(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 88 - Perjalanan Maura Dan Radit


__ADS_3

Radit memperhatikan Maura dalam diam. Sesekali ia menyunggingkan senyuman tipis karena akhirnya bisa sedikit demi sedikit membawa Maura keluar dari kondisi kejiwaan yang tertekan seperti hari kemarin.


Radit hampir saja kehilangan nyawa Maura jika kurang dari semenit tidak langsung menangkap tubuh mungil gadis itu ketika hendak meluncur dari jendela hotel ditingkat paling tertinggi.


Kini mereka duduk berhadap-hadapan dalam angkot jurusan kota hujan yang kebetulan sedang penuh penumpang.


Tas ransel Maura dipegang Radit. Gadis itu kekeuh hendak membawa baju salin untuk diganti disana dan digunakannya untuk keperluan foto.


Hm. Maura kembali menjadi gadis milenial yang selalu suka selfi dan upload setiap kegiatan di medsosnya yang sudah memiliki follower hingga ribuan.


Maura juga meminta Radit untuk menjadi fotografer dadakan. Dan Radit hanya bisa pasrah menerima side job yang diinginkan Maura.


Biasanya tugas itu dipegang oleh Berliana. Mereka memang suka hangout bersama sebelum Berliana menikah dengan kakaknya dan dia putus cinta dengan Xavier.


Seperti saat ini.


"Bang, fotoin dong, angle nya dari samping gitu. Seolah diambil candid. Ngerti kan ngerti dong!"


"Yassalam..."


"Please... Hehehe!"


Radit menurut. Meskipun beberapa pasang mata memperhatikan interaksi mereka. Bahkan ada yang berbisik mengatakan kalau Maura adalah selebgram cantik yang sedang coba naik angkot. Sampai diantaranya curi-curi kesempatan mengambil foto Maura diam-diam.


Radit dan Maura memang sedang dalam perjalanan menuju puncak pass. Setelah naik kereta arah Bogor dan turun di stasiun terakhir, keduanya memilih naik angkot ketimbang menggunakan grapcar.


Radit memang ingin memberikan edukasi transportasi pada Maura yang terbiasa naik mobil pribadi.


Maura sebenarnya sering bepergian backpacker-an ketika usianya belasan. Hanya saja Radit tidak tahu.


Maura anak orang kaya, tetapi tidak manja. Maura bahkan ketika SMP terbiasa mengejar biskota setiap berangkat dan pulang sekolah.


Radit tidak tahu itu. Karena Maura belum pernah cerita.


Hingga di angkot berikutnya yang akan membawa mereka ke puncak, Radit baru mengetahui kisah Maura.


Saat itu angkot yang mereka tumpangi tidak terlalu padat.


Ada dua orang anak yang naik. Yang satu laki-laki, seorang lagi anak perempuan lebih kecil usianya dari yang laki-laki.


Yang perempuan naik sambil menangis. Kemudian disentak oleh yang laki-laki agar segera berhenti menangis. Sepertinya mereka adalah kakak beradik.


Maura yang melihat ikut prihatin.

__ADS_1


Ia menggeser tempat duduknya mendekati keduanya.


Maura teringat pada coklat yang ada dalam saku tas ranselnya. Ia pun mengambil dan memberikannya pada anak perempuan yang masih menangis.


"Adek, ini!" katanya sambil tersenyum.


Anak laki-laki itu mengambil dan mengucapkan kalimat terima kasih. Kemudian membuka bungkusnya dengan cekatan dan memberikannya pada adik perempuannya.


"Sudah. Jangan menangis! Ini coklat enak. Bilang apa sama Kakak cantik?"


"Hik hiks... terima kasih!"


Maura tersenyum.


Ia teringat masa kecilnya. Jika dia dan Kuncoro tumbuh bersama mungkin mereka sama seperti dua anak kecil yang duduk disampingnya ini. Tetapi keadaan mereka tidak seperti itu. Keduanya tinggal terpisah. Dirinya dirawat Papa, sementara Kuncoro diadopsi keluarga lain.


"Kalian bersaudara?" tanya Maura mulai mengajak ngobrol.


