(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 49 - Hari Yang Berjalan Cepat


__ADS_3

Keesokan hari, Berliana menepati janjinya.


Pukul sepuluh kurang Ia sudah menyambangi hotel tempat Gunawan dan Maura menginap.


Mereka akan kembali pulang ke Jakarta bersama-sama.


Maura menginterogasi Berliana yang terlihat kikuk di hadapan Gunawan.


Berliana sudah tahu kisah cinta Papanya Maura dengan Mama Hilda di masa lalu. Membuat Berliana sedikit kikuk dan canggung dihadapan Gunawan.



"Enjoy aja, Berliana! Saya juga tidak akan memaksa kamu untuk pernikahan. Saya masih ada satu tujuan, membawa putra saya kehadapan mereka. Dan kamu bebas memilih, mau menikah dengan Coco atau dengan saya nantinya!"


Berliana termangu. Bingung sendiri.


"Pak Gun..., mengapa Bapak mau ikutin permintaan Maura untuk menikahi saya? Hanya karena terlalu sayang anak kah? Atau, jujur saya takut!"


Gunawan menatap netra Berliana. Ia faham, gadis muda yang berdiri di hadapannya saat ini sedang dalam kondisi galau.


"Saya sangat menyayangi anak-anak saya. Itu betul! Tapi saya juga ingin di hari tua saya nanti ada yang menemani!"


"Bapak ingin saya untuk menemani di hari tua nanti?" tanya Berliana.


"Tergantung. Apakah kamu bersedia atau tidak. Jawabannya ada di diri kamu sendiri, Berliana!"


"Kamu mau nikah sama Papaku atau sama Abangku, Ber?" Maura ikut nimbrung.


Berliana tersenyum bingung.



Maura terkekeh.


"Pasti bakalan terkewer-kewer liat Abang Coco-ku! Hehehe..."


"Udah siap semuanya? Kita otewe pulang ke Jakarta!"


"Assyiap!"


Maura dan Berliana tertawa berbarengan.


"Ehh tunggu! Maura sebentar, itu tali antena,"


Berliana membetulkan posisi tali pengait br+ Maura yang kelihatan dari belakang.


"Makasih, Ber!"


Keduanya tertawa kecil lalu saling berangkulan jalan keluar kamar.


Gunawan sangat senang dengan suasana hubungan pertemanan yang terjalin di antara mereka. Tulus dan murni persahabatan sejati.


Ini kali pertama Gunawan melihat Maura memiliki teman yang benar-benar dipedulikan dan juga perhatian pada putrinya.


Andaikan Berliana memilih Aku! Hm... koq rasanya Aku jadi manusia yang kejam karena harus bersaing dengan putra sendiri ya?!? Hhh...


Gunawan hanya bisa mengekor dua gadis cantik yang berjalan di depannya.


Semua telah diatur. Dan Yang Maha Pengatur itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.


Serapi-rapinya Gunawan menyusun strategi, semua kembali lagi pada takdir Illahi.


Hari ini mereka kembali ke Ibukota.


Kembali pada dunia nyata, mengurusi semua pekerjaannya sebagai seorang CEO. Begitu pula Maura dan Berliana. Keduanya bekerja sebagai bawahan Gunawan di Matta Network.


...............

__ADS_1


"Pak Gunawan!"


"Rendy, gimana kerjamu beberapa hari ini?"


Rendy yang mendapati atasannya telah kembali ke kantor spontan menyapa.


"Baik, Pak! Kemaren saya ke Serang, bantu Mas Delon di lokasi syuting iklan terbaru. Wah, artisnya seksi, Pak!"


"Weh, baru ditinggal istri beberapa hari sudah pintar melihat perempuan lain di luar sana ya?!?"


"Aih? Saya salah ngomong, Pak! Maksudnya,"


"Hehehe...! Tenang, Ren! Saya cuma bercanda aja koq! Jangan di ambil hati!"


"Pak..., Bapak dari Jogja?"


"Kemungkinan kita akan jadi saudara nantinya! Hehehe..."


Gunawan menepuk bahu Rendy. Membuat tubuh pria muda itu langsung berbatu dan hanya diam melihat sang atasan masuk ke ruangannya.


Kita jadi sodara? Jangan-jangan, jangan-jangan Si Berlin beneran langsung dilamar Pak Gunawan!!!


Pikiran Rendy semakin jauh melayang.


Bodo amat lah! Yang penting hubungan pernikahan gue sama Virly ga sampe bubar jalan!


Akhirnya Rendy benar-benar mengikhlaskan hatinya untuk melepas Berliana seutuhnya.


Toh dia juga sudah berkeluarga, sudah memiliki anak tampan pula. Jadi, tidak baik bagi kesehatan jiwa serta hatinya jika terus memikirkan Berliana.


Selain dosa, lama-lama Ia juga jadi dzolim pada Virly istrinya. Bisa mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka juga.


Virly sendiri saat ini masih di kota Jogjakarta. Belum pulang ke ibukota karena masih sedang dalam pengobatan tulangnya yang patah akibat kecelakaan tempo hari.


..............


"Ma, Pa, Berliana akan Mama nikahkan dengan Om Gunawan? Atau..."


"Anna sepertinya sudah tentukan pilihan menikah secepatnya dengan Om Gunawan."


"Mama,... Mama tidak tahu, Sayang! Mama sendiri bingung saat ini!"


Virly hanya bisa mengusap lembut punggung tangan Mama tercinta.


