
Sapto yang diam-diam mendengar keributan istri dengan Mama mertuanya hanya bisa tertegun di balik pintu kamar Rihanna.
Ia baru tersadar setelah Hilda berteriak minta tolong. Dan Sapto langsung masuk untuk memberikan bantuan.
32 tahun menikah dengan Hilda, sampai memiliki buah hati seorang anak perempuan bernama Virly Rastanty. Baru Sapto tahu kalau Hilda ternyata pernah melahirkan seorang anak laki-laki sebelum menikah dengannya.
Dulu, Sapto menikahi Hilda disaat dirinya menjadi perawat magang di rumah sakit jiwa milik sang Ayah.
Hilda, gadis cantik yang depresi karena kabarnya diperk+sa pacarnya yang pergi tinggalkan dirinya begitu saja.
Rihanna mencekoki Sapto dengan kebohongan yang luar biasa hebatnya.
Sapto jatuh hati pada pandangan pertama kemudian berusaha mengobati dan mengurus Hilda hingga sehat kembali jiwa raganya. Satu tahun kemudian Ia melamar Hilda dan mereka langsung menikah tanpa pacaran.
Sebulan kemudian Hilda hamil dan Virly lahir.
Namun yang sempat menjadi pertanyaan Sapto adalah keinginan Hilda mencari anak untuk teman Virly dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain.
Hingga seorang bayi perempuan mungil yang terdampar di yayasan panti asuhan Sayap Ibu membuat hati Sapto tergerak, ingin mengadopsinya.
Semula Hilda menolak. Ia ingin anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Virly. Bukannya anak bayi perempuan yang ingin diadopsi.
Tapi Sapto terlanjur jatuh cinta pada bayi mungil yang tak berdosa yang konon kabarnya dibuang di pinggir sungai pinggiran ibukota.
Diberinya nama Berliana Anggraini. Dan menjadi putri keduanya setelah Virly Rastanty.
Hilda memang akhirnya menerima keinginan Sapto untuk adopsi. Tetapi perlakuannya sedikit membuat Sapto sedih.
Hilda terlalu terlihat membeda-bedakan Virly dengan Berliana.
Hingga seringkali Berliana frontal marah dan uring-uringan ngambek karena sikap Mamanya yang terlihat lebih sayang sang Kakak.
Sapto selalu jadi penengah.
Selalu berusaha meleraikan perselisihan di antara mereka, ibu dan anak.
Meski lelah, Ia sangat mencintai Hilda dan juga kedua anaknya.
Meskipun Berliana bukan darah dagingnya, tetapi karena diurus dan dirawatnya dari bayi, otomatis rasa sayangnya tak kalah besar pada Virly putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
Kini satu lagi kenyataan yang lumayan membuat hatinya sedih adalah ternyata ada anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Virly yang Hilda lahirkan 32 tahun lebih yang lalu.
Hilda menyimpan rahasia besar padanya selama 32 tahun.
Padahal Sapto bersedia menerima Hilda apa adanya. Bahkan menikah tanpa menikmati ke-virgin-an Hilda, baginya bukan masalah besar.
Cinta itu tidak memandang fisik maupun keadaan. Cinta Sapto tulus untuk Hilda dan ternyata Hilda justru dulu punya sejarah kelam dimasa lalu dengan Gunawan yang hari ini tadi pagi siang datang melamar anak angkat mereka.
Sapto yang tercekat menerima kenyataan pahit yang belibet itu hanyalah diam berusaha menenangkan hati serta perasaannya sendiri.
Dia tetap merawat Rihanna sang mertua yang sudah seperti ibunya sendiri.
Hilda menangis menyesali nasibnya yang miris.
Semua sangat berat baginya. Terlebih kedatangan Gunawan kali ini bersikeras untuk menikahi Berliana dan putrinya yang dirawat sedari bayi itu juga bersikukuh untuk menikah dengan Gunawan.
Otaknya pening. Kepalanya pusing.
Hilda tak tahu harus bagaimana, sementara sang ibunda juga tidak bisa diandalkan.
Kabar putranya yang berada di tangan Gunawan sebenarnya Ia sangat senang.
Setidaknya bayi laki-laki mereka berada di tangan yang aman, yaitu bapak kandungnya sendiri.
"Pa! Apa kita bawa Mama ke rumah sakit?" tanya Hilda pada Sapto. Ia sudah terbiasa memanggil sang suami dengan sebutan Papa sejak Virly lahir.
