
"Ini bagus. Ini cocok buat kamu, Bang!"
"Hadeuh!"
"Coba dulu, ehh coba di mana, hahaha...! Tapi kayaknya muat deh!"
Maura seperti lupa pada niat awalnya.
Bersama Radit mengitari jalan Merdeka Timur yang sedang ada Bazaar pasar malam membuat Maura kembali ceria seperti Maura yang dulu.
Bahkan Radit dengan sabar mengikuti setiap langkah kaki Maura yang seolah tak merasa capek sedikit pun.
"Ya ampuun ini murah banget! Bagus pula! Ini, ini bagus buat Lo!"
"Memangnya kamu baru pertama kali belanja di pasar malam kayak gini ya?"
"Iya. Ini harganya beneran dibanting ini!" pekik Maura kalap.
Ia sangat antusias melihat berbagai macam jenis pakaian yang dijajakan dengan harga murah.
"Ini juga bagus! Ini ambil juga ya?"
"Maura! Lihat nih, barang belanjaanmu!!! Ini emangnya kita mau buka toko baju nantinya!?"
Maura tertawa terbahak-bahak. Radit yang bertubuh tinggi tegap nyaris tenggelam dengan kantong kresek hitam yang banyak yang berbagai macam baju sudah Maura beli.
"Ya udah. Aku lapar!"
"Itu ada tukang bakso! Mau makan bakso ga?"
"Ayo kita kesana!"
Mereka berdua tampak asyik menikmati waktu luang bersama.
Sementara pasangan pengantin baru Berliana dan Kuncoro serta Gunawan Papanya Maura justru kelimpungan dengan tingkah laku Maura yang sekarang malah menginap di hotel bintang lima milik keluarga istrinya Xavier.
"Hhh... Huuufffh! Maura Maura. Ngapain anak itu sampai sewa kamar presidential suite di hotelnya Liliana?! Hhh..."
__ADS_1
"Sepertinya anak itu memiliki rencana lain, Co!"
"Iya, Pa! Ini si Radit juga sebelas dua belas tingkahnya. Hapenya malah dimatikan datanya. Kacau benar jadinya!"
Berliana mengusap lembut bahu Kuncoro yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Bola mata keduanya saling bertautan. Tinggalkan Gunawan yang segera masuk kamar karena jengah berada dalam lingkaran penuh cinta dari Berliana dan Kuncoro putranya.
Kuncoro menuntun Berliana masuk kamarnya.
Kamar besar berukuran 6x8 meter menyambut pasangan pengantin baru itu dengan penuh kejutan.
Aroma bunga mawar merah menyeruak. Nuansa putih merah menjadikan kamar Kuncoro benar-benar indah.
"Waah!"
"Surpriseee..."
Kuncoro membuka dua belah tangannya lebar-lebar. Berliana tersenyum sumringah.
"Bagusnya!"
Berliana tersipu.
"Aku apalagi. Perempuan yang tak tahu asal usul,"
Grep
Tangan Kuncoro menyergap menutup mulut Berliana cepat.
Dia menggelengkan kepala tanda tak suka dengan perkataan istrinya itu.
"Jangan bilang begitu lagi. Ya?"
Hati Berliana menghangat. Ada riak kebahagiaan yang membuat air matanya merebak jatuh di pipi.
Berliana merebahkan kepalanya di dada bidang Kuncoro.
__ADS_1
"Kamu milik Aku sekarang. Dan Aku milik kamu selamanya. Kita saling bergantung satu sama lain, kini. Bukan lagi pribadi yang kesepian dan mendamba cinta seperti beberapa bulan yang lalu."
Air mata Berliana semakin deras mengalir. Walau tanpa isak tangis, tetapi perkataan Kuncoro mampu membuat hatinya luluh lantah karena kelembutan cintanya.
"Ya Allah ya Tuhanku, tolong berikanlah dua hamba-Mu ini kebahagiaan yang abadi. Tolong jangan pisahkan kami. Biarlah hanya maut yang akan memisahkannya!" doa Berliana diamini oleh Kuncoro yang diam-diam juga menangis terharu.
Setahun belakangan ini, Kuncoro merasa Tuhan sudah menerima dirinya seutuhnya. Satu persatu kisah hidupnya yang dulu tertutup rapat-rapat itu perlahan memberikan ketenangan.
Kisah hidup yang sedih. Derita jati diri yang tidak sesuai dengan keinginan. Percintaan yang juga kandas beberapa kali sempat membuat Kuncoro nyaris frustasi.
Untuk itu Ia sangat memahami kesedihan Maura.
Adiknya itu terbiasa hidup enak. Walau sempat merasakan jadi anak piatu dan mendapatkan ibu tiri yang kejam, tetapi kasih sayang Gunawan tak terbantahkan.
Berbeda jauh dengan dirinya.
Walaupun Gunawan juga merapatnya, tetapi tidak seperti Maura. Yang tahu siapa keluarganya, yang menyayanginya sepenuh hati seluruh jiwa raga.
Kasih sayang Gunawan tertumpah pada Maura. Dan Maura si anak emasnya Gunawan kini kesandung cinta yang menyakitkan.
Yang paling menakutkan bagi Kuncoro, Maura patah semangat dan hilang akal karena hampir saja Ia hendak bundir ketika di rawat di RS sehari setelah Xavier menikahi wanita lain.
Cinta memang bisa membuat orang lupa diri. Cinta mampu menjadikan orang hilang akal sehat. Kadang manis sekali bagaikan madu. Namun tak sering juga pahit seperti empedu.
Begitulah cinta.
Manisnya tak semua orang bisa mereguk nikmatnya cinta.
Banyak kisah dan perjuangan dibalik kesuksesan meraih cinta.
Dan satu hal lagi, mempertahankannya bahkan jauh lebih susah.
Seperti Virly dan Rendy, bahkan pasangan matang yaitu Hilda dan Sapto. Semua masih harus berjuang untuk mempertahankan sebuah cinta lewat kesabaran dalam melewati cobaannya.
Kuncoro sendiri baru saja merentangkan bendera cinta bersama Berliana.
Atas nama cinta, keduanya berjanji seiya sekata. Melewati rintangan dan menghadapi cobaan untuk naik ke puncak kebahagiaan cinta.
__ADS_1
Semua orang, semua pasangan, pasti punya cara untuk mendapatkan dan juga mempertahankan cinta. Meski pada akhirnya tujuan cinta yang utama adalah cinta kepada Sang Pencipta.
BERSAMBUNG