(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 83 - Maura Dan Kesakithatiannya


__ADS_3

Maura makan bakso pinggir jalan dengan begitu lahap.


Mata Radit tak henti melirik gadis yang adalah Nona Majikannya yang harus terus dipantau 24 jam.


Mengurus dan menjaga seorang perempuan cantik, muda serta menjelang dewasa berumur 26 tahun adalah untuk yang pertama kalinya.


Radit biasanya mengawal para petinggi negara maupun pejabat penting di pemerintahan. Pakaiannya lengkap dengan segala atribut militernya dan senjata tajam serta pistol revolver kecil yang kedap suara yang selalu setia berada dalam satu wadah khusus dibalik jaket khusus pakaian wajib anggota militer.


Tapi itu adalah dirinya beberapa tahun yang lalu. Saat Radit masih bertugas dan tergabung dalam satuan khusus anggota pengamanan negara.


Kini Radit telah bebas dari segala urusan yang menyangkut kepentingan negara. Radit bukan lagi seorang tentara, melainkan masyarakat sipil biasa yang menyandang predikat pengangguran.


Radit dikeluarkan karena langkah yang dipilihnya dalam menjalankan tugas adalah salah besar. Komandannya marah dan dicopot dari jabatan Jenderal karena permasalahan misi rahasia yang gagal.


Sebenarnya Radit hanyalah dijadikan kambing hitam. Karena orang yang memiliki peranan besar dalam kegagalan misi rahasia negara yang sedang mereka emban itu bukan sepenuhnya kesalahan Radit.


Ini adalah strategi politik dan juga permainan politik kotor yang dilakukan seorang jenderal bintang tiga. Dan Radit adalah tumbalnya.


Radit sendiri tahu. Tetapi dia memilih untuk tidak meneruskan gugatannya karena pasti akan banyak pihak yang terusik dan keluarga besarnya pun pasti bakalan jadi taruhan.


Radit tidak inginkan itu.


Akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan semua identitas dirinya sebagai seorang tentara yang sudah berpangkat perwira letnan satu di divisi khusus pengamanan negara.


Radit menerima pasrah hukuman yang komandannya berikan meskipun nama baik dirinya serta instansi terkait kesatuannya jadi tercoreng. Semua demi keamanan bersama. Dan Radit adalah ujung tombaknya.


Komandan juga menutup kasusnya hingga tidak terdengar keluar. Dan nama Radit di dunia selain kemiliteran tidak bermasalah sehingga bisa melakukan tugas apapun sesuai keinginannya sebagai seorang warga negara republik Indonesia yang baik.


"Bang! Pulang yuk? Sakit perut!"


Radit mengangguk. Lamunannya tentang masa lalu terhenti karena Maura menepuk pangkal lengannya.


Motor gede di starter. Mesin menyala dan Maura naik ke atas jok belakangnya.


Keduanya kembali ke hotel dengan menjinjing tutebag besar yang berisi berbagai jinjingan plastik hitam pakaian baru.


Tujuan mereka adalah hotel Green Hyatt Selatan.


Maura sudah membayar cash dua malam penginapannya di kamar presidential suite hotel Green Hyatt Selatan yang ternyata kamarnya itu posisinya di seberang kamar Xavier dan Liliana.


Hotel itu tampak sepi walaupun hari ini adalah hari libur. Rupanya beberapa bulan belakangan ini hotel bintang lima itu sedikit menurun grafiknya konsumennya.


Selain memang perekonomian dunia saat ini sedang fase kurang baik bagi para pebisnis. Bahkan hampir di semua lahan usaha. Goncang semua.


Banyak pengusaha besar yang oleng. Tak sedikit pengusaha kecil yang bangkrut. Krisis ekonomi global dunia sedang dalam kondisi gawat darurat.


Maura menahan langkah Radit.

__ADS_1


Dihadapan mereka berjalan pasangan pengantin baru yang seminggu lalu ijab kabul.


Mereka adalah Xavier dan Liliana.


Jantung Maura seketika seperti mau meledak.


Ingin sekali Ia berlari menuju Xavier. Menerjangnya hingga tubuh mereka bergumul di lantai. Menjambak rambut klimisnya yang selalu basah oleh pomade. Mencakar wajah Xavier hingga kuku jarinya yang panjang lentik menancap di sana.


Fikiran yang sadis dan bar-bar.


Tetapi itu hanya ada dalam fikirannya saja.


Maura sudah lelah untuk melakukan hal yang tak berguna lagi.


Pria itu sudah bukan lagi miliknya.


Maura hanya ingin mengetahui niatan Xavier menikahi Liliana. Apakah benar janin yang sedang dikandung Liliana itu murni darah dagingnya, atau hanya sekedar sebagai Ayah di atas kertas saja. Yaitu hanya tercatat di akta kelahiran bayi Liliana nanti.


