(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 59 - Benarkah Jodoh Yang Tertukar?


__ADS_3

"Siapa yang akan kamu terima pinangannya, Berliana? Saya, atau Coco?"


Pertanyaan Gunawan membuat Berliana sedikit gugup.


Ia menelan saliva. Matanya mengerjap mendapati tatapan dari tiga pasang mata yang penuh harap.


"Kak Coco, semoga hubungan kita bisa berjalan lancar sesuai yang diharapkan!"


Gunawan tersenyum lega. Sementara Kuncoro menghela nafas panjang seolah hati kecilnya berteriak, "Yesss... Akhirnya!!!"


Maura sontak bersorak.


Semua senang dengan keputusan yang diambil Berliana.


Kini tinggal satu tahap lagi. Melamar gadis berumur 25 tahun lebih itu kepada kedua orangtuanya.


Walaupun hanya anak angkat, tetapi Berliana diasuh dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga Sapto.


Meski ada sedikit kejanggalan dalam memberikan porsinya yang Berliana rasa tidak seimbang, kini akhirnya Ia mengerti sepenuhnya.


Virly anak kandung mereka. Sedangkan dia hanya anak angkat saja. Sudah selayaknya perhatian mereka lebih tertumpu pada buah hati yang sesungguhnya.


"Berarti kita akan kabarkan kepada Pak Sapto kalau minggu depan keluarga kami akan datang membawa hantaran!" kata Gunawan mulai menentukan sikap bergerak cepat.


Pernikahan Berliana dengan Kuncoro ingin sekali Ia gelar secepatnya.


Keluarga kecilnya ingin bersatu dengan tinggal bersama satu atap.


Melihat Maura yang kini nge-kost dan jauh dari pantauannya tidak serta merta membuat Gunawan tenang. Justru hatinya diliputi rasa was-was takut terjadi sesuatu pada putrinya.


Setidaknya jika mereka tinggal di rumah yang sama, pergaulan dan circle pertemanan Maura bisa Ia pantau.


Gunawan sudah ingin sekali menikahkan putrinya dengan putra Sang sahabat.


Namun saat ini Ia masih harus bersabar. Xavier masih ada di negeri orang. Masih menuntut ilmu melanjutkan stata magister-nya.


Semua untuk masa depan Maura juga tentunya.


Doanya tak putus untuk kebahagiaan anak-anaknya, Kuncoro juga Maura.


Perjalanan hidup Gunawan yang buruk dimasa lalu, semoga tidak menjadi contoh yang diikuti oleh keduanya.


Pergaulan bebas, melakukan perbuatan yang salah dan dilarang Tuhan dampaknya akan terus berlanjut sepanjang usia.


Gunawan sendiri telah mendapatkan hukuman dari Allah.


Alih-alih cinta, justru malah merusak masa depan Hilda hingga membuatnya susah.


Mengandung sembilan bulan lebih, belum lagi harus menerima amarah dari kedua orang tua terutama Sang Mama yang sangat gigih menentang hubungan mereka.


Sampai Hilda melahirkan, hidup tertekan juga dijauhkan dari putra yang baru saja dilahirkan. Gunawan tak sanggup membayangkan penderitaan Hilda.


Wajar saja jika pikiran Hilda seolah mati. Hilang semua rasa. Berganti menjadi pribadi lain yang nyaris tidak lagi Gunawan kenali.


Meski kecantikan wajah Hilda tak hilang, namun karakter serta sifatnya yang dulu membuat Gunawan tergila-gila perlahan pupus ditelan masa.


Kuncoro terkejut. Mendapati nomor baru yang tak dikenal menghubunginya.

__ADS_1


Treeet treeet treeet...


"Hallo, selamat malam?"


Matanya menatap kosong ke depan.


Ia mendengar kembali suara seseorang yang dulu pernah begitu ia rindukan.


Virly Rastanty...


Ternyata Virly mengajaknya ketemuan saat ini juga.


Virly menunggu Kuncoro di tempat biasa dahulu mereka kencan.


Sebuah kafe kecil di pusat Ibukota. Letaknya di dalam taman bunga yang tidak lagi banyak dikunjungi seperti masa lalu.


Virly melambaikan tangannya, memberi kode ketika Kuncoro tengah mencari-cari sosok perempuan cantik yang sedang menunggunya.


"Virly..."


"Duduklah!"


Keduanya kini duduk berhadapan.


Sama-sama saling diam dan kepala menunduk ke lantai.


"Maafkan semua kesalahanku di masa lalu, Virly!" tutur Kuncoro memulai pembicaraan.


Ia lelah jika harus terus-menerus memendam rasa bersalah. Kuncoro ingin melanjutkan hidup dengan tenang. Dosanya adalah memutuskan hubungan tanpa penjelasan mengapa Ia berbuat. Bahkan hanya lewat chattan. Setelah itu membuang nomor pribadinya mengganti yang baru agar Virly tidak lagi dapat menghubunginya. Terkesan jahat sekali.


