
Rendy menunggu di parkiran sebuah taman wisata. Sementara pak Gunawan, Delon dan Berliana masuk ke dalam.
"Duh, penasaran gue pengen ikut ke dalam!" gumam Rendy seorang diri.
Dia jenuh juga duduk seorang diri dalam mobil. Hanya melihat-lihat beberapa orang lalu lalang masuk. Tapi hanya sedikit, karena ini hari Jum'at bukan weekend.
Khayalannya melayang. Andaikan Virly benar-benar minta cerai akhirnya nanti, ia yang akan berjuang mengurus Leo. Kemungkinan usia Leo yang akan menjelang dua tahun sudah mulai bisa disapih. Toh selama ini Leo juga sudah belajar minum susu formula jika stok ASI Virly habis dan dia sedang ada bekerja.
Rendy mulai membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi nanti.
Ia harus cari rumah kontrakan. Juga siapkan semuanya sebelum hal itu nanti jadi kenyataan.
Butuh banyak biaya! Kata hati Rendy mulai mumet kepala.
Treeet... Treeet... Treeet
...Asisten Boss is calling...
"Ya, Mas?"
"Masuk, Ren! Bawa juga dua koper yang ada di bagasi!"
"Oke. Meluncur, Mas!"
Rendy akhirnya ada kesempatan untuk melihat jalannya proses pembuatan iklan.
Berliana menoleh melihat Rendy yang sibuk dengan dua koper ditangan. Akhirnya Ia tak tega juga melihat kakak iparnya ribet sendirian.
"Sini, yang satunya!" katanya agak ketus.
Rendy tersenyum tipis dengan mimik wajah sedikit meledek.
"Apaan sih? Cari ribut ya?" gerutu Berliana pelan. Ia sadar diri, saat ini kondisi tempat tidak memungkinkan untuk dia berkata kasar pada Rendy.
"Ish, cari duit gua, bukan cari ribut!" balas Rendy yang juga dengan suara pelan.
Keduanya berjalan mendekat ke arah Boss Matta Network dan memberikan dua koper besar pada kru produksi pembuatan iklan.
Ternyata proses pembuatan iklan tak kalah ribet dari syuting-syuting sinetron juga film yang kita lihat di layar televisi.
Proses take berulang-ulang juga dilakukan demi untuk mendapatkan hasil gambar dan akting para bintang iklan yang paling maksimal.
Berliana juga sibuk mencatat dan memberi pengarahan perihal keinginan sang pemilik script yaitu creative director yang tak lain adalah atasannya di departemen produksi.
Lumayan membuat gadis dewasa itu deg deg degan karena ini adalah pekerjaan pertamanya yang langsung dikontrol oleh CEO Matta Network.
Berliana belum mengetahui kalau Pak Gunawan adalah Papanya Maura.
Ia masih sangat takut serta takjub pada karismatik pria yang usianya dua kali lipat dari dirinya tetapi masih terlihat energik dan gagah perkasa.
Pak Gunawan juga sopan serta ramah pada semua karyawan serta kru yang bekerjasama dengannya. Sehingga Berliana tidak menemukan banyak kesulitan dihari pertamanya itu. Justru merasa sangat terbantu dengan ide-ide serta bimbingan beliau yang sangat brilian.
"Heh! Nih, kontak makan siangnya!"
Berliana yang sedang sibuk mencatat semua skrip yang sudah dijalankan menoleh.
__ADS_1
Rendy berdiri di sampingnya dengan tangan menyodorkan kotak plastik berisi makanan.
"Terima kasih!"
"Makan dulu, ntar sakit!" kata Rendy sembari berlalu.
Dih? Ngapain sih sok-sokan perhatian? Ck. Bikin hati gue deg degan aja!
Berliana termangu sesaat.
Matanya menatap kotak nasi yang Rendy kirimkan. Terbayang masa-masa indah saat mereka masih remaja dan masih bersama.
"Makan dulu!" suruh Rendy dengan suara tegas.
"Ntar dulu. Tanggung!" jawab Berliana masih tetap fokus menatap papan tulis lalu menatap bukunya. Ia masih sibuk menyalin pelajaran Pak Sembiring, guru fisika mereka saat itu.
"Makan! Ntar sakit!"
Rendy selalu perhatian pada Berliana dalam keadaan apapun. Terlebih setelah mereka resmi memutuskan untuk menjalin hubungan spesial yang disebut pacaran.
Usia belia membuat mereka tidak berani berbuat lebih selain pacaran diam-diam tanpa diketahui keluarga masing-masing.
Sekolah adalah tempat ternyaman untuk mereka saling berbagi kasih sayang.
Banyak tempat penuh sejarah kisah kasih percintaan Rendy dan Berliana di gedung sekolah. Khususnya bagian belakang gedung yang terdapat kebun pohon kayu besar.
Mereka biasanya mengobrol santai berdua di bawah pohon rindang.
Kadang semut-semut nakal menggerumut, tak jarang jangkrik liar tiba-tiba masuk ke dalam rok Berliana hingga seringkali Ia berjingkrak untuk membuat jangkrik itu keluar dari persembunyiannya.
"Masih belum dimakan?"
Rendy datang lagi dengan tangan berisi minuman Boba Milo kesukaan Berliana.
Mata mereka saling bertemu.
Ada cahaya kilat kerinduan akan masa lalu yang masih menggantung.
Rendy berdecak. Ia membukakan tutup nasi kotak. Kemudian membuka segelan botol mineral untuk disodorkan pada Berliana.
"Nih minum dulu!"
Tak pedulikan beberapa mata kru yang menatap mereka tersenyum penuh arti.
"Kayaknya mereka itu pacaran diam-diam deh!" bisik-bisik terdengar dari suara para kru yang memperhatikan interaksi mereka berdua.
Seketika Rendy baru tersadar.
Gila! Kasak-kusuk ini bisa jadi gosip yang makin digosok makin sip ini! Bahaya!
Rendy segera berlalu meninggalkan Berliana yang juga termangu memikirkan ucapan beberapa orang yang barusan memperhatikan mereka. Mencari tempat makan yang agak jauh dari tempat duduk Berliana dan kru yang lainnya.
Waduh?! Bisa-bisanya gue bikin skandal padahal baru juga kerja di lapangan sekali ini! Hhh... Pekik
Kegiatan hari itu padat bahkan sampai pukul delapan malam. Syuting iklan yang hanya tayang tak sampai dua menit itu ternyata memakan waktu yang cukup lama. Sempat terhenti karena Pak Gunawan, Delon, Rendy juga kru pria lainnya pergi ibadah sholat Jum'at dahulu di masjid dekat rekreasi, dan lanjut lagi setengah jam kemudian.
"Beginilah kerja lapangan! Apalagi jika kalian kerja di intertainmant! Bisa sampai berlipat-lipat waktu yang dibutuhkan untuk kerja kejar tayang!"
__ADS_1
Berliana termangu mendengar cerita seorang kru film yang sudah biasa malang melintang di jagat hiburan.
Rendy yang tidak hanya menonton tapi juga ikutan menjadi kru dadakan dengan membantu jika ada barang-barang berat yang harus diangkut.
Mereka begitu solid dan Rendy maupun Berliana belajar banyak di dunia kerja perfilman.
"Bagaimana proses pembelajaran kalian? Lumayan melelahkan?" tanya Pak Gunawan membuat Rendy antusias menjawab.
"Seru, Pak! Syutingnya benar-benar keren! Ternyata prosesnya serumit ini ya?"
"Itulah. Kita seringkali lihat di televisi seolah semudah itu. Ternyata tidak kan? Hehehe..."
"Betul, Pak! Hehehe..."
"Berliana!"
"Ya Pak?"
"Biar saya antar sekalian. Dimana tempat tinggal kamu?"
"Oh, waduh... saya jadi merepotkan ya Pak?"
"Ga, kok! Biar Rendy sekalian jalan! Di daerah mana rumahmu?"
"Di daerah Taman Setiabudi, Pak!"
"Okey. Rendy, antar Berliana dulu!"
"Siap Pak!"
Rendy meluncur membawa mobil yang dikendarainya ke arah Taman Setiabudi.
"Kamu tinggal di kost-an? Yang itu?"
"Iya. Hehehe..."
"Woow, ternyata karyawan saya ini anak-anak yang mandiri dan termasuk golongan orang yang berpunya! Tadi pagi si Rendy ke rumah saya bawa mobil sendiri. Sekarang Berliana tinggal di kost-an bergengsi. Kereen... kalian keren!"
"Bukan saya, Pak yang bayar kost-annya. Tapi temen saya Pak, hiks... beneran!" ralat Berliana agak panik.
"Hehehe... beneran juga tidak apa-apa lah!"
"Teman saya yang di divisi copy writer itu yang kost. Saya cuma nebeng, Pak! Maura katanya takut tinggal sendirian. Dia mengajak saya ikut tinggal bersama padahal saya tidak punya uang buat patungan bayar kost-annya. Begitu ceritanya!"
Hm. Semoga Pak Gunawan ketemu sama putrinya. Jadi mereka bisa segera dipulangkan ke rumah masing-masing! Doa hati kecil Rendy yang sudah mengetahui kalau Pak Gunawan adalah Papanya Maura, teman se kostan Berliana.
"Sudah, Pak, disini saja! Terima kasih banyak atas kebaikannya!"
"Sama-sama, Berliana!"
Sayang sekali. Harusnya Pak Gunawan menyatroni kost-an putrinya. Ayolah! Biar Berliana kembali ke rumah Virly. Setidaknya Berliana bisa lebih sering di rumah, dan obrolan santai mereka bisa kudengar diam-diam. Gumam Rendy dalam hati.
Rendy yang awalnya tidak begitu suka jika Berliana tinggal di rumah Virly, kini pemikirannya berubah seratus delapan puluh derajat Celsius.
Ada doa dan harapan, Virly tidak terus menyiksa batinnya seperti sekarang ini.
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...
__ADS_1