(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 56 - Menuju Hari Pertemuan Kedua


__ADS_3

"Ehem ehhem, yang abis mojok pacaran! Sampe lupa pulang! Hihihi..."


"Maaf, Ra! Keasyikan ngobrol sampai lupa waktu! Beneran! Hehehe..."


"Alhamdulillah. Artinya Abangku orang yang menyenangkan, bukan?"


"Sepertinya sih iya. Hehehe..."


Berliana tersipu malu.


"Bukannya dulu kalian saling kenal?" tanya Maura penasaran.


"Engga juga, Ra! Aku dulu jarang ketemu Kak Coro kalo lagi apel malmingan ke rumah. Gitu deh, Aku sibuk dengan duniaku sendiri ketika mereka pacaran. Maksudku, Kak Virly dan Kak Coro sewaktu pacaran,"


"Kamu sibuk pacaran sama Rendy! Hehehe..."


"Ish, sibuk sekolah lah!"


"Hahaha..., ish malu dia ketauan bengalnya! Ga papa, aku waktu SMA juga sering alesan belajar kelompok buat curi-curi waktu berduaan sama pacar. Hehehe..."


Keduanya tertawa. Mengingat masa remaja yang nakal dan banyak gaya. Rasanya seperti menghitung biji tasbeh tapi isinya dosa-dosa. Malu hati jadinya.


Waktu berlalu dan pagi menjelang.


Kesibukan di kantor menjadi rutinitas mereka kemudian.


Hingga tepat jam makan siang Berliana yang terpaksa keluar sendiri karena Maura sedang ada kerja lapangan di luar kantor, bertemu Rendy yang juga akan cari makan di warung nasi terdekat.


Keduanya akhirnya memutuskan untuk makan bersama di satu meja.


"Gue denger lo dilamar pak Gunawan, ya?" kata Rendy dengan suara berbisik. Khawatir didengar orang lain.


"Dih, asbun!"


"Virly yang bilang koq!?"


"Belom pasti juga koq!?"


"Hm. Semoga semua itu bukan kepastian yang nyata nantinya!"

__ADS_1


"Ngape emangnye? Kepo Lo?!"


"Ga juga sih! Gue cuma prihatin aja. Sampe segitunya Elo kepingin cepet married. Walau emang hidup Lo bakalan enak, tapi... menilik umur kalian yang nyaris dua kali lipat jauhnya bahkan bisa dibilang seumuran sama Bokap Lo, gue cuma menyayangkan aja!"


"Hm."


"Serah Lo sih! Hidup, hidup Lo! Bukan urusan gue. Secara, sebagai teman dan juga kakak ipar, ga da salahnya kan kalo gue mengingatkan."


"Thanks, but sorry, gue udah punya pendapat sendiri. Jadi, we will see, right?"


"Dih, sok ngingris Lo!"


"Hehehe... Makasih Abang ipar!"


Rendy hanya bisa mendelik kesal. Berliana seolah mengabaikan nasehatnya. Hingga akhirnya Ia hanya berdecak dan diam, melanjutkan makan siangnya.


"Gue duluan ya!?" pamit Rendy mengangkat kaki lebih dulu.


"Ren! Makasih atas nasehatnya. Tapi gue punya pilihan sendiri. Oh iya, hari Minggu ini gue dan keluarga Pak Gunawan rencana sowan ke rumah kak Virly. Papa Mama juga bakalan datang dari Jogja!"


"Oiya?"


Rendy tidak menanggapi ucapan Berliana.


Hanya tersenyum tipis meskipun otak besarnya berfikir cukup keras akan maksud perkataan adik iparnya itu.


Hari itu, semua kisah cinta masa lalu mereka buang perlahan hingga habis tak bersisa.


Cinta masa muda yang dulu indah, cukup untuk dikenang sewajarnya saja. Karena hanyalah cinta monyet yang tak pernah jadi nyata.


Baik Rendy maupun Berliana sama-sama menginginkan hidup bahagia di masa depan.


Ada orang lain yang telah Tuhan jodohkan untuk mereka.


Rendy dan Berliana menyadari hal itu.


...............


Waktu bergulir hari berganti hari.

__ADS_1


Seperti yang telah ditetapkan, hari Sabtu siang Hilda dan Sapto telah tiba di kediaman Virly sang putri yang dibeli dengan hasil keringatnya sendiri.


Rendy yang sudah mengetahui kalau kedua mertuanya akan datang, turut senang.


Selepas pulang dari bekerja, Rendy langsung bergabung berbincang-bincang santai bersama kedua orang tua Virly.


Rendy berusaha bersikap sewajarnya meskipun Ia sudah tahu kabar pasangan suami istri itu tentang kisah masa lalu Mama Hilda yang pernah memiliki anak di luar nikah sebelum bersama Papa Sapto.


"Alhamdulillah ya, kamu sekarang sudah bekerja di perusahaan, Ren!"


"Iya, Pa! Walau hanya driver, tapi akhirnya saya bisa jadi karyawan di Matta Network! Tapi kata Pak Gunawan, kemungkinan besar pertengahan tahun ini saya bisa diperbantukan di divisi umum. Kalau kinerja saya dinilai bagus, Pa! Hehehe..."


"Yang penting kita berusaha bekerja dengan baik dan jujur. InshaAllah semua dilancarkan!"


"Aamiin. Makasih doanya, Pa!"


"Ehh? Matta Network? Pak Gunawan? Mmm..."


"Mas Rendy memang kerja di perusahaan itu, Pa! Tempat Berliana bekerja juga!"


"Hah? Iya kah? Ternyata kalian satu kantor? Sejak kapan?"


Rendy yang merasa perlu menjelaskan secara rinci akhirnya menceritakan awal mula perjuangannya masuk perusahaan bonafit itu tanpa tahu kalau Berliana juga ternyata melamar kerja di tempat yang sama.


Begitulah, takdir kembali mempertemukan kembali keduanya. Hingga akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan Berliana nyaris menjadi korban pencab+lan yang menyeramkan.


Mereka seperti biasa, makan malam dan mengobrol sampai larut malam.


Esok hari Minggu, hari libur dan hari yang dinanti semua anggota keluarga. Termasuk Berliana juga tentunya.


Sementara Kuncoro juga sama. Ia mempersiapkan mental untuk segala kemungkinan yang akan terjadi nanti di pertemuan.


Harapannya, semoga Virly memaafkan segala kesalahannya di masa lalu.


Tuhan lebih menginginkan mereka hanya sebagai saudara saja. Bukan ingin disatukan menjadi pasangan.


Bahkan Virly kini juga telah bahagia, bersama suami dan juga putranya.


Jadi Kuncoro tidak terlalu merasa bersalah, karena kehidupan Virly lebih baik darinya saat ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2