Virly mengangguk pelan.


"Maaf... Aku tidak sanggup berkata-kata pada saat itu! Setelah mengetahui bahwa kau dan aku adalah...hhh... kakak beradik, aku pergi jauh dan rasanya seperti ingin mati!"


"Itu pasti menyakitkan, bukan?"


"Hhh... Aku juga tersiksa lahir batin, Virly! Meskipun berusaha berlari dari kenyataan, tetapi tidak membuat hidupku jadi lebih tenang juga. Aku belum menceritakan yang sesungguhnya padamu."


"Hingga kau datang kembali justru dengan kabar berita yang lebih menyakitkan!"


"Maaf..."


"Kamu ingin membalaskan dendammu padaku, Bang?"


"Sama sekali tidak, Virly!"


"Lalu, apa maksudnya ingin menikah dengan Anna adikku? Kalian sedang bersekongkol?"


"Kamu salah faham."


"Aku tahu, Anna kaget... mantan pacarnya menikah denganku. Tapi itu tidak kuketahui sama sekali masa lalu mereka yang ternyata pernah ada hubungan! Sementara kamu dan Anna, saling kenal. Saling tahu kalau kita dulu pernah berpacaran. Lalu hubungan kalian disatukan niatnya apa?"


"Niatnya mencari ridho Allah tentunya, Virly!"


Virly mulai menangis.


Hati Virly sedih, Kuncoro telah menentukan sikap yang menyakiti perasaannya.

__ADS_1


"Haruskah Anna jadi pilihanmu, Bang?" tanya Virly mencoba membuat Kuncoro berfikir ulang.


"Kalau ternyata kita ini berjodoh, bagaimana? Semua adalah takdir dari Yang Maha Kuasa, Virly!"


"Tapi haruskah dengan Anna? Mengapa tidak dengan gadis lain, yang lebih cantik dan baik dibandingkan Anna!?"


"Apa Anna bukan gadis baik? Mengapa aku tidak boleh memilih Anna? Disini siapa yang jadi egois sekarang? Aku atau kamu, Virly?"


"Hik hik hiks .. Bagaimana mungkin jodoh kita seperti tertukar, Bang!?"


"Jodoh kita tertukar? Benarkah itu?"


Kuncoro menghela nafasnya.


Dadanya juga sesak. Sama seperti Virly. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini adalah takdir yang harus mereka jalani.


"Batalkan rencana pernikahan kalian!"


Kuncoro membulatkan kedua bola matanya.


"Kenapa? Apa ada yang salah jika Aku menikahi Berliana?"


"Jangan sakiti hati aku lagi, Bang! Aku bisa mati! Menikahlah dengan gadis lain! Jangan dengan Anna!"


"Kenapa kamu seolah menjadi pengatur dalam hidupku? Apakah kamu 'Tuhan'? Ini semua sudah suratan hidupku. Sama seperti suratan hidupmu yang sudah menikah dengan Rendy, mantannya Anna!"


"Aku bisa minta cerai pada Rendy kalau itu jadi barter pertukaran agar kalian tidak jadi menikah!"


"Virly!!! Kamu sudah gila kah? istighfar Virly!!!"


Tentu saja Kuncoro marah.


Virly seolah dengan mudah berkata-kata untuk menekannya.


"Aku tidak akan menuruti kehendakmu, Virly! Aku pamit, permisi. Pulanglah segera! Hari semakin malam, atau Aku akan menghubungi suamimu agar segera menjemput. Ingat anakmu menunggu di rumah!"


"Bang! Bang...!"


"Sudahlah, Virly! Mari kita tutup masa lalu yang suram. Buka lembaran baru dan ikhlaskan semua yang pernah terjadi di dalam hidup kita."


"Hik hik hiks... Aku bingung, aku sedih. Aku juga tidak tahu harus bagaimana! Tolong mengertilah Aku, Bang!"


Kuncoro menghela nafas lagi.


Kini Virly ada dalam pelukannya.


"Tidak semudah itu juga bagiku melupakanmu, Bang! Apalagi kamu akan menjadi istri adikku. Tidak adil rasanya bagiku! Ini tidak adil!!! Hik hiks..."


Virly masih histeris, menangis kian keras bagaikan bocah SMA yang tak mau diputus cinta.


Sementara di balik batang pohon yang besar di sekitar area, sepasang mata milik Rendy tengah mengintai.


Rendy yang kecewa dan terluka hatinya. Dengan sigap tangannya merogoh ponsel di saku celana jeans-nya.


Cekrek.


Bukti gambar Virly dan Kuncoro akan jadi saksi bisu yang akan ia kirimkan ke nomor Berliana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2