
Rendy merasakan kalau dirinya jauh dari kata sempurna.
Hanya memiliki wajah tampan, tetapi minus dalam segala hal terutama dalam kelihaian mencari uang.
Dia juga agak pemalas, tidak seperti laki-laki lain yang pekerja keras dan pantang menyerah dalam mencari nafkah.
Rendy sangat menyadari hal itu.
Betul kata Berliana. Melepaskan Virly adalah langkah terburuk dalam hidupnya. Dan dia sendiri tak berani memimpikan kebahagiaan jika benar-benar bercerai dengan perempuan yang membawa keberuntungan dalam hidupnya selama ini.
Tapi ia juga malu untuk pulang ke rumah Virly, karena dia lah yang meninggalkan istrinya dengan emosi tinggi semalam.
Untuk menghubungi Virly lebih dulu, dia juga gengsi. Walau tadi Berliana berkata kalau Virly memohon padanya agar pulang ke rumah, tetapi hal itu sedikit menjatuhkan harga diri. Kecuali Virly yang memintanya sendiri.
Sempat tadi pagi ada japrian Virly setelah semalaman hapenya dinon-aktifkan. Tetapi Rendy masih gengsi untuk membalas chat Virly hingga detik ini.
Semalam ia tidur di mess kantor.
Tidur sendiri di ruang kecil berukuran 4×5 meter itu membuat Rendy kesepian.
Emosinya yang labil terkadang sangat kukuh ingin bercerai tetapi kemudian takut juga untuk melakukannya.
Ia hanyalah omong kosong mengancam akan pergi ke pengadilan agama mengurus perceraiannya.
Bagaimana mungkin itu semua bisa ia lakukan ketika dirinya masih dalam kondisi baru sebulan lebih bekerja di perusahaan dan belum punya tabungan.
Masalah mobilnya yang rusak parah akibat kecelakaan lalu lintas oleh Virly pun, Pak Sapto yang mengurus semuanya.
Dia agak kurang faham mengurus segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Umurnya 25 mau 26 tahun, fikirannya sering labil juga masih sangat kekanak-kanakkan.
Walau telah memiliki seorang anak laki-laki, tetapi jiwanya lebih banyak bagaikan seorang bujangan yang merasa tidak punya tanggungan.
Treeet... Treeet... Treeet...
Ponselnya berdering.
Boss CEO Matta Network yang menelpon. Siang ini mereka akan meluncur ke pinggiran kota untuk urusan teken kontrak kerja baru.
Sungguh pencapaian yang luar biasa buat pak Gunawan, pria matang itu. Membuat Rendy seringkali berkhayal dan berharap, dirinya akan sehebat beliau di masa-masa menjelang tua nanti.
"Rendy! Kamu jadi terima kerjaan yang di Bandung?"
Pertanyaan Gunawan membuat Rendy bengong sebentar. Lalu mengangguk setelah blank agak bingung.
__ADS_1
"Diskusikan dulu dengan istrimu. Setelah itu, mari kita bicarakan serius soal kepindahanmu ke kota Bandung!"
"I_iya, Pak!"
Rendy tak bisa membantah ucapan sang atasan.
"Suami istri itu tidak baik tinggal berjauhan kecuali karena keadaan yang tidak memungkinkan. Diskusikan apapun itu dengan pasangan terutama hal-hal yang penting kayak pindah kerja di luar kota."
Rendy mengangguk setelah matanya bersirobok dengan mata Gunawan lewat kaca spion mobil yang ada di atas kepalanya.
Hari ini banyak banget orang bijak! Pak Gunawan, Berliana, ... hhh...!
Tring
Ponselnya menerima pesan masuk.
Segera dibukanya karena sedang lampu merah di jalan.
Virly! Virly chat gue!!! Pekik hatinya kegirangan.
...Yank, udah makan belum? Jangan lupa makan siang. I miss you....
Sontak Rendy tersenyum bahagia.
...Udah, yank...
