(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 81 - Maura Dengan Penyelidikannya


__ADS_3

Kemana kita?" tanya Radit pada Maura.


"Green Hyatt Selatan!"


"Hotel? Ngajak tidur di hotel?"


"Sekali lagi Lo nanya ga sopan kayak gitu sama gue, beneran bakalan gue pukul kepala Lo ya?!"


Radit diam. Hanya senyum tipisnya saja yang mengembang.


Putus cinta memang bisa membuat seorang cewek cantik yang imut ini bagaikan walang sangit! gumam Radit dalam hati.


Tiba di tempat yang Maura arahkan.


Mereka berjalan dengan cepat menuju lobi hotel dan berdiri tepat di depan meja resepsionis.


"Selamat siang dan selamat datang di hotel Green Hyatt Selatan, Nona! Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu karyawan operator cantik menyapa dengan ramah.


Syukurlah! Ternyata wajahku sudah mereka lupakan setelah beberapa hari lalu buat onar di pernikahan pewaris hotel bintang lima ini!


"Selamat siang. Saya mau reservasi kamar ya?"


"Oke, silakan Nona. Ini buku panduan untuk memilih kamar yang Nona inginkan. Di hotel kami tersedia beberapa tipe kamar. Mulai dari tipe Grand, tipe Deluxe, Grand Club dan juga tipe Suite."


"Saya mau reservasi kamar hotel yang paling istimewa disini."


"Baik, kami memiliki beberapa kamar spesial yaitu Presidential Suite. Kamar hotel pribadi yang lebih sering ditempati para pemegang saham dan pemilik hotel ini sendiri. Kebetulan ada satu room Presidential Suite yang view-nya menghadap ke pusat Ibukota negara dengan segala keindahannya."


"Ya udah, Saya ambil itu."


"Chek in berapa hari, Nona?"


"Hm... sehari cukup. Tapi kemungkinan bisa tambah hari kan kalau seandainya saya masih betah lama-lama di kamar itu?"


"Tentu Nona. Kami siap melayani!"


"Maura? Kita... check in disini?" tanya Radit dengan suara berbisik di telinga Maura.


"Kenapa? Takut?"


Maura yang sejak tadi diperjalanan pulang dari gedung pesta pernikahan Berliana mulai mengembangkan ide jahilnya.


Sejujurnya Maura masih sangat sakit hati dengan Xavier. Dan dia masih berusaha men-stalking pria itu serta kegiatannya walaupun sudah menikah seminggu yang lalu.


Dari media sosial Xavier yang dibuat bersama Liliana Wijaya, istrinya, Maura tahu kalau mereka tinggal sementara di hotel milik keluarga Liliana sampai rumah impian mereka rampung dibangun dan mereka pindah ke sana.


Maura penasaran dengan kehidupan yang dijalani Xavier.


Maura sangat ingin tahu, bagaimana cara Xavier menyelingkuhinya bahkan sampai Liliana hamil besar. Apakah Xavier benar-benar pria yang telah menghamili Liliana? Yang Maura tahu, pria itu berada di negara Singapura sedang menuntut ilmu.


Dan melihat medsosnya Liliana, mereka saat ini disinyalir tinggal di kamar hotel Presidential Suite milik Papanya Liliana.

__ADS_1


Radit mengikuti langkah Maura.


"Ini beneran kita bakalan check in di hotel ini, Non?"


Berkali-kali Radit layangkan pertanyaan yang sama pada Maura.


"Iya. Bawel banget sih Lo!" cetus Maura.


Tiba-tiba seorang perempuan terlihat keluar dari kamar penthouse Suite yang berseberangan dengan kamar yang disewa Maura.


Liliana!


Perempuan dengan perut buncit berjalan pelan menuju lorong room Presidential Suite lantai paling atas hotel Green Hyatt Selatan.


Bangunan Green Tower yang terdiri dari dua puluh sembilan lantai dan lima belas lantai teratasnya adalah hotel Green Hyatt.


Bangunan mewah yang didalamnya terdiri dari ruang perkantoran arsitektur, ruang perkantoran kontraktor, juga ruang kantor LBH milik seorang jaksa terkemuka adalah milik keluarga Adipati Wijaya, Papanya Liliana Wijaya.


"Maura! Apa kamu sedang menyelidiki orang itu?" imbuh Radit setelah Liliana tak lagi nampak.


Maura membuka pintu kamar presidential suite-nya. Dan...


