(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 69 - Menuju Rencana Yang Ditentukan


__ADS_3

Sumpah ku mencintaimu...


Sungguh kugila tanpamu


Sumpah mati hatiku untukmu,


tak ada yang lain


Mati rasaku tanpamu


henti nafasku karnamu


Sumpah mati Aku cinta...


Alunan lagu milik grup band Seventeen yang menggema di MP3 milik Kuncoro membuat hatinya teringat akan Berliana.


Haruskah gue jujur pada Anna tentang pekerjaan gue yang mengandung banyak resiko? Akankah dia terima kenyataan kalau hidup dan mati gue adalah milik negara, bukan miliknya seutuhnya meskipun kita nanti menikah? Apa Anna bakalan terima kenyataan yang ada?


Kuncoro melamun. Lupa kalau saat ini dia sedang melaksanakan tugasnya sebagai seorang intel rahasia.


"Bang ojol!"


Terkejut Kuncoro tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri dengan tangan membawa koper besar.


"Oh iya, Pak!"


"Belum ada order masuk kan ya?" tanyanya agak mencurigakan karena bertingkah seperti maling jemuran yang celingak-celinguk menengok kanan dan kiri.


"Belum Pak! Tadi ada di wilayah sini, tapi tiba-tiba hilang sinyal. Hehehe..."


"Antar saya ke daerah selatan, mau?"


"Daerah selatan?"


"Iya. Di xxx Rajawali Selatan. Mau ya? Lima puluh ribu deh!"


"Hm..., lebihin Pak dikit hehe, maaf Saya belum dapat orderan hari ini. Sekiranya Bapak mau tambahin, saya sangat berterimakasih."


"Hm! Saya kasih lebih banyak kalo pengiriman kali ini berhasil! Beneran, saya janji!"


Kuncoro mulai menyalakan tombol penyadap ke kantor pusat. Kini perjalanan serta obrolan mereka akan dipantau oleh pihak BIN yang memang sedang menyelidiki kasus mega besar ini.


"Boleh deh, Pak! Tapi saya isi bensin dulu ya di POM bensin terdekat."


"Ya."


Kuncoro mencurigai koper besar yang dibawa oleh bapak-bapak itu. Kemungkinan isinya adalah barang terlarang yang sedang mereka cari sebagai barang bukti.


Perjalanan sepeda motornya berjalan tanpa hambatan.


Kuncoro mendapat kode dari pihak intelijen untuk agak lama menunggu di titik yang tadi ia sebutkan. Yaitu pom bensin terdekat.


Tentu saja untuk menunggu aparat reserse mendekat dan menangkap tangan seorang kurir nark+ba tingkat tinggi lengkap dengan barang bukti.


Sesuai dengan yang diharapkan, Kuncoro berhasil mendapatkan 'mujair' malam ini.


Bapak paruh baya itu ditangkap polri yang mencegat mereka ditengah jalan tanpa perlawanan.


Satu jam kemudian, rental kayu yang menjadi backing dari pabrik sabu-sabu yang selama ini diselidiki pihak intel polres Jakarta Utara digerebek pihak kepolisian setempat.


Pengintaian tiga hari tiga malam Kuncoro membuahkan hasil.


Pangkat kesatuan satiltelkam atau satuan intelijen dan keamanan tempatnya bergabung akan mendapat kenaikan.

__ADS_1


Kuncoro kini bisa bernafas lega.


Satu pencapaian luar biasa yang Ia berikan kepada negara. Membongkar usaha pabrik sabu-sabu yang berkedok rental kayu.


Malam ini, hatinya lega. Untuk beberapa saat dirinya terbebas dari tugas dan bisa bersama lagi dengan Berliana. Gadis yang akan Ia pinang akhir bulan ini.


.............


Tring


Berliana yang sudah rebahan di atas ranjang tidurnya yang empuk dan hangat terperanjat mendengar ponselnya mendapatkan notice pesan masuk.


...Anna, sudah tidur?...


Mata Berliana seketika terkesiap dan langsung melebar. Kembali cerah bahkan kantuk yang tadi menyerang menghilang seketika.


Bang Coco!


Abang kemana aja? Baru on setelah kemarin seharian tanpa kabar?


^^^Maaf, maaf Anna^^^


Berliana segera bangkit dan berjalan keluar kamar. Khawatir dia membangunkan Maura dari tidurnya yang baru saja terlelap.


Abang... kamu baik-baik saja kan?


^^^Iya. Boleh telepon gak?^^^


Berliana hampir bersorak riang gembira.


Iya. Jawab Berliana segera.


Beberapa hari ini fikirannya kalut. Kuncoro tidak seperti pria lain yang aktif menchat menanyakan apapun kegiatannya.


Treeet treeet treeet...


"Hallo, Bang Coco?"


...[Hallo Anna, apa kabar?]...


Entah mengapa, mendengar suara Kuncoro bagaikan suara seorang penyiar radio yang menenangkan hatinya.


"Baik, Bang! Abang sendiri gimana?"


