
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam..."
Rendy langsung memeluk tubuh Virly hingga Leo yang ada disekitarnya menangis cemburu karena tingkah Sang Papa.
Suasana rumah minimalis Virly menjadi ramai seketika oleh teriakan dan tangisan Leonardo Saputra, putra satu-satunya di keluarga kecil itu.
Sontak Virly langsung meraih tubuh Leo dan mengangkatnya ke pangkuan.
"Ututuuu..., hehehe...! Cup cup cup, Sayang! Papa nakal ya! Kita cubit yuk pinggangnya Papa!" hibur Virly pada putranya itu seraya mengejar Rendy yang seolah berlari menghindar.
Seketika Leo yang tadinya menangis langsung tertawa riang.
Leo lupa pada kesedihannya.
"Jadi ga kita renang?" tanya Rendy dengan mata berbinar.
"Jadi dong, masa' enggak!" jawab Virly.
Rendy pun mengambil alih menggendong Leo.
Mereka akan bersiap pergi ke tempat tujuan wisata air yang tak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Holeee, belenaaang!" pekik Leo kegirangan.
Virly tersenyum cerah dan Rendy juga tertawa bahagia.
Letihnya seharian bekerja seketika hilang berganti kegembiraan.
Ternyata benar, pasangan dan buah hati adalah obat segala kepenatan jikalau disyukuri dengan penuh keikhlasan.
Mbok Darmi sudah bersiap-siap menjadi backing semua orang dalam keluarga kecil bahagia itu.
Rendy, Virly dan Leo sudah dianggap bagaikan sanak keluarga sendiri bagi Mbok Darmi. Bahkan layaknya anak sendiri karena sudah tahunan tinggal bersama mereka.
Mudik ke kampung halamannya hanya Ia lakoni setahun dua kali. Itu pun kadang hanya sebentar saja karena fikirannya selalu ingat Leo dan Virly.
Begitulah jika bekerja pakai hati.
Semua terasa nikmat walaupun banyak cobaannya.
__ADS_1
Virly sangat senang. Rona wajahnya memancarkan cahaya pesona kecantikan dari dalam hati karena kebahagiaan.
Leonardo juga tak kalah senangnya.
Keluarga kecil itu bergembira di kolam renang yang ada dipusat kota Jakarta.
Cinta yang tulus membawa kebahagiaan.
Rendy berenang menggoda Sang istri yang sebenarnya tidak begitu pandai bermain di dalam air itu.
Sesekali Ia kesulitan mengejar sang suami yang menyelam dan timbul berenang dengan berbagai gaya.
Rendy memang jagonya berenang.
Semua gaya Ia bisa. Termasuk gaya batu, begitu candaan Virly juga Berliana waktu muda dulu.
"Maas...!" teriak Virly membuat Rendy segera melesat ke arah istrinya.
Rendy menggendong tubuh Virly dan segera keluar dari kolam renang.
Virly yang terlihat malu-malu dengan wajah bersemu karena dibopong ala pengantin di arena kolam renang umum yang otomatis banyak orang berenang di sekitar.
"Malu, Mas!" bisiknya pada Rendy.
"Jangan malu, darurat koq! Lagian kita kan pasangan suami istri!"
"Ish, tetap harus jaga perilaku biarpun halal juga. Takutnya ada remaja yang ikutan gaya kita, Mas! Kita juga ikutan dosa!"
"Hehehe... Iya juga sih!"
Rendy menurunkan tubuh Virly di tempat duduk pinggir kolam.
Mbok Darmi berjalan di belakang dengan menggendong Leo hati-hati sekali.
"Ibu ga papa kan?" tanya Mbok Darmi khawatir.
__ADS_1
"Ga apa, Mbok! Ini cuma kram aja. Kurang pemanasan keknya deh!" jawab Virly ditambah anggukan kepala Rendy.
Dengan pijatan lembut Rendy di otot kaki Virly, perlahan kram kakinya berangsur-angsur hilang. Peregangan otot kaki Virly kembali normal.
"Makanya sebelum masuk air, usahakan pemanasan Yang!" timpal Rendy. Virly hanya tersenyum tipis.
Saking bersemangatnya, ia sampai lupa mengajarkan Leo untuk olahraga sebentar seperti halnya Rendy yang terbiasa memulai renang dengan pemanasan. Sebelum masuk ke dalam air, Rendy lebih dahulu berlari di tempat kemudian berjalan sampai berlari kecil keliling kolam renang dengan tangan diayun ke kiri dan kanan untuk otot pangkal lengan.
Walaupun tidak perlu sampai keluar keringat, tetapi cukup untuk menjaga otot tidak kram atau kejang yang lazimnya disebut tendinitis atau gangguan pada otot.
Akhirnya Virly duduk-duduk lesehan di pinggir kolam sambil menyuapi Leo makan.
Rendy masih asyik berenang kesana-kemari di tengah kolam.
Ada beberapa cewek-cewek muda yang tersipu-sipu melihat tubuh Rendy yang sangat atletis.
"Ganteeeeng!" pekik mereka pelan sembari kasak-kusuk melirik curi-curi pandang ke arah Rendy.
"Jangan, ish! Itu istrinya oiii! Istrinya juga cantik! Kita ini cuma remahannya doang. Hiks!" bisik-bisik mereka terdengar lucu di telinga Virly.
Virly yang tadinya cemburu perlahan mencair emosinya dan enjoy saja menyikapi tingkah para cewek diluaran sana. Ia tenang karena Rendy tidak menyikapi ocehan para perempuan yang diam-diam memujanya.
Baginya, kelakuan suaminya yang random cukup dia saja yang miliki. Jangan sampai perempuan lain tahu dalam hati Rendy kecuali dirinya saja.
"Suit suit! Cewek cantik, Mamah Muda! Sini dong, godain kita dong!"
Tuh kan, mulai kumat somplaknya!
Virly tersipu sambil menggelengkan kepala, lalu berbisik, "Mas, ciwi-ciwi tuh! Cantik semua, jangan alay malah godain Aku!"
"Maaf ya, ciwi cantiknya ada di sini! Namanya, Virly Rastanty. Dan hati ini seutuhnya sudah dicuri sampai tak bersisa!"
Huaaa..., meleleh dong! Masa' sih ga meleleh itu es krim kena hangat sinar mentari pagi yang menyehatkan!
Begitulah rumah dan tangga.
Akan selalu banyak uji dan coba pula.
Kalau sedikit itu namanya cobain. Hhh...
__ADS_1
BERSAMBUNG