"Xavier tunggu!"


Kedua pasutri baru itu menoleh ke arah belakang.


Pucat wajah Xavier seketika.


Dia sangat terkejut melihat Maura yang berada di hotel milik orang tua istrinya dan rupanya sedang menginap di kamar hotel room Presidential Suite.


"Kamu..."


Liliana maju ke depan Xavier.


Radit segera meraih jemari Maura. Dia berusaha menjadi tameng karena lawan Maura adalah seorang perempuan hamil. Otomatis dalam hukum negara, Maura akan mendapatkan tuduhan berat pastinya jika sampai istrinya Xavier kenapa-kenapa.


Wajah Xavier langsung menoleh ke arah Radit.


Cowok tampan yang kini mengapit mantan kekasihnya itu terlihat lebih gagah darinya. Bahkan tinggi badan Radit membuat Xavier harus sedikit mendongakkan wajahnya agar bisa menatap.


"Apakah anak yang ada dalam kandungan Liliana adalah asli darah dagingmu?" tanya Maura tanpa basa-basi lagi.


Liliana menatap pongah Maura. Lalu menoleh pada Xavier.


"Jawab, Darling! Jawab yang sebenar-benarnya!"


Ucapan Liliana membuat Maura semakin panas hati.


"Diam kau perempuan murahan! Aku sedang bertanya pada pria itu!" hardik Maura masih dengan suara pelan, berusaha menahan emosi.


"Aku istrinya! Kamu siapa, berani mengatakan cacian kotor!? Oh Aku tahu, kamu adalah perempuan yang lebih kotor yang sudah dibuang oleh suamiku. Hahaha..."

__ADS_1


Panas hati Maura mendapatkan ledekan Liliana yang santai tapi menyengat itu.


Hampir saja telapak tangan kanannya melayang menghantam pipi Liliana kalau tidak dicegah Radit.


"Kamu berpihak pada siapa?!" tanya Maura kesal sekali menoleh ke arah Radit yang menahan tangannya.


Xavier maju.


"Anak ini adalah anakku, Maura! Darah dagingku sendiri yang kutanam tujuh bulan lalu di kota Singapura!"


Sontak kedua bola mata Maura membulat tajam. Butiran-butiran kecil meluncur satu persatu tak bisa Ia tahan.


"Aku memang sudah berselingkuh dari kamu. Aku, menjalin hubungan dengan Liliana hampir sepuluh bulan tanpa kamu ketahui. Aku, jatuh cinta pada Liliana. Dan Liliana kini sedang mengandung anak pertama kami. Maaf..., aku telah jadi pria yang membuatmu terluka! Maaf, Maura. Kuharap kamu bisa melupakan semua kenangan indah kita bersama dan hiduplah dengan bahagia!"


Bruk


Jatuh tubuh Maura ke atas lantai marmer hotel Green Hyatt Selatan tingkat ke dua puluh sembilan.


Xavier menuntun tangan Liliana yang tersenyum puas melihat perempuan yang dianggapnya sombong itu kini hancur tak bersisa.


Mereka melenggang meninggalkan Maura yang duduk di lantai dengan bercucuran air mata.


Radit segera mengangkat tubuh Nona Majikannya. Mencoba memberikan sentuhan yang nyaman agar Maura kembali berfikir dengan tenang.


Maura benar-benar lemas. Dia tak bisa menggerakkan kakinya untuk berdiri. Dan akhirnya Radit menggendong Maura ala pengantin.


Tutebag yang tadi disandangnya dibiarkan tergeletak di lantai dan isinya berhamburan keluar tanpa Radit dan Maura pedulikan.


Mereka masuk ke dalam kamar hotel yang disewa Maura.


Kamar yang luas dan indah. Pemandangan yang sangat mempesona dengan gedung monumen bersejarah dan bangunan-bangunan keren di sisi kanan kirinya, tak mampu membuat hati Maura senang.


Hanya diam dan air mata yang terus menerus mengalir, membuat Radit jadi serba salah harus berbuat apa.


Maura sendiri telah Ia letakkan secara perlahan dan hati-hati sekali di atas ranjang tidur yang mewah bertilamkan seprei permadani mahal berwarna putih.


"Maura..."


Gadis itu tak bergeming.


"Maura...,"


Kini Radit mendekat dan meraih bahu Maura agar tersadar dari tangisan dan lamunannya yang panjang.


"Dia itu pria yang sangat jelek. Tak pantas bersanding denganmu, perempuan cantik berhati mulia! Percayalah, Maura. Ada pria lain yang lebih baik lagi darinya yang telah Allah kirimkan untukmu. Jodoh yang terbaik!"


Perkataan Radit tak sampai masuk ke sanubari Maura. Gadis itu sedang hilang akal.

__ADS_1


Dan tiba-tiba,


BERSAMBUNG


__ADS_2