
"Hoek hoek hoek..."
Berliana mual-mual dan seperti mau muntah.
Ini sudah ketiga kalinya Ia seperti ini sedari bangun tidur pukul empat pagi tadi.
Bahkan saat sedang menjalankan ibadah sholat Subuh pun, Berliana merasakan perutnya tidak enak seperti kram dan kembung.
"Semoga saja ini hanya masuk angin biasa!" gumamnya pelan mencoba menguatkan hati serta perasaannya dengan fikiran yang positif.
Tetapi lagi-lagi Berliana merasakan debaran jantungnya yang kian kencang.
Bulan ini aku tidak menstruasi. Apakah...?!? Ya Tuhan...
Merembes lagi air matanya.
Kuncoro sudah sebulan setengah tidak ada kabar. Entah bagaimana keadaannya kini. Dimana suaminya itu berada. Apakah masih hidup ataukah sudah tiada. Berliana kembali terpuruk dalam kubangan kesedihan.
Tubuhnya kian kurus karena terlalu dalam memikirkan Kuncoro yang tak kunjung kembali.
Sholat istikharah, sholat tahajud bahkan sholat ghaib pun telah mereka lakukan untuk meminta Allah agar segera mengembalikan Kuncoro baik dalam keadaan apapun. Mereka sudah teramat rindu dan tidak tahu lagi harus bagaimana.
Pihak satiltelkam pun sudah menurunkan SK nya dan Berliana berhak atas semua uang tunjangan dan pensiunan Kuncoro yang terdeteksi sebagai abdi negara golongan IIIA. Juga uang santunan kematian.
Tentu saja Berliana lebih memilih sang suami kembali ketimbang diberi uang ratusan juta rupiah tetapi suami tidak ada.
Tapi mau bagaimana lagi, semua adalah nasib buruk dan takdirnya dari Allah Ta'ala.
Berliana memang masih tidak terima, karena Tuhan hanya memberinya kebahagiaan seumur jagung saja. Bahkan belum sampai hitungan bulan, kebahagiaannya merajut mahligai rumah tangga bersama Kuncoro terhenti sampai disini.
Maura terus memberikan dukungan kepada sahabatnya itu. Ada rasa bersalah yang sangat besar karena dialah yang dulunya sangat ingin menjadikan Berliana sebagai saudara.
Tapi ternyata, kisah Berliana tidak seindah khayalan Maura.
__ADS_1
"Yang kuat, Anna! Yang kuat! Ada Aku, ada Papa dan kini juga Radit akan ada bersama kita." Support Maura setiap kali Berliana merapuh mengingat Kuncoro.
"Hik hik hiks...! Maura, Aku beneran gak sanggup, Ra! Kenapa Allah selalu mengujiku? Kenapa? Aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang nyata, seolah Tuhan begitu membenciku jika Aku tentram dan bahagia!"
"Jangan berkata seperti itu, Ber! Percayalah... Allah itu Maha Penyayang. Pasti, pasti bahagia itu akan datang dalam hidup kita. Percayalah!"
Berliana memeluk Maura. Tangisnya pecah dan dia tak tahu lagi harus berbuat apa.
Seperti sore ini. Ketika testpack yang Bi Asih beli tadi siang menunjukkan hasil dua garis biru yang tegas.
"Mungkin tespek ini salah, Ber! Ini belum positif koq!"
"Itu jelas-jelas dua garis biru, Maura! Hik hik hiks..."
Bukannya Berliana tidak senang dengan kehamilannya yang tidak disangka itu. Tapi Ia tidak siap disaat dirinya masih begitu sedih menerima kenyataan kalau suaminya tak kunjung pulang.
"Papa...! Papa, bagaimana ini?"
Maura bingung, Berliana jatuh pingsan.
"Anna...! Anna Sayang!" Hilda yang kembali datang ke kediaman Gunawan untuk menghibur putri bungsunya itu turut senang sekaligus sedih. Tapi Hilda berusaha terus menguatkan kondisi Berliana yang kian rapuh meskipun dia sendiri dalam kondisi yang lemah karena turut serta memikirkan keadaan Kuncoro yang entah dimana.
Hingga tiba-tiba ada seseorang yang datang ke kediaman Gunawan.
"Apakah ini rumah dari Kuncoro Adi Pangestu?" tanya seorang pria tua berpakaian rapi.
"Betul sekali. Bapak siapa ya? Dan ada perlu apa?" tanya bi Asih salah satu ART Gunawan yang membukakan pintu.
"Saya membawa sepucuk surat untuk istrinya Kuncoro Adi Pangestu."
"Tunggu sebentar, ya Pak!"
"Tuaaan, Tuan Gunawaaan!!!"
__ADS_1
Bi Asih berlari tergopoh-gopoh menaiki anak tangga rumah besar Gunawan menuju kamar tidur Berliana.
"Tuan, ada tamu yang memberikan ini. Katanya untuk Non Anna, istrinya Aden Kuncoro!"
"Dimana orang yang memberikan surat itu?"
"Ada di depan pintu. Sudah Asih suruh tunggu!"
Gunawan bergegas turun.
Sepertinya kabar Kuncoro akan segera ia ketahui.
Berliana yang baru saja siuman terkejut mendengar ada seseorang yang mengantarkan sepucuk surat untuk dirinya.
"Buka, Ann, buka!" perintah Hilda yang sangat penasaran akan isinya.
Hilda dan Maura saling berpandangan. Mereka merapat dan bergandengan tangan.
"Assalamualaikum..., Istriku..."
Merebak air mata Berliana. Ia mencoba menguatkan hati dengan segera menyusut linangannya tapi tetap saja mengalir menghalangi pandangannya.
"Maura..., tolong bacakan untukku! Hik hik hiks..."
Maura segera mengambil surat yang Berliana berikan.
"Anna..., Aku ada di sebuah rumah di pinggiran kota. Aku dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Anna..., tolong jangan dulu katakan pada siapapun diluaran sana kalau aku masih hidup. Ada rahasia besar yang sedang kuselidiki. Dan ini menyangkut banyak orang termasuk Papa angkatku sendiri, Anna! Tapi satu hal yang lebih penting. Aku, sepertinya menemukan kedua orang tuamu."
"Hahh? Apa?"
Berliana sontak membelalak kaget.
Dia kembali jatuh pingsan.
__ADS_1
BERSAMBUNG