
"Pak Gunawan, bisa kah kita berbicara empat mata?"
Berliana tentu saja kaget ketika Papanya mengatakan satu hal setelah beberapa menit mereka berempat bertemu dan mengobrol basa-basi.
"Tentu!"
"Anna, Maura, mohon maaf, kami ingin bercengkrama lebih serius dulu. Sebaiknya kalian pergilah ke toko buku Gramedia yang ada di sebrang sana. Siapa tau ada buku atau novel yang bisa kalian beli di situ!"
"Papa ngusir kami nih? Apa kalian tidak akan bicara yang buruk tentang Anna? Atau jangan-jangan papa ngajak berantem Pak Gunawan?"
"Hehehe, tenang saja Anna! Papa ini sudah tua, tentu saja kalah jauh dibandingkan Pak Gunawan!"
"Mas panggil saja saya Gunawan. Kita bisa lebih akrab jadinya sehingga Berliana tidak perlu cemaskan percakapan kita!"
"Boleh, kalau begitu! Hehehe..."
Sapto padahal tidak kuat berbohong lebih lama. Tapi demi menenangkan perasaan Berliana yang khawatir kalau Ia akan berbuat jahat pada Gunawan, Sapto harus bersandiwara.
Berliana tersenyum. Maura juga tampak santai melihat Papa serta calon mertua Papanya itu terlihat akrab.
"Yuk, Ber!" ajaknya lebih dahulu agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa.
Cukup lama Sapto mencoba meredam rasa yang membuncah di dalam dadanya.
Setelah dirasa cukup aman dan Berliana serta Maura sudah terlihat jauh, Sapto mempersiapkan diri juga mentalnya untuk ajukan banyak pertanyaan.
"Gunawan! Apa kamu bisa ceritakan padaku tentang hubunganmu dengan Hilda?"
Gunawan terkesiap.
Ia kaget, Sapto mengetahui lebih cepat dari perkiraannya.
"Tentang... Hilda?"
"Ya. Hilda. Bukan Berliana! Aku sudah tahu kalau kalian dulu pernah punya hubungan!"
"Hilda yang ceritakan semuanya?"
"Hilda belum pernah cerita padaku tentang seorang bayi laki-laki yang Ia lahirkan dari hubungan terl+rang kalian!".
Wajah Gunawan pucat pasi.
Bibirnya bergetar menahan emosi.
"Jadi dia juga membohongimu, Mas?"
"Dia tidak berbohong. Hanya tidak berani jujur mengatakan semua kebenarannya! Tetapi dia sempat hilang kewarasannya setelah diperk+sa dan hamil sampai melahirkan oleh kekasih yang pergi tinggalkan dia! Aku yang merawatnya hampir satu tahun lamanya hingga Hilda sembuh dan normal kembali!"
Gunawan menatap wajah Sapto.
"Mas percaya cerita itu?"
"Aku ingin kau berkata yang sejujurnya. Jangan bohong apalagi menipuku!"
__ADS_1
"Pasti Ibu Rihanna yang sudah memberikan keterangan palsu itu bukan? Apakah Hilda juga bilang begitu?"
"Hilda bungkam! Hilda tak pernah mengatakan apapun padaku soal jati dirinya dimasa lalu. Seperti ingin melupakan sampai tak secuil informasi yang bisa kudapat darinya tentang kisah sedih yang membuatnya harus dirawat di RSJ."
Gunawan lagi-lagi termangu.
"Kejamnya Ibu Rihanna!" gumamnya pelan membuat Sapto hanya menatap mata Gunawan, seolah mencari kebenaran yang sangat ingin ia temukan disana.
"Mau saya ceritakan kebenarannya?"
Rupanya Gunawan bisa membaca jalan fikiran Sapto, suami dari kekasih masa lalunya itu.
Sapto mengangguk.
"Kami dulu adalah sepasang kekasih. Pacaran diam-diam di usia muda, hingga bablas melewati batas. Hingga Hilda hamil karena perbuatanku padanya."
Sapto menelan salivanya.
"Untuk mendapatkan restu, kami berdua mengakui kesalahan yang telah kami perbuat. Dan kami siap mempertanggung jawabkan perbuatan kami yang buruk. Kami minta dinikahkan oleh Ibu Rihanna."
Sapto tak berkedip menatap mata Gunawan. Sepertinya Ia sedang mencoba mencari tahu, apakah Gunawan berbohong atau tidak.
"Tetapi ternyata ibu Rihanna justru menyuruh kami putuskan hubungan. Hilda disuruh menggugurkan kandungannya karena tidak ingin sampai mengandung dan melahirkan. Usianya kala itu masih 19 tahun dan saya 18 tahun."
Gunawan menarik nafas dahulu.
"Tapi takdir berkata lain. Putra kami berhasil lahir walaupun Hilda hidup dalam kurungan dan nyaris selalu diberikan minuman pengg+gur kandungan."
Sapto semakin tekun mendengar Gunawan bercerita.