Seketika Rendy teringat pada waktu pertama kali mereka habis melakukan 'itu'.
Virly mengechatnya setiap jam.
Menanyakan kelancaran pekerjaannya, tanya tadi siang makan sama apa, tanya juga menu makan sore ini request apa.
Rendy lagi-lagi tersipu.
Ia kembali tersadar, kalau kelakuannya memang masih terlihat seperti bocah.
Fikiran serta jiwa belum dewasa sepenuhnya.
Virly sang istri, masih jauh lebih dewasa karena memang umurnya lima tahun di atas Rendy.
Mungkin itu juga sebabnya Tuhan menjodohkan dia dengan Virly. Karena sifat yang masih kekanak-kanakan serta karakternya yang masih labil dan mudah oleng.
...Mas, ada Papa sama keluarga Mas Afdal datang. Katanya sengaja jenguk Aku. Nanti sore pulang ya Mas...ke rumah kita....
Rendy menarik nafas dalam-dalam. Hatinya lega. Virly lebih dahulu meluluhkan hatinya, seperti biasa dan seperti yang lalu-lalu.
__ADS_1
Kini Ia berjanji dalam hati, akan bersikap lebih baik lagi kepada istrinya itu. Ingin menjadi pribadi yang lebih dewasa dari sebelumnya.
Ia tak akan lari lagi dari kenyataan. Setiap masalah yang datang, sebisa mungkin akan Ia hadapi dan berjanji untuk tidak berkata-kata tentang hal yang buruk termasuk menyebutkan kata 'pisah'.
Rendy pernah mendengar ceramah, jika seorang suami tiga kali menyebut kata pisah, maka itu sudah jatuh talak meskipun hanya emosi sesaat saja.
Ia merasa tubuhnya menggigil. Agak merinding mengingat selama sebulan ini hubungan rumah tangganya dengan Virly terlihat seperti selalu di guncang badai prahara.
...Iya. Maafin Aku ya yang semalam, Yang...
...Iya. Aku juga, Mas (emoji tangan memohon maaf dan juga emoji menangis)...
"Rendy! Lampu hijau tuh! Kendaraan yang dibelakang klakson dari tadi! Jangan chattingan kalau sedang bawa kendaraan!"
Pucat pias seketika wajah Rendy. Gunawan menegurnya karena keasyikan membalas chat Virly.
"I iya, Pak. Maaf..."
Segera Ia menjalankan mesin mobil dan meluncur ke tempat tujuan.
Hari ini perjalanan mereka hanya berdua saja. Delon sedang sibuk di kantor dengan tugas lainnya.
"Pak, maaf... Kayaknya Saya gak jadi pindah ke Bandung deh! Maaf ya Pak, hehehe..."
"Kan kan?! Saya sudah bisa menebak kalau kamu cuma butuh curhat saja sama Saya. Dasar kamu, Ren!"
"Hehehe..., kayaknya Virly gak akan mengizinkan deh, Pak!"
"Rupanya barusan chattan sama Virly ya? Hm..."
"Hehehe, iya Pak!"
"Ya sudah, pulang nanti minta maaf kepada istrimu itu!"
"Siap Boss! Hehehe..."
Gunawan menggelengkan kepalanya.
Rendy sudah bagaikan anaknya sendiri. Seperti berbicara dengan Kuncoro atau juga dengan Maura. Dan Gunawan senang karena akhirnya bisa membuat sopir pribadinya itu kembali tersenyum cerah.
Rumah tangga mereka kembali berjalan di atas relnya.
Usia muda dan sudah menikah, tentu saja cobaan serta godaan jauh lebih besar. Juga egoisme satu sama lain saling berbenturan. Mencari pembenaran dan saling mengakui dirinya paling benar.
Begitulah realita menikah.
__ADS_1
Ternyata menikah bukan akhir segalanya. Justru awal segalanya, menuju pribadi yang makin baik dan tambah dewasa.
BERSAMBUNG