(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 92 - Kesedihan Berliana, Kesedihan Semua Orang


__ADS_3

"Apa???"


Berliana sontak kaget mendengar kabar tentang suaminya yang hilang dari pantauan kesatuan ketika sedang menjalankan tugas.


Gunawan tak kalah terkejutnya mendengar perkataan seorang Letnan Kolonel Marinir yang mendatangi kediamannya.


"Sebentar, maksud Bapak, putra saya tidak dapat dideteksi keberadaannya begitu? Dimana memang tugasnya saat ini? Di luar Ibukota? Atau di luar pulau Jawa?"


"Maaf, Pak Gunawan. Saya tidak bisa memberitahukan lokasi kejadian secara spesifikasi kepada Bapak. Tapi saat ini tim khusus kesatuan kami sedang terus mencari keberadaan Letnan Dua Kuncoro Adi Pangestu. Kami kesini bermaksud memberi kabar dan memohon bantuan doa untuk Letda Kuncoro Adi Pangestu. Semoga beliau segera kembali dari tugasnya dan kembali bersama kita semua lagi."


Gubrak


Seketika Berliana pingsan.


Gunawan panik memanggil semua asisten rumah tangganya untuk membawa Berliana ke dalam kamar.


Maura yang baru saja pulang dari tugas kerja nya di luar langsung bergabung dan ikut berbincang serius menanyakan keadaan Kakak laki-lakinya itu.


"Maksudnya, Kakak saya hilang sejak lima hari yang lalu saat menjalankan tugas? Maksudnya tugas apa? Dan bukankah Kakak saya itu pengusaha kapal tongkang dan pengusaha penambang batu bara? Apa... ada masalah di tempatnya di Mataram sana?"


Pak Letkol Bobby tidak bisa menjawab. Hanya anggukan kepala pelannya saja yang jadi kode rahasia.


"Kami mohon pamit, Pak Gunawan! Sekali lagi, kesatuan kami mengucapkan keprihatinan yang sedalam-dalamnya atas kejadian yang tidak diinginkan ini oleh Letda terbaik kami."


"Pak! Tunggu! Saya belum bisa mengerti!!!"


Maura berteriak meminta penjelasan sekali lagi. Namun Gunawan segera menangkap tubuh anak gadisnya yang mulai terlihat histeris.


Kedua ajudan tentara rahasia itu pamit permisi.


"Papa! Papa Aku beneran gak ngerti! Sungguh!!! Ada apa ini? Kenapa Bang Coco dikatakan hilang saat bertugas?"


"Maura! Tenanglah!"


Gunawan berusaha menguatkan Maura yang kian histeris hingga menangis keras.


"Berlin, Pa, Berlin mana? Hik hiks..."


"Berliana ada di kamar. Barusan dia pingsan tak sadarkan diri, Maura!"


Gunawan ikut menangis juga mengingat keadaan istri putranya yang belum genap sebulan merasakan kebahagiaan berumah tangga, harus menerima kenyataan pahit seperti ini.


"Berliiin... hik hik hiks...!"


Maura berlari menuju kamar Kakak iparnya.

__ADS_1


Mereka menangis keras berpelukan.


Seperti mimpi buruk bagi Berliana. Dan dia berkali-kali membenturkan kepalanya ke tiang ranjang besi tempat tidurnya. Berharap segera terbangun dan sadar kalau semua ini hanyalah mimpi.


"Bangun! Bangun!"


"Berlin jangan!!! Hik hik hiks... Jangan seperti itu! Nanti kepalamu berdarah, Berlin!"


"Aku harus bangun, Maura! Harus bangun! Ini mimpi terburuk yang harus segera kusudahi! Hik hik hiks... Bang Coco pasti sedang diperjalanan pulang! Ini berita hoax. Dia pasti lagi prank Aku! Besok kita resmi tiga minggu menjadi suami istri. Ini pasti becandaan dia doang! Hiks..."


Berliana mengambil ponselnya. Menelpon nomor Kuncoro berkali-kali. Berharap Sang Suami segera mengaktifkan ponselnya dan mengangkat panggilannya.


"Abang! Abang please, jawab telpon Aku! Hik hik hiks... Abang! Huaaa... huaaa, Aku ga mau ditinggal sendirian!!!"


Berliana berteriak histeris.


Maura berusaha memeluk tubuh sahabat yang kini telah jadi Kakak iparnya itu.


"Abaaang!!! Huaaa..."


"Bang Cocooo!!!"


"Abaaang, pulaaaang!!! Huaaa..."


Semua orang yang berada di dalam rumah besar itu menangis. Termasuk para asisten rumah tangga Gunawan.


Kuncoro dinyatakan hilang di tempatnya bertugas. Entah bagaimana keadaannya. Hidup atau mati, sehat atau dalam keadaan sakit, semua tiada yang tahu.


"Pak Gunawan!"


Radit yang baru saja tiba di rumah besar mantan Bossnya itu langsung mendapat pelukan kesedihan Gunawan yang butuh teman berkeluh kesah.


"Radit! Coco, Dit! Coco hilang!!!"


"Saya juga baru dapat kabar dari salah seorang teman!" ujar Radit dengan tatapan mata kosong dan helaan nafas panjang.


"Hik hiks...! Padahal anak itu sudah akan keluar dari institusi akhir bulan ini. Ia akan meneruskan usahaku, Radit! Dia sudah punya planning bakalan mengembangkan sayap Matta Network bersama Berliana dan Maura! Kenapa semua jadi seperti ini?! Hik hiks..."


Gunawan menangis menceritakan kesedihan hatinya.


Radit hanya diam dengan tangan terus menerus mengusap punggung Gunawan mencoba memberikan sedikit kekuatan.


"Ya Tuhan! Kenapa anakku harus mengalami nasib seperti ini. Padahal Ia baru saja mendapatkan kebahagiaan menikah. Selama ini hidupnya sangatlah keras. Coco selalu mendapat ujian yang menyedihkan dan baru kini Ia rasakan bahagia. Tuhaaan... Tolong kembalikan Putraku Coco, ya Tuhanku!!!"


Tangis Gunawan kian membesar. Sama seperti tangisan Berliana dan juga Maura yang ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Mari kita sama-sama berdoa. Berharap Kuncoro segera kembali berada di tengah-tengah kita!"


Radit berusaha memberikan semangat kepada Gunawan.


"Ayo, ajak Maura dan Berliana juga! Masih ada harapan. Kuncoro masih ada kemungkinan bisa kita temukan!"


Radit bergegas menuju kamar Berliana. Mengetuk berkali-kali hingga Maura membukakan pintu.


"Bang Radit!!!"


Maura langsung melompat ke pelukan Radit. Menangis ia sejadi-jadinya di dada bidang pria yang pernah satu camp dengan Kuncoro ketika masih di kesatuan militer.


"Ayo kita sholat Ashar berjamaah! Ayo, Berliana!"


Berliana yang terlihat lemah mengangguk mengiyakan. Kini Ia berusaha untuk tegar dan tegak berdiri.


Azan Ashar baru saja selesai terdengar berkumandang.


Keempatnya segera bergegas pergi ke kamar mandi masing-masing untuk berwudhu.


Aulia Rumah Gunawan lantai dua jadi tempat pilihan yang tepat untuk sholat berjamaah.


Semua penghuni termasuk empat asisten rumah tangganya turut serta sholat bersama. Mereka di imami oleh Radit yang ternyata sangat fasih membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Radit pernah mengenyam pendidikan di pesantren selama setengah tahun sebelum melanjutkan kuliahnya di Akabri. Sehingga untuk urusan akhirat, hatinya punya sedikit kemampuan. Namun tergerus oleh kejamnya cobaan sehingga Radit sering kali melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim yang baik.


Selesai sholat empat rakaat, mereka melanjutkan dengan tadarus membaca ayat suci Al Qur'an meminta Kebesaran Allah SWT supaya Kuncoro diselamatkan.


Kini ada harapan yang besar yang mereka junjung. Harapan kalau Kuncoro akan segera kembali pulang seperti Minggu yang lalu.


Air mata Berliana tak henti meleleh seiring bibirnya yang terus berusaha membaca ayat demi ayat suci dengan hati penuh pengharapan.


Semua beribadah sampai pukul lima lebih, dan istirahat sejenak sampai Maghrib menjelang.


.............


Kehidupan seseorang tiada yang tahu. Jodoh, rezeki dan umur, semua Tuhanlah Yang Maha Pengatur.


Seminggu sudah, Kuncoro masih menghilang tanpa kabar. Meninggalkan Berliana yang terluka dalam.


Namun semua anggota keluarganya memberikan Berliana penghiburan.


Hilda dan Sapto juga beberapa kali berkunjung ke rumah Gunawan untuk menghibur Putri angkatnya dan turut mendoakan putranya agar segera Allah kembalikan pulang.


Rendy dan Virly juga dua hari sekali mengunjungi Berliana yang sakit sejak kabar hilangnya Kuncoro.

__ADS_1


Semua sedih, semua prihatin, semua berkabung. Namun masih tetap memiliki harapan, Kuncoro kembali pulang karena tidak ada kabar kalau Ia telah meninggal dunia.


BERSAMBUNG


__ADS_2