(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 34 - Virly Semakin Salah Faham


__ADS_3

"Kak!"


"Iya, Anna! Gue bukan tipikal istri yang cemburu buta sama suami. Apalagi suami gue adalah pria paling baik sedunia. Dan gue pastinya akan mempertahankan Mas Rendy sampai kapanpun! Lo kan tau, gimana gue kalo udah jatuh cinta!?"


"Ya. Lo suka error dan ga terima masukan siapapun walau gebetan Lo adalah pria brengsek!"


"Dih!? Itu dulu. Sekarang suami gue pria paling hot sedunia!"


"Iya iya. Puji terus laki Lo sampe gue muntah dengernya!"


"Hehehe, jangan ditahan, Ann!"


Virly tertawa geli tapi muak dihati.


Lo pikir Rendy bakalan bisa lo pepet lagi, Ann? No! Gue ga akan biarkan Lo dapetin lagi perhatiannya selagi gue masih hidup. No way!


Krieeet...


Pintu ruang inap kembali terbuka pelan sekali.


"Kalian berdua berisik banget! Ga sadar apa kalo ada dua pasien lain lho yang satu kamar ini!"


Sontak Virly tersipu.


Rendy mengingatkan dengan suara setengah berbisik.


Berliana juga merona karena malu.


Ketiganya terdiam, tak ada niatan untuk saling komentar.


"Maaf, kamu pulang aja, Ber! Virly mau istirahat dulu!"


Virly bersorak dalam hati. Rendy mengusir Berliana secara halus.


"Dih? Ada ya, orang sakit dijenguk bukannya bilang terima kasih tapi malah diusir pulang!" semprot Berliana agak emosional tapi secara candaan.


Kali ini Berliana terlihat lebih santai mencandai Rendy didepan Virly. Karena ia tak perlu ja'im alias jaga imeg supaya kakak kandungnya itu tahu, kalau ia tak akan merebut Rendy dari sisinya.


Lain dengan pemikiran Virly. Justru sangat bertolak belakang dengan yang ada dibenak Virly.


Keterlaluan! Makin menjadi si Anna ini! Makin berani goda laki gue tanpa malu-malu lagi! Ck ck ck...


Berliana tertawa melihat senyum kecut Rendy yang menyebalkan tapi justru membuat dirinya kembali ingat masa-masa SMA dahulu.


Masa remaja adalah masa paling indah. Masa paling menyenangkan, ceria dan penuh suka cita bersama teman-teman tanpa harus memikirkan dunia nyata.

__ADS_1




Masa yang tak kan pernah bisa Berliana lupakan meskipun hanya sekejap saja.


Karena masa itu, adalah masa kali pertamanya mengenal cinta Rendy dan juga... Ciuman pertamanya.


Memerah seketika wajah Berliana mengingat ciuman pertamanya dengan Rendy Saputra.


"Ya udah deh, gue pulang Kak! Get well soon ya!? Ntar besok gue jenguk Lo lagi deh!"


Berliana pamitan walau terkesan ogah-ogahan.


"Kak! Biar gimanapun, kita ini sodaraan. Dan jangan anggap gue sebagai rival!"


Kalimat penutup yang menyesakkan dada Virly.


Kini ia hanya bisa menghela nafas dan menundukkan kepala.


Rendy sendiri tidak terlihat responnya. Seolah tidak mendengar sindiran halus Berliana pada istrinya.


Namun dibalik sikap Rendy ternyata hatinya berdebar kencang.


Virly kayaknya beneran cemburu! Sampe dia buntutin mobil yang gue bawa jalan ke pengadilan berdua Berliana! Fix, ini... bisa jadi keributan rumah tangga yang cukup fatal kalo gue abaikan gitu aja!


"Yang!"


Virly masih terbakar cemburu. Ia tak langsung menjawab ucapan Rendy.


"Kamu udah salah faham, Yang!"


"Aku? Salah faham? Pada kalian? Pada hubungan kalian yang kalian fikir tidak lagi ada perasaan?"


Entah mengapa, seolah ada kekuatan besar yang membuat Virly berani mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


Rendy mematung. Kaget dan cukup terkejut.


Selama ini Virly adalah perempuan yang paling pandai mengatur emosinya bahkan mampu menghandle rumah tangga mereka dengan penuh kebijaksanaan.


"Diantara kami tidak ada apa-apa, Virly! Kamu yang terlalu jauh berfikir!"


"Berliana menangis dalam pelukanmu, kamu fikir itu hubungan pertemanan biasa saja?" bisik Virly tegas.


Deg

__ADS_1


Jantung Rendy berdebar kencang.


Virly telah mengintainya sejak lama rupanya.


"Apa lagi yang kamu ketahui? Apa lagi yang kamu lihat?" kata Rendy dengan suara bergetar.


"Apakah aku harus melihat kalian jalan berduaan masuk kamar hotel? Apa perlu sejauh itu?"


Rendy menatap mata istrinya.


Ada emosi tapi tak berani Ia lontarkan.


Rendy mencoba berfikir jernih. Ini kamar inap rumah sakit. Dan dia tidak boleh berbicara yang fatal bagi keadaan mental dirinya serta Virly.


Pria muda itu hanya menatap wajah istrinya tanpa kedip mata karena kaget, separah itu Virly menuduhnya.


Untuk menghindari keributan yang semakin berkobar, Rendy keluar dari kamar inap Virly.


Berjalan cepat setengah berlari. Menahan sesak dadanya yang menyakitkan hati.


Virly sendiri, membisu dan membatu.


Tak percaya karena Rendy bukannya menghibur kecemburuannya dengan pelukan hangat justru meninggalkannya tanpa kata-kata.


Airmatanya perlahan mengalir.


Hatinya sakit.


Sakiiit sekali.


Semua kebencian dan kekecewaan yang dulu pernah ada karena perbuatan laki-laki membuat jiwanya kembali merapuh.


Ternyata lelaki itu seperti itu! Ternyata semua lelaki sama saja! Hanya manis di awal kemudian pahit sekali di akhir! Bisa-bisanya Mas Rendy malah pergi begitu aja! Ternyata pengaruh kehadiran Berliana membuatnya bisa berubah sikap!


Fikiran Virly yang kalut kian meracau.


Racun-racun semakin tersebar membuat hatinya kian buruk sangka.


Kini ia berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin membesar dan mengganggu ketenangan pasien yang sekamar dengannya.


Hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang besi ruang opname.


Menangis seorang diri. Meratapi hidup serta percintaannya yang pilu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2