
"Apa???"
Maura sama terkejutnya dengan Berliana yang mengetahui kondisi dan situasi yang sedang mereka hadapi.
"Maura..."
"Jadi, jadi Papa sudah punya anak sebelum menikah dengan Mama Cintya?"
"Hhh... Begitulah kira-kira!"
"Dan perempuan yang melahirkan anak Papa itu adalah Mama angkatnya Berliana?"
Maura berkali-kali memekik tak percaya.
Gunawan telah menjelaskannya dengan perlahan dan sangat tertata kalimatnya.
"Papa?! Berarti Aku ini bukan anak tunggal? Aku punya Kakak laki-laki?"
Gunawan mengangguk.
"Kyaaa!!!"
Terkejut Gunawan mendengar Maura berteriak keras.
"Maura, ini di kamar hotel, bukan di rumah!" tegurnya segera dengan panik. Ngeri juga Gunawan kalau tiba-tiba pihak hotel mengetuk kamar dan mereka dianggap pasangan terlarang lalu diusir keluar hotel dengan tidak hormat.
"Papa, dimana kakakku sekarang, Pa?"
"Setelah kita sampai di Jakarta, Kakakmu akan Papa ajak ke rumah!"
"Beneran? Beneran, Pa?"
"Iya."
"Yess..."
Gunawan lega. Maura justru sangat antusias ingin sekali bertemu Kakak laki-lakinya. Bahkan Maura tidak pedulikan siapa yang melahirkan Kuncoro Adi Pangestu, malah ingin segera berjumpa.
"Papa, Maura bisa liat fotonya dulu sebelum ketemuan?"
Gunawan membuka layar ponsel pintarnya.
"Ini? Abang Maura, Pa?" mata gadis berumur 25 tahun lebih itu terbelalak membulat.
Gunawan tersenyum dan mengangguk.
"Abangku sekeren ini?" gumamnya seperti pada diri sendiri.
"Maura juga sangat keren!" timpal Gunawan membuat Maura berdecak kagum.
__ADS_1
"Ini mah si Berlin juga pasti lebih milih Abang ketimbang Papa!" tuturnya lagi.
"Tidak mengapa. Papa justru senang kalau Kakakmu menikah dengan Maura!" jawab Gunawan membuat Maura menoleh padanya.
"Maura mau tanya, boleh?"
"Hm? Apa itu?"
"Apa Papa masih mencintai Mamanya Berliana?"
"Mamamu lah yang paling Papa cinta! Mama Cintya menerima Papa apa adanya. Cintanya tulus, suci dan murni, Maura. Mama Cintya adalah soulmate Papa dunia akhirat. Andaikan Papa harus sendiri di dunia ini tanpa menikah lagi, Papa ikhlas karena sudah bahagia memiliki anak gadis yang cantik dan baik hati yang selalu menyayangi Papanya!"
"Hilih! Maura pergi dari rumah karena Papa pernah bilang mau menikah lagi!" semprot Sang putri.
"Ya kan kalau ada jodohnya. Kalau ada jodohnya, Maura! Papa ini sudah tua, butuh pendamping setelah kamu menikah. Untuk mengurus Papa jika sakit ataupun sudah pensiun nanti! Kerjanya di rumah, baca koran, buka Qur'an, ngasuh cucu!"
"Hiyaa..., kode keras nih!" sela Maura dengan bibir mencucut. Mulutnya merengut imut.
Gunawan tertawa terbahak-bahak.
"Ayo dong, bilang ayank mbebmu buat segera lamar! Kasih kode-kode gitu! Hahaha .."
"Dih, si Papa! Masa cewek ngajak merit duluan!? Tengsin lah!"
"Hahaha..., fix berarti udah mau ini ya?!?"
"Papa ih, Papa...!"
Masalah di antara mereka berdua kini sudah hilang dan clear semua.
Maura menerima kondisi Papanya, karena kini hanya Gunawan saja di dunia ini yang Ia punya.
Dan ternyata ada lagi seorang pria yang usianya tujuh tahun lebih tua darinya bernama Kuncoro Adi Pangestu, putra pertama Papanya.
"Pah!"
"Hm?"
"Apa Abang Kun tau siapa Maura? Papa pernah cerita sama dia tentang Maura?"
Maura mulai diliputi kecemasan. Khawatir juga Ia jika ternyata kebahagiaannya saat ini berbanding terbalik dan justru sang Kakak tidak mau mengakuinya sebagai adik.
Maura mulai menyadari, siapa wanita yang melahirkan kakaknya itu. Ialah Hilda, Mama angkatnya Berliana yang terlihat sedikit angkuh dan jutek.
"Jangan khawatir, Sayang! Abangmu tau siapa kamu! Dia sebenarnya sudah lama kepingin ketemu, tapi Papa belum memperbolehkannya!"
"Iya? Iya, Pa? Beneran? Sungguh?"
__ADS_1
Kini lega hati Maura. Papanya membuat kegundahannya kembali sirna.
Dipeluknya Gunawan erat-erat.
"Maura sayang Papa!"
"Janji gak akan kabur-kaburan lagi dari rumah?"
"Janji! Hehehe... Asalkan kita semua tinggal satu atap!"
Gunawan mencolek pipi sang putri. Tertawa menyeringai sambil berlalu tinggalkan Maura di kamar hotelnya. Ia pergi ke kamarnya sendiri yang ada di sebelah kamar Maura.
Ia akan menghubungi putra pertamanya yang sudah mengetahui jati diri serta Gunawan yang adalah Papa kandungnya.
"Hallo, Coco!"
...[Papa Gun?! Hallo, apa kabar?]...
"Baik, Co! Punya waktu akhir pekan ini?"
...[Ada. Bisa sepertinya. Ada apa, Pa?]...
"Adikmu ingin bertemu, Co!"
...[Oh... ya sudah, Coco main ke rumah Papa akhir pekan ini! Maaf, Coco lagi ada kerjaan, Pa!]...
"Oke. Jaga kesehatan, salam salam Papa Angkasa!"
...[Coco sedang dinas di luar. Jadi belum pulang ke rumah Papa Angkasa! Coco matikan ponselnya ya? Assalamualaikum]...
"Waalaikum salam!"
Gunawan menarik nafas. Ada sedikit kelegaan di dadanya. Satu masalah terberatnya telah berhasil diatasi.
Masalah yang dulu sangat Ia takuti kalau akan membuat kedua anaknya menjauh dan hilang dari hidupnya.
Dengan Kuncoro, Gunawan sempat merasakan ketegangan yang lumayan besar.
Awalnya Kuncoro membencinya yang semula selalu dipanggil Om tiba-tiba harus Ia panggil dengan sebutan Papa. Kuncoro yang nyaris setiap Minggu bertemu Gunawan merasa tertohok mendengar cerita hidup yang sesungguhnya.
Sebulan Kuncoro tidak bisa menerima kenyataan, terlebih setelah klim+ksnya adalah ketika Ia mengetahui silsilah keluarga Virly sang tunangan yang ternyata adalah putri dari Mama kandungnya.
Seketika Kuncoro menghilang bak ditelan bumi. Ia melarikan diri dari perjanjiannya untuk datang melamar Virly setelah setengah tahun bertunangan.
Kuncoro juga tidak menceritakan kepada Gunawan, kalau Ia telah menemukan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Hanya dia seorang yang tahu kebenaran itu.
Hingga Gunawan menemukan kembali Hilda, perempuan yang dulu begitu dicintai dan telah melahirkan seorang anak laki-laki biologis-nya 32 tahun lebih yang lalu.
BERSAMBUNG
__ADS_1