Harum semerbak aroma pengharum ruangan menyeruak seiring dengan pemandangan hotel yang indah dari ketinggian dua puluh sembilan lantai membuat mata Maura maupun Radit jadi termanjakan.


Keduanya langsung berjalan ke arah kaca jendela besar yang tembus pandang langsung ke pusat Ibukota negara tercinta.


Berdiri kokoh dihadapannya sebuah monumen bersejarah milik pemerintah yang jadi kebanggaan seluruh warga Indonesia. Monumen Nasional, tepat di depan mata.


Radit tidak mengeluarkan pendapatnya.


Kini ia mulai memahami betapa batin Maura begitu tersiksa. Dikecewakan cintanya oleh Sang kekasih yang lebih memilih perempuan lain yang punya banyak harta.


"Hhh..."


"Haruskah kamu melakukan ini?" tanya Radit dengan suara pelan.


"Aku harus tahu kebenarannya! Apakah benar dia yang menghamili si liliput itu atau, sekedar menjadi pasangan kontraknya saja demi sesuatu yang bernama harta. Aku harus bisa mengungkapkan ini semua!"


"Lupakan dia, Maura! Dia bukan jodohmu."


Maura menoleh ke arah Radit.


"Aku tahu, dia memang bukan jodohku. Dan Aku tidak sedang terobsesi dengan dia! Aku hanya ingin tahu kenyataannya sampai akhir! Apakah cintanya padaku benar-benar seburuk itu? Atau ada hal lain yang sedang Ia sembunyikan dariku!"


"Hentikan kegilaan ini, Nona! Karena itu hanya akan membuat hatimu tambah dalam terluka."


"Salahkah Aku ingin tahu kebenarannya?"


"Tidak. Kamu tidak salah. Tapi alangkah baiknya jika kamu terima kenyataan yang ada. Bahwa dia bukan pria baik yang Tuhan kirimkan untukmu. Percayalah. Ada yang lebih baik yang akan Tuhan kirimkan untukmu, walau bukan untuk saat ini."


"Cih! So tahu, sok tua!"

__ADS_1


"Hehehe... Maaf. Tapi memang kenyataannya Aku lebih tua darimu, Maura. Aku 32 tahun lebih. Seumur dengan Coco."


"Hm. Tapi kamu belum berpengalaman dalam bercinta. Karena kamu masih jomblo dan belum menikah!"


"Hehehe... yang ini benar sekali!"


"Tolong jangan berbuat hal yang akan membuat namamu dan nama Pak Gunawan jadi rusak. Cintanya itu tidak pantas untuk kau tukar dengan semua pencapaian orangtuamu yang sangat menyayangimu!'


Maura menatap wajah Radit.


Treeet treeet treeet...


"Coco menelpon!" kata Radit memberitahu Maura.


"Angkatlah! Bilang padanya kalau Aku sedang bersenang-senang denganmu di kamar hotel! Abangku itu pasti senang!"


Radit tersenyum tipis.


"Hallo? Iya. Kami berada di ketinggian gedung bertingkat. Tepatnya berada di lantai dua puluh sembilan gedung Green Hyatt di kamar presidential suite. Hm... Jangan khawatir. Maura ada di sampingku."


Maura yang mendengar namanya disebut Radit mendengus kesal.


Kakak dan Papanya pasti sedang panik mendengar Ia berada di bangunan gedung milik besannya Adipati Hernandez, Papanya Xavier Hernandez.


"Sini!"


Maura merebut ponsel Radit dari tangan pria tampan itu.


"Apa, Bang? Ternyata ya,... ck ck ck! Kamu pikir Aku ini anak presiden yang perlu pengawalan ketat? Dih?! Segitunya ya sama adik sendiri! Nih, cowok bayaranmu nguntit aku terus! Bikin Aku susah gerak! Bilang Papa, Aku mau nginap di sini semalam. Jadi Aku ga tidur di rumah malam ini! Oke? Selamat menikmati malam pertamamu dengan Berlin! Salam juga dariku untuk dia!"


Klik


Ponsel Radit sudah Maura matikan.


Maura memberikan benda pipih kecil itu pada si empunya.


"Hhh..."


"Kita sama sekali ga bawa apapun. Bahkan pakaian salin sekalipun!"


"Bagaimana kalau kita hunting baju murah di sekitaran Monas? Yuk!"


Maura meraih jemari kekar Radit. Tanpa sadar kalau kini mereka saling berpegangan tangan.




Radit yang sedang duduk santai dengan satu tangan menyangga kepala langsung bangkit mengikuti langkah Maura.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2