
Rendy berjanji dalam hati, ia akan mengatakan hal yang sejujurnya pada Virly. Soal kontrak kerjanya di Matta Network dan kini menjadi supir pribadi CEO perusahaan besar itu.
Tetapi ternyata Tuhan seperti belum mempermudah jalannya untuk bercerita pada sang istri.
Hingga hari berganti dan Virly sibuk dengan rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga serta seorang pengusaha kukis yang laris manis.
Rendy sendiri berangkat kerja masih menggunakan mobil dan mampir sebentar ke rumah kakak pertamanya untuk menitipkan mobil lalu ganti pinjam sepeda motor Mas Afdal.
"Lo ini aneh! Bukannya Virly punya motor matic ya? Kenapa pinjem matic bini gue?" semprot Sang Kakak merasa janggal.
"Sorry, Mas! Gue ga berani pake motornya Virly. Secara gue sekarang udah mulai kerja walaupun status tetap sebagai supir. Naek level dikit coz sekarang jadi supir pribadi."
"Kenapa ga bilang sama bini Lo?"
"Entar, gue blom ada kesempatan ngobrol santai! Kayaknya akhir pekan deh, baru gue cerita yang sebenarnya sama Virly!"
"Ck. Jangan suka aneh-aneh deh! Feeling gue ga enak deh!"
"Hilih! Makan pake feeling!"
"Piring, itu piring bukan feeling!!!"
"Hahaha...! Mbak Mut, pake aja mobilku kalo mau keluar! Maaf ya, motornya Aku pake semingguan!"
"Aku gak bisa bawa mobil, Ren! Mobil-mobilan Ale baru Aku bisa bawa! Hehehe... Pake aja, biar Mas Afdal ga malesan kalo ditelepon jemput Ale pulang sekolah!"
Rendy tertawa sembari mengacungkan jari jempolnya pada Mutia, kakak iparnya.
Kakak pertamanya memang buka toko alat-alat listrik di samping rumah. Dia memilih wirausaha ketimbang menjadi pegawai kantoran. Katanya lebih enjoy karena dirinya sendirilah yang jadi Boss nya.
Rendy mengakui ucapan Afdal benar walaupun tidak seratus persen benar.
Ia juga lebih menyukai bekerja freelance seperti ngojek dan jadi supir taksi online.
Selain jam kerjanya yang tidak terbatas, Ia juga bebas pulang pergi wara-wiri sesuka hati tanpa terikat kontrak kerja seperti sekarang ini.
Tapi ada satu kelebihan menjadi karyawan, kerja di telunjuk orang. Gajinya yang tetap hingga perekonomian terjamin dalam waktu satu bulan ke depan. Itu yang Rendy butuhkan saat ini.
Apalagi Ia selalu berlindung dibalik kesuksesan Virly berbisnis kuliner.
Sebagai seorang kepala keluarga dengan satu orang anak yang mulai tumbuh besar, Rendy malu juga. Terlebih Virly mulai sering terdengar mengobrol dengan Berliana, adiknya yang juga mantan pacar Rendy.
__ADS_1
Seketika harga diri Rendy seperti keset yang diinjak-injak jika mengingat dua tahun belakangan ini hidupnya yang teramat enak.
Kerja tak kerja, dapurnya tetap mengebul.
Kasih nafkah atau tidak, istrinya tetap pegang uang bahkan sering menaruh beberapa nominal di rekening ATM Rendy.
Pria mana yang tidak mengiri melihat nikmatnya hidup Rendy beristrikan Virly.
Bahkan menikah membuat aura pria muda itu semakin bersinar.
Tubuhnya terjaga, sehat bahkan gagah perkasa karena Virly istrinya selalu memperhatikan menu makan serta vitamin yang masuk ke dalam tubuhnya.
Penampilannya selalu rapi. Style Rendy yang memang suka bergaya casual semakin didukung oleh Virly yang juga memiliki cita rasa tinggi dalam hal mendandani sang suami.
Nikmat mana lagi yang Rendy dustai.
Istri cantik, walaupun usianya lebih tua lima tahun darinya tapi dandanan Virly selalu memukau bahkan banyak teman Rendy yang iri padanya.
