(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 80 - Maura Dan Sang Bodyguard


__ADS_3

Sumpah ku mencintaimu, sungguh kugila karenamu


Sumpah mati hatiku untukmu, tak ada yang lain


Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu


Sumpah mati Aku cinta


Lirik lagu yang sempurna. Mengalun lembut dilantunkan seorang penyanyi yang berdiri dipanggung hiburan tak jauh dari pelaminan.


Sepasang pengantin berwajah indah mempesona. Raja dan Ratu Sehari yang jadi pusat perhatian para hadirin tamu undangan.


Semua terpukau dengan keindahan Kuncoro dan Berliana yang bak manekin bergerak. Tampan dan cantik.


Ijab kabul pukul delapan pagi tadi telah menjadi waktu bersejarah dalam hidup Kuncoro Berliana. Sampai akhir hayat pasti akan dikenang dan selalu diingat tanggal memorial itu oleh mereka berdua.


Semua senang, semua bahagia.


Begitu pun dengan Maura.


Walau wajahnya terlihat sedikit suram ketika mengingat cintanya yang kandas dikhianati sangat kejam oleh Xavier, tetapi Maura masih bisa sunggingkan senyuman demi untuk kebahagiaan Coco dan Berliana.


Maura lebih memilih berbaur dengan para tamu. Ia sedikit menghindar dari gerombolan sahabat juga kerabat yang pastinya akan menanyakan keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja.


Mau malas bercerita panjang lebar. Apalagi kepada orang yang hanya sepintas saja mengenalnya meskipun itu adalah teman dekat Papanya sendiri.


Maura hanya mengambil tempat duduk di pojokan. Tidak ingin duduk di atas pelaminan mendampingi Papa Gunawan mengapit kedua pasangan mempelai.


Yang penting matanya selalu bisa menatap senyuman manis ketiga orang yang paling dikasihi itu.


"Semoga kebahagiaan selalu menjadi bagian dari hidup kalian berdua!" gumamnya pelan pada diri sendiri dengan mata menatap panggung pelaminan.


"Aamiin..."


Sontak Maura menoleh.


Ternyata Radit berdiri tegak disampingnya.


Maura bingung. Sudah beberapa hari tinggal bersama mereka di kediaman Gunawan selalu mengekornya bagaikan bebek.


Alih-alih mengaku sebagai teman kakaknya yang butuh tempat tinggal karena tidak punya pekerjaan, tetapi kenapa kenyataannya selalu berada disekitaran Maura. Tentu saja gadis yang baru patah hati itu menjadi risih.


"Kamu?"


"Hai! Maura mau makan apa? Biar Radit ambilkan!"


Maura memicingkan mata.


Radit, seperti seorang kacung yang mencoba meraih hatinya.


"Kamu..., apa harus sampe segitunya ya merapat Aku biar bisa dapet kerjaan dari Papa dan juga Bang Coco?"


Maura mulai emosi.


Radit tampan. Bahkan kalau dia bandingkan dengan Xavier Hernandez, Radit jauh lebih gagah.


Tubuhnya tinggi tegap. Wajahnya manis, idaman semua wanita sepertinya. Apalagi prilakunya juga tak banyak tingkah.


Tetapi satu hal yang membuat Maura jengah. Radit seolah sedang menjadi bayangannya. Mengekor Maura kemanapun gadis itu pergi. Bahkan sampai ke toilet pun Ia selalu diikuti Radit walau dalam jarak yang sedikit jauh.

__ADS_1


"Hei! Kamu ini...!"


Habis kesabaran Maura.


Bahkan ketika dirinya pergi ke toilet yang ada dibelakang gedung Sanggabuana yang menjadi tempat acara pernikahan Kuncoro Berliana pun Radit seperti mengikuti langkahnya.


"Bang Radit mau ke toilet perempuan juga? Ayo!" tantang Maura membuat Radit sedikit menjauh dan pura-pura mencari kesibukan sendiri.


"Hhh... Dasar ya!? Ganteng-ganteng Mes+m! Kenapa sih, Papa sama Bang Coco mau-maunya terima cowok itu tinggal bareng juga?! Biar pun wajahnya lumayan, tapi tingkahnya bikin ilfil deh!"


Maura menggerutu di dalam kamar mandi di gedung Sanggabuana.


Sengaja dia berlama-lama disana.


Walau hanya sekedar buang air kecil, tapi Maura bisa mengaca dan merapikan rambut serta riasan wajahnya yang malas dibuat secantik mungkin.


Gara-gara Xavier, niatan awalnya untuk all out di acara besar sahabat serta kakak kandungnya jadi batal.


Maura bahkan kini bagaikan mayat hidup yang mati segan hidup pun tak mau.


