(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 60 - Malam Yang Menegangkan


__ADS_3

Virly tiba juga di rumah pukul setengah sepuluh malam. Rendy telah lebih dahulu kembali, hanya jeda waktu sekitar lima belas menit saja.


Suaminya itu pura-pura tidak mengetahui kemana Virly pergi, padahal sedari tadi Rendy mengikuti.


"Sayang! Sudah ketemuannya?" tanya Rendy pura-pura manis.


Virly memang sudah minta izin kepadanya untuk pergi menemui Kuncoro. Tetapi tidak menceritakan detil niatannya ingin bertemu Kuncoro, mantan tunangan sekaligus Kakak kandungnya kini.


Rendy tidak bisa menahan kegelisahan hatinya meski Virly jujur mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Kuncoro.


Jadi diam-diam Rendy mengikuti langkah istrinya dari belakang.


Hancur hati Rendy. Ia sengaja menguping pembicaraan istrinya tadi. Dan Rendy seketika lemas lututnya mendengar kalimat yang Virly katakan tanpa pikir panjang.


"Aku bisa minta cerai pada Rendy kalau itu jadi barter pertukaran agar kalian tidak jadi menikah!"


"Virly!!! Kamu sudah gila kah? istighfar Virly!!!"


Rendy menelan salivanya mengingat itu lagi.


Suara gemetar Virly menggema. Kini terus terngiang-ngiang di telinga Rendy.


Virly ingin minta cerai dari gue! Virly lebih suka menjadi janda asalkan Berliana tidak menikah dengan Kuncoro?! Hhh... Virly, Virly! Sebegitu dengkinya kah Lo sama si Berlin? Apa karena si Berlin bakalan nikah sama laki-laki yang paling Lo sayang? Dan ga ridho liat si Berlin hidup tenang juga bahagia? Lantas,... apa selama ini Lo ga bahagia hidup sama gue? Kehadiran Leo, lalu apa bagi Lo selama ini? Lahir hanya karena kebetulan? Lahir tanpa perencanaan?


Rendy hanya bisa memendam perasaannya sendirian.


Virly terlalu sulit untuk Ia mengerti.


Rendy membalikkan tubuhnya memunggungi Virly.


Sejak pulang dari Jogja, ternyata sang putra telah disapih dan tidak lagi minum ASI.


Rendy mulai menyambungkan semua kejadian dengan perubahan sikap Virly.


Mungkin baginya aku hanya batu loncatan saja. Mungkin pernikahan kami memang dirancang untuk dua tahun saja. Mungkin Virly hanya pura-pura cinta padaku selama ini. Dia cemburu buta karena Berliana yang terlihat mendekatiku. Sepertinya Virly memang punya rasa iri hati pada adik angkatnya itu!


Rendy terus mencari argumen dengan pemikirannya sendiri.


Kepalanya mulai pusing memikirkan nasib pernikahannya yang kembali goyang.


Apa gue seharusnya sadar diri? Apa gue lebih baik pergi sebelum sakit hati semakin parah? Lalu Leo? Jujur gue gak sanggup pisah jauh dari putra semata wayang gue! Kalau pun harus gue bawa, rasanya juga ga mungkin! Papa yang juga tinggal sendiri, udah terlalu tua untuk mengurus cucu. Kalo ikut gue, saat ini perekenomian gue sangat buruk. Terus harus gimana?


Rendy terus berfikir jauh.


Sementara Virly justru lupa pada sang suami yang sedang menggalau fikirannya itu. Ia juga punya pemikiran sendiri yang tak kalah ribet.


Bang Coco ga boleh nikah sama Berliana! Biar gimanapun Berliana itu adik gue! Gimana mungkin mereka nikah dan kita jadi sodara! Ga! Gue ga sanggup liat mukanya setiap saat kalo ada pertemuan keluarga nantinya! Gue sadar, kita adalah saudara sedarah. Tapi jangan juga Anna sampe nikah sama Bang Coco! Bukannya ga terima, tapi ini terlalu berat buat gue ikhlaskan! Mending mereka nikah dengan orang lain, atau kenapa si Anna ga milih pak Gunawan sih? Kenapa malah pilih Coco?


