(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 46 - Lamaran Yang Menegangkan


__ADS_3

"Silahkan masuk, Gun, Maura!"


"Terima kasih atas undangannya, Mas!"


Gunawan datang kembali bersama Maura di kediaman Sapto dan Hilda.


Makan malam dengan menu masakan pesanan dari restoran keluarga telah tertata rapi di atas meja makan ruang keluarga mereka.


Rihanna dan Hilda sengaja menunggu di lantai dua rumah besar itu sampai tiba waktunya makan bersama nanti.


Virly tidak bisa ikut karena baru selesai terapi pengobatan patah tulang kakinya di klinik shinshe kenalan Papanya.


Hari ini rasa rindunya pada sang suami begitu menyeruak. Ia baru sadar dan malu hati karena meninggalkan suaminya begitu saja.


Hingga akhirnya Virly menelpon Rendy bahkan mengganti sambungan teleponnya dengan video call.


Rendy senang sekali. Wajah perempuan cantik yang membuat Rendy ketar-ketir takut akan berstatus duda kini terlihat senyumannya.


...[Sayang, Sayang! Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja? Apa aku perlu jemput kamu?]...


"Sayang! Aku baik-baik, Mas! Kamu gimana keadaannya di sana? Aku minta maaf ya, sudah jadi istri yang menyebalkan seminggu ini!"


...[Jangan bilang gitu, Yang! Aku juga menyebalkan! Aku suami yang gak becus. Suami yang ga bisa diandalkan. Maafin aku ya?!]...


Virly menangis. Ia terlihat mengusap lelehan air matanya.


...[Leo mana?]...


"Leo sama Mama, di bawah! Sedang ada acara. Aku gak bisa ikut turun ke bawah. Baru pulang terapi!"


...[Ya udah, kamu istirahat aja. Aku akan temani kamu, Yang!]...


"Kamu kangen Aku ga?"


...[Ya iya lah, masa ya iya dong. Kamu tau gak? Dua hari ini aku belum makan!]...


"Hahh?!? Yang bener, Mas? Makan dulu. Emang mbok Darmi ga masak apa? Jangan gitu. Nanti kamu sakit siapa yang rawat? Aku belum sembuh total. Masih jalan pake kruk. Masih ngilu kalo dipake jalan, Mas!"


...[Moga pengobatan sinshe-nya berjalan dengan baik dan lancar, Yang!]...


"Iya. Makasih doanya, Mas!"


...[Yang, kapan pulang? Aku kangen!]...


Virly tertawa senang. Sang suami kini dengan berani mengatakan kangen padanya.


"Aku juga kangen!"


Virly menatap mata Rendy yang memang terlihat gelap di area bawah matanya.


"Ga da aku sama Leo di rumah, kamu pasti senang khan? Begadang, main game nongkrong sama teman-teman satu servermu itu. Iya kan?"


...[Dih? Fitness itu! Mana ada! Aku ga bisa tidur, juga ga ada kemauan buat kongkow-kongkow! Otakku nge-lag juga pas nge-game! Ternyata damage ditinggalin kamu itu luar biasa!]...


"Dih, boong banget!"

__ADS_1


Senang rasa hati Virly mendengar pengakuan Rendy. Seketika Ia lupa pada kecemburuannya yang sempat membabi buta. Yang ada kini hanyalah khayalan tubuh bagus sang suami serta aroma khasnya yang memabukkan jiwa.


Virly jatuh cinta pada suaminya sendiri. Kini kembali mabuk kepayang hingga lupa amarahnya empat-tiga hari yang lalu.


Sementara di lantai dasar, keluarganya sedang bertemu dengan Gunawan.


Mata Rihanna menatap Gunawan tanpa berkedip.


Cukup pangling juga setelah sekian lama tak bersua.


Pria yang dahulu begitu ia benci karena cupu dan juga miskin harta, kini dengan tubuh tegap gagah perkasa berdiri dengan penuh kepercayaan diri yang nyaris membuat Rihanna tak percaya.


Gunawan bahkan mengulurkan tangan pada wanita yang pernah menghinanya di masa lalu itu.


Hilda yang agak ragu akhirnya juga menerima jabatan tangan pria yang pernah begitu dicintanya.


"Silakan duduk!" tutur Sapto ramah.


Pria yang sudah berumur hampir 62 tahun itu benar-benar bijaksana diusianya yang matang. Sangat berbeda dengan Rihanna yang bahkan tahun ini menginjak usia 70 tahun.


"Maksud kami mengundang Pak Gunawan adalah untuk meminta kejelasan perihal putri bungsu kami, Berliana. Bisa diperjelas dihadapan ibu mertua saya?"


"Maksud dan tujuan saya datang kemari adalah untuk meminang putri Bapak dan Ibu. Saya juga ingin memperkenalkan putri saya yang cantik ini, Maura. Umurnya sama dengan Berliana."


