(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 61 - Curahan Hati


__ADS_3

Treeet... treeet... treeet


Berliana mengambil handphone-nya yang sedari tadi berdering.


Pukul 00.12 WIB. Sudah masuk tengah malam dan Virly tiba-tiba menghubunginya.


Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu sama Mama? Papa atau Eyang mungkin?!


Ia segera mengangkat sambungan teleponnya.


"Hallo, Kak, ada apa?"


...[Anna, Anna tolong bantu Aku!]...


Ehh? Kenapa?


...[Anna, Rendy pergi dari rumah! Rendy mau menceraikan Aku! Hik hik hiks...]...


"Hahh? Koq bisa? Kenapa???"


...[Anna, tolong bantu Kakakmu ini! Tolong bilang Mas Rendy, itu hanya salah faham. Itu ga seperti yang ada dalam fikirannya! Please bilangin Mas Rendy, Anna! Kalian satu kantor kan? Ann, cuma kamu satu-satunya yang bisa bantuin Aku!]...


"Iya, Kak! Besok pagi di kantor Aku bakalan cari Rendy!"


...[Tolong ya Ann... Hik hik hiks! Aku gak mau cerai! Aku ga mau diceraikan Rendy! Huaa...hik hiks]...


"Kakak, ini udah malam. Istirahat dulu, Kak! Tidurlah. Kalian cuma ribut. Itu biasa dalam rumah tangga! Biar besok Aku akan coba bantu buat ngomong sama Rendy."


...[Makasih ya, Ann!!]...


"Iya. Tidur, Kak! Lo baru sembuh juga!"


...Klik...


Berliana berdecak, ternyata Kakaknya sedang dalam kondisi gegana.


Baru kali ini Berliana mendengar suara Virly yang gugup dan terbata-bata ketakutan hanya karena Rendy pergi dari rumahnya. Dan..., Rendy bilang mau menceraikannya?


Ehh? Atas kesalahan apa sampai si Rendy berani bilang gitu? Bukannya dia itu bucin banget sama kakak gue? Hahh? Dunia ini penuh misteri. Hhh ...


Berliana masih mengantuk. Ia pun lanjutkan kembali tidurnya yang tadi sempat tertunda karena Virly menelpon.


.............


Keesokan harinya Berliana berangkat kerja lebih pagi. Ia juga menceritakan niatnya pada Maura untuk mencari Rendy di lantai dasar basemen tempat nongkrong para driver sebelum jam kerja di mulai.


Maura agak bingung, Berliana menceritakan hal yang mengejutkan tentang kakak angkatnya semalam yang menelpon.


Setahu Maura, Kakaknya bilang kalau Virly mengajaknya ketemuan semalam.


Ia bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah ada hubungannya antara kepergian Rendy dari rumah dengan pertemuan Kuncoro dan Virly semalam.


Maura tidak berani bertanya pada Berliana, kemungkinan itu adalah masalah pribadi yang mungkin Berliana sendiri tidak mengetahui.

__ADS_1


"Maura, Aku cari Rendy dulu ya?"


Maura mengangguk.


Walau ia tahu, Berliana sudah tidak lagi memiliki cinta kepada pacar pertamanya itu, namun sebenarnya pertemanan keduanya termasuk hal yang riskan dan mengandung maslahat seperti halnya pertemuan Kuncoro dengan Virly semalam.


Maura lebih dulu naik ke lantai atas gedung tempatnya bekerja. Sementara Berliana mencari-cari Rendy untuk menanyakan perihal keadaannya setelah ribut semalam dengan Virly.


...Bang, uda bangun lom?...


Chat Maura ke ponsel sang Kakak.


Tak lama kemudian chatnya berubah centang biru. Lalu terlihat tulisan sedang mengetik.


^^^Udah. Kenapa Maura?^^^


Semalam jadi ketemuan sama Kak Virly?


^^^Iya. Knp mangnya?^^^


Apa kalian bertengkar bertiga?


^^^Bertengkar? Bertiga? Sama siapa?^^^


Ga jadi. Hehehe


Maura segera menutup ponselnya. Ternyata tidak ada keributan antara mereka berdua. Tapi kenapa Virly dan Rendy bertengkar di malam hari?


Sementara Berliana masih berjalan kesana-kemari, sampai tiba-tiba Ia bertemu Delon, asisten pribadinya Pak Gunawan.


"Mas!"


"Berliana? Sedang apa di sini?"


"Saya sedang cari Rendy, Mas! Mas liat dia gak?"


"Rendy? Oh, barusan naik ke lantai atas. Langsung ke kantornya Pak Gunawan. Katanya sih ada urusan. Kenapa emangnya? Ada perlu penting?"


"Oh, ke ruang Pak Gunawan ya? Penting sedikit sih, hehehe...! Ya udah, nanti aja deh di jam istirahat ketemuannya. Mas maaf, Saya minta tolong sampaikan sama Rendy, saya cari-cari dia. Maaf ya Mas Delon!"


"Woke, Berliana!"


"Terima kasih, Mas! Saya permisi!"


