(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 77 - Tamparan Berliana Mewakili Sakit Hatinya Maura


__ADS_3

"Maura..."


"Berlin... hik hik hiks!"


Maura menangis.


Dipeluknya erat tubuh Berliana. Tangisnya pecah dibahu sang sahabat.


"Dia, ternyata telah menduakanku selama ini, Berlin! Hik hik hiks..."


Berliana tak mampu berkata-kata.


Tangisnya ikut pecah.


Semalam ia berusaha memberi pandangan positif tentang apa yang sedang dialami Maura, ketika Xavier memutuskan hubungannya pukul enam sore menjelang malam.


Sungguh tak disangka. Ternyata Xavier yang belum dikenal Berliana adalah pria yang seperti itu.


Ia kira selama ini hanyalah kesalahpahaman saja. Seperti dirinya dengan Rendy dulu. Seperti Virly dengan Kuncoro kala itu.


Ternyata nasib Maura jauh lebih menyedihkan lagi.


Sang kekasih memutuskan hubungan satu hari dan langsung duduk di pelaminan dengan dekorasi pernikahan istimewa, yaitu di ruang aula gedung hotel bintang lima.


Ternyata Xavier menikahi anak gadis pemilik hotel Green Hyatt Selatan sehari setelah memutuskan hubungannya sepihak dengan Maura.


Maura dan Berliana menangis di dalam ruang inap rumah sakit kelas VVIP.


"Jahatnya lelaki itu, Ber! Dia memberiku iming-iming tentang masa depan yang indah. Tentang semua impian dan harapannya menjadi kepala keluarga. Dia bohong! Dia bohong! Dia penipu ulung! Huhuhu... huaaa Xavieeer, dasar kau bajingaaaan!!!"


Maura histeris.


Maura kembali limbung ke keadaan mentalnya yang down parah. Menangis sejadi-jadinya hingga sampai membutuhkan obat penenang yang disuntikkan ke selang infusnya.


Berliana ikut terluka. Tangisan kesedihan melihat Maura yang begitu lemah membuatnya ingin sekali mendatangi hotel Green Hyatt tempat Xavier menikah.


Maura sedang tertidur lelap. Obat bius sedang menguasai kesadarannya.


Berliana menitipkan Maura pada seorang suster jaga. Dia butuh waktu satu hingga dua jam untuk mengetahui yang sebenarnya. Bahkan kalau perlu, Berliana ingin sekali menemui pria yang bernama Xavier itu dan mengucapkan kalimat kebencian untuk membalas kesakithatian Maura.


..............


Gadis yang sebentar lagi akan jadi pengantin itu turun dari ojek online yang disewanya.


"Tunggu sebentar ya, Mas?!"


"Baik, Kak!"


Berliana bergegas masuk menuju pelataran hotel Green Hyatt. Ia berpura-pura datang sebagai tamu undangan.

__ADS_1


Seorang perempuan cantik berpakaian kebaya modern memintanya menunjukkan barcode undangan. Tentu saja Berliana tidak bisa memperlihatkannya.


Tapi bukan Berliana namanya jika tidak punya akal dengan mengatakan sesuatu.


"Saya datang terlambat, Mbak! Suami saya sudah lebih dulu datang karena kami berbeda kantor kerja. Mas Coco adalah pengusaha batu berlian sedangkan saya pekerja kantoran di dinas perhubungan. Saya rasa Pak Adipati akan sangat kecewa jika tahu saya dilarang masuk hanya karena barcode undangan saya masih di handphone suami."


"Oh, maaf Mbak. Maaf. Saya hanya menjalankan tugas sesuai prosedur yang atasan saya perintahkan. Silakan Mbak masuk! Mohon maaf sekali lagi! Silakan!"


"Terima kasih. Mohon maaf kalau saya agak keras kepala karena saya terburu-buru di telpon pak Adipati, bapak hajat pesta pernikahan putranya ini!"


"Iya. Silakan, Mbak!"


Tentu saja semua yang diucapkan Berliana adalah bohong.


Gadis itu berjalan cepat memasuki area pesta.


Dekorasi yang indah. Dan Berliana yakin kalau semua hiasan ini bukanlah pesta dadakan tanpa perencanaan terlebih dahulu.


Memang tak banyak tamu yang datang. Kemungkinan besar ada sekitar seratus orang bahkan kurang.


Sepertinya memang pesta yang diadakan tertutup saja.


Mungkin hanya anggota keluarga dari kedua belah pihak pasangan pengantin.


Berliana hanya fokus ke depan. Melihat lurus ke arah kursi pelaminan mempelai.



Berliana duduk sebentar untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.


Matanya tak berkedip menatap kedua pengantin yang sedang diatur oleh kameraman dan fotografer untuk diambil gambarnya.


Setelah dirasa lututnya cukup kuat untuk melanjutkan misi, Berliana kembali berdiri dan berjalan menuju panggung pelaminan.


Semakin dekat, semakin Ia bisa melihat wajah tampan pria yang bernama Xavier itu. Begitu juga pasangannya. Cantik memang. Tapi...


Mata Berliana menatap lekat ke arah perut mempelai wanita.


Gendut? Apa ni cewek lagi hamil? Waduh? Ck ck ck... Kapir, kapir...! Hhh ... Bisa-bisanya Elo pacaran jarak jauh sama Maura tapi juga bercocok tanam sama nih perempuan! Hm... Gue mulai faham sekarang!


Berliana naik ke atas panggung pelaminan.


Ibu dan Bapak sang perempuan lebih dulu menyambut kedatangannya dengan senyum sumringah. Dikiranya Berliana adalah tamu kehormatan salah satu mempelai.


Berliana bersikap biasa dengan menyambut uluran tangan mereka sambil berkata 'Selamat berbahagia'.


Hingga tiba giliran tangannya menyambut jabatan tangan Xavier Hernandez, pacar Maura sahabatnya.


Berliana tersenyum sinis. Dan,

__ADS_1


Plak


Sontak Xavier mundur dua langkah.


Pipinya merah dan mimik wajahnya menampakkan kebingungan yang luar biasa. Tapi segera Ia menyadari kalau dia punya salah pada seseorang.


Berliana kembali maju dengan langkah cepat. Lalu,


Plak plak plak.


Kini tiga tamparan tanpa jeda kembali berhasil mendarat di pipi chubby Xavier yang mulus rapi setelah bercukur menjelang ijab kabul.


"Siapa kamu?" jerit istrinya yang berdiri di samping Xavier.


"Aku Berliana! Ingat namaku karena Aku adalah sahabat dan juga Kakak iparnya Maura Tiara. Kenal nama itu? Atau lupa karena amnesia?"


Seketika suasana riuh. Banyak pasang mata langsung menatap Berliana, termasuk kedua orang tua Xavier yaitu Pak Adipati dan Ibu Halimah.


Bahkan Pak Adipati langsung menarik pergelangan tangan Berliana dan berkata, "Tolong Nona jangan buat keributan! Saya yang bersalah. Dan saya sudah buat janji akan segera mengadakan pertemuan dengan Pak Gunawan besok siang!"


"Semudah itu Bapak bilang akan mengurus permasalahan ini? Apa Bapak menganggap enteng hubungan yang sudah terjalin selama tiga tahun bahkan Bapak juga sudah merencanakan banyak hal tentang pernikahan dengan Pak Gunawan."


"Iya, saya yang salah. Mohon maaf dan mohon pengertiannya."


"Tapi Anda berani sekali datang ke pesta pernikahan kami sendirian. Ck ck ck! Sebegitu inginnya Anda menggagalkannya? Dapat bayaran berapa dari si Maura?"


Berliana menoleh. Gadis cantik dengan mulut pedas sangat sinkron sekali.


"Selamat menikmati pernikahan kalian yang dibangun di atas luka seseorang! Ingatlah, mencintai memang bukanlah perbuatan dosa. Tetapi mencintai dengan mengorbankan satu hati lain yang selama ini diberi angan-angan kosong adalah dosa besar. Dan akan menjadi bumerang dalam perkawinan kalian!"


Berliana turun dari panggung pelaminan.


Puas hati setelah empat tamparannya berhasil Ia layangkan di pipi Xavier yang sampai saat ini termangu kaku.


Ramai orang desas-desus membicarakannya dari belakang.


Berliana tidak peduli.


Ia terus langkahkan kaki dengan wajah tegak menatap ke depan.


Maura! Semoga kamu bisa melupakan pria yang sangat buruk seperti itu! Bersyukurlah karena Allah tidak menjadikannya sebagai pendamping seumur hidup. Karena dia pria bukan pria yang baik. Gumam hati Berliana.


"Ayo, Mas. Kita kembali ke rumah sakit!"


"Baik, Mbak!"


Ojek yang tadi membawa Berliana, kini kembali melesat meninggalkan hotel Green Hyatt Selatan menuju rumah sakit tempat Maura di rawat.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2