Tiga hari bekerja sebagai supir pribadi membuat Rendy juga Virly justru jarang berkomunikasi dengan baik dari hati ke hati.
Virly ternyata juga sedang ada projek baru kerja sama mengisi stand makanan di sebuah event bersama teman-teman sekolahnya.
Hingga suatu ketika, Rendy yang sedang menunggu Pak Gunawan di parkiran gedung sebuah mall besar melihat istrinya sedang berjalan berdua dengan seorang pria.
"Virly? Koq, di parkiran? Sama siapa itu?"
Rendy yang biasanya kalem seketika penasaran dan turun dari mobil.
Ia belum pernah melihat apalagi mengenal teman pria istrinya yang ini.
Dan biasanya juga, Virly menghindari jalan berduaan saja dengan lawan jenis kecuali keadaan darurat.
Sengaja Rendy mengikuti istrinya diam-diam. Bukan karena tidak percaya pada Virly yang selama ini adalah istri yang begitu sempurna untuknya, tapi Rendy hanya ingin mengintip kegiatan sang istri secara sembunyi.
"Thanks ya Jod! Udah anterin gue ke manager mall ini buat jalin kerjasama para pengusaha kuliner muda yang lagi meniti karier."
"Woles aja, Yang! Kayak ama siapa aja deh!"
__ADS_1
Deg.
Yang? Koq Virly dipanggil Yang? Sayang gitu maksudnya?
"Virly!!!"
"Mas Rendy? Kamu lagi nunggu customer disini juga?"
Virly terlihat kaget melihat Rendy yang berdiri di belakangnya.
"Siapa pria ini?" tanya Rendy tak suka berbasa-basi.
"Oh, ini Jodi temen SMA ku, Mas!"
"Saya Jodi, cinta pertamanya Virly! Hehehe..."
"Apaan sih!? Ngaco! Ini suami gue Loh!"
"Oh ini Suami Lo? Bagus dong kalo gitu! Hehehe... Ya ampun si Abang mukanya serius bed dah! Maaf, Aku cuma gurau aja!"
Cinta pertama? Jadi, mereka kayak gue sama Berlin gitu maksudnya? Hm...
"Kamu masih ada kerjaan di mall ini, Yang?" tanya Rendy lagi. Tapi kali ini jauh lebih lembut dan menekan kesabarannya.
"Iya, Mas! Kamu sendiri? Udah datang penumpangnya? Mobilnya kamu parkir dimana?"
Seketika Rendy menoleh ke arah mobil-mobil yang berjejer rapi di parkiran.
"Aku berangkat lagi ya? Oiya, kamu pulangnya naik apa?"
"Jangan khawatir, Mas Bro! Istrimu kuantar sampai depan pintu rumah kalian. Eh, mmm... Rumah Virly maksudnya! Hehehe..." sela pria yang seumuran Virly itu dengan santainya.
Meninggi tensi Rendy tentunya mendengar candaan si Jodi.
Namun Virly seketika memukul bahu Jodi keras sambil berkata, "Apaan sih? Aku pulang naik ojol, Mas! Hati-hati di jalan ya? Aku masuk ke dalam dulu ya Mas? Nanti di rumah kuceritakan semua!"
"Hahaha... Virly, Virly! Kamu takut sama suami model begitu? Ck. Aneh banget seleramu! Sejak kita putus, selera cowok-cowokmu anjlok semua typenya!"
Rendy hanya memperhatikan langkah Virly yang kian menjauh memasuki pintu ke arah dalam mall.
Virly! Ternyata begini perasaannya sakit hati, cemburu dan kecewa itu! Aku lupa. Kamu juga punya circle pergaulan yang luas diluar kapasitasmu sebagai istriku. Haruskah aku mulai posesif mengekangmu? Dia, pacar pertamamu. Seperti Aku dan juga Berlin. Entah apa tanggapanmu, Virly, jika kau tahu kenyataan yang sebenarnya kalau adikmu itu adalah mantanku di masa SMA.
__ADS_1
Rendy mengusap peluh di dahinya. Ia berjalan kembali ke mobil pak Gunawan setelah sang istri menghilang di balik pintu masuk mall dari parkiran.
...🌷🌷🌷BERSAMBUNG🌷🌷🌷...