(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 79 - Menjelang Hari Bahagia


__ADS_3

"Jujur, Anna khawatir sama kondisinya Maura!"


"Iya, Ann. Abang pun sama."


"Kita bahagia, mana mungkin membiarkan Maura menderita. Tapi Maura beneran gak mau ikut kita pergi nanti ke pulau Bali. Gimana dong, Bang?"


"Sebenarnya Abang ada rencana, Ann! Tapi agak cemas juga kalau nantinya Maura justru berfikir buruk tentang kita semua."


"Apa itu? Rencana apa, Bang?"


"Abang punya teman, dia biasa disewa untuk menjaga orang penting. Namanya Radit."


"Maksudnya Abang?"


"Aku ingin minta tolong dia buat jaga Maura 30x24 jam. Sampai kondisi mental dan psikis Maura kembali normal. Maura harus dijauhkan dari kesedihan. Dia tidak boleh berfikir untuk mengakhiri hidup dan menganggap dirinya adalah beban keluarga. Aku dan Papa ingin kita terus bersama, bersyukur dengan setiap keadaan."


Berliana menunduk.


Teringat akan ucapan Maura kemarin malam.


"Aku ini apalah. Hanya gadis yang sekedar lewat hidup di dunia. Eksistensiku juga tidak terlalu dibutuhkan dunia. Termasuk Papa, Abang dan mungkin juga kamu, Ber!"


"Ish, siapa bilang? Kamu itu adalah titisan malaikat kesayanganku, Maura! Tanpa kamu, Aku ga akan seperti sekarang ini. Bahagia. Bertemu jodoh yang InshaAllah akan satu untuk selamanya. Kamu tau, hidupku jauh lebih miris dari kamu. Orang tuaku, ga jelas siapa dan dimana rimbanya. Cinta? Sempat limbung dan hilang arah hidup bertahun-tahun di negeri orang tanpa cinta. Keluarga? Sejak kecil aku sudah menyadari kalau Aku ini bukanlah bagian dari mereka. Hhh..."


"Aku... umur dua belas tahun ditinggalkan Mama yang berpulang ke Rahmatullah. Papa nikah lagi, tapi ternyata Mama tiriku hanya inginkan Papa dan hartanya saja. Tidak menginginkan Aku sampai Aku hampir dijual ke mucikari pada saat itu. Hhh... Hidup pun percuma. Tidak ada artinya juga fungsinya tinggal di dunia ini. Yang buat Aku lega, Papa, Abang Coco dan kamu. Kalian tetap bersama ya, walaupun tanpa Aku?!"


"Maura?!? Ngomong apaan sih? Ga baik ngomong kayak gitu. Please, ini hanya sedikit kesedihan yang harus kamu lalui. Ayo, semangat. Diluar sana banyak cinta yang tulus untukmu. Jangan karena bajingan itu membuat kamu jadi hilang akal seperti ini, Ra! Ingat. Kamu gak sendirian. Ada kami disini yang akan selalu bersamamu. Menjagamu seperti halnya kamu juga menjagaku.. Ada Papa Gunawan, Abang Coco, bahkan Kak Virly, Mama Hilda, mereka sangat menyukaimu yang manis bagaikan gulali warna-warni."


"Hehehe... iya juga ya."


"Aku ga mau kamu menyerah kalah. Ingat, kita punya misi melihat si Kapir itu sampai hidupnya hancur berantakan. Ingat ga, kita sumpahin dia jadi kurus kering kerempeng kayak papan penggilesan karena batin menikah dengan perempuan model boneka mainan itu!?"


"Hehehe... iya."


"Ra!"


"Ya?"


"Kamu sayang Aku ga?" tanya Berliana kala itu.


"Tentu saja!" jawab Maura dengan wajah serius.


"Kamu janji, ga akan melakukan hal yang gegabah kan?"


"Ya ampun... hehehe, selagi ada kamu mana bisa Aku berbuat hal yang gegabah! Tenang aja, Ber! Hehehe... Oiya, terima kasih ya, video viral kamu di Tiktok bikin Aku bisa tertawa ngakak lho, Ber! Kerennya kamu!"


"Hah? Video viral? Di Tiktok? Video apa?"


"Ya ampun, Berlin! Masa' kamu gak tau kalo kamu itu lagi viral? Ga punya akun Tiktok?"

__ADS_1


"Enggak!"


"Yassalam. Hari gini? Anak gaul macam kita gak punya akun Tiktok? Hadeuh..."


"Beneran. Hahaha, norak banget ya Aku! Abisnya, Aku malas nonton hal yang gak guna!"


"Pantas saja kamu itu gaptek dan kudep! Ternyata! Sini hape kamu. Biar kudownload aplikasinya!"


Berliana yang sedang melamun terperanjat ketika tiba-tiba Kuncoro mendekatkan wajahnya ke wajah dia.


"A_abang?"


"Melamun itu memang mengasyikkan ya?"


