manis!"
"Dih? Koq jadi gitu? Konsepnya ga gitu, Berlin! Si Virly ga mau kalian nikah!"
"Hahaha..., Kakak gue emang lagi anjlok mood, Rendy! Dia emang kalo lagi ada masalah suka banget ngomong asal jeplak alias ngomong tanpa pikir panjang! Tapi itu ga dari hatinya yang terdalam. Gue tau banget dia! Gue kenal sifat sama wataknya dari gue bayi. Begitulah dia! Virly emang nyaris sempurna. Dia cantik, pinter segalanya termasuk cari duit. Tapi otaknya buntu kalo lagi ada masalah. Itu kelemahannya. Dan Lo sebagai lakinya harusnya jadi pengimbang. Pengingat supaya istri Lo sifatnya yang begitu bisa dihilangkan. Ingetin bini Lo, kalo lagi oleng mending keep silent. Jangan over speak, jadi bablas kan tuh jadinya! Lo itu diciptakan Allah dan ditakdirkan jadi pasangannya. Harusnya Elo dampingin dia di saat hatinya lemah. Kasih dia pelukan, nasehat juga kata-kata yang menyejukkan. Dia itu cintanya sama Elo, bukan sama Bang Coco. Karena dia tau, sampe kiamat pun mereka ga akan bisa bersatu! Faham?"
Rendy termangu.
Semua ucapan Berliana tepat sekali.
"Dan Lo tau, Kakak gue itu setiap ngomongin Elo, selalu yang baik-baik. Muji-muji Lo setinggi langit. Padahal gue tau, dia yang pusing tujuh keliling biayain hidup kalian. Iya kan? Gue juga ga pernah denger dia jelekin Lo didepan Papa Mama apalagi Eyang! Lo inget kenapa dia bisa jadi mata-mata dadakan demi untuk mengintai kita apakah masih ada cinta yang tersisa dan tumbuh subur lagi menjadi cinta terlarang sampe dia kecelakaan? Itu karena dia sangat cinta Elo! Apa Lo udah pernah bilang, kalo Lo juga cinta dia, Lo takut kehilangan dia. Dan apa perlakuan Lo selama ini udah jadi pria dewasa yang bisa jadi hati juga perasaannya menjadi istri yang lebih baik lagi dengan pelukan hangat, ucapan lembut dan juga nasehat yang bijak agar kalian tetap fighting menjalani hubungan pernikahan yang kadang indah kadang suram? Udah belom Lo?"
Seketika jantung Rendy seolah berhenti berdetak.
Perkataan Berliana menohok hatinya sebagai belahan jiwa Virly Rastanty.
Dia jarang sekali memberi feedback yang baik pada Virly. Setiap ada masalah, Ia selalu kabur melarikan diri.
Alasannya, tak ingin keributan semakin melebar dan panjang menjadi durasi yang lama. Ternyata, jalan pemikiran pria dan wanita itu sangatlah jauh berbeda.
Pria lebih sering pakai logika. Sedangkan wanita selalu main perasaan yang kadang tak sesuai realita. Itu yang membuatnya susah klik dengan Virly akhir-akhir ini.
Walaupun dia adalah pria baik. Suami yang setia dan tidak suka serong kanan juga kiri. Tetapi sifat cueknya justru mendorong pernikahannya dengan Virly semakin dingin bahkan cenderung membosankan. Kejadian demi kejadian yang menghantam biduk rumah tangga mereka seringkali Ia sikapi dengan salah langkah. Membuat dirinya maupun Virly jadi lelah.
"Rendy! Lo pikir memotong tali pernikahan, lalu berharap hidup kalian akan bahagia setelahnya, itu adalah tindakan benar? Itu tindakan bodoh, bro! Tidak semudah itu Lo bisa kawin cerai, cari yang baru. Oke, umur Lo masih muda. Lo ganteng, pasti banyak cewek yang akan mau jadi pasangan Lo selanjutnya. Tapi kalo sifat dan sikap Lo terus menerus kayak gini, ga ada kepedulian terhadap pasangan, berfikir pasangan Lo terlalu main perasaan, Lo ga akan bisa temukan kebahagiaan dalam hidup Lo! Lo akan menyesal, sangat menyesal ketika usia Lo udah banyak nanti, dan ga ada orang yang peduli sama Lo karena Lo tipikal orang cuek yang selalu pergi setiap ada masalah, pergi dari satu rumah ke rumah yang lainnya dengan harapan Lo bisa bahagia. Bukan seperti itu, Ren! Bahagia itu, kita yang ciptakan. Bukan kita cari sampai ke ujung dunia pun kalo Lo ga ngerasa bersyukur dan ikhlas menerima takdir-Nya, Lo ga akan pernah bahagia!"
"Stop, Berlin! Stop ceramahnya! Tuh si Maura udah datang!"
Berliana menghela nafas panjang. Ia lupa kalau jam istirahat sudah hampir habis.
"Ya udah, gue pergi dulu. Semoga ucapan gue tadi bisa masuk ke dalam sanubari Lo dan sore ini Lo pulang temuin Kakak gue lagi! Ingat,... kalo sampe Kak Virly kenapa-kenapa, orang pertama yang gue mintain tanggung jawab adalah Elo!!!"
Berliana bergegas pergi menuju meja kasir hendak membayar makanan yang tadi mereka pesan.
"Sudah dibayar, Kak. Sama Nona yang diluar itu!"
Berliana tersenyum. Maura rupanya sudah bergerak lebih cepat.
Thanks, Maura... Gumamnya dalam hati. Senang hatinya, baru saja jadi penceramah dadakan menasehati Rendy yang mulai tersadar dengan kelemahan dirinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG