(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 42 - Suasana Yang Panas


__ADS_3

"Jadi, maksud kedatangan pak Gunawan adalah ingin melamar Berliana?"


Hilda yang mendengar kalau putri bungsunya akan dinikahi pria masa lalunya itu langsung bergegas menuju ruang depan rumah mereka.


"Apa? Berliana akan dinikahi oleh...,?"


Matanya kembali bertemu pandang dengan Gunawan.


Gunawan, apa kamu tidak punya fikiran? Mau menikahi putriku yang umurnya jelas-jelas dua kali lipat darimu?


"Ma, Pa..., sebentar! Boleh Anna minta penjelasan tentang ucapan Kak Virly lusa lalu?"


"Ada apa, Anna?" Sapto mencoba menenangkan Berliana.


"Apa Anna ini adalah anak pungut?"


Hilda dan Sapto saling berpandangan.


"Walaupun kamu bukan terlahir dari rahim Mama, bukan berarti kamu akan Mama izinkan menikah dengan pria ini!"


Deg.


Seketika Gunawan tertegun mendapatkan hambatan dari Hilda.


Memori ingatan kembali terkenang pada masa mudanya. Ia ditentang Nyonya Rihanna, Mamanya Hilda. Kini justru Hilda yang menentang lamarannya pada putri angkatnya.


"Kenapa? Karena saya sudah tua? Tidak pantas bersanding dengan Berliana?" tanya Gunawan dengan ketenangan yang luar biasa.


Sapto memberi kode.


"Sebentar pak Gunawan! Sayang, stop it, jangan dulu mematahkan omongan lawan bicara."


"Dia itu usianya satu tahun lebih muda dari Aku, Pa! Harusnya berfikir ulang jika ingin menikah lagi. Apalagi lagi usia Berliana seumur dengan putrinya!"


"Kalau Ibu tidak setuju saya yang menikahi Berliana, izinkan saya menikahkan Berliana dengan putra sulung saya!"


Kali ini Hilda yang tertegun.


Matanya membulat. Bibirnya menganga.


Gunawan sengaja memancing Hilda untuk terus terbakar hatinya.


Apakah kamu ingat putra kita, Hilda? Putra yang kamu lahirkan dari rahimmu sendiri? Yang Mamamu 'buang' ke panti asuhan hanya karena tidak menginginkan Aku jadi menantunya?


"Papa? Papa ngomong apaan sih?" Maura yang terkejut mendengar perkataan Gunawan segera mencolek tangan Papanya dengan wajah gugup.


Si Papa koq ngomongnya gitu sih? Lah, Aku ini anak Papa satu-satunya. Bisa-bisanya Papa ngaku punya anak sulung laki-laki! Hadeuh... Manuver apaan sih yang lagi Papa mainkan?


"Anna mau menikah sama Pak Gunawan! Dan tekad Anna telah bulat, Ma Pa!"


Hilda yang tertohok benar-benar shock.


Kisah Berliana seolah menjadi reka ulang adegan masa lalunya juga bersama Gunawan.


Ia menggeleng kuat-kuat.

__ADS_1


"Mama ga setuju! Pokonya Mama ga setuju!!! Dan Mama yakin, Eyangmu lebih ga setuju lagi!!!"


Hilda panik. Ia berteriak membuat Sapto segera menarik bahunya.


"Mama, tenang dulu!!! Kenapa jadi sepanik ini?" ingat sang suami membuat Gunawan tanpa sadar menyunggingkan senyum smirk-nya.


Istrimu itu takut kalau cerita masa lalunya yang kelam diketahui semua orang pastinya, Pak Sapto! Hm... Ayo Hilda! Kita bongkar sekalian biar semuanya tahu bagaimana hubungan kita di masa lalu.


"Walau Mama Papa ga menyetujui, tapi Anna akan tetap menikah dengan Pak Gunawan!"


"Anna, tenang dulu! Kalian jangan dulu terlalu emosional! Kita bisa diskusikan semuanya tanpa teriakan suara kalian terdengar sampai ke tetangga kiri kanan!" kata Sapto dengan kedewasaan khas-nya.


Pantas saja. Kamu bisa move on dari kehidupanmu yang pahit getir berjuang bersama denganku dahulu. Ternyata pria dewasa ini selain mapan juga bijaksana rupanya. Hm... idaman Mamamu pastinya!


"Saya punya anak laki-laki. Usianya kini 32 tahun lebih dan masih bujangan. Sekiranya Bapak Ibu tidak menerima pinangan saya, semoga pinangan untuk anak saya pun tidak ditolak secepatnya. Setidaknya, Bapak Ibu bisa melihat sendiri pribadi dan karakter putra saya yang seorang pengusaha muda di Mataram. Dan kini dia tinggal di Jakarta."


"Papa?" Maura mulai meradang. Papanya seperti sedang tidur, mengigau dan meracau.


Hilda sesak nafas seketika.


Sapto kaget dan panik melihat keadaan sang istri.


"Sebaiknya, obrolan kita ini ditunda dulu sampai lain waktu. Mohon maaf, bukan bermaksud mengusir...tapi, saya harus mengurus istri saya dulu, Pak Gunawan!"


"Maaf, kalau kehadiran saya ke kediaman Bapak Ibu menjadi tidak kondusif suasananya! Saya dan putri saya pamit pulang! Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!"


"Berliana juga pamit ikut mereka, Pa!"


"Anna datang bersama mereka, Kak! Jadi Anna juga akan pergi dengan mereka!"


"Percuma Anna di sini! Toh Anna bukan bagian dari kalian!"


"Cukup, cukup!!! Bukannya bantuin Mama dan berdoa Mama cepat sembuh, kalian berdua malah ribut berebut pepesan kosong!!!"


Berliana dan Virly langsung terdiam.


Papa mereka berteriak kesal sambil terus membantu Hilda agar kembali tenang dan dapat bernafas lega kembali.


Hilda menangis. Ia sesegukan sampai suaranya terdengar jelas.


"Pa! Aku mau ke rumah Mama, Pa! Sekarang! Hik hik hiks..."


"Kamu kurang sehat, Ma! Dadamu sesak, nanti malah merepotkan Mama Rihanna di rumahnya!"


"Aku mau ke rumah Mama! Sekarang!"


"Oke, oke. Kita ganti pakaian dulu. Baru berangkat ke sana! Virly, Anna... jangan kemana-mana! Papa dan Mama belum bicara dengan kalian berdua! Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah ini. Terlebih Berliana! Dan jangan bilang kamu bukan bagian dari kami, Anna! Karena kami menyayangimu seperti anak kandung sendiri. Ingat itu. Papa mau antar Mama ke rumah Eyang Uti dulu!"


Sapto dan Hilda meninggalkan kedua putrinya yang duduk terpekur tanpa bicara.


...............


"Mama! Mama!!!"

__ADS_1


"Sayang, kenapa berteriak-teriak seperti anak kecil?"


Sapto terkejut, istrinya langsung bergegas masuk ke dalam rumah Rihanna, Mama mertuanya.


"Papa tunggu di sini! Aku ada perlu sebentar sama Mama!"


Hilda langsung berlari menaiki anak tangga rumah Rihanna yang bagaikan istana.


"Mama, Mama!!!"


Rihanna rupanya sedang terbaring di ranjang empuknya.


Sedang menonton drakor kesukaannya di layar televisi besar yang menempel di dinding kamar.


"Hilda?!? Ada apa? Kenapa gak telepon Mama dulu kalo mau kemari?"


"Mama!!! Dimana Mama sembunyikan putraku?" berondong Hilda pada Rihanna.


"APA?"


Rihanna kaget bukan kepalang.


Sudah 30 tahun Hilda tidak lagi menanyakan keberadaan putra pertamanya itu pada Rihanna.


Apalagi setelah melahirkan Virly dan Sapto bisa membuat Hilda melupakan Gunawan.


"Dimana putraku berada?"


"Hilda! Kenapa kamu tanyakan hal yang gak perlu lagi kamu fikirkan? Sapto kenapa? Sapto buat kamu sedih?"


"Sapto pria terbaik! Tapi Hilda sedang tanyakan anak laki-laki Hilda sama Mama!!!"


"Bisa gak sih tanyanya baik-baik? Mau jadi anak durhaka, kamu? Mau Mamamu ini kena serangan jantung dan meninggal dunia saat ini juga?"


"Anak laki-lakiku kenapa bisa ada di tangan Gunawan?"


"Apa? Apa kamu bilang???"


Rihanna memegangi dada sebelah kirinya yang sakit sekali.


Matanya membuat menatap Hilda.


"Anakmu ada di suatu tempat! Gunawan tidak tahu, sama seperti dirimu!"


"Tapi tadi Gunawan bilang,"


"Gunawan? Dimana kalian bertemu?"


"Dia datang mau melamar Anna!!!" kata Hilda kembali panik.


"HAH???"


Seketika Rihanna pingsan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2