"Huaa... Mamaaa, Papaaa..."


Rendy dan Virly terkejut, Leo tiba-tiba berteriak keras. Rupanya putra mereka bermimpi yang menakutkan.


Rendy juga Virly sama-sama terbangun, bergegas mengambil tubuh Leo yang ada di ranjang besi samping tempat tidur mereka.


Tangan keduanya saling bersentuhan.


Tetapi Rendy segera melepaskan seperti menepis. Leo kini berada dalam pelukan Virly.

__ADS_1


Hatinya yang sedang diliputi amarah tiba-tiba mencuat.


Leo menangis dalam pelukan Virly.


"Sini, aku saja yang menenangkan Leo!" kata Rendy dengan intonasi suara agak tinggi.


Virly mulai terpancing meskipun dia tidak menjawab ucapan sang suami. Hanya mengikuti dan berfikir dalam diam.


Kenapa Mas Rendy nada suaranya koq kedengaran kayak orang yang marah, ya?!? Batinnya dalam hati.


Rendy membawa Leo keluar kamar. Virly mengikuti dari belakang.


Kedua suami istri itu sibuk berusaha menenangkan buah hati mereka. Namun Leo masih tetap menangis.


Baby sitter yang ikut dari Jogja sudah kembali ke yayasan tempatnya bekerja. Virly hanya mengambil kontraknya selama sebulan saja.


Selain rumahnya yang hanya tiga kamar, ternyata memiliki dua asisten di rumah minimalisnya cukup membuat mumet otak juga.


Leo pun ternyata lebih nyaman berada bersama Mbok Darmi ketimbang baby sitter yang disewa Sang Mama untuk putranya itu.


Mbok Darmi ikut turun tangan menenangkan Leo. Kini Leo dibawa beliau tidur di kamarnya. Dan tak lagi terdengar suara tangisan Leo membuat Rendy juga Virly merasa lega.


"Virly!"


"Ya?"


"Apa kamu ingin kita berpisah saja?"


Virly terperanjat mendengar perkataan Rendy.


"Mas?!?"


"Ini gak seperti yang kamu duga, Mas!" bela Virly.


Rendy tersenyum sinis.


"Aku dengar sendiri, kamu rela cerai dari aku asalkan Kuncoro ga nikahin Berliana! Bukan begitu ucapanmu barusan pada anaknya Pak Gunawan itu?"


Virly terjebak pada ucapannya sendiri.


Ia diam seribu bahasa. Bingung hendak membela diri yang bagaimana agar Rendy bisa mengerti.


"Akhir-akhir ini rumah tangga kita selalu diguncang prahara! Aku tahu, Aku bukanlah suami idaman kamu! Aku bukan pasangan yang ideal dimatamu! Aku, hanya pria yang lebih sering bergantung hidup padamu! Aku terima jika itu pendapatmu tentang Aku!"


Virly semakin merasa sangat bersalah.


Perlahan air matanya menetes di pipi.


"Kita bukan anak remaja lagi. Aku juga bukan lagi pria muda yang sukanya hura-hura dan bermain-main saja. Tapi aku tetap tidak sesuai standar hidupmu sepertinya,"


"Bukan seperti itu, Mas! Bukan! Kamu salah faham!"


"Aku tidak salah faham, Virly! Sedari awal Aku juga sadar diri. Aku memang tidak pantas bersanding denganmu! Aku ini cuma pria yang tidak punya kemampuan apa-apa untuk dibanggakan!"


"Mas,"


"Hhh... Aku tidak sedang emosi, sungguh! Aku juga tidak ingin melihatmu terus menerus bersedih karena kecewa bersuamikan Aku!"

__ADS_1


"Mas..."


Virly yang berurai air mata menangkap tubuh Rendy yang tegap. Tapi Rendy tak merespon. Dingin sekali tubuh serta perasaannya kini.


"Mas, liat mataku Mas! Aku salah, Aku minta maaf! Mas... Hik hik hiks..."


