
Rendy senang, dia berada di divisi operasional lapangan yang semuanya adalah kaum Adam. Dengan begitu Ia akan bekerja lebih baik karena paling malas jika bersinggungan dengan kaum Hawa seksi istrinya. Meskipun harus panas-panasan kerja di luar kantor, tapi hati dipastikan akan santai.
Di kantor lama tempatnya bekerja, Rendy pernah ada masalah dengan karyawan wanita. Sebenarnya bukan masalah besar. Tapi masalahnya justru sangat dalam karena bersinggungan dengan perasaan.
Utami mencintai Rendy tapi tidak digubris karena memang Rendy tidak suka dan tak tertarik bermain cinta di belakang Virly meskipun Utami dengan tegas menyatakan bersedia jadi istri kedua tanpa diketahui orang lain.
Rendy tentu saja mengelak.
Ia benar-benar tidak punya keinginan menduakan istri apalagi sampai nikah lagi dengan perempuan lain.
Utami yang sakit hati dengan penolakannya membuat rencana jahat. Niatnya agar Rendy minta tolong bantuannya yang memiliki kedekatan dengan petinggi perusahaan.
Daripada Rendy batin dan tersiksa terus menerus berada dalam situasi pekerjaan yang panas, akhirnya Ia memilih untuk mundur resign.
Kini Rendy ditempatkan di bagian bawah disesuaikan dengan pendidikan terakhirnya. Awalnya Ia memilih bagian driver, tapi akhirnya Rendy kangen masa-masa kerjanya sebagai seorang karyawan multimedia yang bergerak di bidang jasa iklan. Ia bahkan sudah menduduki posisi sebagai asisten kepala departemen produksi yang tugasnya mengatur jadwal produksi seperti syuting iklan, masa tayang, juga jadwal penempatan cetak baliho iklan-iklan dan juga Billboard maupun Videotron. Itu adalah tugas kerja di perusahaan terdahulu.
Kini Ia harus memulai dari nol lagi.
Dan Rendy legowo menerimanya.
Di divisi mana tuh si Berlin? Bagus juga sih, dia ga se-lantai sama gue! Bahaya kalo bisa sampe selantai!
Rendy dan beberapa orang karyawan baru masih mendapatkan pelatihan dan sedang ditatar oleh kepada bidang operasional. Soal keselamatan diri dalam bekerja, pemakaian alat-alat safety yang wajib hukumnya dikenakan ketika sedang di luar lapangan, dan lain sebagainya.
Rendy menyimak dengan seksama sampai tiba-tiba seseorang pria mengetuk pintu ruangan dan masuk serta berbisik pelan pada sang supervisor.
"Ada yang bernama Rendy Saputra?"
Rendy mendongak.
"Saya, Pak!"
"Kamu dipanggil Pak Heru kepala personalia."
"Ada apa ya, Pak?" tanya Rendy bingung.
"Kurang tahu, Saya! Ya sudah, sebaiknya kamu cepat temui pak Heru!"
"Iya, Pak! Maaf, Saya permisi dulu!"
"Silakan!"
Rendy bergegas mengikuti langkah seorang pria yang berumur sekitar empat puluhan, mungkin. Dia mengekor untuk bisa sampai ke ruang personalia agar bisa bertemu Pak Heru.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Selamat pagi menjelang siang, Pak! Saya Rendy, tadi dapat pemberitahuan,"
"Ya. Duduk."
Rendy menelan salivanya.
Waduh?! Hari pertama kerja dapet presure apaan ini ya? Deg degan banget deh, gue jadinya!
"Hm. Kamu sebelum ini bekerja sebagai supir online?" tanya pak Heru tegas.
__ADS_1
"Betul, Pak!"
"Oke! Mulai hari ini kamu ditetapkan sebagai driver khusus untuk Pak Gunawan!"
Rendy terdiam dengan otak berfikir keras.
Driver khusus pak Gunawan?
"Itu adalah permintaan pak Gunawan sendiri."
"Maaf, Pak... Pak Gunawan itu siapa ya?" tanya Rendy pada pak Heru.
"Beliau adalah CEO Matta Network. Memangnya kamu gak tahu?"
Hah? Bapak berjas safari tadi? Ternyata...
"Kamu ikut saya ke ruangan khusus Pak Gunawan!"
"Baik, Pak Heru!"
Mereka naik ke lantai atas gedung wisma perkantoran Matta Network yang terdiri dari 20 lantai.
Rendy kini sudah duduk di ruang tamu besar kantor seorang Chief Executive Officer.
Tak lama kemudian, datang juga bapak berjas safari yang tadi pingsan di hadapan Rendy di lantai basemen wisma dengan mata menatap lekat wajah Rendy.
"Kamu yang tadi membantu saya saat pingsan?" tanyanya langsung pada inti pembicaraan.
Rendy mengangguk sekali. Gugup juga Ia melihat kharisma Pak Gunawan yang Rendy perkiraan berumur 50 tahunan.
Rendy menunduk.
"Namamu siapa, anak muda?"
"Rendy, Pak! Rendy Saputra!"
"Usiamu?"
"Dua puluh lima tahun, Pak!"