Rihanna tak sedetikpun berhenti menatap Gunawan yang terlihat manglingi.


"Punya apa kamu sampai berani meminang cucuku yang lebih pantas kau anggap anak? Hm?" tanyanya lantang membuat Sapto menghela nafas penuh kekecewaan. Kini ia telah melihat wajah asli ibu mertuanya yang gragas.


"Papa saya adalah pemilik Matta Network. Apa Eyang Uti pernah mendengar nama perusahaan periklanan itu? Perusahaan Papa cukup terkenal di dunia pertelevisian serta di seluruh media sosial."


Rihanna menoleh pada Maura yang terlihat kurang sopan dimatanya meskipun cantik dan elegan tampilannya.


"Ah, iya. Kamu anak piatu ya? Pantas berkelakuan sedikit minus!"


"Tolong Nyonya jangan menjelekkan putri saya! Nyonya boleh hina saya, tapi jangan hina Maura. Dia adalah harta saya paling berharga setelah Kuncoro, putra pertama saya!"


Semua diam. Suasana yang sedari awal terlihat kaku kini bertambah panas juga tegang.


"Papa..."


Maura berbisik pada Papanya yang seolah sedang bermain drama.


Gunawan memberi kode pada Maura.


Berliana segera mengambil alih pembicaraan.


"Eyang Uti, izinkan Anna menikah dengan Pak Gunawan!"


"Tentu, Sayang! Diamlah dulu, Eyang sedang mentatarnya!" tukas Rihanna ketus.


"Tapi Eyang Uti terdengar sedang marah!" sela Berliana lagi.


"Baiklah. Kapan rencananya Anda akan melamar cucu saya?"


"Segera. Setelah semuanya setuju dan memberikan restu tanpa ada ganjalan, saya akan datang lagi dengan sedikit uang mahar beserta barang seserahan!" jawab Gunawan tampak tenang.

__ADS_1


"Sedikit?" picing Rihanna membuat Sapto menundukkan kepala.


"Itu hanyalah gaya merendahnya Papa saya! Jujur, keluarga ini membuat saya tidak merasa nyaman! Ber, apa ini keluarga yang kamu gadang-gadang keluarga bahagia? Seperti inikah keluarga bahagia itu? Seorang Nenek bawel dan kejam memimpin keluarga? Aduhh!!!"


Berliana mencubit kecil lengan Maura.


"Sssttt!!!"


"Beneran Aku ga suka sama Eyang Uti-mu, Ber!" bisik Maura pada Berliana.


"Katamu, memiliki SEO putra yang masih bujangan!" kata Rihanna setelah menatap tajam ke arah wajah cucunya.


"Betul!"


"Berapa usianya?"


"32 tahun lebih, bulan Agustus tahun ini 33 tahun usianya. Semoga Sang Mama masih mengingat hari kelahirannya."


Sebuah jawaban yang membuat jantung Hilda serasa dipukul palu yang besar.


"Dimana dia sekarang?" tanya Hilda mulai panik dan terlihat tidak tenang.


"Ada."


"Aku ingin lihat! Berliana usianya 25 tahun lebih. Daripada harus dinikahkan dengan Anda, bukankah lebih baik jika dengan putra... Anda yang berumur 32 tahun lebih itu!" tukas Hilda.


Putra Anda? Putraku itu adalah putramu, Nyonya Hilda!


Mata Gunawan menatap netra Hilda menyelidik.


Sepertinya Hilda mulai oleng dan ingin mengetahui keberadaan anak kami! Hm ...


"Baiklah. Saya akan datang kembali Minggu depan bersama putra saya!"


"Papa?"


"Mari, Maura! Kita pulang! Sepertinya lamaran Papa masih sedang dipertimbangkan oleh keluarga Berliana!"


"Pak Gunawan!"


"Hehehe..., jangan khawatir, Maura! Kamu mau pulang ke Jakarta bersama kami, atau..."


"Saya ikut pulang! Tapi tunggulah, saya masih ada yang harus diselesaikan di sini!"


"Baik! Kabari kami. Besok siang kita akan terbang ke Jakarta dengan flight pukul sebelas siang!"


"Iya. Saya akan ke hotel tempat kalian menginap sekitar pukul sembilan pagi!"


"Oiya pak Sapto dan Bu Hilda, saya sangat berterimakasih atas jamuan makan malamnya yang enak! Mohon maaf jika kedatangan kami membuat kegaduhan di rumah ini. Juga untuk Neneknya Berliana, maaf Nek, jika saya tadi sedikit lancang pada Anda! Kami undur pamit, permisi, Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!"


Lamaran Gunawan yang menegangkan.


Sementara Maura yang bingung dengan perkataan sang Papa terus menerus memberi kode agar memberinya penjelasan ditengah perjalanan mereka keluar rumah Hilda.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2