"Hehehe..."


Berliana tersipu malu.


Matanya mengerjap indah ketika Kuncoro menggenggam jemarinya lembut.


"Terima kasih ya, sudah jadi sahabat yang baik bagi Maura!" kata Kuncoro membuat Berliana tertawa.


"Anna itu sahabatan sama Maura jauh sebelum kenal Abang!" selanya dan Kuncoro memicingkan mata agak bingung.


"Bukannya kita lebih dulu kenal sebelum kamu ketemu Maura?"


"Tapi dulu kan kita ga sedekat ini. Dulu Abang calon Kakak iparku!"


Ia tak berani melanjutkan omongannya yang bisa saja membuat sedih Berliana jika mengingat percintaannya dahulu dengan Virly.


"Ehh Abang, jadi nanti siapa itu nama temen Abang yang bakalan jadi bodyguard Maura? Apa akan tinggal di rumah Papa juga?"


"Radit? Iya lah! Kan dia yang akan jaga Maura selama kita pergi bulan madu."


"Wahh!"


"Tapi tidurnya ga sekamar ya? Nih pikiranmu jangan melantur kemana-mana!"


"Ish Abang tuh justru yang melantur. Anna ga mikir ke situ koq! Hihihi... Ayoo, mikirin apa tuh!?"


Kuncoro tertawa menyeringai.


Mereka bercanda melepas rindu yang lumayan besar karena hampir seminggu tidak bertemu.


Kuncoro sebenarnya sempat terbang ke Jogjakarta dan mengunjungi kediaman keluarga Sapto untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Rihanna. Tetapi karena banyak tamu dan Ia juga ada urusan penting di kesatuan, membuat Kuncoro tidak bertemu muka dengan calon istrinya itu di sana.


..............


Hari berganti hari. Jam, menit dan detik pun berdetak kian mendekat.

__ADS_1


Akhirnya Maura mau juga pindah ke rumah Gunawan karena Berliana juga pindah dari kost-annya.


Berliana dijemput Virly dan Rendy pindahan dengan mobil mereka yang sudah selesai diperbaiki di bengkel.


Maura juga dijemput Gunawan dan Kuncoro disaat yang sama.


Tetapi ada satu orang pria yang tidak Maura kenal tiba-tiba duduk dibelakang kemudi mobil Alphard Gunawan.


Seorang pria yang seumuran dengan Kakaknya. Tapi berperawakan tinggi tegap dan atletis dan tampan pula.


"Ra, kenalin. Ini Radit, eit... bukan Raditya Dika ya!? Temen Abang. Dia juga akan tinggal di rumah Papa. Dan jadi bagian keluarga kita untuk beberapa saat."


Radit menyatukan kedua belah tangannya sambil tersenyum manis.



"Saya Radit, temennya Coco. Salam kenal. Salam kenal juga semuanya!"


Satu persatu dari mereka bergantian menyalami Radit.


Virly tersenyum menggoda, tapi segera di pelototi Rendy yang diam-diam memperhatikan istrinya.


"Idiih, Aku ga segenit itu, Mas!" bisik Virly gemas pada sang suami. Ia hanya ingin menggoda Radit untuk Maura.


"Jangan kegatelan deh! Biarin Maura yang bergerak! Kamu ini udah punya Aku dan Leo, ingat kita berdua Yang!"


Berliana yang berdiri tepat di samping Virly ikutan tertawa melihat interaksi lucu pasutri muda yang kocak itu.


"Kalian sudah siap untuk berangkat?" tanya Gunawan setelah melihat keluarga kecil Rendy sudah siap di pinggir mobil kijang Innova mereka.


"Iya, Pak. Kami pamit jalan duluan."


"Iya, Rendy. Kita juga akan keluar sekarang juga! Sampai ketemu nanti di gedung Sanggabuana ya?!"


"Hehehe... iya. Lima hari lagi nih, Bang Coco bobok celengan! Kita juga ikut nervous!"


"Hahaha... dasar kamu, Ren!" timpal Gunawan


"Coco ga punya celengan, punyanya kendi air! Hahaha..." Tambah Kuncoro membuat semua tertawa.


Virly mencubit pinggang Rendy yang langsung terpekik kaget sekaligus sakit.


"Ish, emangnya apaan bobok celengan?!" gerutu Virly yang malu mendengar gurauan suaminya yang norak itu.


"Jangan khawatir Kak Virly, Saya ini orang yang suka becanda juga. Sama kayak Rendy. Hidup itu memang harus banyak guyon. Biar tetap awet muda dan cantik kayak Kak Virly. Betul apa betul?" goda Kuncoro yang disambut gelak tawa semua.


Ini pertama kalinya Kuncoro mencandai Virly lagi. Bahkan sampai memanggilnya dengan sebutan Kak Virly.


Virly tertawa senang. Semua kekhawatiran di hatinya perlahan sirna. Kekeluargaan yang kental diantara mereka mulai terasa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2