
"Siang ini kamu semangat banget, Ren?" Gunawan yang melihat kinerja sang bawahan yang senyumannya selalu mengembang walaupun jalanan macet dan suasana siang teramat terik langsung berkomentar.
Rendy tertawa menyeringai.
Agak sedikit malu hati karena CEO Matta Network itu ternyata memperhatikannya juga.
"Hehehe..., lagi senang Pak!"
"Alhamdulillah. Hehehe..."
"Oiya, gimana pak rencana pernikahan Mas Coco dengan Berliana? Sudah rampung semuanya?" tanya Delon pada Gunawan.
"Semua berjalan lancar, Lon! Nanti seragam groomsmen kamu hari Jumat meluncur, hehehe!"
"Waaa, saya didapuk jadi groomsmen? Pasangannya siapa?"
"Wulan mungkin cocok, ya?"
"Hah? No no no deh, Pak! Hehehe, jangan Wulan, please! Cewek sok ngatur itu, aduh, gak deh!"
"Hahaha... kenapa Lon? Dia single kan? Lumayan cantik koq!"
"Ga deh! Urusan cantik, single, tapi karakter sifat model begitu,... hmmm... saya lebih baik sama bini orang deh Pak!"
"Hahaha hahaha..."
Gunawan dan Rendy tertawa terbahak-bahak.
"Huss, bini orang gak boleh! Mau kamu dicap pebinor?"
"Daripada sama si Wulan 'bukan' Guritno tapi Wulan Gurita itu maksudnya, Boss! Mendingan jomblo seumur hidup deh daripada harus deketan sama dia. Hiks."
"Jiaah haha, gimana kalo di dunia ini cuma ada Wulan seorang, Mas Delon? Masa' mau jomblo seumur hidup. Jangan lah! Hehehe..." Rendy ikutan nimbrung menggoda Delon.
"Huaaa, kalian gak tau macam mana sifat cewek itu sih! Nih, saya ceritakan ya minggu lalu, si Wulan ke gap saya mau bully Nona Maura sama Berliana. Dia mau ngerjain dua anak itu! Untungnya saya lihat! Dan dengan elegannya Maura buat wajah si Wulan itu pucat seperti mayat! Hahaha, beneran puas banget lihatnya, Saya!"
"Dunia kerja memang keras. Saya harap Maura dan Berliana dapat lebih kuat lagi menapakinya."
"Begitulah. Untuk Wulan, semoga jadi pembelajaran kedepannya dalam bersikap!"
"Betul sekali! Saya juga sering ngalamin hal-hal yang menyebalkan dalam dunia kerja, Pak! Dikira main dukun, pengasihan lah, buat bikin Boss sayang sama saya! Hadeuh..."
"Hahaha..., kamu pake pelet ikan merk apa Ren?"
"Makanya dari itu. Adalah seseorang, nanya saya pergi ke Mbah daerah mana! Lah? Mana saya tau? Saya gak punya Mbah, saya bilang. Nenek saya udah meninggal dunia dua tahun lalu."
"Hahaha..., parah!"
"Tapi begitulah dalam dunia yang keras ini. Ada banyak orang yang mengambil jalan pintas buat dapat kejayaan secara instan. Dan walaupun dunia ini sudah begitu modern, dunia supranatural dan magis masih tetap ada. Bahkan ikut pula berkembang seiring jaman. Bisa kirim via telepon, uang transfer doa klenik bisa di transfer tanpa harus datang langsung ke tempat praktek perdukunan mereka."
__ADS_1
"Ya ya ya, via online gitu ya Pak!?"
Obrolan santai tapi serius bahasannya.
Tanpa terasa perjalanan telah sampai tujuan. Ketiganya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.
...............
Dunia memang kejam.
Rihanna yang kini terpekur di depan dua makam tua tampak tak terurus.
Hampir puluhan tahun, wanita tua itu tak pernah datang berkunjung ke tempat sunyi itu.
Hanya ada tiga makam yang posisinya berjajar rapi. Seperti sedang tidur di kasur besar yang sama.
Rihanna menangis tanpa suara.
Matanya menatap kosong ke arah satu kuburan yang paling dekat dengan duduknya.
...Lastri binti Abdul Aziz...
