(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 19 ( Kisah Maura Dan Pak Gunawan)


__ADS_3

Pagi ini hari Jumat. Hari kerja terakhir di minggu pertama Rendy bekerja.


Justru biasanya Rendy libur di hari baik ini karena ingin ibadah sholat Jum'at di masjid dekat rumah Virly.


Tapi pagi ini Rendy seperti hari biasa. Bangun pagi dan bersiap pergi kerja.


Tentu saja Virly dibuat tambah bingung.


mata perempuan berusia 30 tahun lebih itu terlihat sembab karena semalaman menangis hingga sulit tidur.


Rendy juga sama, tetapi dia jauh lebih legowo dengan nasibnya dan pasrah menerima apapun yang akan Virly putuskan untuk hubungan rumah tangga mereka.


"Kamu,...mau berangkat ke mana?" tanya Virly.


"Ya kerja lah! Bukan nongkrong apalagi godain cewek pastinya!"


Ck. Kenapa harus ketus gitu sih jawabannya? Ini gue jadi yang merasa bersalah tau ga, Mas!


Virly menatap suaminya. Dari atas sampai bawah, lalu naik lagi ke atas kepala.


Rendy wangi. Dandanannya juga rapi. Rambutnya di pomade.


Malah hari ini dia pakai aksesoris kacamata baru yang belum pernah Virly lihat sebelumnya.



Liat dandanan laki kayak gini siapa yang ga curiga, coba!! Begitulah isi hati Virly makin menebak buruk.


"Mas..., ini kan hari Jumat? Biasanya kamu di rumah. Main seharian sama Leo. Terus, siangnya sholat Jum'at di masjid. Koq sekarang,"


"Sekarang Aku udah kerja, Virly! Walaupun hanya sebagai supir pribadi, tapi halal dan InshaAllah bisa buat cukupi kebutuhan harian anakku!"


Virly merasakan hatinya yang sakit.


Seperti dicubit kecil tapi rasanya pedas nyeletit.


"O iya. Kamu pasti hari ini sibuk buat event hari minggu ya? Leo Sabtu Minggu biar Aku yang jaga. Besok Aku full di rumah!"


Suasana rumah menjadi kurang kondusif.


Keduanya masih menahan ego tapi juga sama-sama gengsi untuk memulai minta maaf lebih dahulu.


Fikiran mereka masih dibebani oleh halusinasi negatif tentang pasangan masing-masing yang dianggap telah melanggar komitmen pernikahan.


Setelah mencium kening Virly dan Leo, dan Virly terlebih dahulu mencium punggung tangan Rendy, pria muda beranak satu itu berangkat kerja.


Rendy masih membawa mobilnya. Dan seperti biasa, akan dia titipkan di rumah kakaknya dan tukar pakai motor matic Kakak ipar.


Senin besok baru Rendy akan menggunakan motor matic milik istrinya, jika Ia berani pinjam.


Wajahnya pagi ini benar-benar masam walau dandanan sudah pool maksimal.


Ingatannya tentang cerita Virly yang dicium pipinya oleh Sang mantan masih terngiang.


"Kamu boleh marah, Mas! Iya aku salah! Aku terlalu dekat dengan Jodi sampai pipiku kena cium bibirnya!"


Bisa-bisanya, ck ck ck! Kenapa juga dia gak menghindar? Biasanya kita kalo ketemu mantan bawaannya pingin cari jalan lain biar gak sampe ketemuan! Tapi ini? malah punya kerjaan bareng, jalan bareng, naik mobilnya pula itu kemaren! Gimana kalo tuh cowok nekat ajak Virly berbuat semakin jauh, misalnya ngamar di hotel bintang lima, atau... Astaghfirullah!!! Ya Allah ya Tuhanku, fikiran macam apa ini!!!

__ADS_1


Rendy menepuk keningnya.


Suasana jalanan ibukota kota di hari Jum'at tak jauh lebih lengang. Justru semakin ruwet dengan kemacetan.


Rendy masih menyetir mobilnya, belum sampai ke rumah kak Afdal.


Tiba-tiba matanya melihat dua sosok perempuan yang dikenal sedang berdiri di halte busway menunggu kendaraan.


Berlin? Sama Maura anak pak Gunawan!? Kayaknya belum dapat kendaraan deh!


Apa gue ajak mereka ya? Tapi, gue kan harus ke rumah kak Afdal buat nitip mobil?! Tar mereka gimana? Hm...


Tin tin tin


Rendy mengklakson.


"Belum dapat kendaraan?" tanya Rendy setelah membuka jendela kaca mobilnya.


"Ehh? Belum."



"Naiklah kalian! Bareng aku!"


Seharusnya ini ga boleh gue lakuin! Tapi..., si Maura itu anak Boss Matta Network. Rada 'carmuk' dikit biarpun pura-pura ga tau dia anak Boss, kayaknya ga ada salah juga. Bukan demi si Berlin ya!


Rendy membiarkan Berliana dan Maura masuk mobilnya.


"Hai, kenalkan, Maura. Anak Matta divisi copy writer!"


"Dah, Ra! Jangan kebanyakan basa-basi sama dia!" sela Berliana membuat Rendy mencebik kesal.


"Tuh, liat aja komuknya. Nyebelin khan?"


"Husss! Harusnya kita berterima kasih karena Mas Rendy udah bersedia angkut kita juga, Ber!"


"Ga papa kok! Dia ini Kakak ipar ku, Ra!"


