
Hari ini adalah hari Minggu.
Maura dan Berliana sibuk berdandan untuk menghadiri acara pertemuan dua keluarga di rumah Virly.
Sang Empunya rumah juga tak kalah sibuk menyiapkan segala keperluannya.
Hilda juga dag dig dug menunggu keputusan yang diambil Berliana, putri angkatnya itu.
Beberapa kali Ia menjapri gadis yang diadopsinya sejak berumur lima bulan itu, tetapi Berliana tidak memberikan gambaran siapa pilihannya.
Sejujurnya Hilda hanya memikirkan tentang putra pertamanya yang hilang puluhan tahun itu.
Mamanya mengatakan hal yang sebenarnya, kalau Sang putra memang 'hilang' karena ada satu keluarga yang mengadopsi.
Harapannya kini, semoga Ia masih diberi kesempatan dan umur panjang untuk bisa melihat putra yang dilahirkannya 32 tahun lebih yang lalu.
Rasa berdosa kian menggunung di lubuk hati. Keinginan untuk memeluk erat tubuh bayi yang pertama kali Ia lahirkan ke dunia begitu besar.
Semoga pula anaknya itu tidak membencinya seumur hidup. Tetapi jika itu benar terjadi, Hilda hanya pasrah menerima takdirnya dari Illahi Robbi.
Sapto tetap tenang seperti biasa. Rihanna semakin menjauh dari kehidupan berkeluarga mereka sehingga Sapto jauh lebih senang. Ibu mertuanya itu memang selalu menjadi benalu selama ini. Mengatur semua hal yang dianggapnya tidak pada tempatnya namun lupa kalau tak semua hal bisa diatur sesuai keinginannya.
Sapto selama ini diam karena menghargai Rihanna.
Tetapi semakin ke sini, tingkah dan juga perlakuan ibu mertua membuatnya jengkel dan jengah.
"Pa..."
"Ada apa, Ma?" tanya Sapto menjawab panggilan Hilda istrinya.
Wajah Hilda terlihat tegang. Guratan kerut di wajah cantiknya kini terlihat nyata. Biasanya Hilda selalu tampil menawan dan sempurna di mata Sapto.
Sebenarnya di lubuk hati Sapto, ia sangat kasihan pada sang istri yang hidupnya selalu dibawah bayang-bayang Rihanna yang otoriter.
Sapto mendekat. Tangannya meraih jemari Hilda.
Usia tua membuat Sapto semakin takut kehilangan Hilda. Apalagi kini diketahui kalau pria yang dulu pernah menjadi cinta pertama Sang istri adalah seorang duda tampan yang keren.
__ADS_1
Kemungkinan cintanya kembali mencuat pada Gunawan bisa saja terjadi. Itu kekhawatiran Sapto.
Makanya Sapto selalu merapat Hilda agar tidak illfeel dengan dirinya yang kian uzur memasuki lanjut usia.
"Kenapa? Gugup?"
Sapto merengkuh bahu Hilda.
Hilda menghela nafas panjang dan menundukkan kepala.
"Iya. Aku takut putraku marah besar padaku, Pa!" gumamnya pelan.
"Kita pasrahkan saja semuanya pada ketentuan yang Tuhan berikan! Hm? Percayalah, semua akan bisa kita atasi bersama-sama!"
Hilda menatap manik netra Sapto yang selalu bisa menenangkan dirinya.
Dipeluknya erat-erat tubuh sang suami yang sedikit tambun perutnya.
"Aku sudah tua dan gendut ya?" kata Sapto mulai insecure pada diri sendiri.
Hilda menggeleng cepat.
"Iyakah?"
"Kamu yang mengangkat derajat ku dari omongan buruk serta aib-aibku di masa lalu. Kamu,"
"Stop! Jangan rayu Aku, Ma! Aku tidak ingin melambung kegeeran karena manisnya kata-katamu Hilda. Cukup tetaplah bersamaku hingga tutup usia tubuh pria tua ini!"
Hilda menitikkan air mata.
Ucapan Sapto membuatnya tersadar, kalau cinta bukan lagi kebutuhan hidupnya. Melainkan kasih sayang serta perhatian diujung usia yang tak lagi muda. Kebahagiaan anak-anaknya adalah kebahagiaan dirinya juga. Apalagi ada seorang pria baik hati yang berhati mulia yang senantiasa berdiri di sampingnya. Memberi support serta dukungan penuh meskipun kehidupannya di masa muda sangatlah tidak baik untuk ditiru.
Hilda terisak dalam pelukan Sapto.
Beberapa minggu sejak pertemuannya dengan Gunawan memang sempat menggoyahkan iman.
Mata serta hati Hilda seolah dibawa kembali kepada masa cinta ketika masih berjaya.
__ADS_1
Gunawan yang begitu manis, meruntuhkan tembok keimanan Hilda hingga mau saja di bawa ke atas ranjang penyesalan yang sampai membuahkan seorang bayi laki-laki tampan tanpa ikatan pernikahan.
Keangkuhan Rihanna terlalu kuat untuk Hilda dan Gunawan luluhkan.
Hingga perlahan cinta itu luntur, mengurang bahkan menghilang seiring waktu.
Sampai suatu ketika Ia harus menerima kenyataan sang putri angkat yang juga disayang sang suami datang membawa pria itu kembali bertemu dengan Hilda setelah berpuluh-puluh tahun tak pernah bersua.
Hancur hati Hilda berkeping-keping.
Nyaris bagaikan debu halus bertebaran di hembus angin kencang.
Hilda bisa hilang arah dan akal sehat jika tanpa Sapto yang menguatkan hati serta dirinya.
Sapto adalah penyelamat hidupnya sedari muda hingga kini menjelang tua.
Tuhan sangat sayang padanya, Hilda meyakininya. Dan kini penyesalan yang mendalam karena sempat berharap Gunawan akan kembali kepada dirinya yang adalah istri orang.
Gunawan berstatus duda. Bahkan Gunawan pula yang mengadopsi putra kandung mereka yang Hilda 'buang' karena Rihanna, sang Mama.
Andaikan memang bisa berjodoh, alangkah bahagianya hati Hilda.
Tapi itu pemikirannya kemarin-kemarin. Ketika otaknya masih diliputi kerinduan dan angan-angan yang hanyalah khayalan berbalut bualan.
Sang suami adalah pahlawan yang nyata bagi Hilda.
Sangat jahat jika Ia harus mendepaknya hanya karena Gunawan kembali datang. Padahal Gunawan sendiri belum tentu memikirkan dirinya. Apalagi Gunawan datang dengan niatan ingin melamar Berliana, putri bungsu yang ia dan Sapto adopsi 25 tahun lalu.
Hilda semakin terisak.
Dosanya yang menumpuk tak ingin semakin dia perbanyak.
Ucapan Sapto barusan membuatnya tersadar, betapa Sapto telah banyak berkorban untuk kebahagiaan Hilda dari dulu bahkan hingga sekarang.
Keburukan Hilda, Sapto yang tutupi. Kekurangannya, Sapto pula yang lengkapi.
Cintanya pada Gunawan memanglah tulus. Tetapi Tuhan tidak menjodohkan mereka berdua menjadi sepasang suami istri. Tuhan menciptakan cerita cinta lain untuk Hilda. Bersama Sapto, pria yang sepuluh tahun lebih tua usianya dari Hilda. Bukan dengan Gunawan, pria pertama yang berhasil mendapatkan madunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG