(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 85 - Maura Yang Lemah


__ADS_3

"Dasar perempuan bodoh!!! Bisa-bisanya kamu masih niatan buat bunuh diri!!!"


Plok plok plok


Radit menampar pipi Maura agar segera tersadar dari pingsannya.


Tubuh Maura yang tanpa sehelai benang pun tak dihiraukan Radit yang panik pukul sepuluh malam.


"Maura! Maura!!! Maura bangun!!!"


Dia terus berupaya agar Maura segera bangun.


Keringat dingin Radit mulai bercucuran padahal AC ruangan full tekanan udaranya.


"Maura, please..."


Radit mencium bibir Maura yang dingin dan membiru.


Dia memberikan bantuan pernafasan atau yang biasa disebut CPR setelah beberapa kali berusaha melakukan kompresi di bagian dada Maura.


Beberapa kali Radit melakukan nafas bantuan ke mulut Maura.


Dan...


"Uhuk uhuk uhuk, uhuk uhuk uhuk."


Maura terbatuk dan mulutnya mengeluarkan cairan bathtub.


"Maura! Maura! Terima kasih ya Allah!"


Radit segera memeluk Maura yang tersadar namun masih dalam kondisi lemah.


Dengan sigap Radit mengangkat tubuh Maura yang telanj+ng ke atas ranjang.


Lalu selimut sutra yang tergeletak di bagian ujungnya segera dilebarkan di atas tubuh Maura.


Radit juga mencari tutebag yang tadi mereka bawa sebelum bertemu Xavier.


Dengan langkah cepat Radit keluar kamar hotel mencoba mencari kantong belanjaan pakaian yang tadi mereka beli.


"Permisi, Mas! Apa lihat kantong tutebag yang tadi bercecer di depan sini?" tanya Radit pada seorang pegawai hotel yang sedang bersih-bersih.


"Oh, yang warna pink ya, Mas?"


"Betul!"


"Tunggu sebentar ya, ada di loker lobi hotel. Saya akan suruh teman saya membawanya ke atas."


"Terima kasih banyak, Mas! Itu jinjingan plastik milik istri saya. Oh iya, ini, uang tips sedikit untuk Mas! Tolong ketuk saja pintu kamar kami yang diujung lorong sana ya, dekat pintu lift nomor 5."


"Baik, Mas! Terima kasih banyak tipsnya."


"Sama-sama!"


Radit segera masuk kamar kembali. Khawatir kalau Maura kembali bertindak nekad.


Ia masih harus mengurus Maura yang kedinginan dalam keadaan tidak mengenakan pakaian.


Teringat pada pakaian Maura yang ada di kamar mandi, Ia segera mengambilnya.


Pakaian dalam perempuan yang sedang tergolek lemah dengan mata terpejam.


"Maura, maaf... kamu harus segera berpakaian!"


Setelah meminta izin kepada si pemilik tubuh, Radit segera memakaikan pakaian dalam Maura meski dengan begitu susah payah.


Bahkan deburan jantungnya bisa Ia rasakan sendiri saking gugupnya. Hingga satu pengait br+ Maura salah Ia pakaikan dan ulang lagi dari awal.


Radit menahan nafasnya ketika tangannya menelisik masuk untuk merapikan dua buah gunung kembar Maura yang belum tertutup dengan benar.

__ADS_1


Ya Tuhanku! Tolong berikan aku kekuatan! Gumam hati kecilnya.


Radit masih harus dihadapkan lagi pada sesuatu yang belum tertutup.


Sejumput bulu halus yang tumbuh di bagian lain masih harus Radit berikan pengaman.


Tok tok tok


Pintu kamarnya diketuk seseorang.


Radit segera bergegas turun dari ranjang. Ia membuka pintu. Seorang pria berdiri di depan pintu kamarnya dengan menenteng tutebag besar belanjaan Maura dan dia tadi sore di pasar malam. Pria yang berbeda.


"Mas, tolong sekalian bantu saya pesankan bubur kacang hijau panas dan teh tawar hangat juga ya? Ini uangnya, dan sisanya ambil untuk tips!"


"Baik, Pak. Mohon ditunggu!"


Tiga lembar uang seratus ribuan telah berpindah tangan.


Radit yang telah menerima jinjingan pakaian yang ia beli tadi segera menumpahkannya di lantai hingga isi tutebag berhamburan ke luar.


Radit mengambil satu t-shirt dan celana boxer untuk dipakaikan kepada Maura.


Lagi-lagi Ia merasakan tubuhnya bergetar karena harus menyentuh kembali kulit halus Maura yang belum tertutup sempurna.