"Iyakah? Ya ampun! Hiks, potek dong! Kukira masih jomblo! Hehehe... Sorry Mas canda!"


"Hehehe... Santui aja, Mbak!"


"Mbak Mbak, Lo kira Maura Mbak Lo!?" semprot Berliana dengan terlihat nada cemburunya jelas sekali.


"Ish, sama Kakak ipar, koq gitu?" Kini Maura yang kembali menegur Berliana.


Entah, kode apa yang Berliana beri pada sang sahabat. Hingga tiba-tiba Maura terlihat membelalakkan matanya dan memekik kecil lalu tertawa.


"Yang bener? Beneran?? Ish, Berlin beneran? Ini orangnya??? ya ampun, ya ampun!!! Hahaha..."


"Ra udah Ra! Responnya jangan gitu dong, Ra! Please keep silent, Ok?"


"Hahaha... Ya Tuhan! Bisa-bisanya, hahaha... Upss sorry, Aku masih begitu shock nih lho, Ber! Hahaha..."


Apaan sih? Beneran gue jadi kepo deh sama apa yang mereka tertawakan. Jangan-jangan,... duh!


"Kalian ini mmm, ga jadi deh. Hahaha... ya ampun, asli koq aku gak bisa berhenti ketawa, Ber!"

__ADS_1


Berliana terlihat melengos ke arah jendela kaca mobil dengan muka masam.


Dia sedikit menyesal menceritakan masa lalu percintaannya yang gagal dengan Rendy pada Maura. Justru kini Maura tertawa ngakak tak mau berhenti.


Selama hampir seminggu tinggal bersama Maura, sudah banyak cerita-cerita hidupnya yang meluncur dari bibir. Soal percintaan, perjuangannya juga yang pernah belajar jauh di negeri orang. Semua perlahan telah Maura ketahui.


Maura baik.


Terlalu baik malah. Begitu dimata Berliana.


Gadis yang seumuran itu juga cerita banyak tentang kehidupannya yang ternyata lumayan dipenuhi kesedihan.


Katanya pada Berliana, Maura sebenarnya sedang kabur dari rumah.


Maura juga bukan dari daerah seperti cerita di awalnya.


Berliana sempat kecewa, karena Maura berbohong ketika mereka baru saja kenal.


Tapi Maura berhasil menyakinkan kembali Berliana, kalau dia sengaja melakukan itu karena dunia begitu kejam terutama Ibukota, yang kejamnya melebihi Ibu Tiri.


Maura menangis di malam ketiga mereka tinggal bersama.


Dia menceritakan masa remajanya yang pernah menjadi korban kebiadaban Ibu Tiri hingga tiga tahun lamanya.


Maura menjadi anak piatu sejak berusia dua belas tahun.


Mamanya meninggal dunia, kecelakaan lalu lintas dan tewas ditempat dalam keadaan tengah mengandung anak kedua. Mobil yang dikendarainya tertabrak kereta api listrik. Kala itu Maura sedang berada di kelas mengikuti Ujian Akhir Sekolah di hari terakhir.


Hari bagaikan gelap gulita ketika Maura mendapat kabar perihal wafatnya Sang Mama.


Papanya menjadi duda selama dua tahun lebih dan menikah lagi ketika Maura duduk di Sekolah Menengah Pertama di semester pertama kelas dua.


Semula Maura yang kesepian menerima pernikahan Sang Papa. Apalagi ketika bertemu pertama kalinya dengan calon Mamanya, Ia begitu di sayang dan dimanjakan.


Ternyata, kebahagiaan Maura hanya berlangsung sebentar saja. Setelah beberapa bulan Papa menikah, ternyata Mama Barunya tidak sebaik yang Maura kira.


Bahkan setelah setahun berlalu dan sang Papa yang mulai sering dinas kerja keluar kota menjadi peluang Mama Tirinya untuk berbuat nista pada Maura.


Gadis remaja yang masih labil itu seringkali di siksa bahkan nyaris dijual oleh Sang Ibu Tiri ke sebuah diskotik untuk dijadikan sebagai Lady Companion alias gadis pemandu karaoke plus-plus.


Untungnya Tuhan menyayangi Maura hingga hal itu tidak sampai terjadi.


Sang Papa yang mengetahui kejadian itu langsung mentalak istri barunya demi tumbuh kembang sang buah hati yang hanya semata wayang.


Mereka berdiri tinggal berdua saja hingga beberapa bulan lalu Sang Papa yang tak lain adalah Pak Gunawan mengeluarkan opsi ingin menikah lagi jika Maura telah menikah nanti.


Kedua Ayah dan anak itu ribut besar.


Maura yang masih trauma marah hingga akhirnya memutuskan keluar rumah dan memilih kost walaupun masih tinggal di wilayah yang sama dengan sang Papa.


Padahal Gunawan hanya mengeluarkan pendapat tanpa pikir panjang. Hanya mengungkapkan keinginan untuk memiliki pasangan jikalau sang putri telah berumah tangga.


Usianya sudah lima puluh tahun. Jika Maura menikah, Ia pasti akan memilih tinggal bersama suaminya. Dan Pak Gunawan mulai merasakan kesepian yang teramat dalam walau baru khayalan saja.


Ia takut masa tuanya dilalui sendirian. Dan ketika malaikat maut menjemput, tiada siapa pun disisinya. Pak Gunawan tidak ingin mati tanpa ada yang menemani.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน BERSAMBUNG ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...

__ADS_1


__ADS_2