
Rendy telah pergi bekerja. Tak lama kemudian Berliana juga keluar dengan pakaian rapi berwarna putih hitam. Layaknya orang yang hendak melakukan interview/wawancara kerja.
Sementara itu Virly masih mengurus buah hatinya, Leonardo.
Virly memang seorang pengusaha kuliner yang tidak pernah melupakan kodrat sebagai seorang istri dan ibu.
Baginya, keluarga adalah nomor satu. Urusan mencari cuan, Virly anggap nomor sekian.
"Sayaang! Leo..., yuk mandi yuk!?" kata Virly sambil mendekati sang putra yang sedang asyik dengan lego-nya.
"Mandiii, yeaaay!" sorak Leo senang.
Seperti biasa, Virly selalu memandikan sendiri Leo walaupun ada Mbok Darmi yang sengaja bekerja untuk mengasuh Leo disaat Ia pergi bekerja di toko kuenya sampai pulang kembali pukul tiga sore.
Jam kerja Virly memang tidak menentu. Dia bisa berangkat kerja pukul delapan pagi, tapi kadang pergi kerja pukul sepuluh menjelang siang. Sesuai dengan kondisi toko kuenya yang kadang ramai pesanan.
Kadang beberapa pelanggan lebih suka kue buatan Virly ketimbang kue buatan karyawannya yang ada lima orang. Sehingga Virly harus berangkat jauh lebih pagi untuk mengadon dan membuat cake-cake dengan tangannya sendiri.
Virly tidak pelit membagi ilmu dan metode pembuatan kue serta cake yang Ia jual. Virly terkadang membagikan resepnya di akun media sosial hingga memiliki banyak sekali followers karena keramahan dan kemurahan hatinya berbagi resep.
Resep yang dipakainya adalah resep pada umumnya. Ia tidak memiliki resep rahasia. Virly hanya memilih kualitas bahan terbaik untuk olahan kuenya. Itu yang membedakan rasa serta kualitas kue jualannya.
Jadi untuk berbelanja, biasanya Ia melakukan sendiri tanpa pernah meminta karyawan. Disitulah kelebihan rasa serta kualitas kue jualannya hingga menjadi viral.
...............
Pukul delapan pagi, tetapi di lobi sebuah gedung perkantoran terlihat sesak dipadati orang-orang berpakaian putih dan bawahan hitam.
Pria juga wanita, muda maupun dewasa, berbaur dan tangan menenteng map beraneka warna.
Rupanya perusahaan itu sedang membuka lowongan kerja dan sedang ada interview wawancara.
Berliana yang baru saja turun dari Bajaj mencoba merapikan pakaiannya.
Kemeja putih lengan pendek dipadukan dengan rok span hitam di atas lutut.
Sedikit seksi, karena dia memang tidak punya rok span panjang maupun yang dibawah lutut.
Ini pun rok span satu-satunya yang Ia bawa bekas kuliah dulu di negeri seberang.
Kebanyakan pakaiannya berbahan dasar jeans dan celana panjang, karena Berliana adalah alumnus fakultas ilmu komunikasi jurusan advertising.
__ADS_1
Jadi dia tidak terlalu menjaga penampilan disaat kuliah, hingga lupa untuk membeli atau memiliki beberapa potong rok yang bisa menunjang penampilannya.
"Seksi ga ya?" gumamnya seorang diri.
Tapi jiwanya yang bebas tidak mau berfikir terlalu berlebihan membuat Berliana terlihat seperti perempuan cuek yang sedikit nakal.
Itu biasanya pandangan awal orang yang baru kenal Berliana.
Seperti kali ini, ada seorang pria yang langsung menghampirinya.
"Interview juga ya?"
"Iya." Jawab Berliana sopan sembari memamerkan gigi rapinya lewat senyuman.
"Moga kita keterima kerja bareng! Hehehe..."
"Aamiin! Hehehe..."
"Namaku Coki Sebastian. Nama kamu siapa?"
"Oh, namaku Berliana Anggraini. Salam kenal ya?"