"Jadi Hilda sama sekali tidak bersalah?"
"Sebenarnya Hilda juga korban. Saya tidak membencinya apalagi menyalahkan semua nasib buruk ini kepadanya. Selama beberapa tahun saya berusaha mencari keberadaannya yang hilang tanpa kabar hingga akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, Hilda telah menikah dengan Anda dan sedang hamil besar di sebuah supermarket 31 tahun silam."
Sapto kembali menerawang saat-saat bahagianya diawal menikah dengan Hilda.
Ia menghela nafas. Mengingat betapa dirinya begitu menyayangi dan mencintai istrinya itu.
"Apakah sekarang Anda sedang ingin membalas dendam?" tanya Sapto to the point.
"Tidak."
Keduanya saling bertatapan.
"Saya tidak tahu kalau Mamanya Berliana adalah Hilda! Saya pun sejujurnya sangat kaget melihat situasi yang rumit ini!"
"Benarkah? Anda benar-benar tidak tahu dan tidak sedang menyelidiki Hilda?"
"Sudah 33 tahun berlalu. Saya juga sudah melupakan Hilda dan sadar sekali kalau memang kami tidak berjodoh. Saya putuskan untuk lepaskan dia agar senantiasa bahagia bersama pasangan barunya. Saya juga mulai menata hidup baru dan menikah dengan gadis cantik bernama Chintya. Dia-lah Mamanya Maura."
Sapto mulai menghela nafas lega.
"Kenapa bisa Anda dan Putri Anda sampai ingin meminang Berliana, putri saya?"
__ADS_1
"Panjang ceritanya."
Sapto meluruskan duduknya. Ia telah siap untuk mendengarkan cerita Gunawan soal keinginannya menikahi Berliana.
Semuanya Gunawan ceritakan dari awal. Dari kepergian istri tercintanya dan sempat pula menikah lagi walau hanya seumur jagung ketika Maura masih duduk di bangku SMP.
Gunawan menceritakan kalau ini adalah keinginan Maura yang sangat menyayangi Berliana sebagai sahabat. Juga yang punya khayalan tinggi bisa memiliki Ibu Tiri yang seumuran dengannya.
Kejadian perihal kecemburuan Virly yang suaminya dahulu adalah pacar pertama Berliana pun tak luput Gunawan ceritakan.
Virly semakin cemburu karena Rendy menyelamatkan Berliana di malam naas kejadian buruk yang nyaris menimpa Berliana.
Gunawan menceritakan semuanya tanpa terlewatkan. Ia sangat bersimpati pada Berliana dan ingin menjadi pasangan dari putri angkat Sapto dan Hilda. Benar-benar punya niat tulus selain juga karena dorongan sang putri.
Sapto menundukkan kepala.
Ia mengatur dulu pernafasannya untuk mulai bercerita kalau Berliana adalah anak yang ia dan Hilda adopsi dari panti asuhan.
Tiga tahun setelah Virly lahir, Hilda seringkali mengajak Sapto keliling yayasan panti asuhan mencari anak yang lahir beda umur dua tahun lebih tua dari Virly.
Sapto fikir, Hilda tidak ingin memiliki anak lagi dan ingin punya anak angkat.
Sapto yang terlalu mencintai Hilda hanya pasrah menuruti kehendak sang istri.
Tetapi anehnya dia mencari seorang anak laki-laki dengan spesifikasi umur diatas Virly dua tahun.
Kini Sapto faham, mengapa dulu Hilda seperti itu.
Rupanya sang istri sedang mencari keberadaan putra pertamanya yang dibuang ibunya ke panti asuhan.
Sapto turut prihatin atas semua yang terjadi di antara Hilda dan Gunawan.
"Lantas bagaimana selanjutnya?" tanya Sapto ingin tahu seberapa besar tekad Gunawan mempersunting Berliana.
"Saya tetap lanjutkan dan tak ada niatan sekalipun untuk mundur. Terlebih setelah tahu kalau Berliana bukan darah daging kalian. Atau..., kalau Berliana ingin mengenal lebih dahulu dengan putra saya, kenapa tidak. Kuncoro juga belum menikah. Dan Kuncoro tidak punya hubungan darah dengan Berliana."
Sapto tertegun lumayan bingung.
Gunawan terlalu kuat untuk dipatahkan niatannya.
"Boleh saya bertemu dengan putra dari istri saya?"
"Tentu saja. Saya akan kembali ke kota ini setelah mengetahui jadwal pekerjaan putra saya yang super sibuk itu."
"Apa pekerjaannya sekarang?"
"Pengusaha batu bara dan juga bisnis kapal tongkang di Mataram."
"Anak muda yang keren."
"Tidak seperti Bapaknya yang dulu miskin, pekerja rendahan, yatim piatu hingga Ibu Rihanna sangat benci Saya saat muda dulu."
"Hhh..."
__ADS_1
Hanya helaan nafas panjang yang Sapto keluarkan dari lubang hidungnya.
BERSAMBUNG