Kisah hidup Sang Mama bisa Virly rasakan juga sakitnya. Berpacaran, kemudian harus putus hubungan begitu saja. Rasanya, sakit sekali sampai ke ulu hati.


Kisah cinta Virly dengan Kuncoro anak petinggi pemerintahan itupun kurang lebih sama seperti Mamanya. Malah lebih sadis karena ditinggalkan begitu saja.


Yang beda adalah dirinya jauh lebih menjaga diri serta kesuciannya hingga masih punya muka untuk berdiri tegak dengan wajah menatap ke depan.


Rendy datang menjadi pengobat hatinya yang luka. Seperti juga Sang Papa yang ibarat sinar matahari yang menerangi kehidupan Mama.


Virly tak lagi berani bertanya jauh.


Hanya pasrah pada kehendak serta takdir Sang Maha Kuasa.


Ia ingin sekali cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah. Ingin bertemu Rendy, meminta maaf pada sang suami. Virly ingin segera melupakan semua kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari ini.


Sedangkan Berliana kini mulai bingung dengan opsi yang Gunawan berikan tadi pagi. Menikah dengannya atau dengan putra pertamanya.


Apalagi Maura menggodanya kalau Sang Kakak tentu saja jauh lebih gagah dari Gunawan.


Bapaknya aja masih gagah walaupun udah usia 50 tahunan, apalagi anaknya. Hm...


Senyum tipisnya mengembang. Jemari kanannya mengetuk dahinya sendiri.


Dasar gila! Mikirin yang belom jelas kejadian! Dih, Berlin, Berlin! Sadar wooi! Sadar!

__ADS_1


Malu hati jadinya. Untung saat ini Ia hanya sendirian, Maura sedang keluar kost-an.


Ia dan Maura memang langsung pulang ke kost-an setelah tiba di bandara Soekarno-Hatta.


Berbeda dengan Gunawan yang langsung meluncur ke gedung wisma Matta Network untuk urusan pekerjaan yang membludak.


Berliana dan Maura memutuskan besok pagi baru masuk kantornya.


..............


Waktu terus berjalan tanpa terasa.


Hari-hari terlewati jua perlahan melewati masa-masa menegangkan tentang terbukanya kisah Hilda dan Gunawan.


Rumah tangga Hilda dengan Sapto sendiri kembali adem ayem walaupun hati Sapto cukup kecewa karena sang istri yang menyembunyikan cerita besar dalam hidupnya.


Rihanna bertapa di rumah besarnya. Tak berani menyambangi rumah Hilda Sapto karena takut juga malu.


Semua perbuatannya telah diketahui sang menantu. Mau tidak mau ia harus biarkan waktu berlalu dulu untuk beberapa lama. Setidaknya sampai amarah Sapto mereda, baru Ia akan kembali mengunjungi rumah mereka.


Sapto adalah orang yang baik. Rihanna telah mengetahui sifat asli sang menantu. Sapto begitu mencintai Hilda putrinya. Makanya ia hanya perlu menunggu keadaan kembali stabil.


...............


"Permisi, bisa bertemu dengan Pak Gunawan CEO Matta Network?"


"Apa Mas sudah buat janji?" tanya Mbak resepsionis di ruang operator lobi gedung perusahaan.


Pria gagah itu terdiam. Cukup lama berfikir sampai akhirnya berkata, "Belum sih, tapi saya yakin, Pak Gunawan akan menerima kehadiran saya jika beliau tidak sedang keluar!"


"Dengan Mas siapa?" tanya Mbak resepsionis ramah. Senyumnya terus mengembang seraya sesekali melirik wajah manis pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Kuncoro Adi Pangestu!"


"Hm..., tunggu sebentar ya Mas!"


Dengan cepat Mbak resepsionis langsung menelpon sekretaris pribadi Gunawan.


"Mbak Radisty, ada tamu ingin bertemu Pak Gunawan. Namanya Mas Kuncoro Adi Pangestu. Bisa tolong dikonfirmasi ke Pak Gunawan, apa bisa diterima atau tidak."


Klik.


"Sebentar ya Mas! Sedang dikonfirmasikan dahulu oleh Mbak Radisty sekretaris pribadi Pak Gunawan!"


"Iya. Terima kasih Mbak!"


"Silakan duduk, Mas!"


"Kalau mas Delon, bukannya masih asisten pribadinya Papa khan? Maksud saya asisten pribadi Pak Gunawan?".


"Iya." Seketika Mbak resepsionis itu bengong menatap Kuncoro yang langsung menelpon Delon.


"Halo, Mas? Aku ada di lobi! Papa sedang ada tamu kah? Oh iya, baik. Oke oke. Thanks, Mas! Yap, terima kasih!"


Klik.


"Kata Mas Delon, saya minta ID card tamu Mbak!"


Kriiiing kriiiing kriiiing...


"Sebentar dulu ya Mas?! Hallo, Pak Delon? Baik Pak, maaf, saya tidak tahu! Baik."


Klik.


"Ini, Mas ID card-nya. Mohon maaf atas ketidak nyamanan yang sudah saya lakukan barusan. Saya tidak mengetahui kalau mas adalah tamu yang sangat penting. Maaf ya Mas!"


"Hehehe... tidak apa-apa Mbak! Saya faham Mbak menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Terima kasih, saya permisi!"

__ADS_1


Kuncoro segera mengalungkan ID card yang diberikan Mbak resepsionis dan berlalu pergi menuju elevator untuk langsung ke ruang kerja Gunawan.


BERSAMBUNG


__ADS_2