"Ternyata seumuran dengan putriku!" gumam Pak Gunawan pelan, seolah pada diri sendiri.
"Oke. Kamu tahu seluk-beluk jalanan ibukota? Kamu supir taksi online, bukan?" tanya Pak Gunawan lagi.
"Ya, Pak! Sudah dua tahun jadi supir, setidaknya cukup banyak hafal jalanan aspal ibukota."
Cetak!
Pak Gunawan menjentikkan jarinya.
"Mulai hari ini, kamu resmi menjadi supir pribadiku. Jam kerjamu, silahkan dikonfirmasi lewat aspri-ku."
Rendy terdiam dengan wajah bingung.
"Mas Rendy, mari ikuti saya ke ruangan sebelah untuk tanda tangan kontrak!"
Seorang pria sekitar lima sampai sepuluh tahun lebih tua dari Rendy mendatanginya dan mempersilakan Rendy ikut dengannya.
__ADS_1
Teken kontrak kerja dengan gaji perbulan empat juta setengah? Wow, emejing!!!
Jam kerja normal dimulai dari pukul delapan pagi hingga pukul empat sore. Tapi kadang ada jadwal tambahan kerja dan lemburan dengan komisi seratus ribu per jam? Mantaf jiwa!!!
Rendy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dibandingkan menjadi seorang operator, tentu saja menjadi supir pribadi akan jauh lebih menyenangkan karena kerjanya yang cukup santai. Hanya antar jemput kemana pun boss CEO inginkan.
Rendy bersorak dalam hati, dan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas perjanjian kerja dengan batas waktu tak terhingga.
"Hari ini kamu ikut Delon ke tempat tinggalku dan berganti pakaian dinas. Satu hal, Aku tidak suka karyawan ku berpenampilan sembrono. Aku juga tidak suka karyawan yang dekil apalagi bau. Secara Matta Network adalah perusahaan bonafid yang sudah sangat terkenal di antara perusahaan periklanan lainnya. Jadi jangan rusak nama baik perusahaanku ini!"
"Baik, Pak!"
Rendy yang sudah menyetujui perjanjian kerja dengan pak Gunawan akhirnya meluncur ke kediaman tuan CEO itu dengan di antar asisten pribadinya.
Rumah yang indah, besar tapi dingin dan sepi.
Tapi ada satu hal yang membuat Papa Muda berumur 25 tahun itu membelalakkan matanya. Rendy terkejut melihat foto yang terpampang besar di ruangan tengah rumah Pak Gunawan.
Itu kan, cewek yang tadi barengan si Berlin? Ehh? Bukannya dia itu Maura? Temen kost-an si Berlin ya? Koq bisa foto berdua sama Pak Gunawan? Jangan-jangan, tuh cewek... simpenan pak CEO Gunawan!!!
Seketika Rendy ingat pada obrolan Virly dengan Berliana sebelum Berliana pindah dari rumah mereka.
"Dia kost sendirian. Dan bilang kalo dia kesulitan tinggal sendiri, secara ternyata dia anak sultan Palembang yang biasa tinggal dengan banyak orang di kamar. Dia, minta aku buat nemenin. Asyik ga tuh?!? Dan kostannya itu, di Taman Setiabudi. Mau tau ga berapa perbulannya?"
"Berapa emangnya?" tanya Virly penasaran tingkat dewa.
"Lima juta."
"Hah??? Nge-kost perbulan lima juta? Berarti penghasilan yang kudu lo dapetin itu minimal sepuluh jeti, Anna!!!" pekik Virly yang langsung disambut derai tawa sang adik.
Rendy merenung.
Pindahan dari Palembang, baru masuk kerja di perusahaan yang sama. Tapi Maura bisa nge-kost sewa perbulan lima juta.
Ck ck ck. Ternyata... Si Maura simpenan hot Daddy. Pantesan! Percaya sih! Hm... Eh tapi, kalo dia simpenan pak Gunawan, ngapain kudu nge-kost? Kenapa ga tinggal di sini? Apalagi itu fotonya terpampang gede banget malahan di ruang tengah rumah besar Pak Gunawan!
"Kenapa? Koq bengong?"
"Hehehe... Cuma kaget liat foto itu, Mas!"
"Oh! Itu Non Maura, putri beliau!"
"Pu putri Pak Gunawan?"
"Iya. Memang mereka sedang perang dingin. Maura pergi dari rumah ini. Memilih tinggal terpisah karena menolak Pak Gunawan menikah lagi setelah dua puluh tahun menduda."
O-o! Gue salah prediksi, cuy!
"Tapi, tadi pagi saya liat..."
"Hahaha, Maura jadi karyawan baru di Matta Network? Nona Besar itu memang nyeleneh. Satu hal, jaga kerahasiaan keluarga Pak Gunawan termasuk nona Maura. Jangan pernah menegur Nona Besar apalagi membuka identitasnya sembarangan! Kalau tidak, hidupmu akan jadi bulan-bulanan amarah mereka yang luar biasa!"
Waduh? Tapi... Ini menyangkut nasib si Berlin!!! Masa' gue kudu cuek bebek ketika adik ipar gue dalam keadaan yang sedang dibohongin orang?
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...
__ADS_1