Itu adalah makam ibundanya.
Enam puluh tahun yang lalu, desa terpencil tempatnya dilahirkan terserang wabah kolera.
Keluarga Rihanna yang terdiri dari Abah, Emak dan satu adiknya juga sakit secara bersamaan.
Kedua orangtuanya dalam kondisi yang sangat buruk karena disentri yang parah sehingga adik Rihanna yang saat itu masih berumur satu tahun harus dia juga yang urus.
Saat itu Rihanna baru berusia enam tahun.
Dengan tubuh kecilnya Ia berlari ke sana kemari, dari satu rumah ke rumah yang lainnya untuk meminta bantuan.
Tapi ternyata, tak ada satupun orang sudi menolong.
Sanak saudara Abah dan emaknya pun tak peduli karena kemiskinan keluarga yang selalu menyusahkan keluarga besar mereka.
Abah sering meminta bantuan kepada keluarganya karena malas bekerja dan hanya mancing saja kegemarannya. Itupun Ia pulang lebih sering tanpa ikan karena tidak berhasil dalam kegiatan rutinnya itu setiap malam.
Siang hari Abahnya lebih suka tidur dan ongkang-ongkang kaki. Emaknya lah yang lebih banyak berjuang mencari nafkah dengan menjual tenaga mencuci pakaian orang kaya di pemukiman tak jauh dari kampungnya.
Saat itu, Abah dan Emak Rihanna yang nama aslinya adalah Markonah menangis sepanjang jalan.
Kesal dan sangat marah kepada Tuhan yang menjadikannya sebagai anak orang melarat yang malas bekerja.
Kaki kecilnya telah lelah dalam melangkah mencari bantuan.
Rihanna yang bernama asli Markonah itu sebenarnya tidak peduli pada Abahnya. Tapi yang sangat ia takutkan adalah kondisi Emaknya yang muntah-muntah dan buang air besar terus menerus hingga tubuhnya lemas tergolek di lantai.
__ADS_1
Abahnya juga sama kondisinya.
Markonah pulang kembali ke gubuk nya dengan lelehan air mata di pipi.
Adiknya menangis keras karena sejak semalam tidak makan juga tidak menyusu.
Markonah semakin bingung dibuatnya.
"Onaah, onaah! Ambilkan minum!" rintih Abahnya yang berada di atas bale kayu usang di ruang tengah gubuknya.
Markonah berteriak kesal.
"Ambil sendiri! Onah lelah!" jeritnya sambil menghentakkan kaki.
Markonah turut menangis keras hingga kegaduhan kian ramai dalam gubuk kecil yang jauh dari rumah tetangga.
Keluarga itu dalam masalah besar.
Bahkan sepertinya malaikat maut sedang mengintai mereka sedari tadi.
Markonah mencoba mengangkat tubuh Emaknya yang terkulai lemas di hadapan muntahan menjijikkan hingga Ia turut terpancing mual karena bau.
"Hoek hoek..."
"Onaah..., maafkan Emak ya Sayang!"
"Hik hik hiks..."
Onah menangis. Kepalanya pusing, perutnya juga mual tetapi masih harus bersabar dan bertahan demi Emak dan adik satu-satunya.
"Onah..."
"Mak,... Mak,"
"Onaaah... maafkan Emak sama Bapak ya?"
"Mak, Mak bangun Mak! Hik hik hiks... huhuhu, Onah capek begini terus, Mak!"
"Maafkan kami yang memberimu kesedihan dan kemiskinan ini..."
Emaknya Markonah menarik nafas panjang. Dan ternyata itu adalah helaan nafas terakhirnya hidup di dunia.
Markonah, anak perempuan kecil berumur enam tahun itu menjerit keras.
Sampai saat ini Markonah yang telah berubah identitas menjadi Rihanna masih bisa mengingat saat-saat Emaknya menghembuskan nafas terakhir.
Sangat tenang dan diiringi senyuman keikhlasan.
Rihanna terisak di bibir makam Emaknya yang bernama Lastri.
__ADS_1
Ingatan akan masa kecil yang menyakitkan sangat ingin Ia hilangkan dari pikiran. Namun tetap saja terbayang, bahkan hingga kini kembali terbayang.
BERSAMBUNG