"Iya." Jawab singkat anak laki-laki. Sementara adiknya yang sudah berhenti menangis, tengah sibuk makan coklat yang Maura beri.


"Mau pergi kemana?" tanya Maura lagi.


Radit hanya jadi pengamat. Ia hanya mendengarkan Maura dan teman barunya bercakap-cakap.


"Ke rumah Ayah?"


"Ayah sudah punya istri baru. Ibu bilang, kita harus minta uang ke Ayah!" Adiknya ikut menjawab. Dan jawabannya membuat Maura membelalakkan mata.


"Ayah punya istri baru?" tanya Maura penasaran.


"Ayah ibu kami cerai. Ibu nikah lagi, sekarang Ayah juga."


Maura mengelus kepala anak perempuan itu dengan lembut. Kisah hidup mereka sudah begitu dramatis di usia yang masih kinyis-kinyis. Maura turut prihatin.


"Kakak juga pernah seperti kalian. Papa Kakak nikah lagi, Ibu tiri yang semula baik, berubah jadi jahat. Tapi Allah menolong Kakak dan menjadikan Kakak kini bahagia."


"Iya?" Dua pasang mata anak-anak polos itu membulat sempurna.


"Iya. Percayalah, di balik kesedihan, ada kebahagiaan. Dewasa nanti, kalian pasti akan hidup lebih baik lagi. Sekarang, rajinlah belajar, sekolah yang pintar. Biar besar nanti jadi orang sukses."


"Seperti Kakak?"


Maura membalas tatapan anak perempuan yang mengandung banyak harapan.

__ADS_1


Sayangnya Aku tidak sesukses itu di dalam percintaan, adik manis! Gumamnya dalam hati.


Maura tersenyum. Ia mengusap pipi gadis kecil itu dengan lembut.


"Ah, sebentar lagi kami turun. Kakak, terima kasih coklatnya! Kiri bang!" kata anak laki-laki yang belum sempat Maura ketahui namanya itu.


"Adek, tunggu!" Maura mengambil uang seratus ribuan dan memberikannya pada anak laki-laki itu.


"Ini untuk kalian berdua. Hati-hati di jalan! Abang, ongkosnya nanti kami yang bayar!"


"Kakak terima kasih banyak! Kakak juga semoga semakin sukses ya?"


Maura merasakan hatinya bahagia. Ternyata memberi semangat kepada orang lain yang lebih sedih kehidupannya dari dirinya menumbuhkan rasa syukur dan bahagia.


Betapa banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya. Hidup sederhana, kisah yang menyedihkan menguras air mata penuh derita.


Kini Maura merasa harus lebih banyak bersyukur.


Teringat ucapan Radit yang mengatakan kalau Xavier bukanlah pria baik apalagi terbaik untuk hidup Maura.


Pria jahat yang jelek itu harus merasakan penyesalan yang mendalam karena telah menyakiti hatinya.


Maura menyesal, hampir menghilangkan nyawanya sendiri hanya karena kesedihan yang mendalam ditinggal kawin Xavier.


Lelaki jahat itu harus melihat kesuksesan Maura. Bukan menyaksikan kehancuran bahkan kematiannya hingga tersenyum bahagia. Tidak.


Maura telah menyadari kekeliruannya. Dan kini ia menoleh pada pria yang selama seminggu ini menjadi pengawal pribadinya.


Ternyata Radit pun sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Dan terlihat kaget karena Maura yang tiba-tiba menoleh padanya.


Radit gugup. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Maura.


"Kenapa Bang?"


"Ga. Seneng aja liat kamu jadi seorang motivator buat dua anak tadi. Kamu tahu? Sepanjang hidupnya, anak laki-laki itu pasti akan selalu mengingat kata-kata serta kebaikanmu padanya hari ini!"


"Hilih! Rayuan gombal!"


"Hahaha..."


Maura tertawa. Ia sangat senang sehingga raut wajahnya memancarkan kecantikan dari dalam. Dan tak sadar kalau ada kamera cctv yang merekam semua keindahan Maura yang seminggu kemudian menjadikan gadis itu menjadi gadis yang paling dicari.


Perjalanan Maura dan Radit masih berlanjut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2