"Ehh? Ayo bareng aku! Aku juga soalnya mau ke lantai lima. Kamu juga di lantai lima kan ya?"


"Iya. Ayo, Mas! Kalo pagi elevator penuh. Saya kadang lebih suka naik tangga!"


"Hm, pantesan betis kamu kayak talas Bogor! Hehehe..."


"Idih, disamain talas Bogor! Tapi by the way talas Bogor enak, legit tau! Hehehe..."


"Hahaha, iya. Maaf, bercanda!"

__ADS_1


"Hehehe, iya. Saya tau kok, Mas!"


Perjalanan keduanya menuju lantai tempat Berliana kerja dipenuhi dengan obrolan santai yang menyenangkan.


Keduanya berpisah setelah sampai di tujuan karena arah yang berbeda. Saling memberi salam dan lempar senyuman, begitulah kinerja para karyawan sibuk di perusahaan periklanan yang sedang berkembang itu.


Rendy yang pergi dari rumah Virly di pukul dua belas malam setelah mengeluarkan unek-uneknya bertengkar dengan Sang Istri rupanya tinggal di mess kantor.


Saat ini dia sedang diruangan atasannya, CEO Matta Network yang tak lain adalah Papa kandung pria yang masih membuat istrinya kesemsem sampai berani bilang rela bercerai demi tidak ingin melihat mantan menikahi adik angkatnya.


Sungguh terlalu. Begitu gerutu hati Rendy yang kesal.


"Pak! Bisakah saya dipindahkan ke luar kota? Saya ingin cari suasana baru."


"Kenapa, Ren? Lah!? Bukannya istri kamu sudah sembuh dan sudah pulang dari kampung halamannya?"


"Hhh... Saya, ingin coba bekerja di kota kecil, Pak! Saya... mau ambil cuti dulu beberapa bulan!"


"Kenapa, Rendy? Kamu lelah jadi driver saya?"


"Bukan, Pak. Bukan begitu. Cuma..., saya mau istirahat sebentar cari udara segar, Pak. Maaf, kepala saya sakit sekali. Mau rehat dulu. Jadi minta izin Bapak untuk tidak memecat saya secara tidak hormat."


"kinerja kamu bagus. Kamu juga cekatan dan bisa diperbantukan di bagian produksi. Kalau kamu mau, pergilah ke kota Bandung. Di sana ada anak perusahaan dari Matta Network yang bergerak di bidang animasi dan juga juga editing iklan non komersil!" kata Pak Gunawan yang sepertinya melihat kesuraman wajah Rendy soal pekerjaan yang itu-itu saja.


"Saya mau, Pak. Saya mau!"


"Sebenarnya saya sudah siapkan tempat untuk kamu di bagian desain grafis dan editing juga. Dari tata cara kerja kamu dan juga pengalaman kerja dua tahun di perusahaan multimedia tempat kamu kerja sebelumnya, saya bisa lihat potensi kamu. Saya dan Delon sudah diskusikan. Hanya butuh waktu tiga bulan untuk kamu menjadi driver saya kemanapun pergi selama jam kantor."


Rendy terharu.


Atasannya itu teramat baik.


"Kamu pria yang baik. Pekerja keras, bertanggung jawab dan juga jujur. Itu sangat penting di dalam hidup terutama di dunia pekerjaan yang keras dan suka sikut sana sini!"


Rendy tak dapat berkata-kata apa-apa. Ia sangat senang sekaligus sedih. Atasannya pengertian sekali.


"Pak, Saya sedang ada masalah dalam keluarga. Saya..., Saya ingin kerja yang jauh. Ingin kumpulkan uang yang banyak untuk putra saya semata wayang! Hik hiks..."


Tiba-tiba perasaan Rendy luluh lantah memulai curahan hatinya kepada Pak Gunawan. Tangisnya pecah, air matanya meleleh menceritakan betapa istrinya tidak menghargainya selama ini.


Rendy merasa sangat terpukul juga terpuruk.


"Dalam hidup berumah tangga, bertengkar dengan pasangan itu adalah hal yang biasa, Ren! Berantem kecil sampai meledak besar, itu lumrah saja. Tapi tetap jaga, jangan sampai mudah untuk mengucapkan kata pisah!"


"Tapi sepertinya ini yang terbaik, Pak!"


"Memang ketika kita dalam keadaan marah besar, itu adalah keputusan yang dirasa baik. Tapi ketika kita berfikir jernih dan coba telaah lebih dalam lagi. Berumah tangga itu tidak mudah memang. Terus dan terus pengenalan pada pasangan tak habis-habis!"


"Hik hiks..., Saya lelah, Pak! Saya juga yakin, Virly lebih lelah lagi karena saya. Saya pergi bukan karena benci. Saya justru pergi karena ingin Virly bahagia. Mungkin dengan merealisasikan apa yang Ia ucapkan akan membuat hatinya lega. Keinginannya hidup bahagia tercapai. Saya tidak bisa membahagiakan dia. Saya sadar diri, Pak!"


Gunawan menghela nafas. Rendy sedang di fase sangat terluka. Entah apa sebabnya, karena Rendy tidak menjelaskannya secara rinci.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2