Sapto menggeleng.
"Mama hanya kaget saja. Peredaran darahnya juga lancar dan tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya!" kata Sapto agak terdengar dingin.
Sapto kecewa, Hilda dan Rihanna menutupi keadaan Hilda yang sudah punya anak.
Rihanna hanya bilang kalau Hilda sudah tidak per+wan saja. Tetapi tidak bilang punya anak diluar nikah.
Toh apa salahnya berkata jujur. Sapto juga sudah menerima semua keadaan Hilda baik buruknya bahkan keadaannya yang katanya adalah korban pemerk+saan seorang pria tak bertanggung jawab.
Ternyata pria itu adalah laki-laki yang barusan datang bersama putrinya dan niat ingin melamar.
"Hilda,... Aku ada keperluan sebentar! Kamu masih mau di sini atau,"
"Aku disini dulu. Ada yang harus kuobrolkan dengan Mama. Anak-anak juga dirumah. Pergilah, jangan khawatirkan Aku, Pa!"
__ADS_1
Hilda justru lega. Sapto akan pergi dan dia dengan leluasa menyelidiki keberadaan putranya yang disembunyikan Sang Mama.
Hilda tidak tahu, kalau Sapto justru ingin menemui Gunawan dan langsung menanyakan hubungannya dengan sang istri dimasa lalu sampai mereka memiliki seorang anak laki-laki.
"Hallo, Anna!? Bisa kita ketemuan di kafetaria dekat rumah sakit Pelni?"
Sapto menelpon putri bungsunya.
Berliana yang sedang bete ingin mencairkan suasana hati yang galau mengiyakan ajakan Papa angkatnya.
"Mau kemana, Anna? Kata Papa kita ga boleh keluar, terutama Lo!" tegur Sang Kakak.
"Papa yang telpon barusan! Apa gue mesti telpon balik terus suaranya di load speaker biar Lo denger?"
Entah mengapa, suasana hati Berliana dan Virly terlihat sangat panas. Padahal tidak ada kesalahpahaman lagi diantara mereka yang menyangkut Rendy.
Rendy hanyalah alasan Virly untuk merasa iri karena Berliana yang hanya anak pungut juga mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya.
Padahal tidak. Virly benar-benar cemburu buta pada hubungan pertemanan Berliana dan Rendy yang kembali terjalin meskipun tanpa cinta-cintaan seperti masa remaja dahulu.
Namun kepedulian Rendy pada Berliana membuat Virly sedih juga kecewa.
Cinta masa remajanya hilang bak ditelan bumi, jangankan menoleh dan menolongnya disaat kesusahan, memberi penjelasan mengapa Kuncoro pergi tinggalkan Virly pun tidak pernah ada konfirmasinya.
Virly cemburu, Berliana lebih beruntung. Itu yang membuat dirinya selalu merasa kesal apalagi jika mengingat dulu betapa Rendy terlalu mencintai Berliana.
Posisinya sama seperti Rendy. Bucin pada pasangan tetapi justru malah dikecewakan.
Sekarang Virly kesal karena Rendy bisa begitu legowo melupakan rasa sakit hati serta kepedihan hatinya yang dahulu bahkan sampai bisa lupakan dan kini berteman dengan orang yang telah menyia-nyiakan cintanya.
"Gue pergi dulu, Kak! Bukannya Lo mau ada jadwal urut akupuntur ya? Moga lekas sembuh. Jangan cemburu terlalu berlebihan. Lama-lama pasangan Lo bakalan kabur beneran! Dan sekali lagi gue tekankan, Rendy gak pernah nge chat gue, begitu juga gue ga pernah ada niatan buat rebut Rendy dari Lo sama Leo! Gue juga masih punya perasaan! Ga serendah itu juga harga diri gue!"
Virly termangu.
Ucapan Berliana tepat mengenai ulu hatinya. Sangat pas pada sasaran.
Ingin ia minta maaf pada adiknya itu, tetapi malu dan gengsi rasanya.
Sementara Berliana melesat pergi menuju tempat yang Papanya kirimkan alamatnya.
...Anna, ajak juga Pak Gunawan untuk ketemuan. Kita ketemu di sana....
Berliana membaca chat Papanya. Kemudian membalas segera dan setelah itu menelpon Maura agar menuju kafetaria yang alamatnya Pak Sapto beri.
__ADS_1
Mereka berempat berencana ketemuan di tempat yang sudah ditentukan.
BERSAMBUNG