
Virly dan Rendy tidur di kamar mereka sementara Virly tidur di kamar sebelah.
Seperti de javu, Berliana mengingat malam terakhir Ia tidur dikamar itu, mendengar suara ***-*** Virly yang bercinta dengan Rendy. Seketika wajah Berliana memerah.
Tapi ternyata malam ini tidak seperti itu.
Kedua pasangan suami istri itu justru tidur dengan posisi tubuh saling memunggungi.
Keduanya masih perang dingin walaupun hati kecil ingin menyudahi dan mulai rindukan satu sama lain.
Tapi ego serta usia pernikahan yang baru menginjak dua tahun lebih itu belum mampu menguatkan ikatan cinta diantara keduanya. Terlebih mereka menikah pun dalam keadaan belum mengenal satu sama lain, sehingga ada ruang hati hampa yang terkadang dipenuhi pikiran buruk tentang pasangan. Membuat mereka kesulitan untuk menyatukan visi misi dan vici diantara mereka.
Berliana masih belum bisa tidur, padahal sudah pukul satu dini hari.
Tadi sewaktu makan malam, Ia hanya makan sedikit sehingga kini perutnya terasa lapar.
Berliana melihat wajah Virly dan Rendy lesu tidak seperti biasanya. Ia menduga, kalau hubungan keduanya sedang kurang baik hingga sedikit merenggang.
Itu adalah ulah kakaknya juga yang bertemu dengan mantan pacarnya tapi bilang-bilang dan cerita hingga detil sekali.
Ada baiknya juga Ia dan Rendy menutup mulut rapat-rapat kalau mereka adalah sepasang kekasih dahulunya. Bisa-bisa rumah tangga kakaknya itu bakalan kena prahara.
Berliana hanya menginap satu malam saja di rumah Virly. Besok pagi dia akan kembali ke kostan Maura.
Hatinya masih menggalau dan makin menggalau.
Sang Kakak sedang dilanda kegelisahan. Virly khawatir Rendy kembali pada masa lalunya. Atau sedang menutupi hubungan rahasia dengan wanita lain. Itu tuduhan yang terlalu berlebihan karena Berliana tahu kalau semua itu tidak benar.
Tapi mereka sedang menutupi bangkai. Suatu hari nanti bangkai itu akan ketahuan dan menimbulkan banyak huru-hara. Berliana menyadari itu sedari kini.
Apa... gue terima saja permintaan Maura untuk jadi Ibu Tirinya? Haish! Pikiran gila! Jomblo bikin otak gue oleng sampe tengleng begini!
Berliana mengetuk-ngetuk dahinya.
__ADS_1
Kruuuuk kruuuuk krucuuuk.
Perutnya berbunyi. Membuat Berliana mengusap perutnya yang lapar. Perlahan Ia bangkit dan keluar kamar, berjalan ke ruang makan sembari membuka tutup sajinya.
Rumah minimalis Virly ada tiga kamar. Satu kamar utama, kamar tidur kedua yang kini Ia tempati. Kamar ketiga letaknya di lantai dua, dekat tempat khusus mencuci dan menjemur pakaian. Dan kamar itu ditempati oleh mbok Darmi yang sudah bekerja pada Virly sekitar setahun setengah. Tepatnya ketika Virly hamil Leo sekitar tujuh bulan dalam kandungan.
Berliana mengambil piring dari raknya.
Semangkuk sayur bayam diseruputnya tapi tiba-tiba,
"Astaghfirullah!!!"
Berliana terkejut bukan kepalang. Rendy yang keluar dari kamarnya hampir melonjak melihat tubuhnya duduk di kursi makan dengan posisi membelakangi.
"Ish, apaan sih! Ini gue!" semprot Berliana dengan suara ditahan.
"Ngapain malam-malam duduk di situ sendirian?"
"Lapar. Jadi tikus tengah malam, cari makanan. Hehehe...!"
Berliana tersipu. Ia melanjutkan makannya sementara Rendy membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral.
"Mau makan juga?" tawar Berliana.
"Ga ah! Lagi kurang nafsu makan!" jawabnya singkat.
"Hm. Baikan dong sama kak Virly. Jangan diem-dieman gitu! ga baik ribut terlalu lama. Kata Pak ustadz, berantem lebih dari tiga hari itu hukumnya dosa."
"Kan pak ustadz nya ngomong gitunya bukan sama gue, tapi sama Elo!" timpal Rendy.
"Cih! Cowok egois! Harusnya tuh, cowok lebih banyak mengalah daripada cewek!"
"Terlalu sering mengalah. Imbasnya, cewek-cewek pada ngelunjak!"
__ADS_1
"Hm. Terserah, kalo masih ngerasa diri jauh lebih baik!"
Rendy diam setelah mendengus. Begitu pula Berliana. Keduanya duduk diam. Berliana juga makan hanya sedikit. Selain makan lewat malam itu tidak baik untuk kesehatan, ditambah pastinya bakalan menumpuk di dalam tubuh menjadi lemak yang menggendutkan tubuhnya. Berliana sangat takut jika dirinya menjadi gemuk.
"Virly kayaknya masih cinta pacar pertamanya!" gumam Rendy.
"Uhuk uhuk!"
Berliana batuk karena tersedak. Rendy segera menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Berliana.
"Kenapa berfikiran suudzon gitu?" balas Berliana setelah agak lama.
Rendy mengangkat bahu.
"Kakakku bukan tipe orang yang suka selingkuh. Aku pun begitu. Jika sudah memutuskan untuk mencintai satu orang, tidak akan ada orang lain kecuali orang itu yang menyakiti kami lebih dulu. Faham?"
"Lalu bagaimana dengan aku dahulu? Apa salahku hingga kau pergi tanpa pesan kepadaku?"
Kini Berliana yang gelagapan.
"Kita masih anak-anak waktu itu!"
"Apa Lo bilang? Umur 17 tahun Lo bilang anak-anak? Hei, girl! Cewek umur 16 tahun udah banyak yang nikah, hamil dan melahirkan! Jadi Lo anggap cinta kita adalah cinta mainan gitu waktu dulu?"
Rendy naik pitam hingga lupa kalau saat ini ia ada di rumah. Dan istrinya ternyata bangun juga di tengah malam, mendengar pembicaraan mereka yang begitu mengejutkan.
"Mas..., Anna!?"
Kedua kakak beradik itu saling menatap dengan dada bergemuruh.
"Virly!" Rendy juga tak kalah terkejutnya melihat Virly berdiri di belakangnya.
Akhirnya apa yang Ia takutkan pun sepertinya akan terjadi.
__ADS_1
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...