...[Baik, Anna! Maaf ya, kemarin Aku ga bisa ikutan makan malam di rumah Virly]...


"Ga papa. Aku kesana sama Pak Gunawan dan Maura. Kita jadi lebih akrab juga sekarang. Alhamdulillah... Keadaan jadi lebih baik, Bang!"


...[Syukurlah... Aku senang mendengarnya!]...


Padahal Berliana sengaja mengapload status di aplikasi WhatsApp nya hanya demi agar Kuncoro mampir melihat. Ternyata, tidak terlihat sebagai orang yang melihat.


Atau dia menggunakan kode khusus di WhatsAppnya jadi gak ketauan kalo mau liat status orang?... bisa jadi sih!


...[Anna... hallo? Ann?]...


"Hallo, ya Bang? Anna masih ada di sini! Hehehe..."


...[Anna udah ngantuk? Ini udah jam setengah dua belas, Abang lupa. Maaf... Oiya besok siang Abang tunggu Anna di depan kantor deh! Biar kita bisa makan siang sama-sama]...


"Beneran?"


...[Iya, Anna!]...

__ADS_1


"Awas kalo Abang bohong! Anna kasih hukuman!"


...[Hehehe..., hukumannya apaan? Kalo enak, mendingan dihukum deh! Apalagi kalo harus berduaan terus sama Anna!]...


"Ish, gombal banget. Kemaren diajakin makan malam sama Anna malah nolak. Katanya sibuk kerja!"


...[Itu beneran. Abang emang ada kerjaan yang mendesak. Demi Allah, Ann! Abang ingin menikah sama kamu dengan dilandasi kejujuran. Kerjaan Abang ini ga menentu. Kadang bisa free sesuka hati, tapi tak jarang dituntut untuk sedia waktu sampe berminggu-minggu juga kalo lagi ada target!]...


"Target apa?"


...[Target mencintaimu. Hehehe...]...


"Jiaah, malem-malem ngegembol!"


...[Salah tuh, ngegombal. Hahaha...]...


"Hehehe..."


...[Anna pasti ngantuk ya? Ya udah, tidur gih! Besok pagi kerja. Siapkan semangat yang banyak buat esok!]...


"Iya. Tapi gimana tidurnya? Kan masih teleponan sama Abang!"


...[Tunggu beberapa minggu lagi ya? Nanti kita tidur barengan setelah ijab kabul!]...


Ucapan Kuncoro membuat debaran jantung Berliana berdetak tak karuan.


Bayangan tentang pernikahan mereka yang kian mendekat semakin melambungkan khayalan Berliana ke langit tinggi.


...[Anna?]...


"Hm?


...[Assalamualaikum, selamat tidur, calon istri Bang Coco!]...


Huaaa... Abaaang...


Melting hati Berliana.


Suara lembut Kuncoro mengucapkan salam penutup begitu terdengar merdu merayu.


"Waalaikum salam, Abang! Selamat tidur juga. Mimpi indah, jangan lupa doa. Semoga besok kita selalu mendapat Rahmat dari Allah Ta'ala."


Doa yang manis.


Kuncoro seketika berguling-guling di atas ranjang tidurnya yang besar.


Malam ini, Ia kembali ke rumah Papa Angkasawan. Bersama keluarga pertamanya yang selalu tulus menyambut kepulangan Kuncoro ke rumah besar mereka.


Papa Angkasawan dan Mama Talitha tidak dikaruniai anak hingga saat ini. Itu sebabnya cinta dan kasih sayang mereka pada Kuncoro tak pernah putus bahkan semakin besar dan terus besar.


Angkasawan juga ingin agar pernikahan Kuncoro digelar secara besar-besaran.


Beliau ingin mengundang jajaran orang penting di kabinet pemerintahan saat ini. Bahkan kalau perlu, Orang Nomor Satu di negeri ini pun ingin Ia undang.


Tetapi Gunawan tidak terlalu antusias mengikuti keinginan Angkasawan.


"Jangan Mas! Sebaiknya adakan saja pernikahan yang sewajarnya. Selain itu pemborosan, lebih baik dana pesta dialokasikan untuk beli rumah buat Kuncoro dan Berliana nanti. Lagipula, pernikahan ini diadakan cepat tanpa persiapan apa-apa sesuai permintaan mempelai wanitanya!"


"Kenapa begitu? Biar bagaimanapun, Coco itu anakku satu-satunya, Gun! Aku berhak memberinya kebahagiaan. Ini adalah momen terakhir Aku memberinya kewajiban sebagai orang tua. Menikahkan putranya secara layak untuk diketahui orang banyak."


Tentu saja Gunawan bersyukur sekali. Putranya mendapatkan banyak keberkahan meskipun kisah hidupnya sendiri mengkhawatirkan dan menyedihkan.


Gunawan meminta Angkasawan untuk menunggu hasil diskusi dirinya bersama keluarga Berliana yang rencananya akan diadakan Minggu depan setelah Gunawan makan malam di rumah Virly, kakaknya Berliana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2