"Ambil dulu nomor antrian interview, Neng!" kata Coki membuat Berliana berterima kasih karena sudah diberitahu. Padahal Berliana juga sudah tahu prosedurnya.
Selembar kertas berisi pertanyaan-pertanyaan wajib seputar biodata diri si pelamar pekerjaan dan satu nomor antrian kini sudah Berliana dapatkan.
"Ck. Ternyata di negara ini banyak pengangguran ya?" kata Coki membuat Berliana tertawa kecil.
"Termasuk kita. Hehehe..."
"Iya juga sih! Hehehe..." timpal Coki tersenyum kecut sembari menatap Berliana dengan mata membulat.
Tiba-tiba tangannya menempel di pipi Berliana.
"Blush on-nya kayaknya ga rata nih! Yang kiri agak ketebelan! Maaf ya?"
Tentu saja Berliana segera menepis pelan.
Dia kaget sekali melihat keberanian Coki padahal baru saja kenal. Pipi Berliana sempat dielus tangan pria itu.
"Maaf...! Kita ini baru kenal lho! Cukup kasih tahu khan bisa, Cok! Sori, gue agak...risih dengan cara lo yang sok akrab gitu!" tukas Berliana meradang.
"Maaf, maaf! Sumpah, aku ga ada niat jadi cowok kegatelan. Maaf ya, Berliana!"
__ADS_1
"Lain kali jangan gitu ya? Please,... Aku kurang respek sama cowok-cowok yang suka menjamah dengan mudah!"
"Kamu keren! Kukira kamu ini cewek penganut faham..."
"Faham apa? Liberalisme gitu? Karena lo liat rok gue yang kependekan ya? Sori, bro... Maen lo kurang jauh! But thanks, elo udah baik di awal sama gue! Sori, gue bukan cewek yang suka ditepe-tepein sembarangan!"
Berliana yang kesal langsung pergi meninggalkan Coki Sebastian. Cowok tampan yang baru ia kenal di depan wisma gedung perkantoran periklanan yang terkenal itu.
Berliana mencari tempat yang jauh lebih sepi untuk mengisi formulir biodata yang tadi Mbak Resepsionis berikan.
Tiba-tiba...
Dug.
"Maaf, maaf! Ehh???"
Mata Berliana membulat dengan jari telunjuk terangkat.
"Elo???"
"Hah?!? Koq... Lo ada di sini?"
"Elo sendiri? Ngapain? Bukannya Lo narik grab car ya?"
"Suka-suka gue lah, bukan urusan Lo juga khan!"
Rendy geram hingga melontarkan jawaban ketus pada Berliana.
"Heh! Gue nanya sopan ya. Ga pake urat!! Lo koq jawabnya kek gitu banget!"
Rendy menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu berdecak kesal seraya mengibaskan tangan.. Dia pun berlalu pergi tanpa kata.
"Sialan! Songong banget sih!? Mentang-mentang statusnya sebagai Kakak ipar! Cuih! Bikin kesyel gue aja tuh orang!"
Entah mengapa, Berliana merasa dadanya bergemuruh. Gejolak emosinya kembali terpancing keluar dari jiwa santuinya.
Dia mencebik menatap punggung Rendy yang kian menjauh.
Ehh? Apa si Rendy juga lagi jajal peruntungan ngelamar kerja di perusahaan ini ya? Hm ... Kayaknya iya juga tuh! Tadi kalo ga salah dengar pas pagi sarapan dia bilang ada lowongan kerja. Hhh... Gue cerita ga ya sama kak Virly? Haish... Ish. Kenapa hidup mesti jadi kayak orang yang menanggung beban dosa teramat berat begitu!
Sementara Rendy juga bergelut dengan fikirannya sendiri.
Ya Allah...! Itu kenapa sih, si Berlin bisa interview wawancara kerja barengan gitu sama gue!? Duh! Gimana kalo kita tiba-tiba beneran jadi rekan kerja nantinya! Haish... Hhh... Aaarrrggghhh! Pusing kepala gue!
__ADS_1
๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น