"Aku juga minta maaf, Aku mengikutimu dari belakang! Aku ingin tahu apa yang akan kamu bicarakan dengan Kuncoro. Ternyata, ternyata Aku harus mendengarkan ucapanmu yang membuat sesak dada! Kamu bilang, kamu rela cerai dari Aku asalkan mereka batalkan niat menikah."


"Hik hiks..., maksudku bukan seperti itu! Itu hanyalah ancaman saja! Maaf, aku salah!"


"Bolehkah mengancam seseorang dengan menukar keinginanmu dengan hal yang bagiku begitu agung, Virly? Pernikahan kita bagiku adalah anugerah. Mungkin dimatamu justru bagaikan musibah. Maaf, jika kenyataanmu tidak seindah khayalan. Maaf, jika Aku belum bisa jadi pria yang patut kamu banggakan, bahkan dihadapan mantan tunanganmu yang ternyata adalah Kakakmu sendiri!"


Virly semakin histeris. Ia merasa bodoh dan t+lol dengan ucapannya yang bablas tadi padahal itu didengar sendiri oleh Rendy Sang Suami.


Virly cuma meng-gosh Coco. Berharap Coco akan berkata, "Iya, baiklah. Aku tidak akan menikahi Berliana asalkan kamu tidak bercerai dengan suamimu!" Itu harapannya.


Ternyata ucapan ngasal nya malah jadi bumerang bagi rumah tangganya sendiri kini.


Rendy marah besar.


"Mari kita berpisah secara baik-baik. Aku, mentalakmu untuk kebahagiaanmu selanjutnya, Virly Rastanty!"


"Mas Rendy!!! Ga! Aku ga mau cerai!! Aku ga mau kita berpisah!!! Ini hanyalah kesalahpahaman saja!! Dan ucapanku pada Bang Coco hanyalah asal-asalan saja!!!"


Virly memekik mencoba memberikan penjelasan.


Tetapi hati Rendy sudah tertutup rapat-rapat.


"Mas, Mas cobalah dengarkan penjelasanku dulu!"


"Aku dengar, Virly! Aku dengar."


"Mas, jangan seperti ini! Jangan kekanak-kanakan begini, please... Hik hik hiks..."


"Aku, atau kamu yang kekanak-kanakan? Aku atau kamu yang seringkali memicu permasalahan kita kian melebar?"


"Mengerti Aku, Mas! Fahami Aku! Aku hanya ingin sekali kamu bisa memaklumi Aku!"


"Memaklumi ucapanmu barusan pada Kuncoro? Dan membiarkan kalian berpelukan, berduaan dengan hati legowo? Aku bukan Papa Sapto yang ekstra sabar menerima Mama Hilda yang seringkali berbuat salah dan menyakitinya! Aku tidak sanggup jadi beliau, Virly!"


"Mas...! Hik hik hiks, aku hanya mohon pengertian darimu! Kumohon Mas, mengertilah perasaanku!"


"Kamu minta di mengerti! Tapi apakah kamu sadar kalau sifat mu itu sudah keterlaluan? Sikapmu pada Berliana sudah kelewat batas! Dan adakah yang bisa membuat dirimu berfikir kalau tingkah lakumu kini semakin kejauhan? Kau semakin mirip Eyang Rihanna!"


"Mas!!!"


Virly meradang. Tak terima dirinya dibilang mirip Eyang Rihanna yang keras kepala dan suka sekali mencap orang semaunya.


"Aku permisi pergi, Virly! Aku hanya akan bawa surat-surat berharga seperti KTP, SIM, ijazah-ijazah sekolahku dan juga tiga stel pakaian. Aku tidak akan membawa apapun selain itu! Untuk berkas perceraian, aku akan segera ajukan ke pengadilan agama secepatnya. Satu saja permohonanku padamu, aku titip Leonardo Saputra. Aku akan datang melihat Leo sewaktu-waktu. Maafkan Aku yang tidak pernah bisa membahagiakanmu, Virly!"


Virly kembali panik.


Tangannya memegang tubuh Rendy erat.


"Jangan pergi! Jangan pergi!!!" jeritnya berusaha menahan Rendy.


Malam itu, malam yang menegangkan bagi Virly dan Rendy.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2