
Kuncoro tidak terlalu gelisah seperti hari kemarin.
Radit hari ini selalu mengirimkan gambar foto sang adik yang terlihat jauh lebih baik dari hari-hari yang lalu.
Gambar-gambar Maura dengan berbagai gaya dan juga ekspresi bahagia terpancar dari raut wajahnya yang ceria.
Kuncoro, Berliana juga Gunawan akhirnya bisa tersenyum bahagia.
"Temanmu itu memangnya dari tim kesatuan satiltelkam yang sama sepertimu, Co?" tanya Gunawan pada putranya.
Berliana yang kurang paham dengan pertanyaan sang mertua hanya bisa jadi pendengar saja.
"Radit sudah bukan anggota lagi, Pa! Dia hanya warga sipil biasa sekarang. Makanya Coco kasih dia kerjaan buat jadi bodyguard nya Maura. Karena dulunya Radit tim khusus Paspampres kelas dua. Jadi tugas mengawal sudah jadi makanan sehari-hari untuk Radit ketika masih menjadi anggota."
Berliana termangu.
Pantas saja Bang Radit badannya bagus. Tinggi tegap dan berwibawa. Ternyata... Ehh? Tadi Papa Gunawan menyebutkan tim kesatuan satiltelkam kayak Bang Coco? Jadi, Bang Coco...? Apa Bang Coco juga anggota satuan keamanan negara seperti polisi atau tentara gitu? Ehh? Bukankah suamiku itu seorang pengusaha batu bara dan kapal tongkang di Mataram ya?
Berliana terus memikirkan obrolan suami dengan mertuanya itu. Hingga pada suatu kesempatan dia mulai berfikir untuk menanyakannya pada Kuncoro.
"Bang, tadi Anna dengar... Abang tim kesatuan apa gitu. Maksudnya, itu tim apa? Satelitkam tuh apa sih? Sejenis organisasi ormas kah?"
Kuncoro langsung menatap wajah Berliana yang polos.
Rasa bersalah, rasa takut dan khawatir Berliana tidak terima 'dirinya' yang adalah abdi negara dalam kesatuan khusus membuat Kuncoro amat berhati-hati untuk memberi jawaban jujur pada sang istri.
"Mmm, itu lho Ann! Seperti anggota lembaga yang dibentuk oleh swasta untuk jadi pengawal pribadi. Sejenis yayasan khusus sekuritas lah, begitu."
"Tapi mirip polisi atau tentara gitu ya?!" tanya Berliana lagi.
"Ya sama sih. Militer juga penggemblengannya. Sama-sama kayak pelatihan khusus tentara gitu!"
Kuncoro menatap legam bola mata istrinya yang berbinar indah.
"Anna..., sekiranya Aku ada tugas sampai berhari-hari ga pulang juga ga ada kabar, ponsel mati, susah dihubungi dan juga tidak menghubungimu..., kuharap kamu mengerti. Aku tidak sedang mendua, mentiga apalagi mentimun! Hehehe..."
"Ish, Abang! Aku kira serius!"
"Tapi itu serius. Terkadang, Abang dapat tugas juga dari atasan. Ya seperti itu. Bisa seminggu Abang putus hubungan dengan keluarga termasuk Papa Gun!"
Berliana menatap mata Kuncoro. Berusaha mencari kebenaran dalam riak netra pria yang telah mendapatkan seluruh jiwa raganya.
__ADS_1
"Abang serius?!"
"Iya."
"Bukannya Abang pengusaha?"
"Itu sampingan saja, Ann!"
"Terus, apa ga bisa Abang keluar dari kesatuan kayak gitu? Tugas apa aja biasanya Abang lakukan? Pengawal presiden? Atau... ehh tapi pengawal itu bukannya tentara Angkatan Bersenjata ya?"
Berliana mulai banyak pertanyaan. Ini yang paling Kuncoro takutkan. Pertanyaan kritis Sang Istri perlahan bisa mengungkap jati dirinya.
Kuncoro mengecup bibir Berliana.
Ini adalah cara terbaik meredam istrinya yang terus menerus melontarkan kalimat tanya yang mau tidak mau harus Ia jawab.
Karena jika tidak, Berliana akan semakin bingung dan makin banyak list pertanyaannya.
Kuncoro kini sudah jauh lebih santai dan pintar membahagiakan Berliana secara batiniah.
Dari kecupan kecil yang manis, lalu meningkat perlahan dengan tatapan mesra yang bikin jantung Berliana berdetak tak karuan, kemudian mendekat dan seolah melahap habis bibir merah istrinya hingga sedikit kesulitan bernafas.
Seminggu hampir pernikahan mereka. Kuncoro sudah banyak melangkah.
Bahkan kini semakin pandai membuat Berliana dalam kondisi gelora asmara yang begitu memuncak.
Sentuhan yang ia berikan pada Berliana membuat perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu menggelinjang dan mend+++h pasrah.
Tentu saja libido kelelakiannya pun kian naik memuncak. Kuncoro kian tertantang untuk lebih membahagiakan Berliana yang sudah dipuncak asmara.
Mereka saling beradu skill yang dimiliki secara otodidak karena keduanya adalah pribadi yang sama sekali tidak pernah melakukan hal demikian sebelumnya.
Ada manfaatnya juga sewaktu muda Kuncoro memiliki pikiran mesum dengan menonton film biru.
Sebenarnya itu tidak baik dan dosa. Tapi yang namanya laki-laki, hal yang mustahil tidak punya rasa penasaran isi film biru. Mengingat usianya juga sudah dewasa kala itu hingga boleh masuk link namun berbahaya bagi kesehatan jiwa raga dan mengkhawatirkan jadi berfikir c+bul berkepanjangan, Kuncoro beberapa kali mempelajari ilmu memberi kasih sayang pada pasangan itu.
Sebenarnya pelajaran bercinta itu penting.
Mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang oleh negara juga agama. Semua harus dipelajari tetapi dalam takaran yang sewajarnya.
Untuk orang yang belum memiliki pasangan halal, sebaiknya menghindari menonton film biru karena tidak ada pelampiasan yang bisa dipraktekkan.
__ADS_1
Itulah sebabnya film-film tersebut dikategorikan sebagai film terlarang apalagi jika ditonton oleh generasi muda anak bangsa. Bisa merusak iman dan juga moralitas karena mampu membuat hasrat biologis seseorang terbangkitkan lalu berbuat hal-hal yang dilarang negara serta Agama seperti melakukan hubungan di luar nikah, prostitusi bahkan yang lebih frontal lagi yakni melakukan kekerasan dan pelecehan.
Semua itu tentu saja merupakan pelanggaran hukum dan bisa mendatangkan mudharat bagi hidup orang tersebut. Berupa hukuman penjara, nama baik juga hancur di tatanan masyarakat dan yang paling utama adalah hukuman dari Allah Ta'ala, Tuhan Sang Pencipta.
Untuk itu Kuncoro sendiri sebagai seorang aparatur, harus sadar diri dan memberikan edukasi yang sebenar-benarnya pada para pemuda diluaran sana. Minimal mengingatkan bahayanya menonton film biru yang bukanlah bisa dikonsumsi sembarang orang.
Bahkan Kuncoro termasuk aparat yang wajib memberantas hal-hal begituan juga seperti peredaran film p+rno, lokalisasi yang meresahkan masyarakat, sampai masalah jual beli anak dibawah umur untuk dijual (dalam tanda kutip) di tempat-tempat kemaksiatan.
Itu sebabnya, Ia selalu banyak kerjaan dan tugas setiap minggu untuk mengamati suatu lokasi yang mendapat notice merah komandan untuk dipantau kesehatan hidup bermasyarakat warga sekitar.
Seperti hari ini, ponselnya kembali mendapat panggilan dari tim kesatuan rahasianya padahal mereka sedang dalam keadaan bercinta.
Kuncoro menyelesaikan pertempurannya dengan Berliana cepat-cepat agar Sang istri tidak merasa digantung.
Berliana yang terkulai lemas setelah menerima tembakan telak sebanyak dua kali.
Kuncoro justru segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mandi dan membersihkan tubuhnya segera.
"Anna..."
"Kenapa Bang?"
"Maaf, Ann..., Aku harus pergi dulu! Kemungkinan untuk beberapa hari seperti yang tadi Aku ceritakan! Sekiranya kamu masih belum dapat kabar apapun, cobalah diskusi dengan Papa Gunawan! Aku pergi ya Sayang! I love you. More more and more, my sun!"
Berliana termangu dengan tubuh terlentang di atas ranjang.
Kuncoro masih sempat menciumi pipinya dan turun ke bibir lalu ceruk leher Berliana yang begitu dipujanya. Bahkan dengan nakal Kuncoro mengul++ area pu++++ pay+++++ kiri kanan milik Berliana yang masih terbuka dan menjulang tanpa sehelai benangpun.
Berliana kembali pejamkan mata.
"Abang!"
"Tunggu Aku. Aku pasti pulang!"
Kuncoro menarik selimut. Menutupi seluruh tubuh istrinya dengan lembut. Dan mengecup kening Berliana.
Mata mereka saling beradu. Seiring melemah karena Kuncoro kemudian melesat pergi.
Berliana yang masih lelah akibat pergumulan barusan kini hanya bisa menatap langit-langit. Bingung.
BERSAMBUNG
__ADS_1