
Rendy sudah rapi dengan setelan pakaian resminya sebagai supir pribadi pak Gunawan.
Kini Ia juga sudah kembali ke kantor, duduk manis di ruangan sang atasan menunggu perintah kerja selanjutnya.
Hanya satu yang masih menjadi pemikirannya. Bagaimana caranya Ia untuk memberitahu Berliana kalau Maura itu ternyata adalah putri dari CEO Matta Network.
Jangan-jangan, si Berlin udah tau lebih dulu dari gue! Hm... Ngapain juga sih gue mikirin itu anak? Pacar gue bukan, sodara juga bukan. Cuma karena dia adalah adiknya Virly, gue rasa wajarlah ya kalo ada perasaan cemas menyangkut kehidupannya yang numpang tinggal di kost-an orang. Tau bakalan begini, gue larang dia pindah dari rumah kakaknya.
Dan ga mungkin juga si Maura berbuat aneh sama si Berlin. Mereka sesama perempuan. Apalagi berkat Maura mungkin aja kerjaan tuh anak bakalan lancar jaya. Iya khan?
Rendy menghela nafas.
Bagi Rendy, Berliana bukan lagi orang terpentingnya. Tetapi mengingat lagi pembicaraan Virly dan Berliana tempo hari, hatinya kembali gegana.
"Emang Lo mau berangkat kuliah ke Malaysia izin dulu sama gue? Enggak, dodol! Cuss Lo terbang tanpa pamitan dan menghilangkan jejak kayak buronan yang lari dari kejaran utang!" semprot Virly kala itu.
"Hehehe... woles Kak woles! Kan Lo tau, gue juga niatan berobat! Hehehe..."
"Ya itu! Kaga ada Lo cerita sama gue kalo Lo tuh sakit! gue baru tau sebulan setelah Lo tinggal di Selangor dan itupun denger tanpa sengaja dari percakapan Eyang Uti sama Mama!"
Sakit apa dia? Sampe harus cabut berobat ke Selangor bahkan ga bilang sama gue juga sodara kandungnya sendiri?
"Rendy, Ayo. Kita ada pertemuan di gedung Arta Graha daerah selatan Ibukota."
"Baik, Pak!"
Waktunya kerja! Go jauh-jauh mikirin si Berlin!
Rendy mulai bekerja meski masih canggung dan kaku setiap kali Pak Gunawan dan Mas Delon asisten pribadinya CEO Matta Network.
Ternyata jadi CEO itu kerjaannya bukan hanya duduk manis, minum kopi, tanda tangan kontrak, lalu tersenyum melihat transferan masuk rekening dan tabungan hari tua menggelembung.
CEO harus pandai berinteraksi mencari cukong-cukong pembawa cuan agar mau kerjasama dengan perusahaan dan hasilnya dibagikan ke para karyawan lewat waktu gajian. Hm.
Semakin sering bergaul dengan orang-orang kelas atas, Rendy semakin tahu artinya kerja keras.
Pak Gunawan, CEO Matta Network ternyata mengidap penyakit lambung yang lumayan serius karena sering telat makan karena sibuk bekerja. Ia punya keinginan menikah lagi, tetapi putri semata wayangnya malah tidak setuju malah memutuskan untuk pergi tinggalkan Dia hidup seorang diri.
Treeet... treeet... treeet
Aduh! Virly video call gue lagi!?
Treeet... treeet... treeet
"Kenapa tidak diangkat, Rendy?" tegur Pak Gunawan.
"Maaf, Pak! Istri saya VC! Hehehe... paling hanya urusan kecil. Biar nanti di rumah."
__ADS_1
Treeet... treeet... treeet
"Angkatlah dulu! Istrimu itu! Kukira kau masih single. Ternyata sudah menikah!"
"Hehehe..."
"Hallo? Mas? Kamu masih narik? Ga pulang makan siang di rumah? Aku masak sayur asem kesukaan kamu!"
"Virly, Virly... nanti lagi teleponnya ya? Aku lagi kerja nih! Oke? Aku makan nanti sore di rumah. Bye,"
Ceklik.
"Hehehe... Kenapa kamu panik begitu, Rendy? Kasian istrimu lho itu! Hati-hati pulang nanti kalian jadi ribut karena kamu matikan panggilan teleponnya secara sepihak! Hehehe..."
