
"Berlin!"
Berliana menoleh pada orang yang barusan memanggil namanya.
"Rendy?"
"Tunggu, gue mau sampein sesuatu. Amanah dari Virly!"
"Apaan sih?!"
Rendy yang berlari menuju Berliana tampak terengah-engah.
"Bisa gak tar malem Lo sama Kuncoro makan malam di rumah Virly? Virly masak banyak buat ngundang kalian berdua!"
Berliana membelalakkan matanya. Ia juga menoleh kearah Maura yang ikutan terkejut.
"Undangan resmi nih?"
"Iya. Virly minta gue bilang langsung ke Elo. Dia pengen ngundang kalian berdua makan malam di rumah."
"Entar malam?"
"Iya."
Berliana menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal.
"Gue tanya dulu Abang ya?"
Rendy tadinya ingin menggoda Berliana, tetapi segera tersadar ada Maura yang berdiri diantara mereka. Akhirnya Ia hanya mengangguk dan tersenyum saja.
"Ehh, kalo bisa, kabarin gue secepatnya. Atau Lo langsung japri Virly aja. Ya?"
"Ini beberapa Virly yang undang? Bukan akal-akalan Lo kan? Kenapa dia gak undang gue langsung? Ujian apa lagi sih nih?"
"Ujian kelulusan. Ujian Negara Konoha!" jawab Rendy ngasal.
Maura terkekeh. Ia dan Berliana melanjutkan langkahnya masuk menuju lobby utama gedung perkantoran Matta Network.
"Lucu juga dia ya?!"
"Huss, jangan terlalu dipikirin. Dia bisa bikin kamu kleyengan lama-lama!"
"Hahaha..., bisa ya? Ga lah. Aku milih bertahan dan setia sama Xavier aja!"
"Ya iyalah. Lagian ngapain ngomongin si Rendy. Tar dia kegeeran, kita kena amukan bininya. Ish, Kakakku itu orangnya cemburuan parah!"
"Hahaha...! iya juga!"
Maura merengkuh bahu Berliana. Mereka tertawa bersama.
Ditempat lain,
"Hatchiii! Hatchiii! Hatchiii!"
Rendy bersin sampai tiga kali. Ia mengucek-ucek hidungnya yang gatal.
Sembari kembali ke basemen posko khusus driver menunggu panggilan kerja dari atasannya.
...............
"Dan! Saya mau menikah. Apakah harus buat laporan kesehatan juga foto pranikah untuk berkas tambahan?"
__ADS_1
"Karena kamu adalah salah satu intel rahasia kami, sebaiknya menikahlah sesuai prosedur biasa saja. Setelah itu, kamu bisa bawa dokumen foto kopi buku nikah, akta nikah dari KUA setempat ke kantor. Secara otomatis keluarga inti kalian sudah terdaftar di kantor pusat Badan Intelijen Negara."
Kuncoro mengangguk hormat kepada komandannya.
Dia tercatat sebagai anggota rahasia BIN dan seperti halnya bekerja, Ia wajib lapor, absensi juga mengerjakan tugas layaknya pekerja sesuai dengan tugas yang saat ini Komandannya berikan.
Kini Kuncoro sedang berperan sebagai pedagang mainan anak keliling di wilayah selatan Ibukota. Namun tugas utamanya adalah mengintai warga yang kabarnya membuka jual beli obat terlarang berkedok usaha rental kayu.
Ini adalah hari kedua dirinya bertugas di titik pengintaian.
Treeet treeet treeet...
...Matahari 1 is calling...
"Anna? Hm..." gumamnya pelan.
"Hallo, iya, assalamualaikum!"
...[Bang! Nanti jam tujuh kita ke rumah Kak Virly. Diundang makan malam, kata suaminya!]...
"Oh iya, iya. Jam tujuh malam ya? Yo wes, tak kandani ya? Wis ya, Mas lagi ngider dulu ini! Assalamualaikum!"
Klik.
Kuncoro segera menutup panggilan ponselnya. Nyaris tak pernah ada seseorang yang menelpon kecuali dalam hal darurat, yaitu sang Papa kandungnya.
Gunawan sudah mengetahui pekerjaan putranya dari Kuncoro sendiri.
Sedangkan Angkasawan, Papa angkatnya sendiri sampai saat ini tidak mengetahui sepak terjang pekerjaan Kuncoro. Kuncoro memiliki ponsel lain ketika berhubungan dengan anggota dewan yang terhormat itu.
Sementara Berliana yang terkejut mendengar suara Kuncoro yang sangat berbeda logatnya dari biasa termangu selepas panggilan teleponnya dimatikan Kuncoro.
Suara jawaban Kuncoro di hape tadi terus terngiang-ngiang.
Logatnya yang mirip orang suku Jawa Tengah itu membuat Berliana bingung sendiri.
"Hei, kenapa?" tegur Maura pada Berliana ketika jam istirahat tiba dan Ia menyambangi tempat kerja sahabatnya itu.
Berliana menggeleng.
"Heran deh, Upin dan Ipin ini selalu berdua. Ck. Kayaknya, kalo se-jam ga ketemu bisa bikin hidup ga karuan ya?" sindir seseorang dari jarak yang tak terlalu jauh.