"Maaf, Maura..."


Tangannya kembali sigap memakainya celdam. Lalu celana boxer selutut itu ke bagian bawah tubuh Maura.


Kini Ia menyingkap selimut yang menutupi bagian atas Nona Majikannya itu, kemudian fokus memakaikan kaos t-shirt ukuran besar ke badan Maura.


"Huuufffh..."


Lega hatinya karena urusan memakaikan pakaian sudah selesai.


Diselimutinya lagi tubuh Maura agar hangat.


Radit mencoba mengusap-usap telapak kaki Maura yang dingin.


"Maura..."


"Mau kunyanyikan sebuah lagu indah?"


Masih tiada reaksi.


"Tapi jangan diketawain ya? Suaraku sember. Mirip ember yang ditabuh pakai kecrekan. Tapi asli ini lagunya ngena' banget buat Aku. Ini lagu jadul favoritku, Maura!"


Maura masih terpejam. Tetapi ritme nafasnya teratur pertanda keadaannya dalam keadaan stabil.


"Tuhan... Tempat Aku berteduh. Dimana Aku mengadu. Dengan segala peluh. Tuhaaan, Tuhan Yang Maha Esa. Tempat Aku memuja, dengan segala doa. Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat Engkau dekat. Hati adalah cermin. Tempat pahala dan dosa bertaruh."


Suara serak Radit mengalun lembut.


Entah mengapa nadanya begitu indah masuk ke dalam sanubari Maura.


Perlahan Maura membuka mata. Dan Radit menghentikan suaranya.


"Maura..."


"Lanjut, Bang! Lagunya indah, suaranya bagus!" kata Maura dengan suara lirih.


Ada tetesan air mata yang menitik di sudut kiri.


"Tuhan... Tuhan Yang Maha Esa. Tempat Aku memuja, dengan segala doa."


Tok tok tok...


Pintu kamar mereka kembali diketuk seseorang.


"Sebentar ya Maura?!"

__ADS_1


Radit membukakan pintu. Room boy yang tadi dimintai tolong oleh Radit telah kembali dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bubur kacang hijau dan dua gelas teh tawar hangat.


"Terima kasih banyak!"


"Sama-sama, Pak!"


Radit membawa baki nampan berisi makanan ke dalam.


"Maura, bangun dulu yuk?"


"Apa itu, Bang?"


"Bubur kacang hijau. Masih hangat dan aromanya sangat nikmat."


Maura pelan-pelan berusaha mengangkat tubuhnya yang lemah.


Radit segera menaruh nampan di meja dan bergegas membantu Maura agar duduk sempurna.


"Maaf ya Bang! Aku sangat menyusahkan."


Radit mengangkat telunjuknya. Memberi kode agar Maura diam dan menuruti perkataannya.


"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma bariklana fima rojaqtana waqina aja bannar..."


Radit perlahan menyuapi bubur kacang hijau kedalam mulut Maura.


Keduanya saling berpandangan. Senyum Radit mengembang.


"Anak pintar!" pujinya membuat Maura tersenyum juga akhirnya.


Radit tidak mengeluarkan kata-kata. Hanya tangannya yang bergerak gesit menyuapi bubur kacang sesendok demi sesendok.


"Aku sakit perut, mau pup!" katanya malu-malu kucing. Tapi merasakan tubuhnya sangat lemah mau tak mau Maura meminta bantuan Radit.


"Minum dulu."


Maura menurut.


Radit membuka selimut yang menutupi tubuh Maura. Ia lalu mengangkat tubuh gadis cantik itu pelan-pelan.


"Maaf ya Bang!"


"Hehehe... Untungnya kamu sangat ringan!"


"Iya kah? Masa' sih?"


Radit tertawa kecil.


Tubuh Maura ada di kedua pangkal tangannya. Terdiam pasrah dengan wajah disusupkan ke dada.


Radit menurunkan tubuh Maura di dekat toilet duduk.


"Terima kasih. Aku bisa sendiri sekarang, Bang!"


"Aku tunggu di depan pintu ya? Kalau sudah selesai, panggil saja aku."


"Iya."


Radit keluar setelah merasa Maura aman dari hal-hal yang membahayakan.


"Sudah, Maura?" tanyanya setelah baru semenit berdiri di depan pintu kamar mandi yang rusak karena didobrak Radit tadi ketika kejadian Maura yang tenggelam dalam bathtub.


"Belum."


"Oh oke!"


"Baru buka celana."


Merah padam wajah Radit mendengar suara Maura yang mengatakan hal yang bikin otaknya traveling.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2