Kalau saja bukan karena Maura yang mendandani wajahnya, Maura malas untuk make up dan berpakaian rapi seperti sekarang ini.


Ia bahkan mengatakan hanya akan mendampingi Berliana sampai ijab kabul selesai. Setelah itu, Ia ingin langsung pulang. Tak ingin berlama-lama di tempat pesta pernikahan.


Virly sudah bersusah-susah mengajak Maura agar ikut andil di hari besar Berliana. Tetapi gagal. Usahanya merayu Maura sia-sia.


Hilda juga. Mencoba memberikan sedikit nasehat agar Maura kembali bersemangat seperti dirinya yang dikenal semua orang tempo lalu.


Namun Maura tidak bisa. Maura belum bisa melupakan kesedihannya.


"Maura tunggu!"


Radit merangsek ikut masuk ke dalam mobil yang Maura tap di grapcar.


Radit tersenyum.


"Jalan, Pak!" kata Radit membuat Maura berdecak kesal.


"Kamu ini, kayak hewan piaraan ya ngekorin Aku terus!"


"Aku kan emang di bayar Coconut buat jagain kamu!"


"Ehh? Coconut? Emangnya Abang gue kelapa? Hish..."


Radit tertawa kecil.


Maura mendengus kesal.


Seketika kepalanya mulai berfikir, dan...


"Dibayar Abang buat jagain gue? Hahh? Ga salah nih pendengaran gue?" tanyanya memastikan.


Radit mengangguk.


"Anggap aja, Aku ini bodyguard Maura."


"Hahh? Bodyguard? Elo!? Jadi bodyguard gue?"


Radit mengangguk lagi.

__ADS_1


"Oke. Berarti Lo harus ikutin juga kata gue, gitu?"


"Saya dibayar oleh Coco bukan oleh Maura."


Jawaban yang membuat Maura kembali kesal.


"Ck ck ck...! Lo robot ya? Atau..., emang aslinya cowok bayaran? Atau..., gig+lo?"


"Saya sudah terikat kontrak untuk menjaga Nona Maura. Walau dimata Maura saya terlihat hina. Tapi untuk satu bulan ke depan, Anda adalah Tuan yang harus saya jaga dan lindungi!"


Mata mereka saling beradu pandang.


Kilatan cahaya seolah memberikan gambaran kalau keduanya adalah pribadi yang keras kepala.


"Gue gak butuh bodyguard, kecuali Lo mau ikutin perkataan gue juga!"


"Apa? Maura ingin saya berbuat apa?"


"Ikutin gue! Pak putar arah bisa? Tenang, bayarannya bakalan,"


"Lokasi sudah ditentukan, Mbak! Tujuan harus sesuai yang dipesan di aplikasi!"


Ternyata tidak enak memakai aplikasi ojek mobil online. Semua harus sesuai prosedur.


"Kita pulang dulu. Nanti pakai motor saya ketempat yang Nona Maura mau."


Maura mengangguk. Hatinya jauh lebih baik sehingga kini dia diam saja tanpa debat.


Setibanya di rumah Gunawan, Radit mengambil kunci motor gedenya di kamar.


"Nona jangan kemana-mana, saya ambil kunci motor dulu!" pesannya dengan nada suara yang baku.


"Gue juga mau ke kamar. Ganti baju dulu!" timpalnya menyahut.


"Oke. Lima menit kalau Maura belum keluar kamar, jangan salahkan Radit bongkar paksa pintu kamar Maura ya?"


"Aih? Bar-bar banget sih Lo? Lo pikir gue bisa sat set sat set ganti baju dalam waktu lima menit? Hadeuh!"


Radit tertawa. Sedangkan Maura merengut.


Treeet treeet treeet...


"Hallo!"


...[Maura? Kamu dimana?]...


"Aku pulang, Ber! Nih si body guard juga ikutan ngekor! Nyebelin banget sih! Hei, sudah sana nikmati pesta pernikahan kalian! Jangan khawatirkan Aku! Bang Coco ternyata udah nyewa bodyguard buatku. Ish, nyebelin!"


Klik.


Maura mematikan sambungan teleponnya dengan Berliana.


Ia kembali ke kamar, melanjutkan tujuannya berganti pakaian.


Tepat lima menit, Radit mengetuk pintu kamar Maura.


"Nona Maura!"


"Sebentaaar!" teriak Maura dari dalam kamar.

__ADS_1


Ck rese' banget sih ni cowok! Ngeselin parah! Dasar deh Bang Coco! Bisa-bisanya Aku ditempelin sama tentara jadi-jadian model begitu! Sok disiplin! Otoriter banget lagi! Maki batin Maura kesal


BERSAMBUNG


__ADS_2