
Rendy terkejut mendapati pesan masuk ke nomor ponselnya.
"Bang Togar!!! Gue di terima gawe kontrak di Matta Network!!!" pekiknya dengan suara keras membahana basecamp para ojol online.
Seketika teman-teman mengerumuni Rendy termasuk Togar.
"Kereen!!! Gue kata juga apa! Akhirnya Lo jadi karyawan juga meskipun hanya kontrak 6 bulan dulu. Yess, sukses ya Bro!"
"Thanks ye Bang! Ini semua berkat Lo!"
"Ga lah. Itu karena kerja keras Lo sendiri pas wawancara, ye khan?!"
"Iye juga sih! Ini karena kemampuan gue sendiri. Ga ada sumbangsih pikiran Lo sama sekali!" gumam Rendy sambil mengetuk-ngetuk bibirnya seolah serius.
Togar langsung menoyor kepalanya sambil tertawa, "Sialan ni bocah! Gue belagak bijak dianya malah ngelunjak!"
"Hahaha... Anjayy kepala gue ditoyor pake perasaan banget! Hahaha... lagian Lo juga. Gue udah bilang makasih malah nolak! Gue ambil lagi makasih gue, Lo malah ngadat. hahaha... Maaf, Bang! Makasih, makasih. Udah kasih rekomendasi loker ma gue!"
"Gue ga butuh makasih Lo. Yang gue butuh, isiin bensin motor gue noh!"
"Oghey! Tar gue isiin seliter kalo dah dapet gaji bulan depan!"
"Anjriiit!"
"Hahaha..."
Begitulah persahabatan mereka.
Terjalin begitu saja tanpa ada lebay-lebayan mengungkapkan kasih sayang yang jelas-jelas tumbuh rasa itu dihati mereka semua.
"Laporan dulu gak sama bini Lo, Ren?"
"Ga Bang! Entar aja kalo gue udah dapet gaji bulanan. Mau kasih surprise sama Virly dan Leo!"
"Waduh? Nunggu sebulan baru Lo bilang ma Virly?"
"Iya. Takutnya gue udah gembar-gembor, taunya kerja cuma seminggu. Tengsin gue, ntar!"
__ADS_1
"Iya juga sih!"
"Hehehe...! Nunggu semuanya stabil dulu, Bang! Gue takutnya ga nyaman kerja terus balik lagi jadi pengangguran. Ekspektasi bini udah melambung tinggi, ternyata tidak sesuai realita. Cewek khan pemikirannya gampang oleng. Kecewa jadi frustasi. Kesal jadi sebal. Gue ga mau Virly ntar ngerasain hal itu, Bang!"
"Serah Lo dah! Hidup-hidup Lo. Bukan hidup gua!"
"Jiaah, baper dia. Hahaha..."
Rendy senang, dukungan support teman-teman tongkrongannya jauh lebih berharga ketimbang rasa bangga dan bahagia berlebihan hingga lupa kalau ini baru permulaan.
Diam-diam dia sudah memesan paket hemat makan siang di sebuah restoran junkfood untuk dibagikan pada semua teman di basecamp.
Tentu saja suasana riuh. Pujian dan dukungan semakin meningkat menjadi doa untuk Rendy agar pekerjaan barunya yang akan dimulai esok berjalan lancar dan dia tetap jadi pribadi yang humble meskipun tidak lagi kerja satu aspal dengan mereka.
"Dih? Gue masih bakal jadi sujol-lah tiap hari libur. Bijimana bisa gue pensiun dari aspal gusruk ini kalo cicilan si Nova gue belom lunas!" sungut Rendy disambut gelak tawa teman-temannya yang semua sudah tahu kartu matinya.
Suasana yang sempat sedih kembali ceria dengan joke-joke candaan khas para pria yang gabut menunggu orderan masuk.
Satu persatu pergi dan satu persatu berdatangan. Begitulah keadaan situasi basecamp.
...............
Hari pertama masuk kerja.
Rendy bangun lebih awal untuk memulai pekerjaan barunya yang katanya menempati posisi sebagai operator. Entahlah. Rendy belum tahu kerjanya seperti apa.
Tempat kerjanya yang dulu bergerak di bidang multimedia juga. Dan dia pernah menduduki posisi-posisi sebagai seorang desainer grafis karena kemampuan otodidak mengotak-atik model cetak yang akan perusahaan pasarkan.
Sekarang, dirinya seperti anak muda yang baru lulus SMA. Mencari pekerjaan demi untuk sebuah pengalaman.
Menganggap pekerjaan yang didapat adalah batu loncatan. Jika ada pekerjaan lain yang lebih baik dengan gaji lebih besar, pasti akan pindah ke perusahaan berikutnya. Begitu pikiran para anak muda yang masih labil di dunia kerja.
Padahal mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Banyak malah sarjana nganggur karena terlalu pilih-pilih ambil tawaran kerja.
Rendy sudah mengalami proses itu meski hanya satu dua pekerjaan saja.
__ADS_1
Nikah muda membuat jalan fikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan teman-teman lainnya yang justru masih sering putus nyambung dalam hubungan pacaran.
"Mas, hari ini kamu mau berangkat lebih pagi? Ada apa?" tanya Virly melihat suaminya berubah lebih gesit berangkat kerja.
"Aku mau ubah jam kerjaku, Yang! Siapa tahu aku bisa kembali jadi karyawan di perusahaan kalau terbiasa pergi sebelum pukul tujuh dan pulang ke rumah lebih awal. Setidaknya sebelum Maghrib aku udah bisa pulang dan main sama Leo! Ya khan Leo, Sayang? Doakan Papa ya Nak! Semoga kerjaan Papa lancar dan kita bisa liburan jauh setiap sebulan sekali!"
"Aamiin..."
Virly tersenyum sumringah. Rendy membuat hatinya menghangat. Ia melihat semangat kerja Sang suami yang begitu tinggi hingga tanpa sadar melamunkan masa depan yang indah bersama pria yang sudah tiga kurang menikahinya.
"Semangat, Papa! Bismillahirrahmanirrahim... jiayo!"
Rendy tersenyum bahagia.
Istrinya mensupport penuh apapun keputusan yang diambilnya. Sungguh istri yang luar biasa.
Diciumnya kening anak dan istrinya dengan hati penuh kasih sayang.
"Muach...! Love you Mama, love you Leonardo! Bye bye... Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Baru saja Rendy menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Berliana turun dari motor dan membayar ongkos ojeknya.
"Kakak, kak Virlyyy! Gue pinjem rok item panjang punya Lo dong! Cepetan please! Gue bisa kesiangan nih kerja hari pertama!" pekiknya berteriak dengan suara lantang.
"Lah? Gue bilang juga apa! Jangan pindah dulu sebelum Lo terbiasa bangun pagi buat kerja!" semprot Virly membuat Rendy menoleh pada istrinya.
"Mas! Mas Rendy!! Jangan berangkat dulu. Tunggu Berliana ganti rok! Biar bisa diantar ke kantor tempat kerjanya, jadi gak kesiangan?"
Rendy seketika mencecap. Diam seribu bahasa.
Dimatikannya mesin mobil dengan tatapan mata kosong ke depan.
Yassalam! Virly kebangetan banget sih!? Duh, malah disuruh ke kantor barengan cewek itu! Alamak Jang!
...๐น๐น๐น Bersambung ๐น๐น๐น...
__ADS_1