Rendy ikut tertawa mendengar gurauan atasannya. Lucu tapi masuk akal juga.
Rendy memang belum bercerita kepada istrinya kalau dia sekarang sudah bekerja dan jadi karyawan. Bukan sopir taksi online lagi.
Ada kesalahpahaman pastinya, tapi itu ia lakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sudah lama kamu menikah? Atau masih pengantin baru? Umurmu baru 25 tahun bukan?"
"Hehehe... Iya Pak. Sudah dua tahun lebih beberapa bulan kami menikah. Sudah dikaruniai putra juga, Pak!"
"Wah! Anak sekarang hebat-hebat ya?! Kalah kau Delon, dengan si Rendy ini! Hahaha..."
Ternyata Mas Delon masih bujangan! kata hati Rendy.
"Kayaknya sih MBA ya?" tebak Delon agak terdengar sinis. Rendy tertawa kecil.
"Justru saya dinikahkan oleh Nenek tanpa kenal lebih dulu dengan istri saya, Mas! Hehehe..."
"Oalah, lewat perjodohan rupanya!"
"Begitulah, Pak!"
"Padahal kamu masih muda ya? Sewaktu menikah itu usia berapa?"
"Dua puluh dua tahun menjelang dua puluh tiga, hehehe..."
"Ck ck... Masih muda sekali. Putriku Maura masih suka bertingkah semaunya. Seperti sekarang ini! Hhh..."
Rendy hanya tersenyum tipis. Kembali fokus menyetir mobil mewah pribadi milik atasannya itu.
Pertemuan masih berlanjut di tempat yang berbeda.
Kini Rendy hanya menunggu Pak Gunawan dan Mas Delon di dalam mobil yang terparkir di basemen.
__ADS_1
Ia teringat Virly istrinya yang cantik jelita.
Teringat juga guyonan atasannya soal istri yang ngambek.
Segera di teleponnya Virly.
Lama sekali baru Virly mengangkat.
"Aku sedang mengadon ini, Mas! Nanti saja ya kutelepon balik!"
Klik.
Yaelah, Virly sedang sibuk di dapur toko online. Sekarang dia balas perbuatan gue barusan! Hm. Begitulah wanita! Ingin dimengerti tetapi tidak pandai memahami!
Rendy menaruh kembali ponselnya. Ia menghela nafas. Matanya agak mengantuk karena tadi siang makan banyak di restoran Padang bersama Pak Gunawan dan Mas Delon.
Hari pertamanya bekerja di perusahaan Matta Network benar-benar luar biasa.
Bersyukur sekali Ia karena Tuhan mempermudah segalanya.
Dan hari pertama berakhir dengan hati penuh bahagia.
"Hari ini jam kerjamu berakhir sampai disini, Rendy! Tapi besok-besok, siapkan stamina lebih. Karena kemungkinan besar, kita akan bekerja lembur karena ada pertemuan di malam hari bertemu para CEO perusahaan lain. Siap, Rendy?"
"Siap, Pak!"
"Bagus. Anak muda itu harus selalu semangat! Baiklah, hari ini Aku akan tinggal di kantor. Kamu pulang bawa kendaraan? Atau mau bawa mobilku kerumahmu?"
"Saya, saya bawa kendaraan, Pak! Terima kasih banyak tawarannya. Juga terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada Saya!"
"Sama-sama. Jangan lupa, minta maaf pada istrimu soal kelakuanmu menutup telepon sebelum dia selesai bicara!"
"Hehehe... Baik, Pak!"
Pria muda itu pamit pulang setelah pukul empat sore. Berbaur bersama para karyawan kantor yang juga bubaran tepat pukul empat sore.
Mata Rendy kembali melihat sosok Berliana yang sedang tertawa bersama teman barunya yang tak lain adalah putri tunggal pemilik Matta Network.
Biarlah dia bahagia dengan dirinya yang sekarang!
Rendy tak mau mengusiknya lagi. Semua kenangan indah bersama Berliana, ingin dikuburnya dalam-dalam.
Berliana hanyalah masa lalu. Virli-lah masa kini dan juga masa depan Rendy bersama Leonardo Saputra.
Leo! Papa is coming home! Kita pergi main di taman kota ya, sekarang! Bersama Mama, kita bahagia Bertiga.
๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น
__ADS_1