Wulan, kepala bagian wardrobe itu bersilang tangan di atas dada dan tersenyum sinis kepada dua karyawan kontrak yang dianggapnya tengil itu.
Maura ikutan tertawa kecil.
"Hei kamu! Kenapa ketawain Aku? Ngerasa lucu ya?"
Berliana membelalakkan mata.
Hello, Mbak! Maumu apa?
"Sini kalian berdua! Daripada cengar-cengir ga jelas, mendingan kalian ikut Aku bawain capstok pakaian ke lantai tujuh ruang syuting iklan perkantoran! Nih nih!"
"Tapi kami mau makan siang, Kak Wulan! Ini jam istirahat juga!" jawab Berliana dengan cepat.
"Siapa kamu? Berani banget ngebantah perintahku?! Mau kulaporin ke Miss Anita? Mau ya kena marah dan diputus kontrak sepihak alias di pecat secara tidak hormat!?"
Maura mendongak.
"Apa perusahaan ini sekejam itu?" tanya Maura sedikit kesal.
__ADS_1
"Kalian siapa? Petinggi perusahaan? Baru jadi karyawan kontrak selama dua bulan aja songong banget gayamu! Ayo, bawa nih!"
Berliana dan Maura saling berpandangan.
"Ck. Ada juga ya sesama karyawan tapi gayanya kayak manager personalia aja!" sindir Maura membuat Berliana tersenyum kecut.
"Apa kamu bilang? Berani ngedumel? Hahh?!?"
"Maaf Kak Wulan yang cantik jelita, karyawan rajin dan baik hati!" balas Maura dengan wajah tertunduk sengaja pura-pura takut.
Beberapa karyawan yang ada di divisi produksi terdiam menatap Maura. Mereka sudah mengetahui siapa Maura yang sebenarnya. Bahkan salah satu karyawan senior hendak menegur Wulan tapi ditahan Maura dengan kode jari telunjuk di atas bibir. Maura meminta Mas Gibran untuk silent.
Berliana dan Maura berjalan di belakang Wulan dengan mendorong stand hanger yang dipenuhi pakaian syuting untuk artis iklan di lantai tujuh khusus ruangan produksi.
Maura dan Berliana sendiri bekerja di divisi produksi bagian desain grafis. Menurut Wulan setingkat lebih rendah dari dirinya yang seorang kepala wardrobe yang tugasnya mengurus kostum dan aksesoris perlengkapan yang akan digunakan aktor juga aktris syuting iklan.
"Mau kemana kalian?"
Tiba-tiba mereka bertiga berpapasan dengan Delon, asisten pribadinya Pak Gunawan, CEO Matta Network.
"Ini, Mas. Mau bawa wardrobe ke lantai tujuh!" jawab Wulan dengan entengnya. Dia menunjuk ke arah Maura dan Berliana sambil berkata, "Ayo cepetan bawa ke atas! Jangan carmuk di depan pacar Aku ya?!"
"Dih? Pacar? Mas Delon?" Tentu saja Maura spontanitas melontarkan kalimat ledekan.
"Hei, anak ini kan kerjaannya bukan ngurusin wardrobe?!?" tegur Delon meradang.
"Ga papa, Mas. Biarin mereka Aku gojlog dulu! Biar kerjanya ga males-malesan!" imbuh Wulan merasa sok berkuasa.
"Tapi ini jam kerja, lho Lan! Semua orang istirahat dan makan siang!"
"Alah, dari tadi kerjaan dua anak ini cekikikan ga jelas! Berarti tenaganya masih full. Ga perlu makan siang! Usia muda masih sangat kuat tanpa harus makan siang! Mas Delon mau ngajak Aku makan siang? Ayo, yok kita maksi. Hehehe..."
"Ehh? Kamu tau gak siapa ini? Maura ini kamu tau siapa dia?" tanya Delon dengan wajah memerah serius.
Wulan tertawa cengengesan.
"Kenapa? Gebetan mas Delon ya? Yang mana? Ini atau yang ini? Ck, cewek model-model begini mah cuma mau PHP in doang! Udah fix, sama Saya aja. Kita seumuran koq!"
"Wulan! Kamu mau tau, Maura ini siapa?"
"Siapa emang? Yang pasti anak emak bapaknya. Bukan anak CEO Matta Network."
"Kata siapa, bukan? Maura memang anak Boss Matta Network! Anaknya Pak Gunawan!"
"Hahh???"
Melotot kedua bola mata Wulan. Terkejut Ia sejadi-jadinya. Tapi beberapa detik kemudian tertawa ngakak.
"Mas, becanda beneran bikin jantung fitness nih! Udah ah, ga lucu!"
"Ya emang kamu itu ga lucu! Maura anaknya Pak Gunawan, CEO Matta Network! Udah faham sekarang?"
"Hah???"
"Ayo, Maura, Berliana! Tinggalkan saja karyawan yang sok berkuasa di atas segalanya ini!"
Berliana tersipu. Maura mengangguk sambil berjalan menggenggam tangan Berliana.
"Ayo, Aku juga udah lapar banget ini!" katanya tanpa basa-basi lagi kepada Wulan yang terperangah sendirian.
BERSAMBUNG
__ADS_1